Filosofi Lebaran Ketupat Bagi Orang Madura

“Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan”

Kapan ya bisanya?

Syawal memang belum berlalu, tapi Lebaran Ketupat yang dirayakan oleh sebagian besar masyarakat Madura pada setiap tanggal 7 Syawal telah berlalu. Keberlaluannya tak membuat saya benar-benar melupakannya, karena ada bekas-bekas sejarah dan jejak-jejak budaya yang menarik perhatian saya.

Ketupat&Lontong Siap Direbus (4 s.d 6 Jam)

Ketika H-1 Lebaran Ketupat di sekitar rumah saudara-saudara dari ibu dan bapak saya tampak kesibukan para sepupu, tante  dan tetangga saya. Ada yang di teras rumah membuat ketupat dari janur, ada juga yang membuat lepet, ada yang membuat bumbu, ada yang membersihkan daging, ada yang tak keluar-keluar dari dapurnya yang tradisional untuk membuat bara yang mumpuni supaya ketupatnya bisa direbus di atasnya, dan bahkan ada juga yang sekedar iseng seperti saya karena job desc saya di rumah memang tak banyak bersentuhan dengan dunia dapur. Kalau pun ada, itu juga tidak terlalu rumit dan saya memang memilih untuk tidak merumitkan diri dalam urusan dapur. Syukurlah urusan yang terkait dengan lebaran ketupat di internal rumah saya sendiri saat H-1 sudah90% selesai karena memang Ibu saya adalah orang yang paling rajin sedunia untuk urusan masak-memasak dan termasuk juga dalam kategori single fighter untuk urusan ini, maklumlah kebanyakan anaknya memang tak ahli dalam bidang ini. Keahlian ibu ini justru diturunkan ke anaknya yang laki-laki (baca : abang), yang kalau untuk urusan memasak memang ok punya dan tak usah diragukan lagi. Dunia keluarga pun banyak yang tahu skill memasak abang saya ini, sehingga tak heran rasanya kalau ada salah seorang sepupu mengganti nama depannya menjadi “siti” sehingga kadangkala dipanggil siti. Dan berbeda dengan kakak saya yang karena kemalasannya dalam urusan memasak dan rumah sehingga sepupu tersebut menambahkan nama di depannya dengan “ahmad”. Becandaan ini hanya berlaku dan dipahami oleh keluarga di rumah, dengan keyword tersebut keluarga pun sudah mengerti maksudnya.

Topak Ladeh Akan Dirakit

Berbicara lebaran ketupat lagi memang hanya ada di pulau Madura dan ini merupakan bagian pelestarian budaya orang Madura karena di dalam lebaran ketupat sendiri ada masakan khas Madura yang banyak digandrungi oleh orang Madura kebanyakan yang proses pembuatannya cukup sulit dan berbelit-belit dan penuh dengan aksesoris pada saat akan dihidangkan. Warisan budaya berupa masakan tersebut dikenal dengan nama “Topak Ladeh”. Secara harfiah, topak berarti ketupat/lontong dan ladeh adalah bumbunya. Penyajiannya makanan ini memang sunnahnya dibarengi dengan ketupat/lontong, tapi bisa juga dengan nasi. Sedangkan ladeh yang merupakan bumbu khasnya berupa kuah yang terbuat dari rempah-rempah asli Indonesia yang berisi aneka lauk berupa potongan daging sapi, babat, usus, telur rebus atau bagi yang tidak suka daging bisa juga diganti ayam. Dan tak lupa di dalamnya biasanya ada tambahan rebung untuk menambah selera makan.

Bikinan Emak

Saat membicarakan topak ladeh jangan langsung di depan para orang tua, khususnya para wanita karena mereka hobi sekali dengan makanan ini. Sampai-sampai ada pernyataan seorang ibu yang rela untuk makan topak ladeh berhari-hari setelah dihangatkan karena rasanya semakin enak seiring dengan seringnya dihangatkan.

Adapun penyajian topak ladeh adalah dengan piring tentunya. Ketupat atau lontong dipotong sesuai selera lalu tuangkan bumbunya ke atas lontongnya, jangan lupa dagingnya disertakan, selanjutnya ornamen dan asesorisnya yang berupa toge kecil-kecil,sayur kacang rebus yang diikat,koya jagung disertakan di pinggir-pinggirnya. Dan untuk menambah kenikmatan makanan ini, maka jangan lupa cabe rawit yang siap untuk digigit mengiringi perjalanan makan topak ladeh ini. Tanpa kehadiran cabe gigitan, topak ladeh akan tereduksi sensasinya.

