Memaknai BBM ala Saya

Yuk BBM-an

Hari ini; status facebook banyak yang mengeluhkan BBM dikarenakan tidak bisa mengirim dan juga menerima pesan, serta beberapa keluhan yang lain yang intinya koneksi BBM sedang tidak akur dengan provider manapun. Bagi para pengguna non-BBM ini merupakan kesempatan emas untuk menjelek-jelekkan produk tersebut, dan dengan terang-terangan menaikkan produk yang sedang digunakannya. Tak masalah sebenarnya, karena apapun itu, konsumen memang selalu benar posisinya, dan bagi produsen produk teknologi ini merupakan kesempatan emas untuk kembali menganalisis bisnisnya dari sudut pandang kompetitor dan penggunanya, serta positioning produknya hingga detik ini. Halah, daripada pusing memikirkannya biarkanlah para pengguna dan pengamat BB berkicau dan mengupdate statusnya.

Beberapa bulan ini, saya juga pengguna blackberry yang masih newbie, namun karena pengamatan dan peminjaman dari teman-teman yang pengguna BB sudah lama maka saya pun tidak begitu canggung saat memiliki sendiri produk ini. Dan terus terang saja produk ini tidak saya beli sendiri, tapi hasil dari hibahan saudara yang kebetulan susah untuk menyatu dengan teknologi, dan lagi-lagi saya sering menjadi korban untuk mengotak-ngatik produk teknologi yang dia beli tersebut. No matter lah yau, yang jelas kalau saya sendiri yang harus merogoh kocek untuk membeli produk tersebut rasanya kok banyak pertimbangan, toh HP saya yang lama masih sangat updated untuk sekedar eksis dan memelihara jejaring sosial yang diikuti. Ada beberapa alasan secara pribadi yang masih berpikir-pikir untuk membeli BB :

– Keterbatasan financial, karena sudah ada plotnya kemana saja pendapatan harus dikeluarkanšŸ™‚ *sok economist banget ya, bilang aja pelit dan nunggu gratisan*
– Social messenger saya cukup banyak : ada YM (yang sama sekali sudah tidak pernah saya buka lagi), ada FB dan fasilitas Chattingnya (yang Chatnya saya Off-kan, karena berisik suka dipanggil-panggil), ada twitter (yang sering saya pergunakan sekarang), ada g-talk (email utama saya yang harus saya buka tiap hari), ada milist, ada blog, dan kata Bang Rhoma “dan masih banyak lagi yang lainnya”.

Dan ketika BB itu sudah di tangan saya sendiri dan saya operasikan sendiri ya memang ada bedanya. Rasa penasaran pun terobati, kenapa orang-orang sampai begitu jatuh hatinya dengan BB, dimana-mana yang ditanya pin BB, hadduh hadduh hadduh !!!. Ternyata, dari fasilitas BBM yang sudah all in para pengguna bisa mengupdate apa saja tentangnya mulai dari sekedar teks status, foto, lagu yang sedang didengarkan, video dan lain sebagainya. Dan memang bermanfaat, dikatakan canggih ya tentu OK-lah produknya, tapi kalau berlebihan menggunakannya dengan icon-icon yang bikin saya mumet pusing dan mual-mual itu rasanya kalau target pasarnya untuk orang bisnis sudah tidak relevan lagi. Lah wong ketawa aja sampai panjang-panjang dan menghabiskan karakter saja, saya pribadi tentu kurang menarik mempergunakan icon-icon yang tidak saya pahami tersebut. Haddduh, mungkin saya saja yang kekatroan atau tidak tahu cara mempergunakannya, tapi kalau niat belajar begituan mah sejam juga bisa hanya untuk menciptakan icon-icon yang bikin mual itu. Apakah setelah BB di tangan saya, lalu saya tetap mengacuhkannya. Ya tentu tidak, kalau saya membuangnya dan tidak mempergunakannya dengan baik berarti kufur nikmat *halah, bahasanya*. Keberadaan BB ini sangat tepat sekali pada saat sedang memiliki keterbatasan akses Internet di kampung halaman dan hubungan persaudaraan yang jauh di sana pun lama tak terjalin dan BBM lah yang kemudian mempersatukan kami, apalagi pada saat resepsi pernikahan keponakan saya yang tidak bisa dihadiri oleh sang ayah maka dengan fasilitas yang ada di BBM saat itu juga saya bisa bertukar recent updates tentang prosesi resepsinya dengan berkirim foto via BBM. Seketika itu saya mengatakan “wow, pas banget waktunya, jadi prasangka saya akan BB sedikit mereduksi”. Lebih-lebih, saat grup SMU saya meng-invite saya untuk join ke dalam grup, rasanya BB benar-benar bermanfaat mempertemukan kembali saya dengan sahabat-sahabat SMU dan teman sebangku saya. Dan yang lebih penting dari grup ini adalah bahwa melalui BBM saya bisa meng-update bahasa Madura saya dari mereka karena sering kali ketika berBBM-an hal-hal yang gokil saya menggunakan Bahasa Madura, dengan demikian plesetan BBM bagi saya adalah Belajar Bahasa Madura.

Meskipun pengguna BB, tapi untuk update di BBM itu rasanya bukan hobi saya, lah wong si BB minta ngelink-in ke facebook saya tolak mentah-mentah sambil mengatakan “ada lagi ini produk teknologi, berasa gak ada privasi aja dan diikut-ikuti”. Tapi apapun itu, yang jelas mari kita gunakanĀ  BB dengan bijak dan tidak berlebih-lebihan, dan rancanglah manfaatnya menurut kebutuhan kita. Kalau bagi saya BB untuk tali kasih persaudaraan dan pertemanan, menjaga silaturrahim, kadang-kadang berdagang, bisa juga information exchange, dan apalagi ya…? tetep, BBM = Belajar Bahasa Madura.

“Social messenger itu tak melulu di BBM, masih ada FB, Twitter, Whatsapp, Blog, Gtalk, SMS juga masih relevan dan ok ”

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Iseng. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s