Jatuh Cinta vs Bangun Cinta

Judul di atas merupakan hal yang saya dapat hari ini dari sebuah acara kajian rutin setiap hari Jum’at di kampus yang diadakan oleh adik-adik rohis saya. Tentu kehadiran saya hari ini ke sana bukanlah sebuah kesengajaan, karena meskipun ada tag-an di facebook saya untuk mengundang hadir saya tidak sempat untuk membukanya. Saya memang tidak berniat untuk hadir di acara tersebut karena ada beberapa agenda yang mesti saya rampungkan di minggu yang super sibuk ini. Bukankah sehebat apapun rencana dan agenda manusia, Allah jualah yang Maha Kuasa, mau diatur-atur sebagaimana pun kalau ada interfensi Allah di sana, tetap saja saya tidak berdaya dan bisa-bisa saja diselipin sesibuk apapun agendanya. Dan Alhamdulillah hari ini saya bisa hadir di kajian itu karena orang yang saya tunggu untuk saya ajak ke bagian Alumni Centre di kampus mengurus hal terkait keuangan pengumpulan dana untuk acara besar tahun depan yang akan diadakan oleh departemen yang bersangkutan adalah penanggung jawab acara kajian tersebut. Dengan demikian, demi kenyamanan bersama saya pun menunggu sambil menikmati kajian tersebut. Saya pun masuk ke ruangan 309, kampus Anggrek dan kemudian menyalami yang hadir satu per satu, termasuk pematerinya. Sambil tersenyum syukur, rasanya ini sudah yang kesekian kalinya di tahun 2012 saya mengikuti ATM (Nama acara kajiannya, ATM=Ajang Temu Muslimah), kok iya seolah-olah saya kembali lagi ke masa-masa kuliah, ada saja moment yang mengantarkan saya untuk hadir di ATM ini, mulai dari sekedar menunggu teman, menunggu orang sampai dengan diminta menjadi pembicara. Yang jelas, kalimat syukurlah yang harus saya utarakan karena dengan ini saya bisa mengenal sekaligus merawat silaturrahim dengan MT Alkhawarizmi yang justru mendekatkan saya pada saat setelah saya lulus kuliah, dan ketika kuliah terus terang kurang begitu dekat (bisa dibilang juga, MT dianak tirikan oleh saya). Alhamdulillah Yaa Allah, semoga untuk ke depannya MT selalu mendapatkan keberkahan dan rahmatMu sehingga membentuk kader-kader dakwah yang berkualitas dalam sisi IPTEK & IMTAK *do’a kakak menyertai ya :)*.

Kali ini masuk materi, yang membawakan materi adalah saudari Miski yang ternyata orang Jawa Timur juga. Hal ini saya dapat infonya setelah selesai mengisi acara saya mencoba berinteraksi dengannya seputar beberapa hal dan keluarlah pernyataan beliau bahwa ia berasal dari Sidoarjo, lulusan Universitas Brawijaya dan masuk angkatan 2003 dan berada di Jakarta karena suaminya adalah orang Jakarta. Saya hanya tersenyum dan kemudian menyambut dengan senang karena ternyata sama-sama wong Jawa Timur. Kemudian saya pun memperkenalkan identitas kemaduraan saya. Kami pun bertukaran no HP dikarenakan lebaran haji ini dia akan mudik ke Sidoarjo dan kalau memang berjodoh jika nanti saya di Madura juga saya mengajaknya untuk bermain atau ketemuan di Madura atau Surabaya. Ia pun menyambut dengan ramah sambil bercerita kuliner favoritnya “Bebek Sinjay” yang selalu tak kebagian karena kesiangan sampai Maduranya. Mendengar hal tersebut, uluran yang bisa saya berikan adalah “kalau memang nanti ke Madura lagi dan kebetulan ada saya di rumah, kabar-kabari aja, gak jauh kok bebek sinjay dari rumah saya, cuman 10-15 menitan kalau naek motor, nanti saya pesenin dulu biar bisa kebagian”. Kami pun menyelesaikan obrolan kami dengan keluar ruangan 309 menuju parkiran motor di basement.

Lah, ini kapan sampai ke materinya. Sabar ya, saat saya sedang menulis saya sedang berpikir juga sekaligus mencari inspirasi untuk menyusun kalimat yang jelas sehingga tulisan ini tidak hanya bermanfaat bagi saya, tapi juga yang membaca sekaligus bagi yang memberikan materi ini. Sebenarnya saya agak bingung lagi, karena saya menuliskan notulensinya hanya poin per poin yang disesuaikan dengan pengetahuan dan pemahaman saya, jadi hal yang bingung dan bikin saya mumet saya cukup tersenyum atau tertawa saja yang menandakan bahwa saya masih bingung dan belum di proses itu. Berikut notulensi ala saya atas materi tersebut :

