Haul ke-12 Bapak

Allahummafighlau warhamhu waafihi wa’fuanhu, begitulah status yang saya tulis di BBM,Gtalk dan Twitter saya saat peringatan Haul ke-12 Bapak tercinta yang digelar di rumah pada tanggal 30 Agustus 2012 (12 Syawal 1433 H), semoga do’a ini menjadi pintu pembuka syafaat dan rahmat bagi Almarhum, amin Yaa Rahman Yaa Rahim.

Peringatan secara akurasi seharusnya digelar setiap tahun pada saat hari (baca juga: tanggal)  meninggalnya, yaitu 1 Syawal karena berdasarkan kalender islam Bapak meninggal pada tanggal 1 Syawal 1421 H. Namun dikarenakan ada kesibukan menyambut lebaran sehingga pada saat tanggal meninggalnya hanya berupa peringatan kecil-kecilan yang masih kental dengan bumbu budayanya. Dan untuk peringatan yang lebih serius lagi, biasanya mengundang tetangga terdekat dan beberapa saudara dari pihak ibu dan bapak untuk bersama-sama mendo’akan almarhum.

Jika ada cukup rezeki, peringatan ini memang ditradisikan setiap tahun meskipun dalam kemasan yang sederhana. Dan untuk tahun ini Alhamdulillah tak begitu banyak yang diundang di sekitar rumah, kurang lebih 40-an orang. Yang penting tetap masih ingat dan mendo’akan bersama, baik secara jama’ah maupun munfarid (sendirian). Ada yang mengatakan bahwa peringatan semacam ini adalah bid’ah karena tidak ada tuntunannya dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Sebagai orang yang belajar islam kita harus mengakui kebenaran pernyataan tersebut dan tidak langsung membuat jarak karena tidak sepaham dengan kita. Tapi kita pun harus memberikan argumen kepada orang yang bersangkutan dan juga berusaha untuk terus menggali pemahaman kita tentang realitas dalam masyarakat ini sehingga bisa menempatkan diri kita dalam kondisi masyarakat yang bagaimanapun.

Dulu dan sekarang tentu berbeda cara berdakwahnya, karena kalau dilihat dari latar belakang pendidikan, budaya, peradaban dan pemahamannya jelas beda. Jika dulu dakwah islam dilakukan melalui pendekatan budaya dengan cara memasukkan unsur-unsur islam dalam budaya target yang didakwahi agar nilai-nilai islam membumi dalam masyarakat tersebut sehingga tidak heran jika di beberapa daerah kita mendengar yang namanya tradisi 7 bulanan dan tradisi lain. Maka berbeda dengan jaman sekarang yang cara penyampaian nilai-nilai islam sudah menggunakan teknik modern dengan memadukan beberapa instrumen yang semakin memberikan penerangan bagi hal-hal yang seharusnya ditinggalkan karena tidak sesuai dengan tuntunan. Tapi perlu disadari bahwa kemodernan jaman ini tidak hanya dihuni oleh manusia modern karena secara struktural masyarkat pun terbagi dalam beberapa kasta dan latar belakang budaya. Maka sebagai mahluk sosial adalah tugas kita untuk bisa menempatkan diri lalu secara perlahan-lahan memberikan pemahaman atas pengetahuan yang kita dapatkan. Dan hindari menuduh bahwa suatu masyarakat dengan mencampuradukkan antara agama dan budaya adalah sesat, bijaknya adalah kita mesti berbaur terlebih dahulu dengan mereka untuk mengetahui apa latar belakang mereka melakukan itu, karena kebanyakan mereka hanya melanjutkan kebiasaan yang mereka sendiri tidak tahu esensinya dan itulah tugas kita untuk memberikan penjelasan kepada mereka.

Susunan Acara

Kembali ke cerita peringatan Bapak, adapun susunan acaranya adalah :

– Pembukaan, yang dibuka oleh pembawa acara dan sekapur sirih dari perwakilan tuan rumah yang bersangkutan
– Pembacaan surat Al-Fatihah yang dikhususkan untuk Almarhum Bapak, Kakek, Paman dan Bapak mertua dari kakak, & Almarhumah Nenek, Bibi, Nenek dari Ibu dan saudara Bapak yang tidak dikaruniai keturunan semasa hidupnya, serta pembacaan Al-fatihah yang dikhususkan bagi keluarga yang masih hidup. Hal ini dimaksudkan agar yang dibacakan senantiasa mendapatkan fadhilah Al-Fatihah.
– Pembacaan Yasin yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, kemudian ditutup dengan do’a.
– Ramah tamah berupa menikmati makanan yang disediakan oleh tuan rumah dilanjutkan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa besek yang diperuntukkan bagi mereka yang datang. Adapun esensi dari hal ini adalah untuk menjaga keikhlasan bagi mereka yang rela hadir dan bersama-sama membaca do’a bagi almarhum dan keluarga, semoga keikhlasan mereka menjadi pintu pembuka rahmat bagi yang dido’akan.

