Perasaan yang Berkespansi

Lala&Zidan

Memelihara persahabatan di tengah kompleksitas permasalahan ternyata bukanlah suatu hal yang gampang. Resistansi demi resistansi selalu muncul untuk bisa terus menjaga persabahatan tersebut. Ada 1001 macam alasan yang membuat kita merasa benar untuk tak bersikap seperti dulu. Ya ya ya, itulah metamorfosis pemeliharaan eksistensi persahabatan.

Tulisan ini tentu saja tak ujuk-ujuk datang tanpa adanya proses yang memicu timbulnya perasaan ini. Hal dipicu oleh pertemuan, obrolan, diskusi sampai curhat-curhatan dengan para sahabat legendaris di kampung halaman. Dikatakan legendaris karena memang secara historis mereka adalah sahabat-sahabat saya yang pertama sejak SD, SMP, SMA dan alhamdulillah sampai dengan sekarang. Antara kami, tak sekedar ikatan emosional personal saja yang muncul tapi juga ikatan kekeluargaan pun sudah terjalin seiring dengan proses pemeliharaan persahabatan. Allahlah yang mengikat hati-hati hambaNya dan kemudian mencodongkannya pada hati-hati tertentu. Eksitensi persahabatan kami sampai dengan sekarang tentu bukanlah suatu kebetulan atau perkenalan yang seumur jagung, ada begitu proses yang panjang di sana sehingga membuat kami menjadi seperti ini. Hanya satu kata untuk mewakilkan persahabatan ini, yaitu “INDAH”, tak sekedar kata tapi juga sebuah semangat untuk terus bisa menjaganya dengan proses yang dialami masing-masing.

Kami berempat memang secara proses  dan latar belakang keluarga  berbeda meskipun hidup di bumi yang sama. Tanah garam menjadi saksi eksistensi persahabatan kami. Sebutlah Dian sebagai sahabat terdekat saya diantara yang lain yang baru tahun ini dikaruniai keturunan setelah penantiannya selama 5 tahun, Maryam yang tahun ini dikaruniai anak keduanya yang sama wanitanya dengan anak pertamanya padahal menginginkan anak laki-laki, sedangkan Mar sudah memiliki 2 anak dengan gender yang berbeda, dan saya Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk terus menggali dari mereka dari diskusi dan curhatan yang sering terjadi baik secara dadakan maupun santai. Lagi, lagi, tak hanya di bangku kuliah kita mendapatkan ilmu, dalam lingkungan persahabatan yang terlihat kecil itu sekalipun hikmah pun saya raup yang bisa saya jadikan panduan untuk proses yang sedang dan akan saya alami. Rupanya persahabatan yang merupakan bagian dari pemeliharaan silaturrahim itu begitu banyak membuka pintu-pintu rahmatNya agar kita senantiasa memperbaharui rasa syukur kita. Saya bisa seperti sekarang ini juga merupakan bagian dari proses persabahatan yang nilai-nilainya bisa saya lanjutkan tak sekedar di kampung halaman,tapi juga di tanah rantau. Kerinduan akan berkumpul dengan sahabat adalah seperti rindunya ingin bertemu keluarga tercinta. Momen yang sederhana, namun begitu meresap ke dalam jiwa.

