Bahagianya Bisa Kembali Bersepeda

Back to bike

Setelah hampir beberapa bulan tak berinteraksi dengan suasana pedesaan yang alami nan segar itu, Alhamdulillah pagi tadi bisa menikmati kesegaran embun pagi pedesaan di jalan-jalan menuju Suramadu. Rasanya semangat syawal yang penuh kesucian dan kelapangan itu menjadi gayung bersambut untuk mengisi pagi dengan hal yang menutrisi rohani. Tak diragukan lagi, bersepeda memang memberikan nafas tersendiri bagi saya secara pribadi.

Dengan ditemani tetangga saya yang juga teman saya selama SD dan SMP, serta sepupu saya yang merupakan teman main saya masa kecil dan juga teman madrasah dulu rasanya bersepeda mengalirkan kembali romantika masa kecil yang sarat akan keceriaan dan semangat itu. Momen bersepeda bersama sepupu ini merupakan momen pertama setelah sekian lama tak bermain bersama karena kami memang tumbuh dan berkembang dalam zona yang berbeda.

Ponakannya Ummi

Sepupu; masih teringat masa kecil dulu bersamanya, kami adalah pecinta tanaman sehingga di depan halaman kami kami tanam beraneka bunga, untuk hal ini saya harus acungkan jempol untuk sepupu saya ini, meskipun cowok tapi sangat telaten merawat bunga-bunganya dan alhasil banyak yang tumbuh, saya pun banyak belajar darinya bagaimana cara menanam bunga. Dalam rangka memperbanyak koleksi kami masa kecil akan bunga tak jarang kami mencabut bunga atau tanaman orang atau tetangga yang sengaja menjadi tanaman hias dan sudah bisa ditebak bahwa seketika itu kami disemprot dan diomeli sang pemiliknya. Masa kecil itu, hal yang salahpun seringkali menjadi becandaan, semoga tidak terbawa ke masa sekarang, bisa membedakan antara yang salah dan yang benar.

tak terasa kita bukan anak2 lagi

Sedangkan cerita masa kecil saya dengan tetangga saya adalah bahwa kami dulu saling bermusuhan beberapa lama karena persaingan prestasi di SMP, dia merasa tersaingi saat saya bisa mengalahkan kedudukan peringkatnya di kelas 1, dan seperti mengadulah ia pada orang tuanya, dari orang tuanya dan dia keluarlah pernyataan yang tidak mengenakkan yang membawa nama salah satu anggota keluarga saya, ditegorlah ia oleh kakak saya dan bendera permusuhan pun dikibarkan. Ya ya ya, itulah masa kecil yang seharusnya omongan yang kurang mengenakkan dan menimbulkan permusuhan tak usahlah disampaikan ke keluarga karena membawa dampak jangka panjang yang kurang bagus. Syukurlah, kami bisa saling belajar satu sama lain dan tidak membawanya ke masa kami saat ini, dalam bahasa lugas boleh lah dinyatakan bahwa yang lalu biarlah berlalu dan yang sekarang mari kita renda hari esok yang lebih baik dan bermakna.

Cycling is my spirit

Dan terkait dengan sepeda, bagi saya secara pribadi bersepeda memiliki filosofi sendiri. Tak sekedar untuk kesehatan atau menurunkan kadar lemak dalam tubuh, tapi juga memiliki definisi yang multi tafsir nan sederhana. Bersepeda adalah semangat, karena ketika kaki telah lelah mengayuh maka timbul sebuah energi untuk memacu saya sampai pada tujuan yang dimaksud dengan terlebih dahulu men-tawazunkan raga. Bersepeda adalah kebahagiaan, karena ketika saya bersepeda maka saya akan berpapasan dengan aneka ciptaan Tuhan yang mengajarkan kepada saya bahwa kebahagiaan begitu dekat dan sederhana, tak sekedar materi juga bukan jabatan dan pengakuan, semuanya mengalir dengan indah dan sederhana dalam hal-hal kecil yang terulang; tersenyum dengan ikhlas, menyapa dengan ramah, santai dan tenang dalam riak-riak masalah. Bersepeda juga bagian dari rasa syukur, karena begitu banyak nikmat yang telah diberikan olehNya untuk kita dalam tubuh ini maka sudah sepatutnya bagi kita untuk mensyukurinya dengan cara menjaga dan merawatnya dengan baik melalui olah raga; tak hanya raga yang sehat, keindahan alam membuat jiwa kita pun sehat, dengan demikian dimensi syukur pun bisa kita perlebar lagi diameternya. Ya itulah bersepeda menurut saya, bagaimana dengan anda?…

Menyusuri rute menuju jembatan Suramadu di pagi tentu momen yang begitu memukau karena bisa merebut pagi bersama derai-derai embun yang melimpah di alam, menantikan teriknya sang mentari muncul, beradu kecepatan dengan moda angkutan darat yang lain serta menikmati jalan yang masih rata tanpa polisi tidur itu. Rasanya bersepeda begitu nikmat.

Terimakasih kampung halamanku, terimakasih Yaa Rabb atas semua limpahan nikmat ini, begitu sederhananya bahagia dan begitu berharganya syukur sehingga bisa membuat jiwa yang nyaris kalah menjadi menang kembali untuk memperebutkan momen-momen yang lain. Hai Suramadu, selamat pagi “Minal Aidzin Wal Faidzin = Nyo’on Saporah Lahir Klaban Batin”.

– Syawal 1433H –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s