Tentang Kata Haji

(ki-ka) saya,kakak&abang ipar

“…Dan berbekallah kamu, sebaik-baik bekal adalah TAQWA…”

Dalam sebuah sholat berjemaah di masjid tercinta, ada pertanyaan sederhana dari seorang Ibu sekaligus nenek yang status keberangkatan hajinya masih menunggu, beliau menanyakan kepada saya :”kalau tanggal 8 Dzulhijjah, saat kita di tanah air sedang puasa Tarwiyah, kamu ngapain dulu?”, saya pun membuka kembali memori saya untuk memberikan jawaban berdasarkan apa yang saya alami. Kemudian muncul pertanyaan lain seputar haji yang menurut saya jawabannya masih kurang komprehensif karena sepotong-sepotong dan super singkat. Dan singkat kata, kalau saya boleh jujur saat itu saya hanya mengikuti aba-aba dan kurang mendalami ritual yang saya lakukan , maka dari itulah jawaban saya kurang nendang. Untuk itulah, demi memperbaiki respon dan jawaban saya ketika ada pertanyaan serupa, maka saya pun membuka kembali buku kenangan Haji Khusus 1427 H/ 2006 M.

Jurnal haji harus saya buka kembali, jurnal yang begitu banyak mempengaruhi kehidupan spiritual saya sampai dengan sekarang. Banyak memberikan ilustrasi kehidupan dan bagaimana mensyukuri nikmat Allah. Keberangkatan yang terlihat tidak logis kalau diukur dari logika manusia, mendaftar saja hanya 2,5 bulan sebelum keberangkatan dan itupun masih belum lunas pembayarannya menurut yang dituturkan oleh Abang dan Ummi saya. Benar-benar membuat saya merinding dan bersyukur jika dibandingkan dengan beberapa orang yang sudah mendaftar dengan lunas dan sudah beberapa tahun mendaftar. Kehendak Allah lagi-lagi membuka mata batin kita bahwa apalah arti semua kekuasaan dan kelemahan yang kita miliki, Kun Fayakun; jika Allah sudah berkehendak maka apapun logika manusia tetap akan terjadi kehendak Allah, tanpa perlawanan sedikit pun. Terimakasih Yaa Allah telah memberikan undangan tersebut untuk hamba yang Dholim ini, tuntunlah setiap perjalanan dan langkah kami agar kami senantiasa berlomba-lomba mencari keridhoanMu dalam lapang dan sempitnya kehidupan yang sedang mendekati atau menjauhi kami.

Untuk kesekian kalinya telah saya buktikan bahwa pertanyaan itu memang obatnya keraguan, tanpa bertanya kita akan terus ragu dan bahkan jawaban kita akan selalu mengarah pada “Tidak”. Namun dengan bertanya zona keraguan akan perlahan-lahan menyempit. Dan pertanyaan tidak hanya memberikan dampak psikologis yang positif bagi yang bertanya, yang ditanyai-pun akan lebih bersemangat untuk menggali kualitas dan kuantitas pertanyaan sekaligus jawabannya berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Terimakasih Bu atas pertanyaannya, berikut akan saya berikan catatan singkat berdasarkan buku yang saya baca di buku kenangan tersebut dengan beberapa hal yang saya tambahkan menurut pemhaman dan pengalaman saya *mohon koreksinya jika ada kesalahan*, semoga bermanfaat dan saling mencerahkan kita semuanya.

Tentang Kata Haji

  • Haji Menurut bahasa : melakukan perjalanan. Sedangkan haji menurut agama : melakukan perjalanan ke Baitullah, untuk mengerjakan serangkaian kegiatan ritual, dengan syarat-syarat dan waktu yang telah ditetapkan.
  • Cara Pelaksanaan Haji :
  1. Haji Ifrat : melaksanakan Haji dahulu, kemudian melaksanakan Umroh, yang demikian tidak terkena denda DAM
  2. Haji Qiron : melaksanakan Haji dan Umroh bersamaan, dan yang demikian terkena wajib DAM
  3. Haji Tamattu’ : melaksanakan Umroh terlebih dahulu, baru mengerjakan haji, yang demikian terkena wajib DAM

