Kosan yang Super Homy

“Bagi siapa saja yang sudah kembali ke rumah alami, bisa melihat dari awal hingga akhir semuanya sudah berputar sempurna apa adanya. Serupa air di alam ini. Hujan deras tidak membuat air bertambah, kemarau panjang tidak membuat air berkurang. Ia yang mata spiritualnya terbuka bisa melihat, kebahagiaan tidak melakukan penambahan, kesedihan tidak melakukan pengurangan.” – I Gede Prama –

Tanpa terasa, nyaris setahun saya menempati kosan ini. Benar-benar kosan yang representatif, penuh ketenangan dan jauh dari kebisingan ibu kota. Berada dalam suasana kosan ini rasa-rasanya sedang tak berada di Jakarta. Masih teringat awal-awal berada di kosan ini awal Oktober setahun yang lalu (1-10-2011, begitulah yang tertulis di kwitansi pembayaran kosan, angka yang cantik bukan?); sedikit canggung karena harus cepat menyesuaikan dengan lingkungan yang baru, lumayan bingung dan yang tak kuasa itu panasnya kamar yang mendera *kok beda sama rumah = efek samping anak rumahan. Alhamdulillah semua terlewati dengan indah, bisa berbagi dan menyatu dengan mereka, bercerita seperti layaknya keluarga dan yang terpenting bisa pindah kamar ke kamar yang terhubung langsung dengan matahari dan kehidupan luar *ini benar-benar mirip kamar saya di rumah. Sehabis shubuh membuka jendela kamar untuk merebut embun, mengucapkan syukur semampunya untuk anugerah yang telah dianugerahkanNya dan beraktivitas yang dapat menambah nilai semangat dan syukur *Alhamdulillah Yaa Rabbiy. Dengan satu terobosan dan semangat bahwa kosan ini harus lebih baik dari kosan sebelumnya dan harus terus mengupgrade diri baik di kampung halaman maupun di tanah rantau.

Saya harus berterimakasih pada Mbak Mia (Ibu dari Rayyan, teman kosan lama, yang sudah saya anggap sebagai keluarga sekaligus kakak saya karena telah banyak memberikan inspirasi dan semangat saat saya menjalani kehidupan di kosan lama yang penuh sejarah itu) yang telah menemani saya mencari dan menemukan kosan ini. Yang atas rekomendasi dari hasil silaturrahim kami dengan Ibu kosan lama saya yang sekaligus tante dari Mbak Mia yang tak sengaja kami kunjungi setelah pertemuan tak sengaja saya dengan Mbak Mia di kontrakan teman saya yang merupakan kantor sementara kami dulu sebelum berpindah ke daerah Kemang dan Tebet. Percakapan kami yang masih saya ingat adalah :

Mbak Mia : Is, aku kangen sama kamu, pokoknya kita harus ketemu kalau kamu di Jakarta
Saya : Ya udah ke sini aja, aku lagi gak bawa motor, aku di daerah kebon jeruk kok
Mbak Mia : Ya udah aku ke sana ya mumpung lagi ada arah ke Jakarta
(kami pun bertemu di kontrakan teman dan ngobrol-ngobrol)
Lalu ia pun mengatakan : Is, kan tante juga tinggal di daerah sini, rumah yang deket kampus itu dijual semuanya
Saya : Astaghfirullah mbak, beneran tuh?
Mbak Mia : Beneran deh, dia beli rumah deket-deket sini, kan buat biaya Om yang lagi sakit Is
Saya : Ya udah yuk kita ke sana, udah lama juga gak ketemu, sekalian silaturrahim
(Kami pun ke rumah beliau, dan atas rekomendasinya kami mencari kosan di dekat sana dan atas masukan Mbak Mia saya memutuskan untuk mengambil kosan yang saya tempati saat ini)

