Semua Ini Mencari Arti

Al-Baqarah 261 Ok, lanjut artinya

Hafalan Al-Baqarah 261 Hari ke-3. Sukes!!!lanjut artinya

Selamat pagi nikmat, selamat pagi syukur dan selamat atas kebesaran-Nya yang mampu mengubah gelap gulita menjadi terang benderang, Alhamdulillahirabbil’alamin.

Selesai menunaikan sholat shubuh berjemaah di Masjid Baiturrahman, dekat kosan kemudian melanjutkan tilawah yang syukurlah hari ini sudah membuka surat baru, yaitu surat setelah Al-Baqarah. terkesimak saat Al-Baqarah : 261 diwarnai stabillo warna merah, supaya selalu ingat bahwa ayat ini adalah ayat favorit Bapak saya dari Surat Al-Baqarah yang pernah dihafal dan diajarkan serta dididik langsung oleh Bapak saya. Dan sebagai anaknya saya telah melanjutkan estafet Bapak saya untuk menghafalkannya ke murid-murid saya dan Shabrina, ponakan saya. Alhamdulillah, tidak hanya ayatnya yang dihafal, tapi juga artinya. Dengan metode dan pendekatan spesifik saya bisa mengarahkan mereka untuk menghafalkan ayat ini. Dan untuk Shabrina, hanya dibutuhkan waktu 3 hari untuk menghafalkan ayatnya, semoga jika ada kesempatan lagi saya bisa mengarahkannya untuk menghafalkan artinya. Ibunya sangat kaget ketika puterinya tersebut tiba-tiba membacakan ayat tersebut di hadapan Ibunya, apalagi neneknya yang begitu bangga saat mendengarkan cucunya mampu menghafal dengan cepat. Tentu, setiap anak memiliki cara yang berbeda untuk bisa mencapai apa yang menjadi harapan kita sebagai pendidik dan guru, tidak semuanya bisa disama ratakan. Lagi, lagi; semua mencari arti, dan tak lupa saya masih ada hutang untuk membuat ponakan saya menghafal arti dari ayat yang telah dia hafalkan, semoga diberikan kelapangan dan kemampuan.

Selesai tilawah dan membersihkan kamar, lalu membuka jendela agar sirkulasi udara di dalam kamar berlangsung normal, kemudian dilanjutkan ke ruang depan dengan membawa beberapa buku dan Al- Ma’tsurat untuk menikmati embun sambil menonton tayangan religi di beberapa stasiun TV, pertama menyalakan Ustadz Danu sedang membaca do’a bersama-sama, maka nikmati dulu do’anya dengan mengheningkan diri dan mengaminkan. Kemudian dilanjutkan ke stasiun TV yang menampilkan Ustadz Yusuf Mansyur, lama juga saya tak menonton tayangan ini, one day one ayat masih berlanjut dan terjadi pengubahan kemasan acaranya rupanya, yang tadinya sering indoor, sekarang sudah mulai ke luar, dan hari ini mengambil lokasi di salah satu sekolah TK, menarik melihat sekolah TK-nya, konsepnya pun agak berbeda dengan sekolah-sekolah TK pada umumnya, semoga suatu saat nanti bisa memiliki sendiri sekolah dengan konsep yang tentunya berbeda dengan sekolah pada umumnya, namun tetap bertumpu pada kaidah tuntunan pendidikan dan perbaikan generasi. InshaAllah, proses menuju ke sana adalah proses untuk terus mencari arti agar saat benar-benar memilikinya bisa lebih dalam memaknainya. Sekolah bukan sekedar bangunan, tapi juga kompas moral yang bisa memberikan perubahan dan motivasi bagi sekitar untuk terus melakukan perbaikan. Tak sekedar ikut-ikutan tanpa konsep yang membumi dan long lasting, sebelum benar-benar memilikinya saya ingin terus mencari arti. Aoyama School of Japanese telah menginspirasi saya untuk terus mengembangkan konsep berpikir saya tentang sekolah yang terus berseliweran di kepala. Nakanishi Ikutaro sebagai kepala sekolah telah banyak memberikan keteladanan dan konsep pengajaran kepada saya, baik ketika di Jepang maupun saat di Indonesia. Berbicara tentang pendidikan memang tidak akan pernah ada habisnya, yang jelas ketika hati diketuk untuk peduli, maka jangan pernah menghindar atau menolaknya, selagi bisa, meskipun sedikit kontribusi yang bisa diberikan, tapi percayalah akan menjadi hal besar di masa yang akan datang. Setelah tayangan Ustadz Yusuf Mansyur selesai yang ditutup dengan do’a, sampai menunggu do’a selesai, kemudian berlanjut ke channel yang lain.

Sambil membuka buku yang saya bawa dari kamar kemudian membaca dan menuliskannya, remote berpindah ke stasiun TV yang mengupas tentang behind the scene dari movie Indonesia “Bidadari-bidadari surga”, awalnya agak cuek karena sambil belajar, namun setelah sampai pada beberapa scene kok tampak berbobot filmnya, kemudian tampil lagi scene yang lain disertai pemaparan argumen dari setiap pemainnya. Tulisan saya di buku yang saya bawa terhenti sejenak untuk lebih serius menyimak resensi film tersebut. Saat menuliskan ini, saya belum menonton filmnya secara utuh, saya hanya menyimak resensinya di layar kaca, dan yang bisa saya simpulkan bahwa film ini mengangkat latar budaya yang menarik yang diangkat dari profil sebuah keluarga yang memiliki 5 orang anak, dengan seorang Ibu yang single parent dan bijak dalam mendidik dan mengantarkan anak-anaknya pada gerbang prosesnya masing-masing. Ada Nirina di sana yang berlakon sebagai kakak tertua yang begitu cinta dan kasih sayangnya terhadap keluarganya meskipun dalam kondisinya yang terbatas. Melihat akting dan tampilan Nirina yang sangat berbeda dari biasa, saya hanya bisa tersenyum dan berdecak kagum, hebat juga aktris yang satu ini karena bisa memerankan lakon yang seperti ini. Melihat kehidupan mereka dalam film tersebut, teringat akan anggota keluarga sendiri di perbatasan dan seberang-seberang sana, sebagai anak bungsu tentu film ini begitu mendalam buat saya, memiliki kakak-kakak yang luar biasa seperti kakak-kakak yang saya miliki dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta memiliki Ibu yang juga luar biasa tangguh menghadapi badai kehidupan dengan do’a dan air matanya. Terenyuh saya menontonnya, teringat akan kebersamaan keluarga saat masa kecil dulu. Mbak Fifik yang bawel dan galak, Mas Jun yang suka berlebihan dan protektif, Didin yang sabar dan apa adanya, saya yang cuek habis dan kadang irit bicara merupakan bingkai keluarga saya yang mungkin tak jauh beda dengan yang digambarkan oleh film tersebut. Jadi saya mesti menontonnya, entahlah kapan waktunya karena saya ingin mencari arti lebih dalam lagi tentang kekeluargaan, cinta dan kasih sayang seperti halnya yang dibawakan oleh aktor dan aktris dalam film tersebut.

Semua ini mencari arti, selamanya tak kan berhenti; di titik manapun kita memulai, dan di titik manapun kita terjatuh. Transisi koordinat yang sedang kita alami harus bisa kita maknai dengan lebih dalam lagi. Selamat beraktivitas dan selamat mencari arti !!!.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Iseng. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s