* Tipe Haji (Ifrat, Qiron dan Tamattu’) berdasarkan jadwal keberangkatannya, apakah kloter awal, tengah ataukah akhir. Dengan demikian niat Hajinya disesuaikan dengan jadwalnya, jika kedapatan kloter pertama (awal keberangkatan) maka Hajinya adalah Haji Tamattu’, sedangkan jika kedatangan di Mekkah saat tanggal-tanggal kegiatan haji maka hajinya adalah haji Qiron atau Ifrat #silahkan dikonsultasikan ke petugas atau Ustadz yang bersangkutan.

*Dam berarti Darah, yang dimaksud adalah mengalirkan darah (membunuh hewan ternak). Dam Nusuk adalah Dam wajib bagi jama’ah yang melaksanakan Haji dengan cara Tamattu’ atau Qiron. Sedangkan Dam Isa’ah adalah Dam yang dikenakan bagi jama’ah yang melanggar larangan Ihram atau meninggalkan Wajib.

  • Waktu Pelaksanaan Haji

Yang dimaksud bulan-bulan haji (Miqot Zamani), terhitung sejak bulan Syawal hingga bulan Dzulhijjah. Sedangkan waktu-waktu utama untuk kegiatan haji adalah :

  1. 8 Dzulhijjah (Tarwiyah), Jama’ah berada di Mina untuk persiapan wukuf
  2. 9 Dzulhijjah (Wukuf), Jama’ah berada di Arafah dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifa
  3. 10 Dzulhijjah (Nahr), Jama’ah berada di Mina
  4. 11,12 dan 13 Dzulhijjah (Tasyrik), Jama’ah berada di Mina

* Wukuf : diam di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah
* Mabit : Istirahat/bermalam/berdiam hingga melewati malam

  • Syarat dan Rukun Haji
  1. Syarat : Islam, Dewasa (baligh), Berakal (aqli), Merdeka/Bebas (bukan budak), Mampu (Istitho’ah : mampu melaksanakan haji baik secara biaya maupun tata cara pelaksanaannya)
  2. Rukun : Ihrom, Wukuf, Thawaf Ifadha+Sa’i (Thawaf dan Sa’i pada saat Haji-10 Dzulhijjah), Tahallul, Tertib (baca : berurutan dalam mengerjakannya)
  3. Wajib : Niat dari Miqot, Mabit di Muzdalifa, Melontar Jumroh (melontar dengan batu kerikil mengenai Marma sebanyak 7 kali lontaran-Jumroh Ula, Wustha & Aqobah), Mabit di Mina, Meninggalkan larangan Ihrom, Thawaf Wadha’ (Thawaf pamitan bagi yang akan meninggalkan Mekkah, tanpa sa’i)
  4. Sunnah : Mandi/Bersuci, Sholat Sunnah Ihrom, Membaca Talbiyah, Thawaf Qudum (Thawaf penghormatan bagi yang melaksanakan Ifrad&Qiron), bermalam di hari tarwiyyah

* Rukun haji -> kegiatan-kegiatan dalam haji yang HARUS dikerjakan, dan bila ditinggalkan maka hajinya TIDAK SAH
* Wajib haji -> kegiatan-kegiatan dalam haji yang HARUS dikerjakan, dan bila ditinggalkann terkena denda DAM

***

Di Jabal Tsur

Ingin sedikit berbagi tentang pengalaman pribadi tentang rute dan agenda perjalanan Haji saya, berikut ulasan singkatnya :

  • Rute Perjalanan Haji Tamattu’ (ARBAIN), tahun 1427 H/2006 M

Jakarta (7 Desember 2006-16 Dzulqa’ada 1427H) -> Muscat -> Bahrain -> Jeddah -> Mekkah -> Madinah -> Mekkah -> Mina -> Arafah -> Muzdalifah -> Mekkah -> Mina -> Jeddah -> Alhamdulillah kembali ke Jakarta (3 Januari 2007, 13 Dzulhijjah 1427 H)

