Memperingati Muharram 1434 H di Carita

Alhamdulillah ‘ala kulli haal; Bismillahirrahmanirrahim, selamat datang Muharram 1434 H (15 November 2012), berikanlah kekuatan dan semangat untuk bisa berhijrah ke jalan-jalan positif sehingga bisa mengenal lebih dalam lagi dengan hati. Karena perjalanan terdalam adalah bukan perjalanan melintasi berbagai pulau dan benua, namun perjalanan untuk menemukan peta hati sebenarnya. Hatilah yang mencari, hati pula yang berbicara dan hati pula yang mengetuk seluruh anggota badan untuk memilih jalannya, entah itu jalan kebaikan ataukah jalan keburukan. Apabila hati telah dikenal, maka sesungguhnya kita telah mengenal diri kita, dan apabila kita telah mengenal diri kita maka kita telah mengenal Tuhan yang telah menganugerahkan hati untuk kita. Memang tidak mudah mencari jalan-jalan lurus menuju hati, sesaat akan menuju ke titik pusat hati seringkali terbelokkan oleh sinyal-sinyal menyesatkan yang membuat anggota tubuh menjadi tidak kunjung sampai pada hati. Namun apapun itu kendalanya, perjalanan menuju hati memang membutuhkan proses dan dalam proses membutuhkan pemahaman dan pencerahan; jalan menuju hati seringkali berputar-putar, dari suatu proses ke proses yang lain, dari suatu rasa ke rasa yang lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, dari suatu pengakuan ke pengakuan yang lain, dari suatu kemunafikan ke kemunafikan yang lain, yang semuanya seringkali tidak pernah dipahami oleh hati, namun percayalah pada suatu titik kita akan bertemu dengan hati kita yang sebenarnya, terkait dengan apa yang seharusnya dicari secara hakekat dan kejujuran apa yang harus dibicarakan dan diakui.

Subhanallah walhamdulillah 1433H atas ilmu, hikmah, kebijaksanaan dan pemikiran yang telah ditorehkan. Terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata, dzikir yang sederhana ini semoga bisa mewakili rasa syukur ini. Tahun yang begitu banyak memberikan kejutan-kejutan dan dinamika dalam hidup. Meskipun telah berlalu, semoga jejak-jejak kebaikannya mampu ditapaki kembali dengan lebih berkah lagi dan penuh kehati-hatian. Syukur tak terhingga atas nikmat yang telah dianugerahkan pada periode 1433H, semoga senantiasa diberikan cahayaNya untuk menjadi insan yang selalu bersyukur sehingga bisa berilmu amaliah dan beramal ilmiah…Amin Yaa ‘Ilmu Yaa Rasyid, InshaAllah.

***

Tanpa terencana sedikit pun, di awal Muharram 1434H ini Allah memberikan anugerahnya yang membuat diri semakin memperdalam pemahaman akan esensi pergantian tahun. Sebagai anak perantauan, sudah seharusnya pergantian tahun ini dimaknai dengan bijak dan cerdas. Tak sekedar merantau meninggalkan keluarga di kampung halaman, tapi juga merantaukan hati menuju jalan-jalan positif sehingga cahaya hijrah semakin jelas memandu setiap perjalanan dan proses yang sedang dijalani. Hari pertama Muharram kedatangan seorang sahabat “Rahmi Safrina Utami (Rahmi, red)” yang tujuannya tak jauh-jauh dari troubleshooting komputer, setelah beberapa jam bergulat dengan laptopnya dan syukurlah terselesaikan masalahnya, saya pun memintanya untuk pulang ke rumahnya nanti-nanti saja agar bisa berbuka bersama di kosan saja, tak perlu keluar kosan karena ada beberapa komponen yang bisa saya sediakan untuk santapan berbuka; nasi putih seadanya, mie instan goreng ditemani cabe rawit dan sawi, telor dadar berisikan daun bawang, cabe merah dan bawang merah. Untuk minumnya tinggal pencet dispenser dan menggeser sedikit badan untuk menjangkau teh dan gula yang jaraknya tak jauh dari tempat duduk kami. Rupanya, saat saya sedang sibuk di dapur mempersiapakan menu berbuka, ia keluar kosan untuk membeli “Es Kelapa campur Gula Merah” di tempat biasa saya membeli, yang memang tak jauh jaraknya dari kosan saya. Terasa sempurna, meskipun dengan menu yang sederhana, rasa kenyangya pun sampai ke hati . Apalagi dibarengi dengan sholat berjemaah beberapa sholat wajib di dalam kamar, rasanya makin sempurna nikmat; persahabatan tak sekedar bersahabat dalam urusan perut dan senang-senang atau yang hedonis, tapi untuk urusan vertikal pun sudah seharusnya dipersahabatkan untuk bisa saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. InshaAllah keberkahan dalam persahabatan akan terus terjaga seperti kekuatan menjaga persabahatan secara vertikal. Malamnya, seusai menunaikan sholat isya’ dilanjutkan menikmati pancake yang lokasi tak begitu jauh dari kampus lama kami, saya juga mengikutsertakan teman kosan saya yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri sekaligus partner sholat berjemaah ke masjid dekat kosan. Saya memilih pancake dengan paket chocolate lover, sementara mereka berdua hanya ice creamnya saja. Lumayan juga bagi saya untuk program penggemukan badan.

