Suasana di Kota Santri

Untuk Tamu Kyai

Alhamdulillahirabbil’alamin, dalam rangka membantu persiapan resepsi pernikahan 2 orang ponakan perempuan saya yang digelar secara bersamaan pada tanggal 10 Sepetember 2012 berjalan sesuai rencana. Adapun agenda hari ini adalah :

– fiksasi catering, dokumentasi dan pelaminan
– penyebaran undangan ke beberapa pondok pesantren

Dipikir-pikir lagi, repot juga orang mau nikah🙂, dan bersyukurlah ponakan saya ini tak repot karena memang usianya yang menurut saya masih begitu dini untuk menikah, yang satu masih berumur 17 tahun, dan yang satu lagi masih berumur 19 tahun sehingga semua urusannya di take over oleh ibu dan keluarganya. Dalam bahasa yang lebih sederhana lagi, mereka tinggal duduk di pelaminan lalu bersalaman dengan tamu dan kemudian membangun rumah tangganya. Tentu mereka santai, karena usia mereka belum paham betul tentang arti tanggung jawab dan peran. Keputusan ini tentu saja mengagetkan saya, bukan karena tantenya (baca : saya) belum menikah, tapi karena terlalu cepat dan masih begitu belia usianya, tapi kalau dipikir-pikir lagi “ya memang mending menikah aja daripada harus ngurusi dirinya sendiri dengan kondisi keluarga yang broken home, biarkanlah mereka belajar menjadi dewasa melalui pernikahan yang merupakan gerbang sekolah kehidupan bagi mereka, karena klo tidak demikian proses pendewasaan mereka akan lama, dan satu lagi inilah jalan takdir Allah bagi mereka yang sudah seharusnya kita banyak-banyak belajar dari mereka”. Karena tentu masing-masing orang memiliki gerbang sendiri-sendiri menuju sekolah kehidupannya, ada yang dengan menikah, ada juga yang dengan bersekolah, ada yang dengan bekerja, ada yang dengan problematika keluarga, ada yang dengan kehilangan dan perpisahan, dan ada juga yang dengan perasaan luka karena ditinggalkan. Kesemuanya  menuntut dan memaksa kita untuk mengerahkan semua energi menuju garis-garis kedewasaan yang seiring dengan berjalannya waktu mengasah kedewasaan kita menuju koordinat yang berbeda sehingga dengan demikian tampaklah metamorfosis kita sebagai seorang manusia yang sebenarnya. Allahu Akbar, betapa indahnya cara Allah mendewasakan manusia, itulah pentingnya hablum minannas (hubungan horisontal) karena  keterbatasan kita untuk menjalani semua problematika itu sendirian, dari orang lainlah kita seharusnya banyak mengambil ilmu dan hikmah untuk percepatan&akselerasi kedewasaan kita.

