Ini Tentang Ketoprak

Di head set pinjaman saya sedang berputar lagu Adele yang berjudul “Don’t you remember”, spontan tentu saja mengukir kembali kisah yang pernah diceritakan oleh seorang penjual ketoprak yang dulunya berjualan di depan gang kosan lama saya. Saat Adele melantunkan kata “Don’t you remember”, saya hanya bisa menjawab dalam hati seakan-akan berinteraksi dengan sang penjual ketoprak “iye, iye, inget, gak usah ngotot gitu Mbak nyanyinya”🙂.

Pertemuan tak terduga dengan abang penjual ketoprak itu adalah sekitar semingguan yang lalu ketika saya baru saja sampai di Jakarta kembali. Dari bandara SOETA saya mampir dulu ke kantor untuk membagikan oleh-oleh, mengambil motor dan sekaligus koordinasi tentang kerjaan baru saya dalam proyek yang masih belum selesai juga itu. Setelah beberapa saat melabuhkan diri di Tebet saya pun melanjutkan perjalanan ke kosan yang ber dengan motor dan sebelum benar-benar sampai kos, saya mampir dulu ke kos adik teman saya yang dulu pernah tinggal satu kosan dan kebetulan Ibunya sedang dirawat di RS. Sekalian silaturrahim dengan sahabat saya yang merupakan kakak sang pemilik kosan, sekaligus menanyakan kabar terupdate ibu mereka yang saat itu tengah dirawat di RS untuk diablasi. Seperti biasa, kami terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan dan tiba-tiba perut saya menderu kelaparan karena dari tadi hanya berbuka makanan kecil. Saya pun bertanya kepada sahabat saya apakah ada persediaan nasi dan sambil tertawa ia mengatakan bahwa ia tak punya nasi, ia pun menyarankan saya untuk mencarinya di luar bersama adiknya yang saat itu sedang kelaparan. Rupanya sang adik sangat menginginkan ketoprak sedangkan saya hanya butuh sebungkus nasi, ya ampun kwalat sama ibu ini namanya padahal tadinya sebelum berangkat ke Surabaya bersama beliau sudah mendinginkan nasi untuk bisa saya bawa ke Jakarta supaya tak repot mencari lagi,tapi karena kebanyakan barang bawaan maka saya pun menolak tawaran baik itu, jadilah saya kelaparan sesampainya di Jakarta “Astaghfirullah, semoga keberkahan senantiasa tercurah untuk kebaikan ibu saya”. Kami pun menuju abang ketoprak, sebelumya saya bertanya kepada adik teman saya tersebut lokasi ketopraknya dimana karena memang benar-benar lupa dan tidak pernah lagi berhubungan dengan dunia perketoprakan di sekitar kosannya tersebut. Eh ternyata ketoprak yang dimaksud adalah ketoprak depan gang kosan lama kami dulu, yang tentu saja saya tahu sama yang bersangkutan. Kami pun sampai depan gang kosan dan tak perlu menyebrang lagi karena ternyata si abang berpindah lokasi berjualannya ke seberang, bersebelahan dengan penjual nasi goreng. Terlihat yang menjual nasi goreng bukan mas yang biasanya, maka saya pun ikut dengan adik teman saya tersebut ke tempat ketoprak seraya bertegur sapa dengannya dan rupanya dialah yang mengingat saya duluan dengan percakapan sebagai berikut :
(AK : Abang Ketoprak, S : Saya)

AK : lama banget gak kliatan
S : emang lama mas, ini aja baru nyampe Jakarta langsung ke sini beli ketoprak
AK : udah berkeluarga kan?kok suaminya gak diajakin
S : belum mas, suami yang mana lagi ini
AK : (sambil mesem-mesem) lah yang sering nungguin mbak lama itu biasanya sambil makan ketoprak *di antara sekian banyak pelanggan, kenapa masih saja ingat sama pelanggan yang ini mas, padahal dianya saja belum tentu inget, *WOW!!!
S : hah?yang mana mas? (saya bingung)
AK : sambil menyebutkan cirinya dan (tersenyum)
S : (sambil memperhatikan bahasa tubuhnya)ouw yang itu, hahahahaha, ada-ada aja mas ini, gosip aja deh, ada kali tuh di rumahnya, nanti deh saya kasi tahu kalau ktemu orangnya
AK : lama amet,nunggu apalagi siy?
S : (hanya menitipkan senyuman), terus mengatakan “apanya yang lama?, bikin ketopraknya ya?”🙂, lalu pamit ke tempat nasi goreng sebelah untuk membeli sebungkus nasi putih

