Hakekat Dasar Rezeki

Dr.David McCelland dari Harvard University dalam bukunya “The Achieving Society”; suatu negara dapat mencapai kemakmuran dan kesejahteraan jika minimal 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha. Hal itu berarti Indonesia membutuhkan paling tidak sekitar 5 juta dari 230 juta penduduknya untuk menjadi pengusaha

Ketika kita masih berada di bawah naungan indah orang tua, yang apa-apa tinggal minta dan nunjuk, topik tentang rezeki rasanya hal di luar alam sadar, tak pernah dipedulikan dan berlalu begitu saja, tanpa rasa syukur yang hinggap dalam diri. Astaghfirullah, padahal kalau ditelaah kembali tentang hakikat dan konsep rezeki, alangkah kita akan dibuat takjub olehnya, dan yang paling menakjubkan adalah pada Sang Maha Pemberi Rezeki dan Keluasan.

  • Ada 3 hakekat rezeki, yaitu :

1. Rezeki yang dijamin

Hal ini didasarkan atas firman Allah SWT :

Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rezekinya. Dia Maha Mengetahui tempat kediamannya (dunia) dan tempat penyimpanannya (akhirat). Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (QS. Huud [11] : 6)

Ibaratnya; masing-masing kita ini sudah punya rezeki yang dijatah oleh Allah SWT. Contoh nyatanya bayi yang baru lahir, yang setelah kelahirannya sudah ada yang menjamin pakaiannya, popoknya, sabun mandinya dan perlengkapannya yang lain, baik yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya sendiri maupun yang diberikan oleh orang lain. Sehingga tidak perlu risau dan khawatir tidak kebagian rezeki. Kalau kata Imam Ibnu Athaillah dalam kitabnya al-Hikam, “Jangan merisaukan apa yang sudah dijanjikan Allah kepada kita. Tetapi, risaukanlah jika kita lalai menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada kita.” *yang ini suka galau.

2. Rezeki yang digantungkan

Dalam hal ini meskipun masing-masing mahluk ciptaan Allah sudah dijamin rezekinya, namun mereka juga wajib untuk MENJEMPUT jatah rezekinya tersebut. Contoh mudahnya adalah, Allah SWT memberikan rezeki kepada singa setiap harinya. Namun Dia tidak serta merta melemparkan daging rusa ke kandang singa. Singa itu sendiri lah yang harus berusaha keluar kandang dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya.

Ckckckck, singa saja begitu, bagaimana dengan kita sebagai manusia yang sudah dibekali seperangkat potensi yang sangat dahsyat untuk mencari rezeki. Kita punya otak untuk berpikir, kaki untuk berjalan dan tangan untuk berusaha. Semakin keras kita berusaha mendapatkan jatah rezeki kita, semakin maksimal kita akan berhasil mendapatkan semuanya. Tapi kalau kata Ust. Yusuf Mansur, kerja keras saja tidak cukup, harus ditambah dengan cerdas dan ikhlas. Kerja keras adalah tugas fisik kita, kerja cerdas adalah tugas akal kita, dan kerja ikhlas adalah tugas hati kita. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa, kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS.An-Najm 53:39)

3. Rezeki yang dijanjikan

Rezeki yang tipe ini  ada hubungannya dengan sedekah. Semakin banyak kita bersedekah maka akan semakin banyak rezeki yang mengalir ke kita. Dalam surat Al-Baqarah : 261 (my Fave Surah!), Allah berjanji akan membalas sebanyak 700 kali lipat! Wow…Canggih! Coba disimak baik-baik: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 261). *Wow, supaya makin canggih, saya mengajarkan murid-murid dan ponakan saya untuk menghafalkan surat ini, dan Alhamdulillah beberapa sudah ada yang hafal berserta artinya, dan ponakan saya hanya dalam waktu 2 hari sudah bisa menghafalkan surah ini dengan panduan khususnya tantenya🙂.