Alhamdulillah akad nikah sudah digelar saat bulan rajab 1433 H dan langsung dinikahkan oleh ayahnya sendiri. Sedangkan untuk resepsinya di kediaman ibu mereka. Secara kelengkapan orang tua memang lengkap, tapi karena sudah bercerai sehingga ada hal yang tidak lengkap mengiringi acara akad dan resepsi mereka. Di akad, sang ibu tidak bisa hadir karena dilangsungkan di rumah sang ayah, sedangkan di resepsi sang ayah kemungkinan tidak bisa hadir karena berada di luar kota. Untuk orang tuanya perasaan saya biasa-biasa saja, ya dibilang kecewa juga gak, dibilang benci juga gak karena memang pilihan mereka masing-masing dan sangat saya pahami kenapa keduanya bersikap demikian meskipun ada beberapa pernyataan yang mengatakan bahwa “tega banget bapaknya gak dateng ke resepsinya”. Awal-awal memang shock mendengar ini, apalagi setelah mengkonfirmasi langsung ke ponakan saya yang menyatakan bahwa ayahnya tidak bisa datang. Tapi setelah saya terjun langsung membantu persiapan resepsi pernikahan ini saya hanya bisa berkata “wajar aja klo gak dateng” lalu kemudian saya menyimpan komentar saya ketika ada komentar lagi terkait rencana ketidakhadiran sang ayah di resepsinya. Secara syariat, saya rasa sang ayah sudah memenuhi tanggung jawabnya untuk menikahkan sang putri, dan untuk resepsi itu kan hanyalah budaya jadi saya pikir ini juga bagian dari pelajaran tersirat yang saya dapatkan. Sementara ketika melihat ponakan saya yang masih ABG yang sudah harus siap dengan gelombang kehidupannya yang baru itu saya hanya bisa bertanya sederhana “kamu senang menikah?”, mereka pun menjawab dengan serempak :”lebih senang mondok te”. Mendengar jawaban itu saya pun langsung bertanya lagi di waktu yang berbeda “bukannya kamu dulu emang sering ketemuan sama suami kamu itu, makanya daripada kamu pacaran ibumu menikahkan aja”, ia pun menjawab :”gak ada te, orang saya pas mondok asrama putra sama putri berjauhan, mana bisa ketemu sama laki-laki”, jadi makin shock saya mendengarnya, kemudian saya lanjutkan lagi “lah yang sudah saling kenal siapa?”, dia pun menjawab :”si adek yang sudah saling kenal, yang laki-laki dulu sering jengukin dia ke pesantrennya”, raut saya makin aneh mendengar itu semua,lalu bertanya lagi “jadi kamu kenalnya kapan sama suamimu itu”, dengan sangat polos dia menjawab : “saat akad nikah te, itupun saya gak ngeliatnya, saya nunduk,klo gak disuruh sama Aba untuk bersalaman mungkin saya gak akan akan mau salaman”, saya pun makin shock lagi “jadi jadi, kamu baru benar-benar liat mukanya saat akad nikah?”, dia dengan jujur menjawab :”iya te, orang saya saat akad nikah aja malu mau salaman,sekarang aja walaupun udah akad juga masih malu-malu”, hayyah saya makin kaget saja mendengarnya kemudian mencoba untuk cooling down lalu bertanya “apa siy yang bikin kamu mau untuk menikah?”, dengan sangat polos los dan los dia menjawab “ya pasrah aja te”, saya pun membalasnya : oh gitu ya, dia lalu membalas dengan mengatakan :”iya te,makanya pasrah aja”, kemudian saya jawab lagi:”hebat ya kamu, aku aja sama yang sudah kenal kadang masih belum yakin, apalagi yang belum,tapi bener juga siy ada saatnya kita untuk bener-bener pasrah&meyakinkan diri”, lantas ia pun menasihati saya secara implisit :”jangan banyak mikir te”. Saya hanya bisa berkata :”iya harus, wajar kok klo seusia kamu ini masih begini responnya menghadapi pernikahan”, dia lalu berkata lagi:”orang aku lebih seneng mondok”, saya hanya bisa tertawa lalu mengatakan “ye,udah akad nikah juga,mondok mulu jawabannya”, sang ponakan pun juga tertawa :”iya te”.