Berhubung sudah mulai malam, saya pun mengusir Rahmi untuk cepat-cepat pulang ke rumahnya dan tak lupa menitipkan salam untuk Ayah dan Ibunya. Sementara Awi’-teman kosan saya menuju kamarnya, dan saya pun demikian. Seperti biasa; menyapu, membereskan barang-barang yang berantakan adalah hobi saya di dalam kamar karena paling tidak bisa melihat yang berantakan dan kotor di lantai apalagi sampai ada semut, jika sudah demikian, pel-pelan berorama shampoo pun siap menyapa lantai kamar. Dan kalau sudah bersih rasanya bersemangat kembali untuk beraktivitas yang lain; mulai dari sekedar membaca, menulis, menikmati aneka minuman hangat (seral susu, teh atau jahe) dan kali ini adalah menyetrika. Rasanya kalau diam itu melelahkan, oleh karena itulah perlu beraktivitas. Selesai menyetrika tiba-tiba shock setelah menelpon teman kantor yang menyatakan bahwa akan berangkat liburan ke Carita sekitar jam 12-an malam supaya bisa mendapatkan moment Sun Rise. Saya langsung merespon dengan terkejut, lalu mengatakan “brangkatnya aja jam setengah 4 pagi, ngapain jam 12 ke kantor, nanti ajalah jam 2-an, ini aja belum packing”. Tas ransel playboy berwarna hitam putih pun saya pilih untuk menemani perjalanan saya kali ini; satu handuk, satu celana jins ganti, sarung bali untuk pengganti bawahan khawatir kecipratan najis dan kotoran lain ,mukena+sajadah, 2 kaos lengan panjang,bergo,alqur’an kecil dkk dalam tas kecil terpisah (majemu’, al-ma’tsurat, tuntunan sholat lengkap),sandal jepit untuk ke pantai. Untuk pakaian berangkat cukup baju yang sudah dipakai kemarin ditambahkan jaket yang sudah dipakai supaya mengirit cucian dan masih bersih juga (lagian kan langsung ke pantai juga jadi sekalian saja dikotori), yang berganti hanya bergo saja karena paling tidak tahan bergo/jilbab dengan bau matahari aka tidak ganti sehari (rasanya gimana gitu). Selesai meyetrika kemudian meletakkan baju-baju yang sudah disetrika pada posisinya sekaligus packing. Selesai packing mandi dan mencuci beberapa pakaian kotor supaya sampai di Jakarta tidak menambah cucian aka nol cucian sebelum berangkat. Urusan kebersihan dan kerapian kamar beres, sambil menunggu jam 2 melakukan hal lain dan kemudian membaca supaya tidak ketiduran, karena kalau sudah ketiduran paling susah untuk dibangunkan.

