Serunya Berdagang Batik Madura

“9 dari 10 pintu rezeki itu berasal dari perniagaan (perdagangan)” – Nabi Muhammad SAW

Dalam kajian surat Al-Fath yang dibawakan oleh Ustadz Yusuf Mansyur pada jam 5 pagi di sebuah stasiun TV swasta, ada yang sangat membuat saya merenung begitu mendalam dan mencoba untuk merangkai titik-titik masa lalu menjadi bagian titik-titik dan garis nyata masa sekarang dan inshaAllah masa yang akan datang. Yakni tentang tentara langit dan bumi, saya dibuat merinding mendengar cerita nyata yang dibawakan oleh Ustadz sedekah tersebut, bagaimana tidak? begitu apik Allah merancangnya dengan melibatkan ciptaanNya yang di langit dan di bumi untuk menjadi perantaraNya dan memberikan kemenangan atas probelamatika/perang batin yang dialami oleh hambanya. Subahanallah Walhamdulillah. Memang, untuk mendapatkan terang yang hakiki kita harus melalui pekatnya gelap, supaya kita bisa lebih paham bahwa dibalik terang yang hakiki itu sebenarnya ada interfensi Sang Maha Pemberi Cahaya.

Terkait dengan hal di atas, ada semangat baru yang saya miliki di bulan November ini. Dalam kertas coretan yang saya tempel di wall kosan saya menuliskan spirit November saya dengan “Perjuangan Fajar”, yang terdiri : 1) Qiyamul Lail, 2) Sholat Shubuh Berjemaah di Masjid, 3) Sarapan Pagi, 4) Mandi Pagi, 5) Dhuha (*walaupun ada saja godaannya untuk merealiasasikannya, yang penting melangkah dan bergerak). Semangat ini tidak lain untuk memacu saya untuk lebih bergerak cepat menuju perbaikan dan pencapaian.Jadi kalau dalam fisika ada kecepatan dan ada juga percepatan. Kalau hanya mengandalkan yang wajib saja berarti yang kita pakai adalah pendekatan kecepatan alias GLB, sedangkan kalau yang kita andalkan adalah perbaikan yang wajib, menghidupkan yang sunnah dan menambahkan amaliah yang lain maka pendekatan yang kita gunakan adalah Percepatan, dan ishaAllah prinsip percepatan akan menghasilkan output yang lebih agresif dan fluktuatif, tergantung variabel dan usaha apa yang sudah kita terapkan🙂.

Setelah sekian lama, keahlian perdagangan saya tidak diseriuskan maka di bulan Oktober yang kontemplatif bagi saya, saya pun mencoba mengumpulkan segenap semangat dan tekad yang baru untuk bisa merealisasikan apa yang menjadi willing saya ke depan. Pertemuan saya dengan seorang sahabat di kampung halaman tercinta pun menjadi jembatan bagi terbukanya kesempatan tersebut, kebetulan dia sedang membuka usaha bibit, pupuk dan beberapa produk pertanian yang lain (melanjutkan estafet orang tuanya). Toko yang dibuka pun masih belum berumur satu bulan, dan masih belum banyak barang memang, saya pun dengan terbuka menyambut riang semangat sahabat saya tersebut dengan memberikan beberapa masukan dan sekaligus kesiapan saya untuk membantu mengembangkan usahanya dengan cara membantu memasarkan produk yang sedang dijualnya. Memang untuk beberapa produk dan jasa, persoalan selling dan marketing pada suatu kondisi tertentu perlu dipisahkan supaya mencapai output yang diinginkan, karena selling lebih bersifat taktis, sedangkan marketing bersifat strategis *ini menurut saya, jelasnya kita bisa diskusi langsung. Dalam obrolan kami yang tak sampai berjam-jam lamanya dengan sambil memaparkan impian kami ke depan terciptalah sebuah kesepakatan bahwa sahabat saya bersedia menyediakan bahan batik Madura dan sayalah yang menjual dan memasarkannya, karena kebetulan deposit saya di bulan tersebut sangat pas-pasan untuk memulainya dari kantong sendiri. Saya sudah memaparkan ke sahabat saya kenapa saya lebih memilih batik Madura dibandingkan produk-produk yang lain? tentu saja karena saya putri daerah, ada identifikasinya dan edukasinya ke komunitas yang lain, dan yang terpenting adalah Batik itu salah satu produk budaya yang perlu dijaga kelestariannya dan pasarannya pun segmented (baca : tertentu) karena hanya orang yang paham Budaya yang akan menghargai batik. Penjelasan saya selanjutnya bisa langsung melihat produk saya🙂 *promosi. Alhamdulillah, terbukti Allah telah menurunkan tentara langit dan buminya untuk mewujudkan salah satu impian saya.