(ki-ka) kakak&suami,ust Hafidz,Ibu&bungsunya

Setelah acara selesai, ada hal menarik yang saya temui yang sebelum acara juga sempat saya datangi beberapa saat. Kehadiran Ustadz Hafidz yang merupakan Guru Ngaji (baca : tajwid) saya untuk membacakan Yasin dan do’a bagi Bapak. Sebelum acara dimulai saya masih bertegur sapa beberapa saat dengan beliau dan belum sempat sungkeman supaya tak batal wudhu’nya, dan setelah acara selesai saya bersama kakak-kakak yang lain ngobrol santai di teras rumah bersama beliau untuk sekedar bertanya-tanya dan berbagi cerita.

Adalah kakak saya (mbak Fifi) yang menyarankan abang untuk mengundang Ustadz Hafidz karena beliau memang ustadz yang diidolakan oleh Bapak karena komitmennya untuk Al-falah. Kakakpun menceritakan hal itu pada sang Ustadz dan respon yang menguatkan pun dipaparkan oleh sang Ustadz dengan mengatakan “dulu, saat pertama kali saya ditunjuk sama aba untuk menjadi imam di masjid besar Al-falah, aba mengatakan kepada saya bahwa sampeyan menjadi imam mulai dari sekarang sampai dengan kiamat”terang sang Ustadz yang diikuti dengan tertawa santun. Kami pun ikut tertawa dan timbul lagi pernyataan sang kakak yang menyatakan bahwa pasca meninggalnya Bapak sang Ustadz sempat dieliminasi dari bursa imam karena memang takmirnya sudah berganti, namun Alhamdulillah hanya beberapa saat dan saat ini masih menjadi imam di masjid besar Al-falah. Lalu sang ustadz pun menceritakan sejarah pertemuannya dengan Bapak dan sampai menjadi imam rutin untuk Jum’atan atau hari raya yang membuat kami menjadi lebih tahu tentang sejarah Ustadz Hafidz di masjid besar Al-falah, saya hanya bisa berkata karena memang saat itu saya belum mengerti agama “ouw jadi gitu ceritanya” sambil mikir.

Kami pun sampai pada topik yang lain dimana kakak saya menyatakan sekaligus bertanya pada sang Ustadz, wanita yang masih 1 anak ini yang juga jebolan pesantren di Jombang yang terpaksa dimasukkan pesantren karena rekor kenakalannya yang tak biasa mengatakan “Ustadz, kata seorang ustadz yang saya kenal baik kalau ke kuburan baca At-Taubah ya?”, saya juga kaget saat mendengarnya dan Ustadz pun tersenyum tipis, dan sebelum menjawab kakak saya mengatakan lagi “saya juga nanya sama Abang saya yang juga seorang kyai tentang hal ini, malah menjawab dengan nada bercanda mengatakan baca aja semua isi Qur’an, lalu meluruskan kembali cukup baca Yasin karena merupakan hatinya Al-Qur’an”, mendengar ini saya hanya bisa menertawakan kakak dengan mengatakan “pantesan aja lama banget klo ke kuburan”,sang Ustadz kemudian meluruskan lagi untuk membaca yang tidak memberatkan. Dengan menggebu-gebu kakak saya tersebut mengatakan “biar lebih afdhol ustadz”, sang ustadz hanya tersenyum saja dan mengatakan lagi “Yasin juga sudah cukup”.

Perbincangan ini kemudian membawa saya pada memori tempo doeloe pada saat awal-awal Bapak meninggal dan selama 40 hari berturut-turut kami secara rutin bergantian berziarah ke makam Bapak untuk membacakan Yasin dan tahlil. Karena saat itu saya masih belum begitu mengerti agama, saya hanya bisa ikut-ikutan kakak saya yang satu buku majemu’ berisi yasin, tahlil, do’a dan beberapa surat dibaca semua dan itu tak begitu lama karena memang dia sudah terbiasa bermajemuk di pesentrennya. Nah giliran saya yang tak memiliki latar belakang pesantren  membuat keringatan saja membacanya, yah keringatan takut berlama-lama di tempat itu dan juga keringatan karena tak sampai-sampai di halaman terakhir dari yang dimaksud pada buku majemuk. Seringkali saya ditinggal sendirian di sana kalau belum selesai juga membacanya dan alhasil saya membacanya lurus-lurusan dan tak perduli tajwid&makhraj, dan seiring berjalannya waktu kemudian saya belajar untuk membaca tahlil yang biasa dijadikan dzikir berjemaah untuk orang yang meninggal dan Alhamdulillah ala bisa karena biasa sehingga yang awalnya rada susah menjadi terbiasa untuk membacanya karena sudah terlatih.  Tapi untuk sekarang biasanya setiap kali ziarah saya membaca Al-fatihah yang dikhususkan untuk Bapak,kakek nenek,saudara-saudara bapak dan ibu dan kaum muslimin dan muslimat serta mukminin wal mukminat, lalu baca Yasin, kalau masih fokus lanjut membaca Ar-rahman, al-waqiah lalau baca surat-surat pendek yang ada di Juz 30 (Al-ikhlas,An-naas&al-falaq) kemudian do’a untuk orang tua,yang meninggal lalu pulang ke rumah. Dan kalau mau paket hemat biasanya hanya membaca Yasin dan do’a saja, yang lain dilanjutkan di rumah.