Saat lebaran ketupat ini, kebanyakan orang Madura lebih memilih untuk membuat ketupatnya sendiri dari janur karena ternyata ada unsur filosofisnya dan mitosnya. Terus terang saya kurang begitu mengerti dari hal ini sehingga belum bisa saya tuliskan penjelasannya. Yang jelas, kata orang tua, sebagai orang Madura harus bisa membuat ketupat janur. Sejujurnya, sampai dengan sekarang saya tidak kunjung bisa membuat ketupat janur padahal saya sempat juga minta belajar ke ibu saya atau sepupu untuk membuat ketupat janur. Mereka selalu bilang ke saya “kamu ini gimana, masak orang Madura gak bisa bikin ketupat janur”, seperti biasa jawaban saya seringkali kontradiktif dengan mereka “ya ampun, gak harus juga lah, kayak apaan aja, wong sekarang udah banyak yang jualan jadinya”, kemudian saya pun mencoba lagi membuat ketupat janur dan tetap saja saya tidak kunjung bisa meskipun mereka seringkali mengatakan “gampang kok bikin ketupat yang seperti ini, tinggal rakai atas bawah atas bawah aja”, saya pun mengikuti nasihat mereka dan apa yang terjadi ketupat yang saya bikin hancur lebur bentuknya dan selanjutnya janurnya hanya bisa saya buat main-mainan, dan tentu saja hal ini membuat mereka kurang bersabar dan lantas merekalah yang menyelesaikan pembuatan ketupat. Tak lupa juga, saat membuat ketupat dari janur mereka juga membuat ketupat yang kecil-kecil untuk kemudian mereka pajangkan di pintu-pintu rumahnya karena lagi-lagi mengandung mitos. Dan untuk di rumah, jangan khawatir kalau sudah ada yang beginian saya langsung menyampikan keberatan saya kepada ibu saya dengan mengatakan “Ummi, itu syirik namanya, biarin ntar aku buang deh”, secara spontan memang yang namanya orang tua yang masih memegang budaya menganggap itu adalah hal yang sah dan mendatangkan keberuntungan bagi mereka akan bersikap tidak setuju dengan pernyataan saya, maka kemudian saya berkata lagi “ok, udah aku ingetin ya” *sambil mencari waktu yang tepat untuk menurunkannya*. Tindakan saya yang bertolak belakang inipun lama-lama akan hilang seketika sudah tidak dibahas lagi dan mencoba untuk terus memberikan pemahaman kepada mereka tentang hal yang berbau mitos yang beberapa sudah seharusnya ditinggalkan karena sudah nyerempet ke syirik. Adapun cara saya adalah kalau penjelasan langsung tidak bisa dipahami oleh mereka, maka biasanya saya bertanya kepada sang ustadz saat pengajian bersama warga sekitar di masjid dekat rumah tentang temuan yang saya dapatkan di masyarakat agar sang ustadz bisa memberikan penjelasan kepada mereka dari sudut pandang agama, karena kalau saya yang menjelaskan bahasa saya banyak yang belum sampai ke merek, sedangkan kalau bahasa Ustadz atau Kyai kebanyakan didengar oleh mereka karena jam terbangnya dalam masyarakat yang memang sudah banyak. Inilah indahnya bermasyarakat, mengajarkan kepada kita bagaimana mengasah ilmu komunikasi kita.

Bagi mereka yang memilih untuk membuat ketupat dari daun atau dinamakan lontong biasanya karena sudah tak kebagian janur di pasar karena mengalami keterlambatan dalam berbelanja lebaran ketupat. Lontong yang mereka buat tidak hanya full daun, tapi kadang kala ada kombinasinya juga dengan plastik.

Di lebaran atau di idul fitri jangan berharap bertemu dengan ketupat atau lontong karena keberadaan mereka sudah terpusat pada saat lebaran ketupat. Adapun masakan khas saat lebaran biasa adalah ayam kare ala Madura yang ditemani dengan pencuci mulut agar-agar. Untuk lebaran yang ini, biasanya saya berebutan dengan kakak-kakak saya dalam mendapatkan ceker, leher, kepala ayam. Kebanyakan kami memang tak suka bagian ayam yang banyak dagingnya, dan ibu saya bukanlah pemakan daging ayam, sehingga saya pernah menyampaikan masukan agar ibu tak perlu susah-susah memasak toh nanti sisanya jadi kebanyakan karena tak ada yang memakannya dan main saja sama saudara atau tetangga nanti juga makan kari ayam khas Madura tersebut, di rumah masak saja ikan asin sama sambal juga sudah cukup. Jelaslah komentar ibu saya mengatakan “Ya ampun, masak lebaran makan ikan asin, kamu ini jangan suka aneh-aneh deh”, saya pun mengatakan :”loh emang knapa, emang harus selalu sama orang, beda boleh dunk”.