  • Paradigma tentang cinta sudah seharusnya diubah, yaitu dari negatif ke positif. Mengapa ketika orang terkena virus merah jambu selalu diidentikkan dengan kata jatuh, padahal yang namanya jatuh banyak mengacu pada terluka, terseret-seret, sakit dan yang lain. Padahal cinta kan tidak selalu tidak seperti itu, apalagi cinta yang mendidik; bisa saling memberikan ruang dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri dan terus membangun karakter menuju yang lebih baik *halah, ini tambahan saya saja*. Dengan demikian marilah mengubah kata jatuh dengan bangun, bawa bangun cinta itu bisa membuat orang menjadi lebih cerdas, pintar dan bijak dalam melangkah. Dan bukan makin galau atau sok-sok ngikut galau atau malah bersembunyi di balik keputusasaan dengan cara berlebih-lebihan mengekspos diri.
  • Bangun cinta dengan cara meletakkan cinta sesuai dengan tempat dan waktunya. Terkait dengan ini saya suka dengan pernyataan Anies Basweddan ”Cinta adalah sesuatu yang very noble, sehingga saya rasa untuk berbaginya hanya setelah memikirkannya secara serius.” *gak perlu lebay-lebayan di jejaring sosial, ato mungkin dicurhatin ke semua orang, cukup Allah dan orang-orang yang telah Allah pilihkan untuk mendengarkan curhatan kita*
  • Bukan karena anak rohis lalu menghilangkan rasa cinta, ya tentu tidak begitu, tetapi bagaimana mengelola perasaan itu menjadi hal yang positif dan membangun sehingga bisa membentengi perasaan dan memacu menjadi lebih baik.
  • Seperti disebutkan dalam surat Ar-Ruum:21, bahwa kecenderungan rasa memang hadir dan kalau memang sudah yakin untuk berkomitmen ke arah yang lebih serius silahkan diproses dan dilanjutkan perasaan tadi dengan cara yang benar dan sesuai dengan tuntunan agama. Dan kalau memang belum serius, tidak mempunyai komitmen sedari awal lebih baik jangan diteruskan karena akan mengarah kepada kemaksiyatan yang merupakan perbuatan negatif sepeti yang tertera pada Al-Israa’:7 –> Dan janganlah kamu mendekati zina… *Astaghfirulllah Astaghfirullah Astaghfirullah*.
  • Dalam surat An-Nuur disebutkan bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya. Dengan demikian, vital bagi kita untuk terus memperbaiki diri agar mendapatkan yang lebih baik, syukur-syukur yang lebih baik dari kita.
  • Pemateri kemudian berbagi cerita tentang pengalaman dia dan beberapa temannya dalam menentukan jodohnya dan kalau boleh jujur memang sangat inspiring sekali, yang hanya bisa saya respon dengan meseman; ada yang hanya dalam 7 hari langsung jadi *namanya paket kilat terbatas*, ada yang keluarganya sudah saling bertemu eh tiba-tiba gak jadi karena si wanita merasa kurang srek dengan laki-lakinya kemudian keduanya saling berpisah ke kota yang berbeda dan tidak tahunya setelah 2 tahunan mereka menuju pelaminan *namanya paket yang dikembalikan*, ada juga yang memutuskan untuk menikah muda yang kemana-mana harus membawa suaminya *namanya paket komplit*. Dia bercerita bahwa memang menikah itu tidak mudah, dia yang memutuskan menikah di usia 25 karena menggunakan pendekatan “ntar lah menikah” harus banyak belajar memahami kehidupan rumah tangga yang bukan lagi seorang diri yang dulunya kalau mau pergi-pergi atau kumpul bareng teman bisa langsung cabut dan tak perlu pamit ke suami *rasanya ini chapter yang paling sulit buat orang yang gak bisa diem seperti saya*, ketersediaan sandang dan pangan di rumah *pilih rumah dekat laundry sama warteg saja*, belum lagi ngurus anak yang membutuhkan kestabilan kesehatan dan emosi *panggil murid aja klo gitu biar bisa diajak maen*, apalagi kalau lagi gak punya uang harus pintar-pintar ngaturnya supaya gak minta sama orang tua *akutansi biaya kyknya mesti dibuka lagi*.

Ok, semoga yang sedikit ini berguna bagi kita semuanya, menjadi bahan introspeksi untuk proses yang sedang kita jalani. Kita tentu memiliki definisi dan esensi cinta masing-masing. Apapun itu yang penting jangan lupakan cinta kita kepada yang Menciptakan kita, yang melahirkan, mendidik dan membesarkan kita, karena tanpa cinta tersebut kita bukanlah apa-apa. Cinta yang benar adalah cinta yang mampu membangun masa depan yang lebih baik yang tetap menghormati dan berdamai dengan masa lalu *peace, love & respect*.

“Dalam setiap pengambilan keputusan, selain diperlukan penguasaan ilmu, pemahaman situasi dan keadaan, juga dibutuhkan kedalaman ruhiyah dalam menangkap sinyal-sinyal langit dan sinyal-sinyal qudratullah”

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s