Murid Kesayangan Bertemu Guru Inspiratif

Inilah layang2 khas Madura

Hari ini adalah hari yang begitu mengukir dan mengupgrade nilai syukur saya, karena pada hari ini saya dipertemukan kembali dengan seorang Guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas Ic saat SMP dulu (SLTPN 4 Bangkalan). Wow, benar-benar di luar logika berpikir saya dan tidak pernah terbesit sedikit pun niat untuk berkunjung ke rumahnya, dan hari ini saya sudah bersilaturrahim ke rumahnya bersama teman sekaligus tetangga saya. Ada 2 skenario penting yang mempertemukan saya dengan beliau :

1. Gara-gara layang-layang; seorang teman saya yang bernama Nurul tadi pagi tiba-tiba mendatangi rumah seorang teman saya SMP dulu yang merupakan tetangga jauh saya di rumah untuk menagih dan mengambil layang-layang khas Madura yang dijanjikan olehnya melalui sms semalam. Dari pertemuannya terciptalah dialog yang berbuntut kepada pertanyaan “kapan reunian lagi”, tetangga saya pun mengatakan “coba tanyakan Iis, kebetulan dia sedang ada di rumah”. Atas saran Nurul yang spontan, mereka berdua pun ke rumah mencari saya, dan kebetulan saya sedang ada panggilan untuk berkunjung ke sahabat saya yang lain, saya berada di rumah sahabat saya melihat HP ada missed call beberapa kali yang menandakan sangat urgent, saya pun menelponnya dan mengatakan “Ada apa Rul?”, dia menjawab bahwa dia mau berkunjung ke rumah saya. Dengan gaya santai saya mengatakan “ouw ya udah ke rumah aja, kabari klo udah nyampe, saya berada di sekitar embong miring, tak jauh dari rumah, nanti saya langsung meluncur ke sana, kira-kira jam berapa?”, Nurul pun menjawab : “sekitar jam 10-an atao setengah 11”, saya membalasnya dengan OK lalu menutup teleponnya. Sementara itu, Yuli mengajak saya untuk ke pasar karena sebelumnya dia sudah janjian dengan Nurul untuk rujakan di rumah, di lain pihak sahabat saya yang sedang saya kunjungi mengajak saya rujakan juga, padahal hari ini rencana saya tidak ada kata rujakan. Menjelang jam setengah 11 di depan toko sahabat yang sedang saya kunjungi terlihat laki-laki gemuk naik sepeda motor bercelana selutut saya pun memanggilnya karena dia adalah Nurul dan akan berkunjung ke rumah saya, saya memanggilnya untuk bertemu dulu dengan Mar, yang dulu juga alumni SMP 4 dan satu angkatan dengan kami.

2. Gara-gara mukena; setiap selesai kenaikan kelas Bapak saya mempunyai kultur positif yang masih saya ingat, yaitu memberi kenang-kenangan kepada guru atau wali kelas saya (dimulai sejak saya kelas 5 SD, sejak saya mulai masuk peringkat kelas). Bapak yang membelikan kenang-kenangannya dan meminjam tangan saya untuk memberikannya kepada guru saya yang bersangkutan. Kenang-kenangan yang diberikan oleh Bapak bukan pada saat saya akan menerima raport, tetapi pada saat saya sudah naik kelas dan memasuki kelas yang baru. Ada didikan penting di sana : (1) meminjam tangan saya untuk memberi adalah untuk bisa mengapplikasikan langsung tentang ilmu memberi dan bersedekah walaupun sebenarnya Bapak bisa saja langsung memberinya sendiri, (2) memberi pada saat setelah penerimaan raport untuk menjaga netralitas raport, supaya tidak ada unsur menyogok atau mempengaruhi. Untuk guru sekaligus wali kelas saya saat SMP kelas 1 dulu Bapak memberikan kenang-kenangan berupa mukena dan ini baru saya tahu pada saat hari ini berkunjung ke rumah beliau karena memang saya sudah lupa.

