Are You Ready?

Alhamdulillah,setelah wukuf di Arafah

Change does not depend on what the world has to offer us
but on our readiness to take

– Ronit Baras

Sebuah korelasi menarik yang dapat saya petik hari ini sehingga terciptalah judul di atas; (1) sharing saya tadi malam dengan seorang teman kosan atas pertanyaan dari seorang akhwat tentang kepatuhan terhadap suami apakah dalam melaksanakan ibadah haji haruskah dengan ijin suami (mungkin suaminya dalam kasus ini tidak bisa bersamaan berangkat haji) dalam acara kajian tauhid oleh Aa Gym di Masjid BI,Jakarta, (2) bacaan artikel saya beberapa judul yang juga membahas tentang judul di atas, dan tibalah pada judul “are you ready?”. Meskipun saat ini lagi musimnya omongan WOW, saya sedang tidak berselera untuk mem-wow-kan pernyataan saya. Tentu saja saya tidak berkompeten untuk membahas pertanyaan akhwat tersebut karena secara syariat sang pengisi acara lebih kompeten dalam memberikan penjelasannya, sementara saya hanya mendengarkan dan mencatat saja, dan tentang artikel “are you ready” yang berbahasa Inggris itu saya pun tidak berkompeten untuk membahasnya karena pengalaman yang diutarakan mereka adalah kisah yang belum saya selami prosesnya, sehingga mohon maaf untuk tidak membahas 2 kasus tersebut secara mendetail, yang ingin saya paparkan di sini adalah ikhtisar personal yang bisa saya jabarkan berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pemahaman saya, Semoga inshaAllah bermanfaat.

Karena tadi malam Aa Gym menyerempet tentang haji dan juga terkait keberangkatan beliau ke tanah suci bulan depan serta do’a beliau bersama para jamaah yang hadir supaya bisa mengunjungi baitullah menjadi pintu pembuka sharing saya ke teman kosan tersebut yang kebetulan masih satu suku dengan Aa Gym. Saya mengatakan kepadanya bahwa sebelum saya berangkat haji saya selalu mengatakan kepada ibu dan kakak-kakak saya bahwa saya belum siap untuk pergi haji, karena selain kesibukan akademis menyelesaikan skripsi, kesibukan organisasi juga kesibukan kegiatan lain yang mendera, serta masih belum tahu saja tentang esensi haji. Dan mereka pun selalu mengomentari pernyataan saya “apa yang bikin kamu gak siap, ini kan ibadah?”, dengan pemahaman seadanya yang saya miliki saya katakan kepada beliau-beliau semua bahwa saya memang tidak siap untuk berhaji, dan lagian ini kan mau selesai kuliah, terus bagaimana nanti nasib skripsi dan kuliah saya, lagian nanti-nanti juga masih bisa kan. Ibu saya yang meskipun pendidikannya bukan sarjana senantiasa memberikan semangat saya melalui cerita dan juga do’anya dalam sepengetahuan dan tidak sepengetahuan saya. Sedangkan kakak saya terus melobi sikap saya yang apatis tersebut dengan cara mengurus semuanya tanpa sepengetahuan saya, yang jelas ya saya tidak tahu kalau ujuk-ujuk disuruh foto, di suruh begini dan begitu dan ternyata itu untuk keperluan haji. Sampai di suatu hari abang saya datang ke kosan tanpa pemberitahuan dengan mengetok pintu saya dan secara langsung saat itu saya baru bangun tidur lalu meminta saya untuk berfoto warna. Jelas saya shock, untuk apa dan harus saat itu juga saya harus foto dan langsung dicetak, saya pun pergi berfoto dengan persiapan seadanya sebagaimana anak kosan baru bangun tidur, dan baru tersadar bahwa hijab yang saya kenakan adalah bergo, kemudian saya mampir ke kontrakan teman rohis saya untuk meminjam jilbab yang layak untuk foto; jilbab persegi empat warna biru yang kemudian menjadi profile picture saya sebagai jemaah haji dari travel yang bersangkutan.

Sebenarnya pembayaran pendaftaran hajinya hanya untuk 2 orang, namun abang saya mendaftar untuk 3 orang nama, yaitu Kakak dan suami, saya. Mendengar cerita tersebut pada saat beberapa hari sebelum berangkat membuat saya senang karena ada kemungkinan bagi saya untuk bisa cabut. Saya pun mempersilahkan kakak dan suaminya untuk mengambil seat itu, saya mengundurkan diri saja. Sementara abang dan ummi saya terus-terusan memotivasi untuk berdo’a untuk mendapatkan kesempatan itu, terus terang saat itu saya tidak mengkhususkan do’a untuk hal tersebut karena di kepala saya hanyalah skripsi dan beberapa tumpukan kesibukan dunia yang lain. Saking dari pasrahnya dan udah lah ya, saya tidak pulang untuk walimatus syafar yang diadakan di rumah beberapa hari menjelang kami berangkat karena saya memang sedang sibuk-sibuknya dan itu saya anggap sebagai ritual tradisi semata tanpa saya maknai lebih dalam lagi esensi, ya lagi-lagi saat itu mata spiritual saya terhijab oleh asesoris duniawi yang berkilau itu yang nyaris tidak bisa artikan dengan kedalaman batin. Tidak hanya itu, meskipun kantornya berlokasi di Jakarta saya sekalipun tidak pernah mengikuti manasik haji. Reminder demi reminder hadir melalui ponsel saya untuk mengikuti manasik tersebut tapi selalu saja waktunya tidak tepat karena saya sedang ada kesibukan yang lain, dan saya yakin saja bahwa inshaAllah pengalaman umrah saya dan cerita Aba-Ummi serta silaturrahim yang telah dilakukan kepada orang-orang yang sudah pergi haji menjadi manasik berjalan dalam perjalanan haji saya tersebut. Begitu pula dengan kakak saya yang sama sekalipun tidak pernah ikut manasik haji karena memang lokasinya di luar kota.

