Mau Dibawa Kemana Anakmu?

Nak ke sawah aja

Intro
Sumber : http://www.jamilazzaini.com/mau-dibawa-kemana-anakmu/

Dua malam lalu anak-anak saya yang di Bogor saya ajak bertemu teman-teman saya. Di malam pertama, mereka saya ajak bertemu mas @Jayteroris.  Di malam kedua,  mereka saya ajak jumpa om @ImamSuyono dan mas @Ivanlaksana. Begitulah orang tua saya mengajarkan, “Ajaklah anak-anakmu kenal dengan teman-teman baikmu.”

Yang membuat saya terharu dan bahagia, begitu sampai rumah Izul (anak saya yang bungsu sekarang kelas 4 SD) selalu langsung sholat tarawih 11 rakaat, sendiri, tanpa komando dan tanpa diminta. Saya yakin, bila Anda melihat anak Anda seperti itu pasti bahagia seperti apa yang saya rasakan.

Namun, apakah itu berarti saya berhasil mendidik anak saya? Belum tentu. Bagi saya, keberhasilan mendidik anak-anak bukan dilihat saat mereka masih anak-anak tetapi setelah mereka punya anak, alias sudah dewasa. Pendidikan anak adalah proses panjang dalam rangka menyiapkan bekal untuk menjalani kehidupan.

Mendidik anak bukanlah perihal tentang agar mereka menjadi “juara” di kelas. Tetapi yang lebih tepat adalah menyiapkan mereka agar kelak menjadi  “juara” dalam kehidupan. Pelajaran apa yang seharusnya diberikan? Bagi saya, anak-anak seharusnya setidaknya dibekali tiga hal.

Pertama, siapkan agar mereka kelak menjadi generasi 5 Ber yaitu: Ber-iman, Ber-ilmu, Ber-amal sholeh, Ber-syukur dan Ber-sabar.  Iman adalah pondasi yang harus dimiliki seorang anak. Ilmu adalah bekal menjalani hidup. Amal sholeh adalah pembuktian iman dan ilmu yang dipahami. Selalu bersyukur saat mendapat nikmat dan bersabar saat ada derita, musibah dan kegagalan.

Kedua, menyiapkan mereka menjadi pasangan yang ideal. Bila anak kita laki-laki, siapkan mereka menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab dan berkelas. Bila anak kita perempuan, siapkan mereka menjadi istri dan ibu yang tangguh tapi tetap lembut. Pelajaran ini tidak mereka dapatkan di sekolah, tugas kita sebagai orang tua yang mendidik mereka.

Ketiga, siapkan mereka menjadi pemimpin yang berkarakter. Menjadi pemimpin masyarakat tidak boleh prosesnya “karbitan” harus dimulai sejak mereka anak-anak. Pemimpin “karbitan” itu menyebabkan mereka bermental transaksional saat memimpin. Pemimpin seperti itu juga tidak memiliki visi yang jelas, komitmen untuk berjuang demi rakyat hanya menjadi bahan kampanye tetapi miskin bukti. Menyiapkan tanggungjawab ini bukan tugas politisi tetapi tugas kita sebagai orang tua.

Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa arah yang jelas.  Nah, ke arah mana anak Anda akan Anda bawa?

***

Intro di atas saya dapatkan pada saat hari ini  selesai menunaikan ibadah sholat ashar, Alhamdulillah, semacam sindiran halus buat saya dan bagian dari pengingat saya akan pesan-pesan tersembunyi masa kecil yang sudah dicontohkan dengan konkrit oleh Bapak saya tercinta. Antara Bapak saya dan Jamil Azzaini mungkin tak jauh berbeda outputnya dalam mendidik anak, dan terus terang saja Bapak saya adalah orang yang paling banyak mempengaruhi hidup saya terkait dengan persoalan pendidikan dan pengajaran. Selain pengalaman beliau mendidik anak-anaknya, beliau juga praktisi di bidang pendidikan yang banyak makan asam garam di dalamnya. What I’m today adalah bagian output didikan Bapak saya. Saya menaruh perhatian dan kepedulian dalam bidang pendidikan itupun bagian dari didikan Bapak saya yang sejak dari kecil sudah diarahkan dan dibimbing ke sana.

Teringat saya akan nasihat beliau pada saat masih berumur SMP sesaat akan bertanding cerdas cermat  “Is, jangan hanya BERIPTEK (berilmu pengetahuan&teknologi), tapi juga harus BERIMTAK (beriman dan bertaqwa)”, ketika saya masih SMP hal ini terdengar teoritis sekali, yang sering diulang berkali-kali pada saat upacara bendera maupun saat ketika pelajaran PPKN, Bahasa Indonesia, Agama berlangsung. Namun, ketika saya sedang dengan proses saya yang sekarang, rasanya nasihat ini begitu ngena ke dalam diri saya dan selalu saya jadi rujukan untuk one step movement ahead, dan kadang terasa begitu sulit untuk mensinergikan keduanya. Dan ketika kesulitan itu hadir menyapa, saya pun menjauh dari kesulitan itu dan mencoba untuk mendekati Sang Maha Pembuka Jalan Keluar Kesulitan sehingga dengan cahayaNya dibimbing untuk mensinergikan keduanya.

Untuk teknis mendidik anak seperti apa, sejujurnya saya juga belum paham sepenuhnya karena kadar saya saat ini hanyalah sebatas pemerhati dan “sedikit” terjun ke dunia pendidikan yang sarat akan nilai-nilai visioner itu, karena tentu saja saya masih belum menjadi orang tua sehingga kalau mau yang lebih valid silahkan ditanyakan kepada orang-orang yang telah dengan sukses, bahagia dan mulia mendidik anak-anaknya. Semoga saja apa yang sudah saya lakukan pada masa-masa sebelum menjadi orang tua ini bisa menjadi terobosan dan langkah untuk membangun generasi yang lebih baik dan matang baik secara spiritual,emosional,sosial dan intelektual.

Sempat membuat shock bahwa peran seorang wanita yang terutama adalah mendidik anak-anaknya. Sesaat mendengarkan taushiyah ini saya jadi berkata pada diri sendiri “kok sushe amet ya perannya, terlihat sepele tapi membutuhkan effort yang besar agar menghasilkan generasi yang benar-benar siap pakai di masa yang akan datang” kemudian saya berkata lagi pada diri “kira-kira saya bisa gak ya?, lah wong kadang-kadang mendidik diri sendiri aja susahnya bukan main, apalagi ini harus mendidik anak-anak yang akan menjadi busur masa depan”, syukurlah kekhawatiran saya pun terjawab dengan kehadiran anak kecil yang menjadi murid-murid saya dan dari merekalah saya belajar untuk mendidik dan memaksa diri mengapplikasikan didikan yang sudah diajarkan oleh orang tua saya.

Di bulan yang penuh berkah dan rahmat ini, semoga Allah senantiasa melimpahkan cahayaNya agar wanita-wanita mampu menampilkan perannya secara profesional dan proporsional, baik mereka yang sibuk dengan keprofesionalannya di kantor atau ruang publik, dan mereka yang memutuskan untuk secara penuh waktu menjadi ibu rumah tangga. Teringat akan kata Napoleon Bonaparte : “Masa depan seorang anak adalah pekerjaan seorang ibu; Ibu dapat mengayunkan buaian anaknya dengan tangan kanannya, dan menyayunkan dunia dengan tangan kirinya.”

* Terimakasih Yaa Allah untuk ilmu dan hikmah yang Engkau berikan hari ini, semoga senantiasa diberikan keberkahan, Amin Yaa Ilmu.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi, Serius. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s