Topik ini selesai dan selanjutnya saya membuka pernyataan supaya tak di situ saja topiknya sekaligus merefresh tajwid saya agar suatu hari nanti bisa kembali belajar🙂 dengan mengatakan “mbak katanya Ustadz Hafidz, bacaan yang paling susah itu surat Yusuf, benar kan ya Ustadz?”, sang Ustadz pun mengangguk dan kakak saya berkata “masak, kok menurutku gak susah” sambil membaca sedikit ayat surat Yusuf, kemudian saya menyatakan”ye, sotoy deh, tajwidnya yang susah kali”, kakak saya mengatakan lagi “mungkin karena gak biasa ya Ustadz?makanya susah, kalau dibaca tiap hari ya jadi gak susah, kalo saya di pondok dulu kebetulan sering baca. Lalu sang ustadz mengatakan “makanya Al-Qur’an memang harus dibaca tiap hari supaya tidak susah”. Cerita ini kemudian menyeret pada scene berbeda pada saat saya,ibu dan kakak bercerita tentang teman umrahnya yang tadinya tidak begitu bisa membaca Al-Qur’an dan setelah pulang umrah subhanallah lancar membacanya karena pada saat berada di tanah suci ibu saya memintanya untuk terus membaca Al-Qur’an meskipun tidak bisa. Memang, yang namanya rahmat&hidayah Allah adalah hak prerogratif Allah, makanya sebagai manusia kita hanya bisa mengingatkan supaya dilain kesempatan kita juga bisa diingatkan oleh orang lain, dan yang terpenting jangan suka merasa pintar sendiri, banyak-banyaklah berbagi ilmu dengan orang lain supaya bisa saling bersinergi menjemput rahmat dan hidayahNya.

Topik pun merembet lagi ke hal lain yang masih ada korelasinya dengan momen bulan puasa, kakak saya pun memancing sang Ustadz tentang kepemimpinan Umar bin Khattab karena memang dia sangat mengidolakan film Omar sekaligus idola dengan sahabat Rasulullah yang baru saja dia kenal dari layar TV. Meskipun saya tak pernah mengenyam pesantren, alhamdulillah saya sedikit tahu tentang perjuangan Umar bin Khattab melalui buku, Internet dan diskusi bersama teman-teman, sehingga ketika kakak saya menceritakan kembali film itu saya bisa menambahkan sedikit dari apa yang saya tahu. Seperti biasa, dia langsung bertanya ke saya :”kok kamu tahu?”, saya dengan nada kontradikitif yang khas mengatakan “Iye makanya baca buku sama Internet,jangan cuman nonton aja”. Lalu sang Ustadz mengatakan “Umar memang keras, sampai ditakuti sama Syetan,klo ada tulisan Umar Al Faruq aja setan bisa lari”, kakak saya pun makin takjub dan semakin bertambah rasa keidolaannya sama sang Omar, “setiap saur yang saya tunggu memang Omar, sampai-sampai target khatam Qur’an saya tidak tercapai dan baru sampai di juz 21, nonton Omar kan juga ibadah ustadz?”katanya seraya membubuhkan pertanyaan di belakang, lalu sang Ustadz menjawab “memang berpahala tapi sedikit, lebih banyak pahalanya kalau bisa mengkhatamkan Al-Qur’an”, saya tertawa dan mengulangi lagi pernyataan sang ustadz dengan mengatakan “berpahala, tapi sedikit”. Saking dari idolanya dengan sosok Omar, kakak saya sampai berkeinginan untuk bisa ke raudah agar bisa menyapa Umar bin Khattab secara lebih dekat. Seperti biasa, saya selalu mematahkannya dengan mengatakan “emang bisa gitu?, orang yang untuk wanita batas raudahnya terbatas, tidak seperti yang di tempat laki-laki”, pembahasan hal ini pun berlanjut ke scene selanjutnya.