Alhamdulillah, ketidaksiapan saya kemudian menghadapkan saya pada sebuah realitas untuk menunaikan ibadah haji, benar-benar sebauh agenda yang nyaris tidak pernah saya tulis dalam agenda kehidupan saya saat itu. Saya pun kemudian berpikir dan merenung “mungkin ini bagian dari diijabahnya do’a Aba yang selalu menasihati kami untuk pergi haji selagi muda” karena berdasarkan pengalaman beliau sebagai ketua rombongan pada saat menunaikan ibadah haji ketika peristiwa terowongan mina terjadi sangat menginspirasi beliau bahwa ketika masih muda bisa menikmati ritual haji dengan penuh semangat dengan kesehatan fisik yang dimiliki, sementara kalau sudah tua sangat kasihan sekali “belum capek fisiknya, belum capek yang lain”. Yang kemudian do’a ini diaminkan oleh Ummi kami yang sangat memotivasi kami untuk sesegera mungkin menunaikan ibadah haji seperti yang dipaparkan oleh Aba. Kami pun bertiga berangkat ke tanah suci dan hal yang benar-benar di luar logika kami bahwa di tahun itu adalah Haji Akbar, yang terjadinya beberapa tahun sekali (Haji Akbar adalah haji dimana wukuf jatuh pada hari Jum’at) “Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd”, kami pun merinding mendengar informasi ini, dan lagi-lagi “indahnya skenario Allah mempertemukan kami dalam moment yang super super spesial tersebut”, karena orang yang berhaji beberapa kalipun belum tentu bisa mendapatkan haji Akbar, dan kakak saya yang baru pertama kali haji sekaligus untuk pertama kalinya ke luar negeri mendapatkan haji Akbar “Subhanallah”.

Ketidaksiapan lalu mengajarkan saya bahwa ada begitu banyak nikmat-nikmat lain yang tersembunyi oleh batin kita yang terhijab. Saya suka sekali dengan quote ini :”bahwa kita tidak akan pernah tahu seberapa tinggi gunung kalau kita belum mendakinya”, inilah hikmah ketidaksiapan yang saya dapatkan; kita akan selalu mengatakan tidak siap padahal sebenarnya kita mampu, bulatkan tekad dan niat terlebih dahulu lalu melakukannya. Jangan apa-apa tidak siap. Sepulang dari haji dan dalam masa kontemplasi saya ada begitu banyak yang bisa saya share dengan mereka khususnya Ibu-ibu atau orang tua yang masih belum berhaji, saya selalu katakan kepada mereka “inshaAllah kalau sudah digariskan oleh Allah, maka apapun itu pasti terjadi, haji itu undangan spesial dari Allah,yang penting niat dan do’anya dulu”, dari mereka saya mendapatkan sebuah simpulan menarik yang menakjubkan jiwa saya “ternyata haji itu impian”, hampir semua ibu-ibu dan orang tua memimpikan untuk bisa berkunjung ke tanah haram. Rabb, maaf jika sudah kufur nikmat.

Lagi-lagi ketidaksiapan memberikan hasil yang bisa memberi manfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang lain dan sekitar. Dan terkait dengan article “are you ready” ada beberapa hal yang menjadi concern saya yang membuat saya terdiam sejenak dalam bacaan tersebut.

It was not the knowing, it was the readiness to listen. My friend, the health fanatic, had said it for a long time, but I had not been ready to listen for whatever reason. When I started learning about nutrition, I realised that my older sister had all those books at home. She had gone through her own health journey when she was just 16 and I had been there (I am only 4 years younger than she is) but had not noticed.

Nothing in our outer world can be recognised if we are not ready. Change does not depend on what the world has to offer us, but on our readiness to take. We need the right time, the right circumstances and the right mindset to make things happen. Hearing something is no guarantee for absorption.

In every race, even one that takes only 10 seconds to run, the preparation takes years. This is why we say, “Ready , set, go!”

If you want to change something in your life and it is hard, remember, all the knowledge already exists for us to get to where we need to be and things will appear when we are ready to notice them. All the good and the not so good things that happen are actually knocking on our door and asking, “Are you ready?”

***

Ya ya ya betul banget itu, semuanya bergantung pada kesiapan kita untuk memperhatikan saran, masukan dan kritikan, dengan begitu ketidaksiapan pun menjadi kesiapan untuk dieksekusi dan direalisasikan. Dalam kata yang lain bisa juga dikatakan bahwa kesiapan bisa dilakukan dengan cara buka mata, telinga, hati dan pikiran *dan oooopsss telinga saya kok kumat lagi ya*. Haji kemudian menjadi bagian dari perjalanan spiritual bagi saya untuk menggerakkan diri menuju zona-zona yang seharusnya, membangkitkan semangat dan berusaha berani untuk melangkah sedikit demi sedikit di tengah badai yang sedang mendera. Innal Hamda Wanni’mata Laka Walmulk… Laa Syarikalak.

“Berusaha untuk men-thawafkan do’a, men-sa’ikan ikhtiar dan me-wukufkan hasil&harapan baru, Rabb…multazamkanlah ruang-ruang kami agar kami senantiasa bisa berharap kepadaMu dalam lapang dan sempitnya kami

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Al-Rasjid. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s