Wukuf; Mendidik Keraguan, Lalu Atur Langkah Bergerak

(1) Ada pelajaran berharga di balik Qurbannya Nabi Ibrahim
Dan kepasrahan putranya, Nabi Ismail
Keraguan yang dipertanyakan, kemudian hadir jawaban keikhlasan
Saling mengetahui dan memahami bahwa itu adalah perintah Tuhan; apalagi yang diragukan
Dan sebelum memutuskan pengetahun dan pemahamannya
Jiwa diistirahatkan, diisi dengan cahaya Ilahi, ruhiyahnya pun bergerak mendekati ridho Ilahi dan sinyal-sinya Ilahi dari langit pun mampu ditangkap dengan kejernihan
Keputusan pun ditorehkan, dengan melempar semua penghalang dan rintangan menggunakan kerikil-kerikil ketauhidan
Risau jiwa kemudian menyatu dalam satu kata “Ridho Allah”
Manakala eksekusi keputusan terjadi, datanglah pertolongan Sang Penguasa Langit dan Bumi
Sebagai balasan atas ketaatan tertinggi yang telah dipersembahkannya
Inilah cara Tuhan menguji manusia pilihannya
Jatuh sejatuh-jatuhnya, kemudian diangkat lagi setinggi-tingginya
Bukankah Allah Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu ???

(2) Tentu, ketaatan yang kita miliki bukanlah ketaatan sekelas Nabi atau bahkan malaikat
Yang ketika terluka berdarah sedikit saja sudah mengeluh dan menyalahkan Tuhan
Tapi, kita tentu sudah sadari bersama kehidupan yang sedang kita jalani ini
Senantiasa bergerak pada koordinat-koordinat yang tidak pernah kita tentukan sebelumnya
Itulah cara Tuhan, untuk mendidik kita agar mengambil pelajaran dari kisah nabi-nabinya, yang merupakan manusia-manusia pilihan yang telah teruji ketaatannya

(3) Belajar dari kisah para nabi; bukan untuk menjadikan kita sejajar dengan mereka, atau bahkan sok ningrat dari mereka
Tapi untuk memandu langkah dan perjalanan kita
Agar senantiasa aman, tenang dan berkah

(4) Saat kabut-kabut menghalangi perjalanan; terangpun menjadi gelap, bahkan ada kalanya terikpun dibuat teduh
Selalu muncul keterbatasan dalam diri untuk memaknai kabut yang sedang melanda
Saatnya bagi jiwa dan ruhiyah untuk diwukufkan; muhasabah digerakkan dan i’tikaf diaktifkan
Sebagaimana sahabat Umar bertutur : “Allah merahmati hambaNya yang memahami keterbatasan dirinya dan berhenti sejenak di situ”
Berhenti sejenak !!!, mengambil jarak dari keraguan dan probelematika
Mengistirahatkan pikiran, hati dan fisik agar mendapatkan stamina, energi, gelora, harapan dan motivasi baru; semacam peremajaan dalam diri
Akan menghantarkan kita untuk lebih dewasa, matang dan arif dalam bersikap

Seperti halnya Nabi Ibrahim yang didera keraguan tauhid untuk mengurbankan putranya, Nabi Ismail
Ia kemudian bermuhasabah dengan Tuhannya
Bermuhasabah juga dengan keluarganya
Dan ia mendekati dirinya, menyapa dirinya dan bermuhasabah dengan dirinya
Bukankah hal yang paling sulit adalah membuang keraguan dalam diri?

Jawaban langit pun hadir, dan Nabi Ibrahim bergerak dengan langkah ikhlas
Terbukti; campur tangan Tuhan selalu hadir membimbing langkahnya
Alhasil keikhlasan dan ketaatannya dibalas dengan nikmat yang lebih…Subhanallah

(5) Seringkali, sinyal Tuhan selalu hadir untuk membimbing dan menjawab keraguan
Ada wasilah-wasilah yang datang dan pergi mengisi kebimbangan
Tapi seringkali tidak terlalu pintar dan bijak menyikapinya; selalu hadir dualisme yang semakin memerosokkan dalam lubang keraguan yang lebih dalam
Dan seringkali sebagai manusia, terlalu sombong dan bahkan malu-malu mengakui bahwa itulah sinyal langit yang sudah seharusnya dipahami dan diterjemahkan
Padahal Tuhan hanya menginginkan pergerakan dan perpindahan kuadran
Serta keyakinan spiritual, yang tak dicampuri oleh unsur logika; hanya hati yang bicara
Lagi lagi, godaan hadir dan inilah yang menghijab jawaban Tuhan
Seketika harus sadar untuk berbenah dan memperbaiki diri
Agar purifikasi langkah terbentuk untuk kembali memaknai proses

6. Rabbiy; di hari arafah yang penuh berkah dan rahmat ini
Terangilah keraguan ini dengan cahayaMu, sehingga pengetahuan dan pemahaman ini berkilau dalam sikap, pikir dan dzikir
Berilah keikhlasan dalam melepas dan menerima apa yang seharusnya dilepas dan apa yang seharusnya diterima
Menghadapi setiap tantangan dengan jiwa yang ksatria
Bukan menjadi pengecut yang bersembunyi dibalik ke-jaim-an
Bukan juga menjadi pribadi yang uzlah (hidup menyendiri) dan bahkan lari dari tanggung jawab *Naudzubillah*
Terimalah diam dan istirahat ini
Terimalah muhasabah ini dan terimalah munajat ini
Setelah itu, Yaa Nuur Yaa Nuur Yaa Nuuur; jernihkanlah jiwa, cerahkan kalbu, kuatkan ‘azam, kokohkan niat dan motivasi, dan tajamkan orientasi agar hambaMu ini istiqomah menapaki jalanMu
Tuntun kami agar senantiasa berada pada jalurMu

(7) Sebagaimana tutur Umar; Hisablah diri sebelum dihisab
Semoga muhasabah ini menjadi perhitungan dan introspeksi diri
Untuk mengatur langkah, mengharmoniskan gerakan
Dan mematangkan keputusan-keputusan yang sudah saatnya untuk dieksekusi
Rabb, maaf jika selama ini acuh tak acuh dengan sinyalMu dan berlaku aniaya
Dengan keridhoan dan rahmatMu berkahi langkah ini, aturlah proses pemahamannya
Gerakkan lagi agar mampu memenuhi kebaikan yang telah Engkau syariatkan
Hasbunallah Waani’mal Wakiil Ni’mal Maula Waa Ni’mannashir, Laa Haula Waa Laa Quwwata Illa Billah…

– House of Arafah67; Selamat Hari Arafah –

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi, Serius. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s