Ada satu masukan mbak Mia yang membuat saya yakin memilih kosan ini, yaitu “Is, suasana kosan ini cozy banget, dibanding sama yang satu lagi yang meskipun kamar mandi di dalem agak serem siy, apalagi harganya juga lumayan, kan kamu gak sering di kosan juga kan, klo udah kamu tempati nanti auranya jadi berubah kok”. Sambil berpikir, merenung dan mempertimbangkan beberapa hari kemudian saya pun memutuskan untuk mengambil kosan ini dengan alasan : dekat dengan kontrakan teman saya yang merupakan kantor sementara, suasananya nyaman dan tidak berisik, lingkungan orang bekerja sehingga bisa saling sharing dan membuka pikiran, harga cukup representatif, dan yang penting bersih dan bukan kosan campur. Dengan hanya bermodalkan beberapa helai baju dan sepasang sepatu saya pun memasuki kosan ini karena memang niatnya di Jakarta saat itu bukan untuk ngekos dan karena permintaan teman seperjuangan di kampus saya harus mengekspan diri di Jakarta untuk membantu merintis proyek dan kantornya. Pertama kali memasuki kosan itu saya hanya berkata dalam diri “seringkali hidup itu jauh dari logika manusia, buktinya saat ini saya bisa kembali ke Jakarta bekerja bareng teman kampus yang dulunya kami dipersatukan dalam proyek pembuatan Koran Himpunan setelah beberapa tahun vakum dan kami bersama teman yang lain menghidupkan kembali koran himpunan dengan konsep idealis kami (teman saya tersebut sebagai Pemimpin Redaksinya dan saya sebagai Jurnalis) yang kemudian sempat terpisah untuk melakukan idealis masing-masing meskipun masih dalam satu bendera jurusan (saya di Himpunan, sedangkan dia banyak aktif di laboratorium penelitian), bertemu dengan ibu kosan lama yang dulunya hanya bisa saya temui pada saat akan bayar kos atau diajak Mbak Mia untuk buka bareng ke rumahnya dalam kondisi perekonomiannya yang sangat baik dan saat itu saya melihat beliau sudah sangat berbeda, bertemu juga dengan yang lain-lain yang kadang-kadang membuat saya tidak perlu berat-berat memikirkannya karena masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Tapi sebegitu kebetulannyakah semuanya?, ckckckckck, saya yakin bahwa di balik itu semua ada interfensi Allah untuk mengajarkan saya tentang ilmu dan hikmah.

Ada formasi menarik di tempat kosan saya, di lantai 1 adalah anak-anak pekerja yang pendiam dan jarang keluar kamar yang tentu saja ini adalah hal yang wajar karena mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan ada juga yang nyaris tak pernah pulang kosan, di lantai 2 adalah anak-anak paling berisik, lantai dimana saya juga di situ, penuh teriakan dan keceriaan dan yang jelas di lantai ini tempat berkumpulnya anak-anak dari lantai manapun, dan di lantai 3 adalah anak-anak yang tidak pendiam tapi penuh keramaian juga kalau ada pancingan dari lantai 2, patut diacungi jempol juga untuk kedewasaan anak lantai 3 ini. Sedangkan formasi berdasarkan asal daerah, mayoritas adalah orang Jawa, lalu Sumatra (Bangka, Batak), Sunda dan Madura. Lengkaplah seperti melihat peta saja. Tak salah memang jika kami mengklaim diri kami sebagai anak kos Bhinekka, karena meskipun kami berasal dari daerah yang berbeda tapi jiwa kos kami tetap satu; saling membantu, saling berbagi, saling peduli dan saling kekeluargaan satu sama lain. Agar bisa melestarikan nilai-nilai kosan Bhinekka maka kami pun sampai membuat kaos kosan, yang merupakan proyek bersama untuk kosan. Dan Alhamdulillah atas bantuan seorang teman dan seorang Bapak yang sabar kaos ini pun terbuat dan menjadi icon kosan kami *terimakasih tak terhingga, susah buat balas budinya🙂. Ada saja moment-nya sampai kaos ini berhasil dibuat, padahal sebelumnya saya sudah sempat melupakannya tapi karena berbarengan dengan pembuatan kaos kantor yang sampai sekarang tak jadi dibuat itu dikarenakan sudah disediakan oleh kantor rekanan, lagi-lagi membuat saya berpikir dan merenung, * what’s going on behind all of these?.