***

Murid-murid kesayangan

Pertemuan dengan Nurul dan Yuli di rumah sekaligus dilanjutkan dengan makan rujak dan bakso bersama membuka kembali kenangan masa SMP, tentu saja kami memiliki romantika yang tidak bisa kami lupakan, dan SMP ini sangatlah inspiratif bagi kami; kedekatan kami dengan para guru yang meskipun sudah senior tapi sangat humble kepada murid-muridnya di luar jam pelajaran (bisa menempatkan diri pada saat mereka menjadi guru dan pendidik, dan pada saat mereka menjadi teman). Karena kami satu kelas, keluarlah kata kunci wali kelas. Wali kelas kami adalah guru Bahasa Inggris, Ibu Titik, dan bagi sebagian besar siswa saat itu paling ditakuti karena pelajaran Bahasa Inggris saat itu adalah pelajaran paling susah (lebih susah daripada Matematika). Senakal-nakalnya siswa kalau sudah masuk pelajaran Bahasa Inggris jadi alim semua dan menundukkan kepala takut ditanya dan diminta maju, termasuk di dalamnya Nurul, yang termasuk dalam kategori siswa yang nakal. Sementara saya sangat menggemari pelajaran ini, karena sebelum SMP saya sudah digembleng dengan serangkaian jadwal kursus yang tak biasa, dan inilah bekal yang tak terlupakan dari seorang laki-laki yang selalu menginspirasi saya-Bapak tercinta. Ada celetukan yang selalu dikeluarkan oleh Nurul yang bikin saya mesem dan tertawa “Is, yang paling diinget sama guru itu cuman 2 siswa; yang paling pintar dan yang paling nakal, nah klo kamu itu guru mana yang gak kenal sama kamu Is, semua guru juga tahu sama kamu”, mendengar itu saya hanya bisa🙂 dan :)), lalu balik mengeluarkan komentar “guru mana Rul yang lupa sama kamu?, wong baju sering dikeluarin, gak pernah dimasukin, klo ditarik baru kamu masukin”. Singkat cerita, sampailah kepada sebuah ajakan spontan saya *Iya Bu Titik, kenal banget sama Bapak, karena setiap pengambilan raport Bapaklah yang selalu hadir mengambil raport saya, dan Ibu Titik juga cukup kenal sama Bapak* “yuk kita maen ke rumah beliau, pada bisanya kapan?”, mereka pun berpikir sejenak dan kemudian saya melemparkan opsi “nanti sore atau besok pagi saya bisa”, Yuli kalau besok tidak bisa, sedangkan Nurul kalau sore tidak bisa karena ada jadwal menunggu angin untuk menerbangkan layang-layang super gedenya yang terbuat dari plastik harga 1000-an yang menghabiskan plastik sebanyak 20 lembar *ngek-ngok, jadi pengen juga kan maen layang-layang lagi*. Kami pun memutuskan lebih cepat lebih baik, karena Nurul ada tanggungan juga dengan istri dan anaknya sehingga kami cukup memakluminya karena kalau ke rumah Bu Titik bawa-bawa anak malah makin merepotkannya. Dia berjajnji bahwa besok pagi dia akan ke sana dan akan menghubungi saya kalau sudah di sana, hal ini dikarenakan pernyataan saya kepadanya “kamu beneran ya ke sana besok”, ia dengan santai dan serius mengatakan “Is, ini janjinya orang yang udah punya anak, masak iya bohong” *hahahaha, let’s see”.

Sorenya setelah hujan reda dan beres-beres rumah selesai, saya dan Yuli menuju rumah Bu Titik yang hanya berjarah beberapa kilometer saja dari rumah. Sebelum sampai ke rumahnya kami mampir dulu di sebuah swalayan untuk membelikan seseuatu buat beliau;makanan kaleng dan syrup low sugar. Selesai itu, kami sampai di rumahnya yang sederhana nan asri karena banyak tanaman-tanaman di halaman depan rumahnya, kepada seorang laki-laki yang adalah suaminya kami menanyakan tentang  Ibu Titik apakah ada di rumah karena kami memang tidak menyusun janji atau jadwal dengan beliau. Sang laki-laki tersebut mengatakan bahwa istrinya ada dan kemudian ia pun memanggil istrinya. Kami menunggu sekejap mata dan keluarlah Ibu Titik menuju ruang tamunya yang asri dan menyatu dengan alam tersebut, saya pun memulai komunikasi dengan menyatakan “Assalamu’alaikum ya Bu, permisi Bu?”, Ia pun kemudian menjawab :”iya”, dan raut tanda tanyanya pun saya konversi dengan pernyataan saya :”Ibu, saya IIS, Iswarti Utami, dari Burneh”, Ibu Titik langsung sadar:”iya, iya Ibu ingat, rasanya kayak mimpi Ibu bisa bertemu kamu di rumah ini”, saya pun langsung mencium tangannya dan pipi kanan-kirinya, beliau tak hentinya mencubit pipit dan dagu saya lalu mengatakan “kamu makin cantik aja” *haddeuh, fitnah lagi ini*, kemudian Yuli juga demikian .

Kami bertigapun duduk di ruang tamu dan bercerita kisah kami dan perjalanan hidup kami masing-masing *halah, lebay-nya*. Sesaat Ibu Titik menguraikan sebuah narasi yang cukup membuat saya tercengang :
“Is, dalam 4 hari belakangan, dalam keadaan mengenakan mukena yang diberikan oleh Aba, Ibu jadi teringat sama Iis, apakabarnya ya? dimana sekarang?, ini beneran loh Is, kenapa tiba-tiba Ibu terbayang-bayang sama Iis beberapa hari belakangan”