Pesanan ketoprak adik teman saya selesai dibungkus dan kami pun pamit kepada sang penjual ketoprak dan nasi goreng, dan untuk penjual nasi goreng saya titip salam ke abangnya kalau sudah tiba di Jakarta karena kami sangat kenal baik. Dan kepada sang penjual ketoprak dengan mengatakan “nanti ya mas kapan-kapan saya beli lagi ke sini, malem ini soalnya sudah ada makanan yang lain, makasih ya mas, tolong titipin salam juga buat Mas Nur ya (abang penjual nasi goreng sebelahnya)”. Sang penjual ketoprak yang sampai sekarang tidak saya ketahui namanya tersebut merespon dengan ramah dan senyuman seraya mengatakan “iya mbak, sama-sama”. Dan kami pun menuju kosan kembali untuk mengisi tenaga kami. Saat dalam perjalanan saya menanyakan ke adik teman saya :”kenapa beli ketopraknya di situ?, emang deket kosan gak ada ya?, kan lumayan jauh klo ke situ dari kosan tanpa motor”, ia menjawab :”abis enak kak di situ ketoprak, biasanya klo beli ketoprak juga di situ”, saya pun takjub mendengar jawabannya karena walaupun kosannya lumayan jauh tapi masih tetap setia dengan ketoprak tersebut. Saya hanya bisa berkata : “ouw pantes aja”. Sesampai di kosan, kami pun saling mencicipi makanan kami, dan memang ketopraknya enak meskipun saya bukanlah penggemar ketoprak dikarenakan terlalu banyak asesorisnya : ya bihun,ya tahu,ya toge,ya lontong, ya krupuk,mana bumbunya terlalu banyak dan bikin cepat haus *hadduh ribetdz. Kalaupun ingin makan mungkin salah satu asesoriesnya saya kurangi, misalnya tidak usah ditambahkan bihun atau tidak usah krupuk. Terlalu banyak asesories membuat saya bingung harus mulai makan darimana.

Hari ini, keyword ketoprak muncul lagi setelah beberapa hari sudah saya lupakan tentangnya dan rada lupa juga, hal ini dipicu oleh pencarian makan siang saya yang sudah hampir sore seraya menawarkan yang lain apakah ada yang mau menitipkan makanan juga. Ferdi, yang merupakan rekan seruangan saya mengatakan “lo mo beli apa?”, saya :”warteg aja, soalnya ada ikan asin sama sambel di belakang”, Ferdi :”gw nitip ketoprak”, saya :”mana gw tau di sini tempat ketoprak”, ia pun menjelaskan lokasinya dimana lalu saya mengatakan “ya ampun jauh aja mau nyari ketoprak, yang lain aja deh”, dia pun memesan yang lain yang saya beli di sekitar warteg dan saya juga sedang mencari teh kotak sehingga sekalian juga ke sananya. Saya pun kembali ke kantor dengan melewati arah yang berbeda untuk mencari gado-gado pesanan teman saya yang lain, karena tak menemukan maka saya berkata “ya sudahlah, gak usah dibeliin”, pada saat akan berbelok menuju komplek tiba-tiba terlihat penjual ketoprak, tanpa banyak berkata-kata karena memang sengaja tak membawa HP saya pun membelikan mereka ketoprak meskipun makanan kemasannya sudah saya beli dan gado-gadonya juga tidak berjualan. Sambil menunggu racikan ketoprak selesai, hanya bisa berkata “baru seminggu yang lalu bertemu ketoprak, eh ini malah bertemu ketoprak lagi,sinkron banget sama ketoprak,keywordnya benar-benar cocok”. Sesampai di kantor saya serahterimakan bungkusan plastik yang berisi 2 bungkus ketoprak tersebut ke teman saya “mienya ada, ketopraknya juga, gado-gado gak jualan ganti aja sama ketoprak”, saya pun ke dapur menikmati hidangan saya.

Hidangan saya pun selesai disantap, dan saya kembali ke meja saya dengan keyword “ketoprak” yang masih berseliweran di kepala. Dalam satu kata ini ada beberapa filosofi yang secara pribadi bisa saya maknai :

1. Silaturrahim dengan penjual ketoprak sekaligus nasi goreng setelah beberapa tahun tak bersua, sekaligus memandang jalan-jalan kosan dari kejauhan. Penjual yang ramah dan murah senyum, pantas jika banyak pelanggannya yang masih setia. Dan ingatannya merekam setiap pelanggan cukup membuat saya takjub. Kalau penjual saja bisa seramah dan secerdas dia, tentunya sebagai pembeli kita sudah seharusnya belajar arti keramahan.

2. Kembalinya cerita yang sempat saya lupakan dan kesampingkan sejenak karena berbagai persoalan yang hadir dan datang silih berganti, lagi-lagi ada saja cara kita untuk diingatkan untuk menghargai pengorbanan dan perjuangan orang lain, bukan lagi tidak peduli atau tidak menghargai atau juga meremehkan, tapi jika harus sudah keluar persepsi semacam itu ya apa mau dikata, biarkanlah waktu yang menjawab semuanya. Suara terdalam saya hanya bisa berkata “don’t worry, I still remember with all of those”, semuanya menuntun kita untuk memaknai perjalan waktu,perjalanan takdir dan perjalanan pemahaman.

3. Bahasa sederhana dari pertanyaan dan pernyataan sederhana sang penjual ketoprak memberikan pemahaman kepada saya bahwa ada saatnya kita tak perlulah meninggi dan bergengsi ria untuk menemukan suatu pemahaman dan penyadaran diri.

4. Andai saya membawa bekal berupa nasi dari rumah, hari itu mungkin saya tidak bertemu dengan penjual ketoprak; tanpa silaturrahim, tanpa sapaan dan senyuman dan mungkin juga tanpa pengingat lagi. Ada moment dimana kita harus benar-benar tak perlu banyak mikir karena kita akan disajikan hal baru yang seketika membuat kita banyak mikir.

5. Ilmu dan hikmah serta taushiyah itu begitu dekat, siapapun bisa memberikannya dalam jangkauan yang ia ketahui dan perjalanan pemahaman yang sedang kita rasakan.

6. Ketoprak terimakasih telah membuat saya kenyang secara jiwa dan raga, semoga kapan-kapan bisa menikmati ulekan mas yang ramah tersebut.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Iseng. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s