Sholatnya Para Traveler

Seperangkat Alat Sholat Traveler

Kurang Sarung Bali Sebagai Pengganti Bawahan

Ada 2 sambutan hangat yang saya dapatkan dari Masjid Besar Al-Falah, Desa Burneh-Kecamatan Bangkalan pasca kedatangan saya dari perjalanan yang sangat berkesan di sebuah negeri yang sudah saya impi-impikan sejak lama. Sambutan hangat tersebut adalah :
1) Kemarin, setelah selesai menunaikan ibadah sholat maghrib berjemaah di sana, seketika akan pulang ke rumah untuk melanjutkan mengaji di rumah saja, tiba-tiba ada desas-desus yang mengatakan bahwa malam ini adalah peringatan satu tahun (Almarhum) Mohammad Arifin Bin Hafi aka Om Jenggot Api. Saya pikir hanya rumor, eh tiba-tiba tepat di belakang shaf wanita sudah terpajang tumpeng dan asesorisnya yang sajiannya sangat saya sukai. Ada urap-urap, telor dadar, ikan teri goreng bertepung, ayam goreng yang terbungkus di mika, dan pencuci mulutnya adalah pisang. Wow, kuliner syar’i yang menggoda selera. Tapi bukan karena itu kemudian membuat saya tidak jadi pulang ke rumah, karena saya ingin ikut berdo’a juga dan membacakan Yasin bersama-sama dengan jemaah yang lain untuk peringatan 1 tahun Om Ripen. Orang yang begitu berjasa dalam perjuangan dan proses hidup yang saya alami, yang pada saat meninggalnya saya hanaya bisa berdo’a dan membacakan Yasin dari kosan di Jakarta, terlalu panjang untuk saya ceritakan di sini tentang kenangan bersamanya. Intinya adalah bahwa Ripen sangat mengenal karakter saya seperti apa dan begitupun saya sangat mengenalnya meskipun usia kami terpaut sangat jauh. Dari Al-falah-lah yang menyatukan kami. Pada saat acara pembacaan Yasin dan do’a usai, dilanjutkan acara beres-beres oleh salah seorang saudara yang lain, kemudian istri almarhum mengambil beberapa barangnya ke Masjid karena memang rumahnya bersebelahan dengan pintu keluar-masuk samping Al-Falah. Dengan sambil membawa anaknya yang masih berumur beberapa bulan tersebut, ia kerepotan membawa barangnya, ditambah lagi gerimis mengundang, dan menurut mitos orang Madura tidak boleh membawa anak bayi dalam kondisi gerimis karena bisa bisu. Dengan memegang prinsip mitos tersebut Mbak Tini pun menitipkan sejenak anaknya ke saya. Dan inilah gendongan perdana saya untuk sang anak yatim tulen tersebut. Bulan Muharram adalah bulannya anak yatim, dan saya benar-benar merasakan hadirnya kenangan bersama (Alm) Ripen saat menggendong anaknya tersebut “Yaa Allah begitu cepatnya waktu berlalu”. Sebelum memberikan anaknya ke saya, saya menginterogasinya singkat “Mbak pakai pampers kan ya?, gak habis kencing kan ya?” karena khawatir najisnya mengena mukena yang sedang saya kenakan, dengan singkat Mbak Tini menjawab “udah pake pampers dan gak pipis” (sambil memegang-megang bagian pampersnya). Saya pun langsung meraihnya. Setelah menggendong anaknya sambil mengamati rumah (Alm) dari jendela masjid saya jadi teringat pernyataan sekaligus pertanyaan dari Om Jenggot setiap kali saya akan masuk ke rumahnya, selalu dikatakan olehnya “gak najis kok lantainya, udah dipel tadi sore, makanya masuk aja”. Kalau sudah mengatakan demikian saya pun masuk ke rumahnya dan ketika kembali ke masjid lagi tidak perlu cuci kaki lagi. Raihana aka Rere itulah nama anak tersebut, anak yang tak sempat melihat wajah Bapaknya dan tak sempat juga bercanda ria dengan Bapaknya. Dibandingkan Rere, yatim apalah saya ini. Semoga limpahan rezeki dan kebahagiaan senantiasa tercurah untuk Rere.

