Redefinisi Silaturrahim

Minal Aidzin Wal Faidzin

Alhamdulillahirabbil’alamin bulan Ramadhan 1433 H memang telah berlalu, namun semangat dan nilainya semoga senantiasa mengalir mengiringi bulan-bulan selanjutnya.

Di bulan ramadhan tahun ini ada begitu banyak hikmah yang diperoleh, yang sekali lagi puasa tak sekedar mengajarkan saya tentang tidak makan dan minum serta mengejar target khatam qur’an, tapi dibalik itu semua Allah sisipkan nutrisi-nutrisi batin yang menjadi lentera dalam perjalanan spiritual saya. Begitu indah catatan spiritual ramadhan tahun ini, sampai-sampai sukar saya ungkapkan dengan kata-kata. Hanya pergerakan dan perbaikan yang menjadi perwakilan dari rasa syukur saya atas hal yang telah Allah karuniakan untuk saya tersebut.

Ingin sekali sedikit mereview tentang peta-peta perjalanan yang telah dilakukan dalam masa Ramadhan 1433 H, berikut adalah beberapa hal inspiratif yang menjadi bagian dari kontemplasi batin saya sehingga memiliki warna tersendiri bagi ramadhan di tahun ini :

(1) Buka bersama gabungan dengan teman-teman alumni dan pengurus Rohis kampus
(2) Buka bersama teman kosan
(3) Buka bersama harian bersama teman-teman kerja
(4) Buka bersama teman himpunan jurusan di kampus
(5) Buka bersama teman pasca sarjana
(6) Buka bersama keluarga sahabat terdekat semasa kuliah
(7) Buka bersama wanita-wanita yang inspiratif di suatu panti perlindungan sosial
(8) Buka bersama para murid & keluarga tercinta
(9) Berbuka dimanapun dan dengan siapapun
(10) Tarawih, I’tikaf bersama sahabat pilihan
(11) Menikmati saur tanpa mangkir

Dari review di atas ada beberapa hikmah yang diperoleh bagi saya secara pribadi, antara lain adalah sebagai berikut :

(*) Terlibat kembali dalam sebuah kepanitiaan mengajarkan kepada saya bahwa yang namanya tanggung jawab dan inisiatif tidak didasarkan usia, pengalaman serta pengetahuan agamanya, tapi lebih kepada kepedulian dan pemahaman visi serta pemahaman akan pengetahuan agama yang dimilikinya (tahu sedikit tapi pahamnya mendalam is more qualified dibandingin tahu banyak tapi cuman sekedar omongan). Sangat disadari memang bahwa yang namanya kesibukan memang sudah menjadi hal baku bagi setiap orang dewasa yang sudah mampu mencukupi kebutuhannya sendiri, tapi bersikap melemparkan tanggung jawab adalah bukan sikap yang dewasa. Apalagi berargumen tinggi, namun memiliki performa effort yang rendah, sangat disayangkan sekali kata-katanya. Lagi-lagi puasa mengajarkan kepada saya untuk diam sejenak, mengontrol diri dan melupakan hal-hal yang hanya menjadi benalu semangat untuk kemudian dikonversi menjadi inspirasi & koreksi, lalu bergerak tanpa banyak adu argumen dengan memetakan hal-hal taktis yang menjadi isu utama untuk dijadikan prioritas, dan alhamdulillah yang menjadi tujuan & pembahasan dari kepanitiaan pun tercover, prinsip “saya melakukan,Tangan Allah pun membimbing” benar-benar terbukti dan benar-benar “Kun Fayakun”. Kalau hanya menjadi following orang-orang yang terdikotomi dengan senioritasnya yah jujur saja kok saya tidak sealiran, karena saya lebih suka bersinergi dengan generasi junior yang akan menularkan semangatnya ke junior yang lain. Lagi-lagi pesan regenerasi yang sempat menjadi isu utama sudah seharus di-redefinisi lebih matang sebelum benar-benar sampai pada targetnya, agar yang terjadi di lapangan junior tak kecewa dengan performa senior yang terlihat bagus hanya di kata-katanya. Bukankah karya kata itu lebih indah jika dibarengi dengan karya nyata?

