12-12-12; Bangkalan Memilih

Semoga jalan ini bebas dari kerusuhan

Semoga jalan ini bebas dari kerusuhan

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Presiden Soekarno)

Hari ini, melalui BBM grup SMU, saya mendapatkan informasi berupa gambar yang mengilustrasikan kondisi ricuh di Bangkalan menjelang pemilihan kepala daerah. Dari gambar tersebut tampak bahwa ada kepulan asap di jalan protokol yang tak jauh dari SMU kami. Bisa dikatakan bahwa kondisi Bangkalan sedang siaga satu padahal pemilu akan berlangsung beberapa hari lagi.

Kemarin, seorang murid saya menginformasikan kepada saya tentang kehadiran satria bergitar yang saat ini sedang heboh dengan pencalonannya sebagai calon presiden RI. Terbesit tanya dalam benak saya, ada apa gerangan sang raja dangdut kok tiba-tiba hadir ke wilayah kami dan kok momentnya menjelang pemilu kada, entah kubu mana yang mengundang sang legendaris dangdut tersebut? sambil membalas dan menyapa sang murid tersebut, lalu saya pun berpikir “ya ampun, bodoh amet lah sama semua itu, terserah deh, mikirin politik yang proporsional-proporsional saja, belum saatnya untuk dipikirkan yang berlebihan dan sok-sok analis, yang penting sudah berusaha dan belajar memaknai politik”. Setali dengan sms tersebut, ada pertanyaan sederhana dari sang murid “mbak gak ikutan milih?”, saya masih berpikir untuk membalasnya : kalau saya jawab iya, saya tidak berada di Madura dan mungkin tidak memilih, dan kalau saya jawab tidak, maka ini menjadi contoh yang tidak baik bagi murid saya tentang pendidikan politik. Dengan demikian maka saya menjawab “klo di Jakarta bisa memilih, saya akan memilih”.

Mengikuti perkembangan dinamika politik Bangkalan menjelang pilkada, saya jadi teringat kata-kata Bapak saya yang sering beliau ulang-ulang ketika kami semua sedang berkumpul di teras depan rumah dalam membahas aneka ragam topik baik yang lagi happening maupun yang sudah berlalu, beliau mengatakan bahwa “sebaik-baik ulama adalah yang jauh dari umara (= pemerintah), dan sebaik-baik umara adalah yang dekat dengan ulama”. Percaturan politik di Bangkalan kali ini adalah duel para ulama yang pro dan kontra perubahan, para calon bupati memiliki idealisnya masing-masing; satu pasangan adalah dari trah keluarga bupati lama (putra dari Bupati lama), sedangkan satu pasangan lagi adalah mengklaim yang pro perubahan yang menghendaki adanya dinamika yang berbeda di Bangkalan terhadap masyarakatnya. Tanpa bermaksud sok tahu, mungkin kedua pasangan ini masih memiliki pertalian trah, namun atas nama politik pertalian tersebut menjadi kompetisi untuk memperebutkan “pendopo”. Dan pasangan ini pun memiliki pengikut yang fanatik, apalagi Bangkalan adalah kota santri, masyarakatnya sangat menghormati keluarga kyai dan bahkan ada beberapa lapisan masyarakat yang sampai mengkultuskannya (semoga masih banyak masyarakat Madura yang tidak berlebihan seperti itu). Menghormati itu manusiawi, apalagi kepada orang yang memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman agama lalu mengamalkannya, tapi mengkultuskan ya ampun tidak sebegitu berlebihannya lah ya, wong kita ini masih memiliki Sang Pencipta. Terkait dengan peran ulama dan umara, maka menurut saya memang hal yang perlu disikapi dengan dewasa dan bijak serta proporsional. Pernyataan saya yang merupakan perulangan dari pernyataan Bapak saya tidak sebegitu kakunya, kalau memang ulama ingin berkiprah di bidang politik ya monggo saja, tapi bagaimana keadaan umat dan pengikutnya setelah ia meduduki tahta politik, kalau makin destruktif saya rasa sudah saatnya untuk memetakan kembali perannya, dan kalau sang ulama makin menjadi baik dengan kiprah politiknya dan mampu menjadi teladan bagi umatnya ya mungkin memang sudah peta takdirnya di situ “berpolitik sambil berdakwah”. Sedangkan bagi umara, tidak lantas setelah menjabat tahta politiknya kemudian menjadi sekuler dan tidak lagi mementingkan agama, dibutuhkan adanya kedekatan dengan ulama untuk mengetahui kondisi moral rakyatnya melalui pengikut dan umat yang dimiliki oleh ulama, karena tentu pemerintah tidak sepenuhnya mampu menjangkau persoalan umat sedekat ulama menjangkau umatnya.