  • Upaya Menjemput Rezeki :
  1. Muhasabah (introspeksi diri); melakukan koreksi dan evaluasi atas pergerakan dan hasil yang sudah kita capai
  2. Amal Sholeh; memperbanyak melakukan kebaikan untuk pengembangan diri dan sekitar atau untuk kepentingan orang lain. Amal sholeh tidak selalu identik dengan yang wah dan materialistis; yang penting kecil/sedikit tapi istiqomah, untuk kemudian digerakkan lagi menjadi hal yang lebih besar lagi
  3. Memperbagus citra diri; menghentikan hal-hal yang sia-sia dan basa-basi tidak penting yang hanya menjadi pancingan untuk merendahkan diri. Bukan karena gila hormat atau ingin dipuji, tapi untuk mengontrol diri saja.
  4. Meningkatkan kualitas diri; baik melalui komunitas yang sedang diikuti maupun membuat komunitas baru yang mampu menyalurkan dan meningkatkan kualitas diri.
  5. Membangun network; bagi saya, ini tergantung network-nya, kalau sekedar hura-hura atau obrolan tidak jelas dan tanpa arah maka lebih baik menarik diri perlahan-lahan dan melangkah mundur, biarlah waktu yang mempertemukan kembali.
  6. Memberi manfaat bagi sesama; dengan cara memberikan apa yang bisa diberikan baik uang, tenaga, maupun ilmu dan pengalaman.
  7. Positive thinking; kalau sudah terlanjur negative thinking cepat-cepat istighfar dan berusaha untuk menetralkan pikiran dengan berbaik sangka.
  8. Positive feeling; memberikan respon yang positif untuk tindakan yang dirasa negatif di dalam batin dan jiwa, semoga ini bagian dari perbaikan feeling.
  • Tindakan yang bisa menghambat rezeki :
  1. Kurang evaluasi diri dalam proses ikhtiar
  2. Kurang bersyukur
  3. Enggan berbagi dengan sesama; jangan pelit-pelit dan suka perhitungan, hadduhhh bikin pusing saja
  4. Menciptakan dan menunjukkan masalah, tanpa solusi; jangan suka berkeluh kesah diri, merasa yang paling punya banyak masalah, kicau sini kicau sana, komen sini komen sana, jadinya sedunia tahu, padahal sebenarnya masalahnya ada pada dirinya sendiri, bukan pada yang dikicauin atau yang dikomenin
  5. Sulit bekerjasama dengan orang lain; terlalu perfeksionis dan kurang bisa mempercayai orang lain, bisa juga terlalu senioritas (merasa paling bisa dan lebih dulu tahu)
  6. Memberi kontribusi minimal (tidak berbuat maksimal); inginnya dipuji dan dianggap selangit, tapi giliran diminta kontribusinya selalu milih-milih dan mudah melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, yang begini benih-benih ketidakpercayaan akan muncul. *naudzubillah
  7. Selalu bersikap negatif; apapun yang dilihat dan diamati selalu saja dalam perspektif negatif, yang positif di dunia ini hanya dia saja, hadduh bikin sakit gigi, tidak pernah ada benarnya orang
  8. Memiliki kesadaran kualitas yang rendah; menganggap diri high quality padahal seringkali miskin kesadaran kalau sebenarnya kualitasnya masih dipertanyakan dengan sederet pencapaian yang telah diperoleh
  9. Tidak mau belajar dan mengembangkan diri; maunya hanya menghajar dan menilai orang lain, dan sok-sok’an mengembangkan orang lain padahal memotivasi diri sendirinya saja susah
  10. Suka dengan berita-berita negatif; favoritnya hanya membaca dan mengamati perkembangan gosip terkini dan hal-hal lain yang hanya mengotori semangat dan langkah untuk maju, astaga bin ya ampun yang seperti ini ajak ngobrol seperlunya saja karena terus terang tidak akan pernah nyambung omongannya.

– Yassir Lana Yaa Allah, Yaa Razzaq, Yaa Wasyi’; Amin… –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam, Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s