Teguran Bijak Menjelang Fajar

“Jika seseorang berkata: ‘Betapa mulianya engkau!’ dan ini lebih menyenangkanmu dari pada perkataannya, ‘Betapa buruknya engkau!’ ketahuilah bahwa engkau masih tetap seseorang yang buruk” -Sheikh Sufyan Al Thawri-

Deaktivasi prasangka pun terjadi di pagi berkah hari ini, dan memang yang namanya prasangka itu “penyakit” jiwa yang perlu diutarakan (baca : dinyatakan) dan kalau memang berani silahkan diselatankan (baca : ditanyakan), karena jika tidak maka akan timbul prasangka-prasangka baru yang sering tidak mendasar dan subjektif, yang ujung-ujungnya jadi tidak baik dalam hal komunikasi dan interaksi.

Selesai menunaikan shalat shubuh berjemaah di masjid dekat kosan, setelah salam para jamaah pun kebanyakan bersalam-salaman dengan di samping-sampingnya dan sepanjang jangkauan tangan, sementara itu sang imam “sibuk” dengan dzikirannya. Di sebelah kanan saya ada seorang Ibu yang saat pembacaan qunut tadi tangannya tidak diangkat (bergaya : Amin), dan terus terang beberapa hari mengikuti sholat Jemaah di masjid tersebut ini menjadi pertanyaan besar sekaligus prasangka saya karena ada saja tangan ibu yang tidak diangkat saat qunut manakala saya berada dalam formasi jamaah yang berbeda “kenapa siy gak diangkat, qunut kan do’a yang perlu juga untuk diaminkan”, tapi ya sudahlah tak usah dipikirkan, yang penting saya amin aja deh dan meneruskan do’a qunut yang biasanya dilanjutkan oleh masing-masing jamaah tersebut *sudah cukup mengerti bukan maksud pernyataan saya ini?*. Setelah bersalaman dengan Ibu di samping saya tersebut dan 2 ibu di sebelah ibu tersebut kemudian ibu di samping saya mengajak saya untuk berkenalan dengannya :

S = Saya, I = Ibu di sebelah kanan saya

I : tinggalnya dimana mbak?

S : Saya ngekos Bu di depan

I : Duh cantiknya… *whew, yang ini fitnah sekali*, (kemudian melanjutkan pertanyaan) dimananya?

S : Kos putri yang ada pohon jambunya itu Bu

I : Ouw ya, saya tahu, nama suaminya Ibu juga tahu

S : Kalau Ibu tinggal dimana?

I : Saya di belakang, mbaknya kerjanya dimana?

S : Barengan sama teman bu di daerah Tebet

I : Diajak dunk temannya yang lain biar bisa sholat shubuh berjemaah juga di masjid

S : Iya kalau Shubuh biasanya pada susah, tapi klo maghrib ato isya’ siy biasanya barengan sholat ke Masjid,kebalikannya saya klo maghrib jarang di kos kecuali libur, nah mereka biasanya yang sering di kos klo udah maghrib

I : Ouw ya, jangan marah ya *sambil ngelus-ngelus saya kayak anaknya sendiri saja*, kalau habis qunut jangan ngusapin muka dulu, karena itu sama kayak nambahin gerakan sholat, kan gak boleh nambahin gerakan dalam sholat

S : *sambil berpikir dan mencari respon terbaik atas remindernya yang santun tersebut*, gak kok bu, gak marah, malah seneng saya udah diingetin sama Ibu, ouw gitu ya Bu, mungkin karena sudah kebiasaan kali ya Bu makanya kebawa,

I : Iya, makanya Ibu klo Qunut gak ngangkat tangan Ibu layaknya seperti orang amin karena aminnya di dalam hati, tapi pilihan juga siy mau ngangkat tangan ato gak, ngusap mukanya di bagian belakang setelah do’a saja, dan klo sudah salam jangan salaman dulu tapi dzikiran dulu sampai selesai terus  do’a dulu , lalu aminkan baru usaplah muka saat itu, biar apa? Biar fokus, kita benar-benar ingat sama Allah dulu baru setelah itu salam-salaman, *lagi-lagi mengatakan, mohon maaf jangan marah ya*

S : *wow takjub* makasih ya Bu atas ingatannya, saya tadinya kurang begitu mengerti tentang hal ini, tapi karena Ibu menjelaskan ke saya saya jadi lebih paham maksudnya kenapa ada beberapa orang yang tidak mengangkat tangan saat qunut dan ada juga yang menta’hirkan salam-salamannya

I : iya sama-sama, yang penting kita saling ngingetin aja

Kami pun menyelesaikan obrolan kami saat imam mulai mengumandangkan do’a bersama dan kami mengaminkan do’a sang imam, lalu dilanjutkan salam-salaman lagi dengan ibu yang lain, tentu salam-salamannya sudah updated version karena sudah diingatkan tadi sama sang Ibu.

