Membangun Reputasi dan Kredibilitas

“TRUST = HIGH SPEED + Low Cost”

Bagi beberapa orang yang masih berpikiran dangkal, ada sebuah anggapan bahwa yang namanya reputasi dan kredibilitas bisa dilihat dari penampilan luarnya. Secara sederhana, orang yang kaya bisa dilihat dari penampilannya yang terlihat bersih, bersolek ria dan mungkin sedikit fashionable. Sedangkan yang miskin itu ketika pakaiannya lusuh, tanpa solekan dan attitude-nya kurang begitu mengenakkan dilihat. Menurut saya, itu hal yang dangkal dan bikin nyeri kalau kelamaan bersama dengan orang yang tipe ini. Tentu saja saya mengatakan ini karena fakta membuktikan bahwa banyak teman-teman saya yang orang tuanya sukses, tapi penampilannya lusuh dan tampak tidak terawat, namun ketika diajak berdiskusi hal yang serius dan menyangkut strategi masa depan mereka begitu apik menjawabnya; penuh semangat dan tanpa ragu melangkah.

Yang ingin saya bagi di sini adalah bagaimana membangun reputasi dan kredibilitas melalui hal kecil yang susah-sush gampang untuk dipelihara. Apalagi kalau bukan kepercayaan. Trust (kepercayaan) menjadi hal yang langka di abad lady gaga ini, karena ia menjadi faktor yang diperlukan dalam meraih kesuksesan. Tidak sekedar keahlian akademis dan pengalaman untuk meraih kesuksesan yang hakiki, tapi trust memegang peranan penting dalam mengayun kesuksesan tersebut. Yakinlah, bahwa bisnis dan karir akan datang dengan sendirinya dan tak pernah diupayakan susah ketika reputasi dan kredibilitas berupa trust sudah mulai kita bangun sedini mungkin, bukan pada saatnya kita sedang membutuhkan bisnis dan karir baru kita bangun trust, tapi jauh-jauh hari sebelum bisnis dan karir mulai dijejaki kita sudah harus menancapkan tiang-tiang kepercayaan tersebut. Tidak perlu dengan hal yang besar dan muluk-muluk, cukup dari yang kecil; penuhi janji dan jika tidak bisa kasi kabar saja sudah cukup, berusaha on time dan kalau memang tidak memungkinkan informasikan ke yang bersangkutan kalau kita tidak bisa datang on time, membantu sebisanya dan bukan yang di luar jangkauan dan beberapa contoh kecil yang lain.

Cara membangun Trust :