Dalam persabahatan tentu ada yang namanya perbedaan, baik dari segi selera, cara berpikir dan memandang, dan bahkan cara mendidik anak-anaknya. Bagi saya, that’s not big deal, karena itu hak prerogratif mereka sebagai manusia. Biarkanlah mereka berkreativitas dengan potensinya, toh selama memberikan kebaikan dan hasilnya juga bermanfaat “boleh juga kan di-copy”. Tak lupa kita juga saling memberikan masukan dan nasehat yang membangun untuk kebaikan masing-masing, inilah bentuk reminder dari mereka, bisa saling mengisi dan melengkapi kealpaan masing-masing. Terimakasih yang begitu mendalam ketika sahabat mulai ikut memikirkan apa yang sudah seharusnya diputuskan. Teruntuk sahabat terdekat saya, Dian, terimakasih banyak untuk obrolan santai hari ini yang begitu mendalam karena sebelumnya saya tak ada rencana untuk ini, awalnya hanya sekedar ingin mengembalikan wadah kolak yang beberapa hari yang lalu saya pinjam agar bisa menikmati kolak pisang dan kolak labu buatannya. Hampir setengah hari ini bersama anaknya dan hal ini semacam parenting training bagi saya seraya saya berkata secara lisan dan dalam hati bahwa ternyata tak mudah menjadi orang tua dan menjadi wanita memang suatu takdir yang harus banyak-banyak disyukuri dan diupdate kesyukurannya. Tak salah memang jika surga berada di bawah telapak kaki ibu. Dan untuk pelajaran hari ini adalah bahwa naluri keibuan para sahabat saya sangat membuka kesadaran saya tentang arti, peran dan tanggung jawab wanita. Wow, begitu cepat Allah menaburkan ilmu dan hikmahnya untuk saya hari ini, atau mungkin saya yang memiliki kemampuan loading yang rendah sehingga lama mencerna ini. Bahkan mungkin juga ada do’a-do’a orang yang terdholimi yang saat itu mendo’akan kebaikan untuk saya sehingga dapatlah saya ilmu ini. Apapun alasannya, saya hanya bisa berkata Alhamdulillah untuk semua pelajaran ini semoga menjadi bekal bagi proses yang sedang saya alami.

Kalau kata PADI “Semua tak sama, tak pernah sama”, dulu dan sekarang tampak terlihat jelas perbedaannya. Kalau dulu hanya bersahabat secara personal berempat, maka sekarang sudah tak berempat lagi karena mereka sudah memiliki pasangan dan anak-anak juga sehingga kita pun harus dengan bijak bisa bersahabat dengan mereka, dengan suami mereka dan juga anak mereka-mereka, dan kalaupun tidak memungkinkan karena kesibukan paling tidak perkenalkan anak-anak mereka satu sama lain agar bisa meregenerasi persahabatan orang tuanya meskipun dalam ruang dan dimensi yang berbeda. Meskipun demikiian, ada benarnya UNGU “Seperti yang dulu”, karena di balik proses yang sedang kami alami masing-masing kami masih tetap memegang romantika nilai persahabatan yang masih terjaga itu, seperti misalnya : pada saat beberapa hari yang lalu akan menjenguk anak kedua Maryam, saya dan Dian beserta anaknya tiba-tiba harus mampir ke pasar dulu atas permintaan Dian karena dia akan belanja, tentu saja permintaan spontan itu mengagetkan saya karena anaknya yang masih belum setahun itu dalam boncengan kami, saya pun sedikit maju ke depan untuk menghindari terjadinya belok mendadak supaya tak mengagetkan kendaraan yang di belakang saya dan menjaga keselamatan anaknya juga, Dian pun saya minta turun duluan  dan langsung menuju pasar, sesaat akan menuju pasar dia menawarkan jajanan pasar yang saya suka dan tentu saja saya hanya berkata “ya udah beliin aja klo emang ada”, seketika saya kaget mendapatkan adegan ini karena saya sendiri pun sudah lupa ritual mampir dulu ke pasar sebelum mengunjungi rumah salah seorang sahabat. Sesampai di rumah Maryam, saya pun menceritakan kembali adegan ini dan tentu saja semuanya tertawa lepas seraya mengatakan “masih aja seperti dulu kelakuannya anak berdua ini, jelas-jelas bawa anak masih aja gak berubah”, saya hanya bisa berkata “saya kira juga gitu gara-gara punya anak gak usah mampir dulu eh malah dia yang mancing-mancing, lol”. Senada dengan Mar, yang setiap kali ke rumahnya agenda favorit saya adalah rujak-an dan makan ikan asing yang langsung dimasak olehnya, tak banyak kata juga basa-basi, cukup berkata “ayo Mar” pasti dia langsung mengerti maksudnya dan langsung mengkonversi maksud kami dalam sebuah tindakan menuju ke dapurnya dan mengolah rujak ala buatannya yang super duper cepat itu. Dan kegiatan tambahan favorit saya sekarang di rumahnya adalah mengamati tanamannya dan bertukar pikiran tentang pertanian karena dia juga kebetulan bekerja di pertanian dan ibunya juga mempunyai usaha di bidang pertanian, makin klop-lah dengan saya yang sangat menggandrungi dunia pertanian dan perkebunan, bibit pun sering saya dapatkan gratisan padahal terus terang dari hati yang paling dalam saya ingin membayar supaya saya bisa membeli bibit-bibit yang lain. kalau seperti ini kan jadinya tidak enak, sebaiknya menunggu beberapa saat dulu untuk membeli bibit yang baru atau mungkin saya menitipkan ke orang lain #sambil menunggu bibit tomat dan sawi yang sudah mulai tumbuh kecil-kecil.