Beberapa hari menjelang keberangkatan ke Jakarta, saya mengambil bahan yang sudah dibeli dan dipesan oleh teman saya tersebut. Dan setelah melihat barangnya, saya agak sedikit kecewa karena bahannya tidak sesuai dengan keinginan saya. Hal ini disebabkan unsur identifikasi budayanya masih kurang melekat dalam bahan batik yang dibawakan oleh teman tersebut. Namun, apapun itu, semuanya sudah deal dan setelah memutuskan, bertawakkallah; inilah syarat mutlak komitmen. Kemudian saya bertanya lagi tentang filosofi dari masing-masing bahan yang dibawakan oleh teman saya tersebut terkait “identifikasi kemaduraannya terletak dimana?”, sangat sedikit pencerahannya, tapi yang penting sudah bergerak dan diantara 12 bahan tersebut ada yang memang sangat terlihat kemaduraannya. Ok, saya pun membawa barangnya dan kami sudah deal dengan harganya, saya membawa pulang ke rumah untuk dipacking dengan barang-barang yang lain. Seperti biasa, saya selalu berusaha menginformasikan secara implisit kepada Ibu saya terkait langkah baru yang akan saya lakukan, mau setuju atau tidak setuju Ibu saya…saya akan selalu lapor seperti halnya laporan pemimpin Upacara kepada pembina Upacara🙂, siapa tahu keberkahannya ada di sana melalui do’a beliau sepanjang malam dan siang. Yah kalau tidak setuju tetap akan maju terus dan membuktikan bahwa ini baik, dan kalau setuju yah biasa-biasa saja dan tak lupa meminta beliau untuk senantiasa mendo’akan supaya lancar. Eh, tak tahunya Ibu saya juga tertarik berdagang batik setelah saya menceritakan bahwa batik yang sempat saya beli seharga 200-an lebih itu laku ke tangan teman saya di Jakarta. Dengan cepat saya mengatakan kepada Ibu saya “tapi Ummi yang modalin ya, aku cuman jualin dan masarin aja, nanti klo ada yang mau beli lagi aku kabari Ummi lagi”, sekalian juga membuat kesibukan baru buat Ibu saya di masa tuanya, supaya tak selalu berususan dengan hobinya yang menjahit, memasak dan di rumah. Saat kami akan berangkat menuju lokasi, daerah kami diguyur hujan sangat lebat sampai dengan sore padahal tokonya sudah tutup kalau sore sehingga kami pun membatalkan rencana kami untuk hunting batik.

Besoknya; beberapa jam menjelang berangkat ke Jakarta, sebelum saya ke Surabaya, saya dan Ibu menyempatkan diri untuk hunting batik menurut keinginan saya dan juga masukan dari Ibu. Alhamdulillah kami mendapatkan 5 bahan pilihan kami dan ini menjadi tambahan dagangan saya untuk dibawa ke Jakarta.” Wah, lumayan berat”guman saya dalam hati, “apa saya kirimkan saja ya” lanjut kata hati saya, berbicara lagi dengan diri sendiri “tapi kalau saya kirimkan, lalu kapan saya akan memulainya,tidak ada kata untuk menunggu, eksekusi hari ini juga apapun yang terjadi”. Untuk mengkompress barang-barang bawaan saya, saya pun mencari-cari tas yang cukup representatif untuk membawa barang bawaan saya supaya anti ribet dan tetap teratur lay outnya. Syukurlah bertemu dengan tas tersebut langsung di hadapan saya ketika membuka lemari doraemon; tas merah putih Bapak yang dulu pernah dibawa naik haji bersama Ibu *wow, masih ada rupanya.