(*) Menikmati saat-saat berbuka dengan teman-teman kerja yang sudah seperti keluarga utama pada saat berada di perantauan, merupakan momen yang begitu indah karena di sanalah kami yang perantauan merasakan hangatnya kebersamaan meskipun dengan latar belakang dan agama yang berbeda. Ajaran toleransi mengalir tenang di sana, yang tak berpuasa menghormati yang berpuasa, dan yang berpuasa saling bantu membantu menyiapkan menu bersama untuk berbuka puasa. Ada yang mendapatkan tugas mencuci piring, memasak nasi, mencari bukaan keluar, membuat teh, mencicipi makanan dan bahkan yang usil serta iseng pun juga ada. Suasana ini pun lalu mengajak saya untuk me-redefinisi makna keluarga yang sebenarnya dan apakah esensi suatu pelayanan itu. Lingkungan kerja kami kebetulan didominansi oleh laki-laki sehingga untuk urusan memasak tak munak bahwa merekalah yang seringkali mengajarkan saya banyak hal mulai dari cara memasak dan hal prioritas yang perlu disajikan. Lagi-lagi bisa memasak atau tidak itu bukanlah hal standard dalam suatu keluarga, yang menjadi standard adalah yang mau belajar dan mau menerima masukan dari orang yang telah memberikan pelajaran-pengalaman kepada kita. Dan memasak juga bukan urusan gender, sehingga dikotomi kontemporer yang mewajibkan bahwa perempuan harus bisa memasak rasa-rasanya perlu untuk dikaji kembali. Keahlian memasak adalah keahlian kebiasaan dan keterpaksaan, kalau sudah terpaksa dan biasa saya yakin pasti bisa memasak, dan untuk masalah rasa itu perlu training time by time. Kalau di jaman modern ini masih ada yang terjerat dengan dikotomi kontemporer ini alangkah lebih bijaknya banyak-banyak berinteraksi dengan lingkungan luar yang penuh warna dan perbedaan itu.

(*) Pertemuan kembali dengan teman-teman lama  membuka kembali ruang yang tadinya tertutup menjadi semakin terbuka dan lebih apa adanya. Kebersahajaan, kesederhanaan dan keramahan mereka mengajarkan kepada saya bahwa sebenarnya rasa lapar dan haus pun secara implisit mengajarkan demikian. Lagi-lagi toleransi diapplikasikan, meskipun mereka tak berpuasa tapi mereka menghargai momen kebersamaannya berkumpul bersama teman-teman lama seperjuangan agar tak hilang kontak. Rupanya mereka telah dengan baik memetakan visinya dengan cara merawat network yang ada sebaik-baiknya, tak peduli berapa banyak yang datang karena meskipun sedikit yang hadir yang jelas masih ada kabar satu sama lain. Momen ini kemudian membuat saya me-redefinisi bahwa berkumpul bersama teman bukan sekedar eksistensi, tapi lebih kepada nilai-nilai spirit untuk memberikan dukungan satu sama lain atas hal yang sudah dan akan dicapai. Pertemuan tak perlu sering dan muluk-muluk harus begini begitu penuh perencanaan ini itu, yang penting ada action untuk datang dan berkontribusi sudah cukup.

(*) Milik kita belum tentu bagian kita: fenomena ini saya dapat pada saat saya membeli suatu makanan yang Alhamdulillah dengan uang saya yang kemudian makanan itu justru tidak jatuh ke tangan saya tapi kepada 2 orang anak kecil yang saya temui di bandara dan di sebuah panti perlindungan sosial. Saya hanyalah perantara bagi mereka untuk menyampaikan bagian mereka yang telah ditetapkan kadarnya oleh Sang Maha Pengatur Rezeki. Momen ini lalu mengingatkan saya untuk me-redefinisi bahwa ada rezeki yang saya miliki yang bukan bagian dari hak saya.

(*) Bertemu dengan beberapa wanita di suatu panti perlindungan sosial dengan status sosial dan problematika yang berwarna membuka kembali mata batin saya untuk banyak-banyak bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan untuk saya dan keluarga seraya berkata “kalau dibandingkan mereka, rasanya hal yang sedang kami hadapai ini kok gak ada apa-apanya”. Lagi-lagi pertemuan dengan mereka me-redefinisi kembali jiwa saya untuk semakin memperlebar diameter kesyukuran dalam dimensi yang berbeda: tak sekedar ucapan, tapi juga kepedulian dengan sesama meskipun dengan hal kecil. Dalam wajah-wajah kecil dari buah hati para wanita tersebut saya selalu teringat akan murid-murid saya yang jauh lebih beruntung dari mereka, seketika rasa simpati dan cinta saya untuk anak kecil lebih ter-update.

(*) Merebut keheningan 1/3 malam merupakan hal yang fantastis di tengah rasa ngantuk yang mendera, semangat pun terurai untuk bisa menapakkan jejak qiyamullail di 10 terakhir Ramadhan, mendengarkan lantunal Qur’an yang tartil dan syahdu itu rasanya tenang dan damai, lalu batin yang tadinya bergemuruh perlahan-lahan mulai bisa menstabilkan diri. Kedamaian adalah hal yang tidak logis, hanya bisa diraih dengan ketenangan jiwa dan dalam Qur’an disebutkan “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. Kedamaian bukanlah hal yang matematis dan statistik, dan tidak terikat oleh variabel tertentu, apa yang menjadikan Allah ridho maka ketenangan pun akan bersemayam. Lagi-lagi I’tikaf mengajarkan saya untuk menjauh dari keramaian, diam sejenak dan meng-upgrade level komunikasi vertikal untuk mencurahkan segenap urusan horisontal yang banyak memporak-porandakan batin serta menyisakan sampah prasangka dalam pikiran. I’tifikaf membimbing saya untuk me-redefinisi bahwa dalam diam ada keramaian dalam kata-kata.