Prasangka hari ini pun terjawab, dan itu semua atas kehendak Allah, terimakasih Yaa Allah karena cahaya ilmu dan hikmahMu sehingga membuka hijab prasangka saya. Inilah bagian dari pencerahan pagi ini karena meskipun telinga didera rasa sakit sampai membuat saya tak beraktivitas ke Tebet ,  tapi selalu ada hikmah dalam  perjuangan pagi ini. Cara Ibu tersebut mengingatkan saya benar-benar membuka tabir-tabir kebijakan bagi saya, karena Ibu tersebut tidak langsung serta merta menuduh atau meng-klaim saya dengan kata salah, tapi memandu saya untuk memilih yang sesuai syariat. Jadi teringat sama Ustadz saya di rumah yang menjelaskan tentang bid’ah, mungkin perbuatan saya ini termasuk bid’ah juga karena tidak ada ketentuannya dan tentu saya harus menyadari ini agar kualitas sholat lebih baik lagi, tidak hanya kuantitas tapi juga kualitasnya. Sekali lagi, terimakasih Ibu, semoga keberkahan, rahmat dan hidayah Allah mengiringi kita semua.

Benar-benar tidak berdaya dan keok kalau sudah Ibu-ibu yang turun tangan dan mengingatkan karena ketulusan bahasa mereka bisa diresapi dan dicerna oleh hati meskipun seringkali tipikal dan temperamen mereka berbeda dalam menyampaikan pesannya. Pernah suatu ketika, saya sangat kecewa dengan perilaku seorang murid saya yang sangat nakal dan susah sekali untuk diatur karena sudah mulai terkontaminasi oleh lingkungan yang tidak sehat, saat itu saya berkata “biarin ajalah, bukan anak sendiri ini, suka-suka deh”, tiba-tiba di suatu pagi pada saat saya sedang menunaikan sholat dhuha dalam keadaan pintu ruang tamu terbuka berdiri seorang Ibu menantikan saya sampai selesai sholat. Setelah salam, saat akan berdiri lagi menambah rakaat terlihat Ibu tersebut dan saya pun langsung menyapa dan mempersilahkan beliau untuk duduk terlebih dahulu di teras depan. Selesai sholat kemudian saya menanyakan keperluannya dan apa yang bisa dibantu, dan ternyata dia menyodorkan sehelai surat yang diperuntukkan untukputra bungsunya yang merupakan murid saya untuk saya baca dan artikan ke Ibu tersebut. Beliau mengatakan bahwa surat itu untuk mbak saja, karena anaknya itu paling nurut sama Mbak, kalau sama saya susah nurutnya. Seketika saya kaget tidak percaya *whew* “kok bisa begitu, kan saya bukan ibunya”. Dan setelah membaca isi surat tersebut kemudian saya memutuskan untuk merangkul kembali anaknya tersebut serta mengingatkan semampu saya. Lagi-lagi cahaya dhuha membuka bashirah saya untuk memperbaiki prasangka.

Menyikapi teguran dan menegur orang lain sudah seharusnya disikapi dengan bijak; ketika kita yang menegur orang lain harusnya pada waktu dan kondisi yang tepat agar tak membuat orang tersebut terpojok atau disalahkan, dan saat kita yang ditegur oleh orang lain sudah saatnya kita bersikap legowo dan menghormati masukan orang lain  karena tidak semua teguran itu kompatibel dengan kondisi kita. Bagi saya yang terdidik dari lingkungan beragama yang NU banget, harus bisa menghormati teguran ibu tersebut karena memang masa-masa pencarian saya banyak dihabiskan di tanah rantau yang mengajarkan saya bagaimana cara menyikapi perbedaan-perbedaan dalam kehidupan beragama, sehingga tak jarang oleh kakak dan beberapa saudara dianggap agak-agak ada Muhammaddiyahnya karena kadang saat di rumah saya lupa membaca qunut atau menunaikan sholat tarawih 11 rakaat (plus witir) atau mungkin jarang membaca tahlil. Mendengar persepsi itu, saya hanya bisa mengatakan kepada mereka bahwa NU sama Muhammaddiyah itu sama-sama islam, mau pakai qunut atau tidak itu bukan persoalan, ada mahdzabnya masing-masing, yang salah itu orang yang gak shalat atau yang sukanya mencari kesalahan orang lain. Pemahaman itu bukanlah yang hereditas (diturunkan) atau juga ikut-ikutan; mentang-mentang orang tua kita aliran yang bersangkutan kita pun jadi ikutan tanpa mengetahui esensinya. Boleh kita ikut asalkan mengetahui dan memahami maksudnya, jangan semuanya ditelan mentah-mentah dan kemudian meremehkan yang lain. Lagian Bapak juga bukanlah orang yang ekstrim dengan ke-NU-annya, beliau banyak mengajarkan saya juga cara berangkulan dengan perbedaan. Dan sekali lagi, perjalanan banyak mengajarkan saya bagaimana menyikapi perbedaan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, baik sesama pemeluk agama maupun yang berbeda agama sekalipun. Untuk itulah kita perlu berguru dan mencari ilmu dengan siapapun yang telah dipilihkan oleh Allah agar pengetahuan kita bertambah dan pemahaman kita semakin mendalam. Jadi teringat akan taushiyah Aa Gym beberapa hari yang lalu bahwa orang sekaliber beliau sekalipun dalam do’anya di Mekkah meminta agar diberikan guru yang mampu membimbingnya. Memang ilmu akan terus berjalan dan tidak berhenti hanya pada aliran tertentu. Semoga kita semua mendapatkan guru yang sudah dipilihkan oleh Allah untuk perjalananan spiritual kita.

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
karena Aku-lah jalan itu.”

– Jalaluddin Rumi-

: Yaa Sami’, sehatkanlah kembali telinga saya

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s