Awal November, saya berlabuh kembali ke Jakarta, kembali dengan kamar kosan tercinta yang beranginkan alami dan bersuasanakan super minimalis;mulai dari perabot sampai dengan isi kamarnya. Kenyamanan rumah harus saya lenyapkan dengan cepat;sarapan dan makanan yang selalu tersedia, kamar yang super representatif, ruangan favorit yang bisa disesuaikan dengan mood, kegiatan berkebun dan bertanam, bersepeda pagi, kuliner tradisional dan harian pilihan *beradddnya. Kembali menyapa kamar kosan dengan ramah dan semangat baru tentunya setelah beberapa hal yang telah didapatkan di bulan Oktober. Membersihkan kamar seperlunya dan kemudian menyusun beberapa agenda keseriusan untuk memulai hal yang baru *InshaAllah. Batik-batik yang sudah saya bawa dari kampung halaman saya pisahkan dulu di tempat yang bisa saya lihat setiap harinya supaya saya ada pergerakan untuk menyeriuskannya karena kalau saya simpan di tempat yang tidak terjangkau akan bisa cepat lupa dan tekadnya pun akan hilang diterpa angin *sayang waktu, sayang perjuangan, jadi sia-sia. Hari kedua masih sekitar beres-beres dan merapikan kamar serta membuat proyek pribadi harian dan mingguan supaya lebih terkontrol dan menjadi lebih baik *InshaAllah. Hari ketiga mulai mencoba berpikir ke arah batik “sebanyak ini bahannya, siapa yang mau beli ya?”kata saya. Langkah taktis pun mulai dieksekusi, tentu saja langkah yang terukur dan tidak membebani diri sendiri. Langkah awal hanya melalui obrolan santai di kosan kemudian beralih ke BBM dengan menawarkan seorang sahabat dekat yang kebetulan tertarik juga karena tidak mempunyai bahan batik Madura. Selanjutnya adalah melakukan beberapa pergerakan untuk membuktikan keseriusan saya dengan bisnis ini.

Beberapa hal yang sudah lakukan dalam semingguan ini untuk percepatan pergerakan perniagaan ini adalah :

  1. Penempelan pamflet di pintu kosan mengenai ketersediaan barang (Ready Stock : Bahan Batik Madura, berminat Hubungi IIS🙂 ). Tentu teman saya sudah tahu siapa yang membuat keisengan ini dan beberapa dari mereka ada yang sudah tertarik dan ngetag-in bahan yang bersangkutan. Dan karena masih belum jelas dan belum pasti, karena kalau orang tersebut serius membeli pasti dia akan langsung ambil barangnya dan membayarnya, minimal DP atau ambil dulu dengan pembayaran bisa dibicarakan bersama, maka saya pun harus menawarkan produk tersebut ke yang lain yang sudah jelas mau dengan produk tersebut, yang masih belum jelas silahkan saja ditunggu (kalau barang masih ada) atau memilih barang lain yang masih ada.
  2. Promosi dan penawaran melalui BBM ke beberapa teman yang sudah pasti menyukai batik dan saya sangat mengenal dekat mereka
  3. Penyeseuaian harga kembali; berdasarkan harga pokok dan ekspektasi logis dari calon pembeli yang mengerti betul tentang batik. Karena bagi yang tidak mengerti batik suka asal-asalan menentukan harga.
  4. Menempelkan harga pada bahan, supaya tidak terlalu banyak pertanyaan yang perlu dijawab berulang-ulang terkait harga. Yang perlu ditambanhkan mungkin filosofi batiknya dan apa yang membedakan bahan-bahan tersebut.
  5. Membuat postingan tentang ready stock di blog pribadi, siapa tahu ada yang berminat
  6. Promosi ke teman sekantor saat santai dan makan siang; Alhamdulillah meskipun yang laku bukan batik (bibit semangka yang saya bawa), tapi setidaknya ada output dan pergerakan atas apa yang saya lakukan
  7. Promosi dan penawaran sekalian silaturrahim dengan teman-teman kantor dulu di daerah kebon sirih, lumayan juga responnya, ada yang yang mau membuatkan seragam, tinggal menunggu respon dari teman satu timnya yang lain. Padahal ke sini awalnya hanya mau menyerahkan jaket yang dipesan oleh teman saya, sekalian saya membawa barang untuk ditawarkan siapa tahu berminat.
  8. Dari (7) terinspirasi oleh beberapa teman yang saling bertukar pin BB sehingga saya pun membuatkan grup supaya ready stock bahan yang saya bawa bisa dilihat melalui grup tersebut, nama grupnya “Makelar Batik Madura”.
  9. Menawarkan dan sekedarkan menunjukkan saja ke teman kantor lama saya dulu di daerah Daan Mogot, dan kebetulan dia sedang di kantor yang MT.Haryono siapa tahu berminat dengan motif yang baru (tak jauh juga dari kantor saya, Tebet, jadi sekalian saja). Dan Alhamdulillah dari pertemuan dengannya, di hari itu 4 bahan batik saya ludes terjual ditambah lagi 3 buah bibit saya juga laku terjual. Lagi-lagi tentara langit dan bumi Allah mengayun dengan lembut membantu pergerakan saya, malah ada juga yang memesan 3 bahan dengan motif yang sama dengan yang sudah dibeli oleh teman saya. Saya menginformasikan ini kepada Ibu saya dan dengan semangat beliau menawarkan untuk mengambil bahan lagi untuk dikirimkan. Saya hanya berkata “nanti aja klo balik lagi ke Madura, biar saya yang cari motifnya sendiri”. Sambil berpikir untuk membuat laporannya kemudian berkata dalam hati “pantas orang suka berdagang, sehari bisa disesuaikan pendapatannya kalau sistemnya sudah benar dan berjalan dengan baik”
  10. Hari ini; melalui BBM, seorang teman saya yang berkantorkan di kebon sirih menanyakan tentang batik Madura dan harga untuk reseller karena dia akan menanyakan terlebih dahulu kepada istrinya yang saat ini tidak bekerja dan sedang menjalankan bisnis online-nya. Saya pun menjelaskan dengan padat dan singkat, karena ketertarikan tanpa niat dan keseriusan tidak akan membuat saya mudah menjalin kerjasama. Saya tegaskan kepada dia, kalau memang niat dan serius ya sudah atur pertemuan saja untuk mendiskusikan ini karena kalau mudik lagi nanti saya akan mencari pengrajin yang harganya bisa lebih miring.
  11. Bergeraklah sedikit demi sedikit dan sertakanlah selalu Allah dalam pergerakan kita karena Dia-lah yang menyempurnakan pergerakan kita dan mendorong percepatan kita. Ide itu bukan untuk sekedar diomongin dan dipublikasikan ke khalayak banyak supaya semua orang tahu. Kita sendirilah yang memiliki otoritas untuk menggerakkan dan merealisasikan ide kita, bukan menunggu respon orang lain sampai positif dan bersesuaian dengan kita yang seringkali kelamaan dan ujung-ujungnya hanya sekedar omongan tanpa bukti dan sekedar basa-basi *ya ampun, mari mundur dan menjauh dengan teratur. Bergeraklah sendiri dan buktikan sendiri bagaimana Allah dengan Indah memilihkan partner bisnis terbaik untuk kita. Pilihlah partner yang mampu melengkapi kekurangan kita dan bisa mengkritisi kita dengan pedas, bukan partner yang kelihatannya saja sempurna tapi sebenarnya tidak bisa apa-apa (yang memotivasi dirinya sendiri saja tidak bisa, apalagi bekerjasama dengan orang lain) *ujung-ujungnya sama-sama kerja, dan bukan kerjasama.