(*) Dipertemukan oleh momen:waktu adalah milik Allah, adalah hal yang begitu indah ketika Allah mengatur waktunya dengan tepat untuk sebuah momen indah. Menikmati malam takbiran di rumah tercinta bersama dengan keluarga dan murid-murid, Syawal tahun ini tak segalau syawal tahun kemarin. Di hari terakhir ramadhan 1433H tersebut kami mengadakan acara buka bersama murid-murid dan sambil menunggu pengumuman sidang isbat kami berbincang santai di teras rumah bersama mereka dan Alhamdulillah takbiran jatuh malam itu, pas banget moment-nya sedang ramai-ramainya di rumah dengan aneka tingkah anak kecil. Lagi-lagi momen ini mengajarkan kepada saya bahwa yang namanya kepedulian tidak hanya di wilayah tertentu saja, dimanapun ketika hati sudah terpanggil maka bergeraklah dan biarkan Allah yang Mengaturnya. Disamping itu malam takbiran kemudian me-redefinisi bahwa kemenangan tidak selalu identik dengan hasil yang konkret, keabstrakan yang menggerakkan jiwa menuju lintasan-lintasan ketenangan dan kedamaian adalah bagian dari kemenangan yang hanya bisa dirasakan oleh hati dan orang yang mempunyai hati.

Keberkahan dan rahmat Allah tak hanya mengalir sepanjang Ramadhan, alhamdulillah di bulan syawal Ia juga memberikan begitu banyak keberkahan dan rahmat, beberapanya adalah :

(*) Merebut pagi dengan berziarah kubur ke makam aba tercinta setelah shubuh, rasanya lebih khusyu’ dengan rasa dan aroma embun yang begitu menyegarkan raga meskipun tak terbantahkan setetes demi setetes air mata mengalir yang masih tertutupi oleh gelapnya shubuh

(*) Sholat IED bersama keluarga tercinta di masjid yang penuh dengan sejuta makna-Masjid Besar Al-Falah

(*) Beberapa menit setelah di rumah seusai menunaikan sholat IED dan setelah beberapa tamu kecil (aka murid) bersilaturrahim ke rumah saya langsung tidur , karena semalaman tidak tidur dan kondisi badan sudah harus ditawazunkan untuk kesehatan jasmani dan rohani

(*) Silaturrahim langsung ke tetangga sekitar dan saudara-kerabat aba dan ummi untuk membalas kunjungan mereka tadi pada saat saya sedang terlelap

(*) Halal Bihalal bersama para murid tercinta dengan tema “cinta Indonesia, cinta budaya Madura” dengan kepanitiaan dimulai dari mereka

(*)  Halal Bihalal bersama teman-teman SMA di rumah seorang teman di daerah kota Bangkalan, yang bersyukur sekali bisa bertemu teman sebangku saat kelas 3

(*) Halal Bihalal bersama teman-teman SMP di rumah saat lebaran ketupat (7 Syawal) yang alhamdulillah bisa merawat silaturrahim yang baru 2 kali berjalan, semoga tahun depan lebih banyak yang hadir

(*) Halal bihalal bersama sahabat yang tak lekang oleh generasi yang momennya pas banget saat seorang sahabat yang lain sedang melahirkan anak keduanya

…Maka Nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan ? …

Dari serangkaian momen itu, lalu ada semacam pemahaman diri  untuk me-redefinisi esensi silaturrahim, ada beberapa hal, yaitu :

(1) Silaturrahim menjadi pintu pembuka koreksi diri agar berperilaku dan berkomitmen lebih baik lagi
(2) Silaturrahim menjadi perantara terbukanya pintu-pintu rezeki
(3) Silurrahim memperkuat ikatan persaudaraan, pertemanan dan persabahatan
(4) Silaturrahim membimbing untuk memetakan sikap-sikap yang proposrisonal untuk lingkungan yang berbeda
(5) Silaturrahim mengajarkan kita berkomunikasi dengan orang lain
(6) Silaturrahim memperluas ruang untuk lebih bersikap berani, tegas dan lugas
(7) Silaturrahim mampu menjadi stimulus zona keseriusan bagi perkembangan dan pembangunan kedewasaan
(8) Silaturrahim menjadi obat jiwa untuk memperkaya batin dari kisah dan kasih orang lain
(9) Silaturrahim mendorong terjadinya perubahan secara endogen atas masukan dan nasehat yang menuntun yang memberikan kebaikan untuk kita
(10) Silaturrahim mempersempit rasa kesombongan diri

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk merawat silaturrahim dengan baik dengan cara dan kemampuan yang kita miliki. Semoga definisi silaturrahim terus ter-update dalam esensi yang lebih berkualitas dari masa ke masa, Amin Yaa Jami’.

– Happy Syawal 1433 H –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ramadhan-Syawal, Serius. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s