Si Hitam Manis Dari Pulau Garam

Itulah persabahatan kami yang seringkali membuat saya nyengir dan mesem-mesem kalau mengingat romantikanya. Apalagi kalau mengamati langsung pola pendidikan dan pengasuhan anak-anak mereka yang kadang saya kasi masukan dan kritik itu. Yang jelas kritik itu tak sampai membuat mereka dendam di hati karena setelahnya kita sama nyengir bersama. Ditambah lagi, baru-baru ini saya seringkali mengkritik anak sahabat terdekat saya yang hitam manis itu, dengan nada santai di siang tadi saya mengatakan kepadanya : “Ya ampun, di dalam AC aja masih sehitam ini, gimana klo pergi-pergi ke luar, gak kebayang deh”, lalu ia pun membela diri dengan mengatakan “anak saya itu mengikuti bajunya, klo bajunya terang warna kulitnya pun ikut terang, klo bajunya gelap warna kulitnya pun gelap”, langsung saya timpali dengan mengatakan “berarti nurnya ada di bajunya ya, tolonglah klo siang-siang jangan dikasi celana pendek, panjangin aja celananya biar gak ikut hitam semuanya, dan tolong bilangin suamimu lagi klo beli baju jangan warna cokelat soalnya gak ada bedanya antara baju sama kulit, kayak gak pake baju aja”, mendengar ini ia pun langsung tertawa terbahak-bahak lantas menceritakan tentang suaminya terkait dengan anaknya.

Seiring dengan berjalannya waktu, rasa dalam persabahatan pun mengalami ekspansi. Ekspansi-ekspansi rasa semacam itu sudah semacam keniscayaan dan realitas yang harus kita hadapi. Persahabatan bukan lagi persoalan harus selalu bersamaan kemanapun dan dimanapun, namun dalam ruang yang berbeda sekalipun rasanya masih tetap mengalir. Persahabatan juga bukan soal pernyataan bahwa kita bersahabat dengannya dan dia bersahabat dengan kita, lagi lagi dalam ruang apapun komitmen selalu diuji untuk membuktikan pernyataan dan ketidakperluan-pernyataan kita. Persahabatan juga bukan sekedar ikut-ikutan,  panas-panasan atau malah kebakaran jenggot, ia hadir dalam suatu hal yang dinamis yang sudah seharusnya kita menerima dengan ikhlas dan lapang dada terkait pencapaian yang sedang dituai dan memberikan dorongan terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Persahabatan juga bukan sekedar trend untuk dikatakan solid atau paling kompak, ada saatnya kita tak usah pedulikan kata-kata itu karena ketika terjebak dengan kata itu kitalah yang terbelenggu dan sulit untuk keluar, persahabatan itu saling membebaskan definisi yang menuntun dan tak menuntut harus begini ataukah begitu. Persahabatan adalah soal seleksi alam, siapapun yang telah dipilihkan untuk menjadi sahabat kita maka dialah yang harus kita jaga dengan baik sebagaimana halnya kita telah dipilihkan menjadi bagian dari keluarga kita yang sudah semestinya kita syukuri, kalau hal yang kecil seperti ini saja sering tidak kita syukuri maka perlu untuk digali kembali tingkat personaliti kita yang mungkin terlihat baik jika bersama orang lain tapi susah untuk mensyukuri keberadaan kita sendiri.

Secara pribadi, saya ingin mengatakan bahwa persahabatan itu sama seperti mengetukkan pintu, siapa yang membukakan pintunya dan menyambut senyum, salam, sapa dan keberadaan kita dengan ramah dilanjutkan dengan kepedulian yang mutual dan tidak saling membebani dan berkeluh kesah maka dialah inshaAllah sahabat yang telah dipilihkan untuk kita. Bukankah hubungan yang indah dan baik itu dimulai dari persabahatan yang penuh proses dan dinamika.

“Kepedulianmu yang menuntun adalah awal mula bagi proses persabahatan kita yang indah dan baik”

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s