Rere;menggendong serius juga

2) Sambil terlibat obrolan santai bersama Ibu-Ibu yang memang rajin datang ke masjid, saya menanyakan jadwal pengajian rutin Al-Falah yang jatuh hari Rabu malam kamis besok. Sang Ibu tersebut menjawab bahwa besok memang waktunya, tapi belum tahu juga pastinya. Karena hari ini adalah pengajian dengan adanya pengumuman tadi pagi melalui pengeras suara masjid, maka jadwal saya ke Surabaya dikompress sedemikian rupa sehingga bisa sampai ke Madura lagi siangnya karena sebelum sore harus ada yang dibeli dan bisa dapat pengajian juga di Masjid. Setelah selesai sholat maghrib berjemaah setelah bersalaman dengan jemaah yang lain dan diakhiri dengan bersalaman dengan ibu saya, saya mengambil lokasi favorit di dekat jendela untuk menunaikan sholat sunnah, setelah salam tiba-tiba ada sapaan dari jemaah di belakang saya yang merupakan koordinator pengajian Ibu-Ibu Al-Falah dengan mengatakan “Is, fotonya sudah dibingkai, nanti dikasiin aja”,dengan singkat saya hanya menjawab “oh iya Mbak”. Meskipun topik foto silaturrahim itu sudah berlalu dari memori saya tapi maghrib ini diangkat lagi ke permukaan seakan-akan menjadi trending topic. Menurut logika saya, foto itu nantinya akan dipajang di dinding masjid supaya menjadi motivasi buat Ibu-Ibu yang lain juga, tapi ternyata saya salah menduga. Saat setelah isya’ saya datang ke pengajian dan sampai depan pintu tiba-tiba sang koordinator menyerahkan bingkai foto yang dimasukkan ke dalam plastik untuk saya serahkan ke Ustadz setelah acara pengajian sebagai kenang-kenangan. Nyaris saja, saya akan langsung menyerahkannya supaya tak buang-buang waktu, eh seketika saya akan melangkah ke depan Ibu-Ibu yang lain ingin melihat isi bingkasi tersebut. Dengan demikian membuat saya terhenti dan memutuskan untuk menyerahkan nanti saja sampai acara usai dan semua Ibu-ibu sudah melihat hasilnya. Setelah acara usai saya diminta untuk maju ke depan menyerahkan bingkai foto tersebut pada Ustadz. Jelas saja, saya agak shock dan bertanya-tanya “mimpi apa semalam kok sampe segitunya diminta menyerahkan bingkai itu”. Dan sejujur-jujurnya saya ingin mengatakan bahwa itu bukan saya yang membuat, saya hanya memotret, yang mengedit dan melay-out foto tersebut adalah teman saya,yang mencetak saya minta tolong ke abang saya karena saya harus kembali ke Jakarta sorenya, dan yang menyerahkan hasil cetakannya ke Ibu Koordinator tersebut adalah Ibu saya pada saat menunaikan sholat berjemaah di Masjid. Jadi saat ustadz mengatakan “terimakasih, dan kreatif sekali” ya kok rasanya saya tidak pantas untuk mendapatkan itu. Saya hanya juru minta tolong saja dan pertolongan itu datang pada saat saya memintanya. Jadi bingung mau berterus terang sama Ustadz dan koordinatornya jadi makin berputar-putar saja nanti jadinya, lebih baik tersenyum saja dan menganguk-ngangguk, dan yang jadi pertanyaan besar saya adalahkenapa tidak dari beberapa bulan yang lalu diserahkannya, padahal foto itu selesai dicetak saat bulan Syawal beberapa bulan yang lalu? Muharram oh Muharram, hanya bisa ikut dalam arus skenario-Nya karena melawanNya adalah sebuah kemustahilan.

***

Judul di atas berangkat dari pertanyaan saya kepada sang Ustadz di pengajian hari ini, yang tadinya tidak mau bertanya karena waktu sudah mendekati jam 9 malam, namun bahasa tubuh dan pernyataan sang Ustadz mengarah ke saya sehingga terbitlah pertanyaan saya mengenai Sholatnya orang yang bepergian jauh atau Traveler yang sudah saya tuliskan saat sang Ustadz menyampaikan materinya. Pertanyaan ini juga sebagai penguat dan penambah pengetahuan saya tentang sholatnya para traveler :

– Orang yang berpergian jauh (baca Traveler) diberikan keringanan untuk menggabung dan mengqashar (meringkas) sholat; Dzuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’, serta Shubuh (Tidak ada menjamak dan mengqashar Ashar dan maghrib *ini pernah saya temui di bandara, dan saya berusaha untuk memberitahu sang Ibu tersebut, tapi nihil). Dzuhur dan Ashar masing-masing menjadi 2 rakaat, Maghrib dan Isya’ masing-masing 3 rakaat dan 2 rakaat, sedangkan Shubuh tetap 2 rakaat.
– Adapun prosedurnya adalah dengan menyegajakan diri (BERNIAT) untuk menjamak qashar sholat tersebut –> bisa diniatkan dalam hati atau diucapkan. Dan urutannya adalah secara urut meskipun waktu sholatnya jatuh pada waktu yang pas dengan sholat yang akan dijamak qashar. Contoh : menjamak qashar sholat maghrib dan isya’ pada saat Isya’ (berarti Maghrib-nya adalah Jama’ Ta’hir/di belakang), maka jangan sholat Isya’ dulu meskipun waktu Isya’ telah datang tetapi urutkan dulu dengan cara sholat maghrib terlebih dahulu dengan berniat jama’ ta’hir qashar dengan Isya’ baru kemudian dilanjutkan sholat isya’ 2 rakaat dijamak dengan maghrib. Ingat : Jama’ taqdim berarti waktunya didahulukan/dimajukan -> Isya’ dikerjakan pada saat waktu maghrib atau Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur, sedangkan jama’ ta’hir berarti waktu sholatnya dimundurkan -> Maghrib dikerjakan pada saat Isya’ atau Dzuhur dikerjakan pada saat Ashar.