Mendadak sampai sini, Alhamdulillah

Selesai bercakap-cakap santai dari hati ke hati bersama ponakan yang akan duduk di pelaminan tersebut kemudian kami melanjutkan perjalanan ke beberapa pondok pesantren yang merupakan kolega dari keluarga ibunya untuk mengantarkan undangan secara langsung. Rute awal sebelum percakapan dengan ponakan saya adalah di daerah selatan yang ternyata masih berkerabat dengan Bapak saya dan hal ini saya dapatkan infonya dari ibu ponakan saya tersebut yang tahu banyak tentang trah keluarga (baca : silsilah keluarga). Dengan nadanya yang khas tersebut sang ibu yang saya panggil mbak itu dalam perjalanan mengatakan “Iis, dia kan masih kerabat sama Aba”, dengan kejujuran yang saya miliki saya hanya bisa mengatakan “yee,emangnya aku tau semua sodara Aba”. Selesai dari daerah Socah yang merupakan wilayah selatan Bangkalan, kami beralih ke daerah Arosbaya dan sekitarnya yang merupakan wilayah Utara dari kota Bangkalan, cukup lama saya tidak berpetualang ke daerah ini dan kalau boleh terus terang saya benar-benar tidak begitu paham daerah sini. Hanya bisa berkata “lumayan hari ini gak jadi ke Surabaya, eh malah berubah haluan ke Arosbaya, kok benar-benar sesuatu bisa membawa saya ke sana”. Satu per satu kami pun mendatangi beberapa desa di daerah sana dan wow luar biasa suasananya. Kalau boleh saya juluki secara pribadi kota ini adalah kota dengan masjid dan pesantren yang banyak, menemukan masjid dan pesantren di sana sama seperti halnya menemukan alfa*** dan indo*** daerah perkotaan, benar-benar berdekatan satu sama lain. Beberapa pondok pesantren yang kami datangi kebetulan bukan berada di tengah kota tapi berada di sekitar lokasi wisata Aermata (dalam bahasa Indonesia : Air mata) yang hari ini baru saya tahu ternyata Aermata adalah salah satu wisata religi yang banyak diziarahi oleh orang Madura sendiri maupun orang di luar Madura, hayyah “kenapa saya baru tahu ya?”. Di daerah sana saja ada sekitar 4 pondok pesantren yang kami datangi, lalu saya pun berkata “banyak amet siy keluarganya”, ibu dari ponakan saya tersebut berkata “itu keluarga dari Bapak dan klo yang itu keluarga dari Ibu”. Iya ya, kota ini benar-benar kota santri, dimana-mana berseliweran santri dengan kekhasannya mengenakan sarung, kemeja dan kopyah putih ala pak haji. Seru juga melihat suasana seperti ini, spontan jadi teringat film-film yang diangkat dari novel-novel kang Abik. Santri yang begitu taat sama Kyai dan nyai-nya, yang ketika ada tamu nunduk lalu menyajikan untuk tamunya. Diam-diam saya memperhatikan kondisi itu dan juga kondisi di luar pesantren. Seraya teringat teman saya yang juga putri dari salah seorang kyai yang penantaan rumahnya sangat khas sekali; bagian depan adalah musholla/masjid, teras luar untuk tamu laki-laki, sedangkan teras dalam untuk tamu wanita.

Suasana yang benar-benar inspiratif sekali; terasa begitu teduh dan nyaman meskipun diterpa panas yang luar biasa. Melakukan roadshow pesantren ini rasanya hampir seperti keliling Madura saja, mendengar pernyataan saya ini ibu dari ponakan saya hanya bisa tertawa. Dan kalau dipikir-pikir lagi, suasana pesantren sama lingkungan rohis juga tak beda jauh, susah bagi saya untuk menjelaskan dalam kata-kata karena akan mengalami keribetan kalimat dan pernyataan.

Dan ada satu hikmah menarik sebelum saya berangkat menuju pesantren-pesantren tersebut, dalam buku tulis terbuka yang berisi catatan pengeluaran, saya pun iseng membukanya dan ooopss pada saat membuka halaman depannya ada untaian do’a dalam bahasa Arab yang cukup familiar bagi saya :

Coba cek surat Al-Furqan,inshaAllah ada

Sepertinya do’a nabi sulaiman yang ada di surat An-Naml

Cukup nampol saat membaca lembaran ini, hanya bisa membaca dan mengaminkannya. Dan tak terbayangkan juga bahwa di pagi itu akan mendapatkan do’a yang dituliskan tangan itu, sangat alami sekali dan cukup representatif. Dan ini menjadi bagian dari do’a saya untuk ponakan saya yang sudah akan memulai kehidupan barunya di usia yang sangat belia tersebut. Selain itu ada do’a tambahan dari saya : Yaa Allah, jadikanlah rumah tangganya sebagai penerus kebaikan orang tuanya dan kuatkanlah ikatannya dengan cara menganugerahkan kepada mereka percepatan kedewasaan dalam ta’at dan ridho kepadaMu, serta karuniakanlah keturunan yang sholeh dan sholeha yang menjadi jembatan silaturrahim keluarga mereka.

Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran untuk proses yang sedang kita jalani.

– untuk 2 ponakan terkasih –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam, Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s