Lebaran ketupat juga identik dengan lebaran jalan-jalan aka plesiran, setelah menikmati topak ladeh di rumahnya masing-masing mereka biasanya bertamasya bersama keluarga ke tempat pariwisata di daerah Madura yang berupa wisata alam alam atau religi. Tak heran jumlah pengunjung wisatawan domestik di lebaran ketupat ini meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya karena memang dikhususkan untuk jalan-jalan, tak heran juga aneka kuliner khas Madura berupa rujak, soto,es, bakso dan yang lain banyak diincar oleh mereka sebagai bentuk pelarian dari topak ladeh karena setelah sampai di rumahnya akan bertemu lagi dengan topak ladeh sehingga kuliner di tempat wisata menjadi bentuk pelarian rasa mereka supaya tak terjerat oleh rasa topak ladeh yang cukup tajam itu.

Saya bukan penghobi topak ladeh dan makanan khas saat lebaran biasa karena saya memakannya cukup sekali saja, dan adapun untuk topak ladeh saya biasanya selingi dengan nasi karena perut saya akan melilit dan diare jika makan kebanyakan bumbunya, sedangkan kakak saya yang lain sangat akrab sekali dengan makanan ini, dan yang bikin saya iri sama mereka adalah meskipun makan berkali-kali tapi perut mereka baik-baik saja, sementara kalau saya padahal makan sekali itupun tidak terlalu banyak sudah melilit kemana-mana rasanya. Ibu saya cukup tahu tentang hal ini sehingga biasanya selalu memasak nasi untuk memenuhi kebutuhan saya ini. Kebetulan ibu saya sangat sangat hobi dengan makanan ini sampai-sampai makan berkali-kali karena terlanjur cinta sama makanan ini. Sedangkan Bapak saya, tak beda jauh dengan saya, kalau kebanyakan akan diare dan memang tak suka juga dengan lontong/ketupat karena ke perut tidak terlalu membuat kenyang dan mudah lapar *setuju sama Bapak*.

Meskipun bukan penghobi topak ladeh, ada beberapa filosofi menarik yang saya dapatkan di balik perayaan lebaran ketupat di Madura ini :

-Bentuk appresiasi dan penghargaan bagi orang yang telah menyelesaikan puasa sunnah syawal 6 hari. Lebaran ketupat dianggap sebagai lebarannya orang yang berpuasa syawal 6 hari.
– Pelestarian warisan budaya berupa makanan daerah. Topak Ladeh adalah makanan khas Madura dan proses yang benar hanya bisa dibuat oleh orang Madura, kalau tidak ada yang melestarikannya lambut laun warisan ini akan hilang. Dengan demikian lebaran ketupat bisa dijadikan sebagai pendidikan sekaligus penambah wawasan budaya. Suatu hari nanti🙂, saya harus bisa membuat topak ladeh yang super duper ribeet ini, ini bagian dari do’a di lebaran ketupat tahun ini (selain bisa membuat ketupat janur).
– Pemantapan silaturrahim melalui pendekatan budaya, karena silaturrahim memiliki cara pendekatan yang berbeda. Jika pada saat lebaran biasa, silaturrahim lebih menfokuskan dirinya pada pendekatan religi dengan cara menunaikan sholat IED berjemaah di masjid atau lapangan maka untuk lebaran ketupat ini silaturrahim dilakukan dengan saling mengantarkan makanan berupa topak ladeh antar tetangga atau antar keluarga dekat.
– Lebaran ketupat hanyalah simbol internalisasi nilai-nilai islam dalam budaya agar mereka bisa memahami nilai islam dengan mengapplikasikannya dalam keseharian mereka, sehingga perlu digarisbawahi bahwa lebaran ketupat ini bukanlah hari raya keagamaan, sehingga ketika pada saat lebaran ketupat tahun ini saya sedang berpuasa dan ada beberapa saudara yang mengatakan tidak boleh karena hari itu adalah hari raya maka dengan tegas saya mengatakan “lebaran ketupat itu gak ada sholat IED-nya dan bukan hari raya, yang gak boleh puasa itu saat Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha sama Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah)” *sambil masang tampang khas*

“Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan; jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan; tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran.”

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi, Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s