Jum’at, 16 November jam 2 pagi kami menuju kantor kami di Tebet, dan hanya butuh waktu tak kurang 15 menit kami sudah sampai di Tebet. Sambil menunggu teman-teman yang lain, saya pun tidur di sofa panjang di ruang tamu dengan menutupi tubuh dengan beberapa jaket yang saya temukan di kursi di sampingnya (entah punya siapa). Pas Adzan Shubuh di Masjid Namira dekat kantor kami, kami berangkat menuju Carita. Beberapa menit kemudian kami mampir di rest area, dan saya meminta ijin untuk sholat bersama 2 cewek yang lain juga. Ada komentar lucu yang sering saya dengar dari beberapa teman jurusan saya kalau sudah begini “sholatnya jangan lama-lama, biasanya kan lo baca semua do’anya”, mendengar itu saya hanya mesem lantas menambahkan “emang mau sholat tarawih apa, wong shubuh cuman 2 raka’at aja”

Sekitar jam 7 pagi tanpa terasa kami sudah sampai di Carita, dan alangkah kagetnya saya tempat yang kami kunjungi itu adalah tempat yang pernah saya kunjungi juga beberapa tahun yang lalu. Saya menyadari ini setelah beberapa saat terbangun, karena dalam perjalanan saya memutuskan untuk tidur dan tidak menghiraukan aneka kemacetan atau perbaikan jalan yang menghalangi perjalanan kami. Dengan gaya saya yang seperti orang teler teman saya mengambil gambar, dan sedikit demi sedikit sukma saya mulai bersatu dan benar-benar sadar lalu mengatakan “kenapa kita tidak di seberang saja nginepnya”, dengan kompak mereka berkata “makanya jangan tidur mulu, kita kan memang nginepnya di sana”, dalam sadarnya saya hanya mengatakan “maap, kagak tau, kirain di kondominium ini nginepnya”. Kami pun menuju ke pantai menikmati mentari pagi dan kesegeran ombak Carita. Mereka sibuk dengan berenang, bermain pasir dan bermain aneka permainan air, mulai dari selancar sampai banana boat. Saya hanya duduk di sisi pantai beralaskan tikar sewaan sambil membaca buku dan mengumpulkan memori demi memori yang sudah saya lalui dari tempat itu. Yah, hanya bisa bertemankan buku dan sesekali mencoba menyapa masa lalu itu dengan seramah mungkin; tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat dengan prosesnya masing-masing, ada kalanya kadang kita terlihat seperti tokoh utama dalam proses yang sedang dilakoni oleh seseorang padahal sebenarnya kita adalah figuran untuk mengantarkan orang tersebut pada proses yang sebenarnya. Dan dengan aneka prasangka yang telah dibuat oleh orang-orang sekitar kita tersebut, tidak ada sikap lain selain menerima dan atau pura-pura cuek saja padahal dengan sangat dalam hati sudah berbicara dan membaca praduga tersebut, biarkanlah waktu yang akan membuktikan kebenaran dibalik prasangka tersebut, karena kemenangan  itu sudah dijadwalkan.

Saya memilih untuk membaca buku, membaca alam dan sekitar serta membaca kembali masa lalu karena saya memang buka pecinta permainan air, karena selain tidak bisa berenang, saya kurang begitu suka dengan berbasah-basahan. Kalau kata di toilet-toilet beberapa mall dan hotel mengatakan “kering itu sehat”. Saya menyukai alamnya, tapi tidak permainannya, saya lebih memilih naik sepeda di area persawahan yang menantang dan becek dibandingkan naik banana boat meskipun gratisan. Bagi saya, pemandangan sawah ibaratnya makan bakso, sedangkan berbasah-basahan ibaratnya makan nasi goreng. Bakso adalah makan favorit saya dan dimanapun itu saya selalu memburunya, sedangkan nasi goreng optional sifatnya- ada ya saya makan, gak ada ya gak usah juga saya memburunya. (to be continued…ngantuk, have a nice dream buat yang sedang membaca ini, semoga tidak malas untuk menuliskan lanjutannya) Zzzzzzzzz

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s