  • Agenda Perjalanan (Terkait Waktu Pelaksanaan Haji)
  1. Tanggal 7 Dzulhijjah : Madinah-Mekkah-Mina -> Singgah di Masjid Bir Ali (sebagai Miqot= batas tempat untuk mulai Ihrom Haji/Umroh) dalam keadaan sudah mandi sunnah Ihrom kemudian dilakukan sholat sunnah tahyatal masjid dan kemudian sholat sunnah Ihrom, lalu mengucap niat Haji. Dalam perjalanan menuju Mekkah terjadi kemacetan yang sangat parah karena Tahun itu adalah Haji Akbar (Wukuf jatuh di hari Jum’at, SUBAHANALLAH) sehingga sampai di Mekkah agak terlambat dari waktu yang sudah ditentukan dan bus yang kami tumpangi sempat nyasar dan berputar-putar di sekitar Mina, kami pun beristighfar bersama, dan untuk menghormati waktu sholat kami pun sholat di rest area (menjauhi Mina).
  2. Tanggal 8 Dzulhijjah : Mekkah-Mina -> kami pun sampai dan memasuki tenda yang sudah dipersiapkan untuk kami. Seingat saya, di depan tenda kami ada tenda jama’ah yang berasal dari Mongol. Ada sebuah catatan menarik dalam buku kenangan ini yang patut untuk saya bold : Di Mina kondisinya sangat tidak nyaman, kondisi yang demikian rawan dengan perdebatan dan mudah memancing emosi untuk marah, maka diperlukan satu kesabaran serta kesadaran bahwa kita semua sedang melakukan ibadah. Bila ada suatu persoalan yang mengusik hati dan perasaan, hendaknya dibicarakan secara musyawarah untuk mufakat. Memang benar demikian karena kondisinya yang padat dan terbagi dalam beberapa maktab-maktab, satu maktab bisa menampung sampai 2000 jama’ah atau beberapa biro perjalanan. Selain itu di dalam tenda tidak ada pemisah/hijab/penghalang antara wanita dan laki-laki, jadi wanita sangat dimohon untuk menjaga auratnya.
  3. Tanggal 9 Dzulhijjah : Mina-Arafah-Muzdalifah -> saat wukuf kami mendengarkan Khutbah wukuf serta melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar jama’ ta’dim Qashar. Selama wukuf perbanyak do’a, dzikir atau membaca Al-Qur’an, serta hindari dari perbuatan dosa (perdebatan), dan perhatikan larangan ihrom. Dan tak lupa setelah selesai do’a bersama di dalam tenda kemudian keluar tenda untuk berdo’a kembali. Yang perlu dibawa ke Arafah antara lain : buku-buku do’a, obat-obatan pribadi secukupnya,kantong kerikil,kacamata hitam,gunting kecil,masker,kamera/handycam,uang secukupnya dan pakaian hangat. Setelah selesai perjalanan dilanjutkan menuju Muzdalifah. Perjalanan ke Muzdalifah yang hanya berjarak 8 km bisa ditempuh dengan waktu berjam-jam karena padatnya lalu lintas, dan mabit di Muzdalifah dilakukan di dalam kendaraan, turun sejenak di Muzdalifah untuk mengambil kerikil. Saat itu saya tidak mengambil kerikilnya sendiri tapi sudah ada yang menyediakan untuk kami.
  4. Tanggal 10 Dzulhijjah : Muzdalifah-Mekkah-Mina -> menuju ke Mekkah untuk melakukan Thawaf Ifadhah. Saya ingat sekali kejadian di tanggal ini bahwa kami tertinggal sholat Ied, dan kami pun harus sholat Shubuh di sebuah Masjid di Mekkah untuk menghormati waktu dikarenakan kondisi lalu lintas yang sangat padat. Sesampai di masjidil haram kami bertiga (saya, kakak dan abang ipar) melakukan thawaf dan sa’i ifadhah, saat itu kakak saya terpisah dengan suaminya sehingga kami pun berdua melakukan Thawaf Ifadhah. Ada kejadian lucu selama akan melakukan Thawaf ini, tiba-tiba mukena yang sedang dikenakan kakak saya dianugerahi kotoran burung-burung yang ada sekitar Masjid, spontan saya tertawa karena dia adalah orang yang suka was-wasan tentang najis, dia pun bingung untuk mengganti mukenanya, namun karena kondisinya darurat maka ia pun membersihkannya di tempat wudhu’ yang ada di masjidil haram. Setelah itu kami kembali ke Mina untuk berganti pakaian (sholat Dzuhur&Ashar, Maghrib&Isya’ dijama’ Qashar selama di Mina) dan sorenya jam 3-an melakukan jumroh Aqobah.