Jelas-jelas saya kaget mendengarnya, karena saya sendiri juga lupa kenang-kenagan apa yang sudah diberikan oleh Bapak untuk wali kelas saya tersebut. Kemudian saya membalas beliau dengan menyatakan :
“Iya bu, mungkin karena do’a Ibu melalui mukena itu yang menyampaikan saya ke rumah ini, karena memang sebelum-sebelumnya saya tidak ada rencana untuk ke sini, ini gara-gara reunian dadakan hari ini saja sama temen SMP yang membuat saya nyampe ke sini”

Beliau menjawab lagi :”Iya Ibu seneng masih diinget sama Murid”, lalu saya dan Yuli membalas dengan senyuman, kemudian cerita beralih ke Yuli yang memancing sang guru untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuat saya nyengir “klo Ibu punya anak laki-laki yang masih lajang, pasti Ibu kasi ke kamu Is, tapi semuanya udah pada nikah, yang satu dapet orang sana, satu lagi orang sana” *Alhamdulillah lega, coba klo belum susah juga nolaknya :)), jodoh gak bakal kemanalah ya, do’ain aja ya Bu*

Kemudian salah satu putri dari guru saya tersebut keluar dan berbaur dengan kami, dengan senang Ibu Titik mengatakan kepada putrinya “ini murid kesayangan saya, pintar dan medapatkan peringkat kelas paralel”, sang putri pun mengamati wajah saya dan teman saya sejenak kemudian kami pun larut dalam obrolan santai yang penuh canda dan kebahagiaan. Beberapa saat kemudian cucu dari Ibu Titik datang dan dengan santai Ibu mengatakan kepada anak bungsu dari putri sulungnya tersebut “salaman dulu sama murid nenek biar ketularan pintar” *waduhh Bu, yang ini sedikit hiperbolis, yang paralel itu dulu jamannya SMP, sekarang udah seri kemana-mana*

***

Itulah kilas cerita pertemuan saya dengan Guru SMP saya yang sangat inspiratif. Benar-benar membuat merinding, apalagi tentang mukena dan memori Ibu Titik yang masih kuat mengingat warna motor yang sering dikenakan oleh Bapak saya karena memang Bapak saya sangat peduli dengan pendidikan saya, tidak hanya menjadi pendidik saat di rumah tapi beliau juga menyambung silaturrahim dengan para pendidik saya di sekolah dan non sekolah. Tanpa rencana dan diluar dugaan; benar-benar skenario yang indah dari Allah. SMP 4 bagi saya adalah SPESIAL. Jika sebagian besar orang-orang banyak mengelu-elukan masa SMA-nya, maka saya lebih memilih masa SMP saya dibandingkan SMA saya karena disanalah awal pengenalan sekolah kehidupan saya. Saya bertemu dengan guru-guru dan pendidik senior yang sangat inspiratif dan disiplin, dengan kualitas keilmuan yang sangat mumpuni. Memang saat ini lagi jamannya yang muda yang berprestasi, namun demikian kita harus tetap menghargai dan menghormati generasi tua yang banyak memberikan dan mengajarkan nilai kepada kita meskipun ada kalanya mereka banyak tertinggal dalam hal IPTEK. Apapun proses akademis yang saya lalui selalu mengantarkan saya pada SMP 4, ada saja skenario Allah yang mempertemukan saya dengan sekolah ini, baik pada saat saya lulus S1, lulus S2 dan pada saat sekarang. Alhamdulillah silaturrahim tidak terputus dengan para pendidik inspiratif saya; Pak Dahlan-Guru Agama; yang pertama kalinya mengajarkan saya sholat Dhuha dan kemudian dibimbing dan dibina oleh Aba saya sendiri saat di rumah sehingga bisa istiqomah menjalankannya, Pak Prapto yang membuat saya suka sama Matematika, Pak Smith yang mengajarkan kepedulian saya terhadap kelas dan tanggung jawab, Pak Jauhari yang menjebloskan saya ke OSIS, Ibu Juwairiyah sebagai wali kelas saat kelas 2, Pak Ribut yang mendorong saya untuk berani menulis dan berpidato, Pak Komala (alm) dan Pak Ali Basah (alm) serta Pak Jono (alm) yang mengajarkan banyak ilmu pendidikan, dan Bapak-Ibu Guru yang lain.

Melalui tulisan ini, saya ingin menghaturkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya atas ilmu, pengalaman dan didikan yang telah diberikan. Semoga Allah mempersiapkan balasan terbaik atas kebaikan yang sudah dilakukan. Seperti kata abang sekaligus yang menjadi guru spiritual saya “jangan lupa kirimkan Al-Fatihah untuk guru-gurumu”, semoga do’a ini menjadi pintu pembuka keberkahan ilmu kita bersama serta diberikan keistiqomahan untuk senantiasa mendo’akan para pahlawan tanpa tanda jasa ini, baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Do’a kalian semua adalah jalan terang menuju proses demi proses yang sedang saya alami.

Sekali lagi, terimakasih wahai guru-guruku SLTPN 4 Bangkalan.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Al-Rasjid, Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s