Sekedar ingin berbagi terkait dengan yang yang sudah didapatkan dalam semingguan ini di Jakarta. Bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan tindakan,pikiran dan do’a melalui usaha yang optimal dan tidak malas, kecerdasan strategi, serta melibatkan Allah dalam setiap langkah yang sedang kita jalani. Sekiranya Allah tidak ridho InshaAllah selalu ada yang menghalangi jalan kita, tapi ketika Allah sudah ridho maka sesulit apapun selalu saja ada celah kemudahanNya. Kesulitan membuat kita cerdas memetakan langkah dan membangkitkan semangat kembali sehingga kita tidak mudah terjebak dengan sistem yang baku yang jelas-jelas menyusahkan diri kita, dalam diri kita ada potensi yang sebenarnya sangat potensial untuk membangkitkan semangat kita dan untuk membuat jalur-jalur pergerakan kita. Untuk apa terjebak oleh sistem yang seringkali merugikan diri kita, dalam suatu moment pergerakan dan perubahan hidup ada saatnya kitalah yang mesti menjadi motivator untuk diri kita sendiri, karena kita sendirilah yang paling tahu kapasitas dan keterbatasan kita. Saatnya kita harus berhenti ya apa boleh buat kita memang harus berhenti dan tidak malu juga mengakuinya karena hidup itu memang ada proses dan dinamikanya, yang menjalani hidup kita ya kita sendiri dan bukanlah motivator. Mereka adalah variabel untuk menyempurnakan langkah, pergerakan dan proses yang sedang kita jalani.

Bagi yang tertarik untuk membeli atau memesan batik Madura bisa menghubungi saya langsung dengan bergabung di grup “Makelar Batik Madura”-pin BB:2A4D656A, email: iis.rasjeed@gmail.com, HP(whatsApp) :087851193986.

Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal. Allahumma Yassir Waalatuassir; Yassir Lana Yaa Allah.

– Setelah Memutuskan, Bertawakkallah –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi, Jualan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s