  5. Tanggal 11 Dzulhijjah : Mina -> bersiap-siap untuk mengemas pakaian kembali ke tanah air, kemudian dilanjutkan sorenya melempar jumroh Ula, Wustho dan Aqobah, masing-masing jumroh sebanyak 7 lemparan. Kalau tidak salah ingat saya melempar jumroh malam hari dan hal yang paling saya ingat di malam terakhir di Mina tersebut adalah saat selesai melempar jumroh sandal saya tertinggal karena lari menghindari keramaian jamaah yang lain yang sedang berlarian juga (semacam kerusuhan), karena tinggal satu sandal maka saya pun melemparnya juga dan nyekerlah saya bersama kaos kaki saya. Setelah itu, kami pun berdo’a dengan bimbingan seorang Ustadz, saat itu masih belum mengerti arti do’anya dan untuk saat ini setelah perjalanan pemahaman…do’a itu sangat representatif. Semoga di tahun depan saya bisa bertemu dengan sandal biru saya garis-garis yang tertinggal di Mina.
  6. Tanggal 12 Dzulhijjah : Mina-Mekkah-Jeddah -> paginya kami bersama-sama rombongan yang lain melempar jumroh Ula,Wustho dan Aqobah. Kemudian meninggalkan Mina menuju Mekkah untuk melaksanakan Thawaf Wadha’, dan meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan sedih dan mengharu biru dan ada perasaan tidak mau meninggalkan tanah haram. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Jeddah. Dalam perjalanan menuju Jeddah bus yang kami tumpangi nyasar dan masuk lagi ke tanah haram, Astaghfirullah waa Subhanallah, rupanya hati kecil kami terdengar, sehingga sang Ustadz mengingatkan kami untuk banyak istighfar “2007 keluar dari tanah haram, dan di 2007 juga kami masuk lagi ke tanah haram”. Dan baru saat ini saya tahu tentang nafar awal dan nafar sani karena saat itu setiap kali ditanyakan oleh abang atau Ummi via telepon tentang ambil nafar apa saya selalu menjawab tidak tahu. Ok, saya informasikan ya🙂,  Nafar awal : rombongan yang meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah, sedangkan Nafar Tsani : romobongan yang meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah *Mas Jun dan Ummi, itu udah saya jawab sekarang ya, gak pake ngambek pula jawabnya karena waktu itu memang gak ngerti blas*

***

Demikian perjalanan singkat tentang haji yang bisa saya bagi, semoga bermanfaat dan bisa menjadi bekal bagi yang akan berangkat maupun bagi yang sedang menunaikan ibadah haji. Semoga tulisan ini mengantarkan saya sekaligus menjadi tiket bagi perjalanan haji atau Umrah saya berikutnya sehingga pencerahan pemahaman yang saya dapatkan bisa semakin memperbaiki kualitas Haji/Umrah yang akan saya jalani. Intinya, melalui tulisan ini “undang saya kembali Yaa Alllah ke tanah haram-Mu di tahun depan, Amin Yaa Mujiib”.

“Inna shafa wal marwata min sya’airillah faman hajjal baita awi’tamara fala junaha ‘alaihi ayyattawwafa bihima, waman tatawwa’a khairan fainnallaha syakirun ‘alim.” [Qs: al Baqarah, 158]

-Ridhoilah Umrahku; Undanglah Untuk Haji. Terimalah Hajiku;Mabrurkanlah kami-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam, Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s