Suasana itu diciptakan bukan diberikan, untuk itulah momen setelah mudik yang masih terasa nilai-nilai rumahnya menjadi semangat baru bagi saya dalam menikmati kosan dengan jiwa yang baru. Kalau sebelum lebaran biasanya habis shubuh hilang entah kemana karena rayuan pulau kapuk maka untuk saat ini saya memaksakan diri saya untuk bangun dan shalat shubuh di Masjid dekat kosan, sepulang dari masjid beres-beres kamar sebentar dan membuka jendela kamar, lanjut menonton taushiyah Ustadz Yusuf Mansyur atau yang lain, memasak dan mengharuskan diri sarapan, selanjutnya bersiap-siap menuju tempat mencari nafkah dengan terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan rumah baik berupa cucian maupun setrikaan. Yes, I can seize the morning, thanks Yaa Rabbiy, inilah nikmat yang kelihatannya sepele dan standard tapi sangat membantu saya untuk belajar bersyukur dan bergerak sedikit demi sedikit untuk memperbaiki kualitas hidup melalui perbaikan kualitas kebiasaan. Dalam perjalanan pulang dari kantor sebelum sampai kosan biasanya menyempatkan diri mampir ke pasar Palmerah dulu untuk membeli sayuran, cabe, tomat dan lauk seperlunya yang terletak di pinggir-pinggir jalan. Yang ini harus saya bilang wow, karena ini nyaris tidak saya lakukan sendiri secara langsung di rumah, ke pasar biasanya kuliner untuk kebutuhan sendiri, lah wong cabe aja sering tidak tahu tempatnya dimana karena dari “rajinnya” memasak, hal ini pun sering dikomentari Ibu yang seringkali membuat saya nyengir lalu mengatakan “ya udahlah Mi, ntar juga tau sendiri” *lalu kabur atau duduk santai di ruang makan, seolah-olah tak berdosa*.

Hal yang semakin membuat homy di kosan ini adalah karena saat memasak saya tidak sendirian, tapi dibantu oleh teman yang lain yang juga kena imbas semangat baru saya, sampai-sampai dia mengatakan “Mbak tiap hari aja kita kayak gini, lebih irit dan bersih dibandingin di luar”, saya pun mengaminkan dan berharap juga semoga kebiasaan ini masih bisa terus terpeliharaa. Sementara saya memasak, teman saya yang satu lagi mengulek cabe, menggoreng yang lain dan membuatkan teh manis hangat. Selesai memasak kami pun sarapan bersama di depan TV sambil berdiskusi beraneka hal. Yang ini harus saya bilang wow lagi, karena saya menemukan suasana rumah di kosan dan yang paling wow adalah saya kembali insyaf untuk sarapan. Dalam perjalanan saya beberapa minggu ini memasak di kosan bersama teman kosan rasanya setelah sarapan lebih bersemangat dan mengurangi rasa ngantuk di tempat kerja, yang lebih esensial lagi adalah bahwa krupuk pemberian bulek saya, beras bawaan yang dibersihkan langsung oleh ibu saya, ikan asin singkawang pemberian ibu dari teman saya, belanjaan dari pasar setelah pulang kerja benar-benar menyapa pintu-pintu syukur jiwa saya “Alhamdulillah untuk nikmat ini dan terimakasih untuk mereka yang telah memberikan ini semua kepada saya sehingga membuat saya termotivasi untuk memasak, andaikan tak ada itu mungkin saya akan malas bergerak”. Kalau mungkin nanti ada pemberian lain, mungkin jadi lebih semangat lagi memasaknya, bahan-bahan masak yang tak ada di kos jadi terpaksa harus ada karena harus mengelola pemberian itu dengan baik *boleh dunk berharap*.

Masih terngiang dengan pernyataan Icha yang mengatakan “Mbak tiap hari menu kita sama ya : ikan asin, sayur, sambal, kerupuk, telor rebus atau dadar, teh manis hangat, tapi kok rasanya selalu ada yang baru tiap hari”, saya pun merespon “iya jelaslah, wong tingkat keahliannya semakin hari semakin berbeda, yang penting mah syukur sama kebersamaannya, dan yang penting gak beli di warteg”. Menyikapi kegagalan kami dalam setiap episode memasak kami selalu kami sikapi dengan tersenyum, tertawa dan tetap menikmati masakan kami, dan tak lupa tagline kami “yang penting kenyang” selalu mengiringi kebersamaan kami saat makan.

Tak hanya moment memasak, makan bersama tapi di saat-saat libur atau sedang berada di kosan kami pun bersama-sama ke masjid untuk menunaikan sholat Maghrib atau Isya’ berjemaah. Kalaupun tidak keburu ke Masjid, kami biasanya sholat berjemaah di kamar kosan, dan lagi-lagi kamar saya menjadi pusat berkumpulnya mereka karena memang yang paling luas dan tak banyak barang sehingga cukup untuk menampung beberapa jamaah *kamarpun berfungsi sebagai musholla. Rasa-rasanya, inilah suasana rumah masa kecil yang hadir kembali di kosan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan banyak kata-kata. Hanya bisa berkata dengan pernyataan singkat saya “Menemukan Madura di Jakarta”.

– Salam Kekeluargaan Selalu Untuk Kos Bhinekka –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Iseng. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s