– Dalam suatu kondisi saya pernah bermakmum dengan orang yang sedang mengerjakan sholat biasa, sementara saya sendiri akan berniat jama’ qashar, saat itu saya diberikan bimbingan oleh Ibu tersebut dan hari ini diberikan pencerahan oleh sang Ustadz jugabahwa tidak masalah saya berjemaah dengannya dan ketika Ibu tersebut berdiri lagi setelah tasyahud awal saya dipersilahkan salam dan melanjutkan sholat saya yang selanjutnya untuk dijamak qashar. Asalkan bukan saya (sebagai penjamak-pengqashar sholat) yang menjadi imam untuk makmum yang sholat biasa (tidak dijamak-diqashar). Rupanya ilmu itu harus ada tuntunannya juga, tidak asal mengamalkan dan ikut-ikutan saja * demi pahala 27 kali lipat.

– Untuk arah kiblat jika kita benar-benar tidak tahu adalah sesuaikan dengan keyakinan hati meskipun seringkali salah. Dan kalau sudah tahu sesuaikan dengan pengetahuan yang sudah diperoleh dan amalkan.

– Mengenai bersuci dengan tisu (kalau kita sedang berada di negeri lain yang toiletnya tidak menggunakan air): tidak apa-apa karena tisu bisa menyerap, malah ada tuntunan yang menggunakan batu 3 buah dan pilihlah batu yang berbentuk segitiga.

– Penggganti wudhu adalah tayammum dengan cara menempelkan tangan pada bagian jendela-jendela pesawat atau kursi pesawat misalnya, kemudian tepuklah tangan yang sudah menempelkan debu ke jendela atau kursi tersebut (ingat : debu tidak harus terlihat, kalau ingin terlihat monggo sewa mikroskop pasti terlihat semua), usapkan pada muka dan tangan secara berurutan. Ingat 1 tayammum berlaku untuk satu jenis sholat; sholat dzuhur saja, ashar saja, maghrib saja, isya’ saja dan shubuh saja. Kalau ingin sholat jama’ qashar berarti melakukan tayammum 2 kali, masing-masing sekali untuk setiap sholat.

– Bagaimana wanita yang khawatir dengan keadaan najis saat akan melakukan sholat? maka sholatlah dengan kondisi tersebut yaitu sholat menghormati waktu (Shalat Lihurmati Wakti), setelah sampai dan setelah bersuci dari hadas bisa shalat lagi atau ada juga yang berpendapat tidak usah mengganti sholat lagi *kalau ada pilihan yang gampang, kenapa mencari yang susah.

– Orang yang akan melangsungkan pernikahan termasuk juga dalam kategori khusus untuk mendapatkan kemudahan sholat, seperti halnya yang berpergian jauh, untuk lebih jelasnya silahkan bertanya sama ustadz yang bersangkutan karena saya masih belum memahami penjelasannya.

***

Islam memang indah dan mudah, sampai hal yang sekecil-kecilnya pun diatur. Memiliki hobi traveling bukan alasan untuk meninggalkan sholat, jadi teringat kata-kata Bapak saat saya akan pergi ke Bali bersama teman-teman SMA “mending nyesel bawa mukena daripada kamu gak bawa” *OK Jendral, siap laksanakan !!!. Dengan traveling kita akan memiliki banyak view untuk mempertanggungjawabkan aktivitas kita. Tidak standar dalam kubikal yang sempit atau mungkin dalam kamar yang sumpek dan panas, tapi dimanapun kita bisa berkomunikasi denganNya dalam riuh dan tenangnya kondisi yang kita alami. Karena ketenangan dan kedamaian yang sebenarnya hadir dalam diri kita, bukanlah dari lingkungan. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Di belahaan bumi manapun kita berada selalu ada Allah di sisi kita dan tentara langit dan bumiNya senantiasa diperintahkan untuk memandu perjalanan kita yang diberkahi. Amin waa InshaAllah.

– Minna san “Oyasuminasi” & “have a nice dream and good things comes true” –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s