Memang pendidikan politik itu perlu dibekali sejak dini agar masyarakat tahu bahwa politik itu bukanlah sekedar perniagaan atau untuk survive dan terhindar dari pemerintahan yang otoriter. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang memiliki pemahaman politik yang tidak bisa dibeli dengan uang 20 ribu atau sembako, masyarakat maju mampu menempatkan perannya dalam mengimplementasi pemahaman politik yang di dapatnya. Dan tentu masyarakat maju, apabila pimpinannya maju. Kalau masih feodal, maka mari kembali saja ke jaman penjajahan dimana kita seakan-akan asing di negeri sendiri. Negeri yang maju adalah yang mampu memberi kenyamanan bagi warga negaranya dimanapun ia berada, karena negeri tersebut mampu menjadi base camp terbaik bagi warga negaranya. Kalau menjelang pilkada saja sudah ada kerusuhan yang membuat siaga satu seperti ini, maka kita perlu pertanyakan kenapa sampai timbul kerusuhan tersebut? politik sudah seharusnya memberikan rasa nyaman dan bukan perasaan galau dan mencekam, berdebatlah dengan cerdas dan raihlah suara rakyat dengan hati. Berkacalah pada keruntuhan-keruntuhan penguasa terdahulu, baik di dalam maupun di luar negeri. Jadilah penguasa yang bisa khusnul khotimah; yang tetap disanjung oleh rakyat sampai masanya telah habis, dan bukan penguasa yang su’ul khotimah; yang pada akhir masa jabatannya justru ditindas dan dikhianati oleh rakyatnya sendiri.

Sebagai generasi muda, saya berharap bahwa negeri ini, khususnya Bangkalan bisa memiliki pemimpin yang visioner dengan terobosan baru kreatif dan inovatif tanpa menghilangkan sedikitpun kekhasannya dan mampu diterjemahkan oleh rakyat secara mudah. Bukan dengan cara membingkai kata-kata politik yang penuh retorika yang seringkali susah dimaknai oleh rakyat. Dan kalau memang memungkinkan pemimpin yang masih muda, bukan maksud tak menghargai yang tua, karena darah muda mampu mengalirkan energi dan sinar baru bagi suatu perubahan, dan merekalah yang mampu meregenarasi dan memotivasi kepemimpinan selajutnya.

Memilih atau tidak memilih semoga saya senantiasa diberikan kemampuan untuk belajar memaknai Bangkalan dengan proses pemahaman yang saya miliki, tetap bangga menjadi bagian darinya, tetap bersyukur dipilih untuk menjadi masyarakatnya, dan tentu saja tetap realistis dalam memberikan kontribusi sederhana yang bisa diberikan meskipun tidak tampak di permukaan. Semoga apa yang telah dilakukan untuk Bangkalan memberikan nilai manfaat bagi saya sendiri maupun sekitar. Bangkalan, selamat memilih!!! semoga pilihan Allah adalah pilihan terbaik untuk dinamika perubahan Bangkalan menuju arah yang lebih baik.

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa” (Soekarno, Presiden RI-1)

-Dengan Penuh Cinta Pada Kampung Halaman; sang Anak Rantau-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s