  1. Integrity ; unsur utama dalam integritas adalah kejujuran. Kepercayaan yang disinergikan dengan kejujuran akan menghasilkan kredibilitas yang indah. Jujur merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi  dan harus menjadi prinsip hidup. Karena sekali saja kejujuran meleset maka akan berimbas kepada kualitas kejujuran yang lain. Bukan tidak pernah berbohong, tapi berusaha untuk belajar jujur dari beberapa hal kecil dan memang rasanya pahit dan seringkali memalukan, tapi efeknya sangat positif dalam pembangunan mental. Selain kejujuran, disiplin waktu juga menjadi hal yang penting karena orang yang sudah memahami waktu akan sulit bertoleransi dengan orang yang suka ngaret atau yang mengulur-ngulur waktu, dan pembelajaran ini terus terang saya dapatkan dari sholat, karena jelas beda rasanya sholat yang tepat waktu dan sholat yang ngaret. Ada lagi komitmen, yang merupakan padanan kata dengan perbuata dan kombinasi yang elegan antara kejujuran, disiplin dan kepercayaan. Dan pertaruhan integritas yang paling penting adalah tanggung jawab, sehingga jangan suka mengoper tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepada orang lain dengan mudah karena akan mengurangi nilai dan poin integritas seseorang, dan ini memang sangat terbukti. Ciri orang yang tidak bertanggung jawab adalah Blame (menyalahkan atau menyudutkan pihak lain, dan menganggap dialah yang paling mempunyai kepentingan/kesibukan), Excuse (banyak alasan, sampai susah mencari kalimat yang tepat untuk menyalahkannya),Denial (suka menyangkal, dan yang lebih parah lagi menghilang pada saat dibutuhkan tanggung jawabnya) dan justify (mencari pembenaran).
  2. Intent-Motivation; intensitas sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas trust. Orang lain akan senantiasa melihat sejauh mana keseriusan kita dalam mengemban tanggung jawab atau kepercayaan yang diberikan. Seberapa rutin mengawal, memantau,mengevaluasi dan berkomunikasi menjadi faktor penentu peningkatan trust karena dari sana akan terlihat progress kita. Karena bagaimana bisa tercipta trust, jika komunikasi saja tidak pernah terjalin, dilihat dari unsur apanya? telepati hati mungkin? oh ya mungkin, bisa saja bagi yang memiliki ilmu kebatinan yang mendalam🙂. Komunikasi yang intensif bukan berarti harus tiap hari dan setiap jam, tapi lebih kepada komunikasi yang efektif. Semakin powerful komunikasi yang kita bangun amaka akan semakin memberikan nilai lebih bagi orang lain untuk kita. Kontribusi powerful communication secara relatif adalah 10% words, 40% tone, dan 50 % motion. Orang-orang sukses adalah orang orang yang mampu menuntaskan apa-apa yang dimulainya dengan baik dan runut, baik di tahap rintisan maupun di tahap penyelesaian. Orang yang gagal adalah orang yang hanya bisa memulai, tanpa menuntaskannya.
  3. Capability; integitras dan intent motivation saja tidak cukup membangun kepercayaan, tapi lebih jauh lagi dibutuhkan nilai penting akan skill, ilmu, kapasitas, kompetensi dan kemampuan mumpuni yang bisa diandalkan sehingga membuat dia menjadi lebih berbeda dengan yang lain. Skill dan ilmu tidak terkait dengan jenjang akademis yang sudah diraih, tapi bagaimana dan sejauh apa nilai-nilai kelimuan dan skill yang sudah didapatkannya, hanya untuk dirinya sendiri ataukah sudah tersebar ke sekitarnya untuk menabah nilai keberkahan dari ilmu dan skill yang telah didapatkannya?. Jika orang lain saja percaya dengan keilmuan dan skill-nya, maka tak usah khawatir dengan bisnis dan pekerjaan biasanya akan mengalir dengan sendirinya.
  4. Result; nilai dalam sebuah bisnis memang materi, dan kita tidak bisa menafikkan itu semua, it’s real dan reward dari apa yang sudah kita upayakan. Tapi menjaganya dengan integrity dan bahviour itu lebih penting lagi, bagaimana tetap menjalin kekerabatan dan persaudaraan yang tetap indah meskipun sudah tidak dalam satu naungan lagi, dan bukan malah menjelek-jelekkan atau merendahkannya *ya ampun, astaga. Dalam hal ini berlaku filosofi business and money love track record. Sudahlah, mau pindah kemanapun kita, kalau kita memiliki jejak rekam yang baik maka kita akan selalu diingat dan dilihat. Jejak rekam adalah faktor penentu terakhir yang akan dilihat oleh rekan kita, apakah kita bisa deliver result atau sekedar deliver activity. Jika track record yang kita bingkai adalah profit dan benefit, maka tidak mustahil trust akan didapatkan. Sebegitu PENTINGnya trust, sehingga memunculkan pertanyaan yang harus dijawab : “jika Anda low trust, lantas dengan apa orang harus berpartner atau bekerjasama? dan yang lebih parah, jika Anda distrust, lantas bagaimana mungkin orang mau bekerjasama dengan Anda?”

 

“LOW TRUST = LOW SPEED + High COST”
“DisTRUST = No Business, No comitment “

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s