Berhubung sang Ustadz sudah mau pulang dan berpamitan maka kami pun menghentikan topik kami dan seketika akan bersalaman dengan sang ustadz terhenti sejenak karena Ibu dan abang ipar keluar sebentar dan Ustadz beserta putranya tertahan untuk menunggu mereka datang. Kami pun melanjutkan topik tentang kerusahan yang terjadi di Sampang yang kemudian berbuntut pada konflik agama yang katanya duel Syiah vs Sunni. Terus terang untuk hal ini saya tidak begitu mengerti karena belum pernah ke TKP dan pengetahuan yang saya dapat hanya berasal dari beberapa orang yang kalau saya tulis di sini takutnya hanya sebuah wacana yang tak mendasar yang hanya akan menambah prasangka. jadi  lebih baik belum saya tuliskan dulu hasil temuan saya di lapangan.

Ibu dan abang ipar-pun datang, dan Ustadz pun pamit pulang ke rumahnya yang lokasinya cukup jauh dan berliku (menurut saya). Perlu diacungi jempol komitmen beliau untuk Al-Falah yang meskipun jauh namun slalu berjuang untuk sayap-sayap membangun generasi tahfidz. Do’a saya untuk sang Ustadz : semoga diberikan kelancaran dan disegerakan untuk niat ibadah hajinya, santrinya makin banyak dan MTQ-nya sukses slalu. Sedangkan untuk permohonan maaf saya : mohon maaf belum bisa melanjutkan pelajaran tajwid ini lagi, semoga diberikan kesempatan yang lain untuk terus memperbaiki tajwid dan kualitas bacaan Qur’an.

***

Tanpa terasa, 12 tahun ketiadaan Bapak dan kami pun sebagai anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan proses masing-masing. Sekali lagi, satu nasab boleh jadi beda nasib, itu semua bergantung pada bagaimana kita keturunannya menjaga pesan-pesan kebaikannya yang tersirat maupun tersurat. Jadi teringat nasihatnya ketika saya rekreasi ke Bali dan tak membawa mukena, beliau di suasana yang berbeda mengatakan “bahwa yang dikhawatirkan oleh Nabi Ibrahim terhadap keturunannya adalah bukan apa yang akan dimakannya esok, tapi apa yang akan disembahnya esok” #jleb, filosofinya yang begitu mengena seraya mengingatkan diri bahwa hidup tak sekedar untuk sekerat roti, tapi disamping itu ada hal lain yang lebih penting untuk negeri akhirat.

12 tahun yang lalu, saya masih ABG yang super manja dan egois yang ke sekolah masih harus diantar dan dijemput, seragam kadang harus dicucikan dan disetrikakan dulu, makan dan minum pun sering kali masih harus disiapkan dan itu pun sering tidak habis dan bersisa, uang saku pun masih harus diatur oleh Bapak, ke kamar mandi tengah malam pun mesti harus diantar, kecengengan sering menempati beberapa lini kepentingan. Ya ampun, sambil berkaca pada diri sendiri saya mengatakan pada diri sendiri “bagaimana perasaan Bapak ya saat melihat saya seperti yang sekarang? tersenyumkah ataukah bersyukur memiliki keturunan seperti saya”.

12 Tahun terkubur sudah rindu, canda, tawa, diskusi dan kebersamaan. Dan tergantikan oleh untaian do’a serta amal kebaikan yang tidak hanya berguna bagi yang mengamalkannya tapi juga bagi yang sudah mengajarkannya.

Semoga ketiadaannya semakin menumbuhkan kebaikan yang telah diajarkan dan dididik olehnya, dan semangatnya senantiasa ada dalam setiap kondisi dan pencapaian yang sedang kami alami. Terimakasih Aba atas ilmu, hikmah, perhatian serta cerita yang diberikan. Semoga bisa menjadi teladan bagi proses selanjutnya, dan tak terbantahkan bahwa Bapak saya memang laki-laki yang banyak memberikan inspirasi,motivasi dan pengaruh dalam hidup saya untuk senantiasa menjadi lebih baik. Dan dalam kejauhan sekalipun, beliau selalu ada dalam masa-masa sulit saya seolah-olah memberikan semangat dan pengingat “Dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah”.

Rabbiy, kami bukanlah anak-anak yang tanpa dosa dan tanpa khilaf terhada orang tua, dengan kesadaran dan kemampuan yang kami miliki untuk senantiasa mensyukuri nikmatmu maka berikanlah kepada Aba kami tercinta rahmat dan syafaat dari sisi Engkau yang dengannya menjadi penerang kuburannya serta pintu-pintu pembuka ampunanMu…Amin Yaa Nuur Yaa Ghaffar.

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Al-Rasjid. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s