Telaga Rasa Ramadhan 1433H

(*) Di antara puing-puing kekecewaan yang masih tersisa
Ada pergerakan jiwa yang memurnikan kembali kebijaksanaan
Bukan sekedar kebijakan yang berpura-pura dan indah di hadapan
Tubuh kemudian harus bergerak untuk masa depan
Dengan jiwa yang masih tertatih perih untuk terus melangkah

(*) Di antara persimpangan jalan
Hadir tapak-tapak masa lalu yang mengukir kekinian
Dan jalan-jalan masa depan yang sudah harus diseriuskan
Diam-diam kegelisahan hebat memanggil-manggil
Menggoyahkan keyakinan yang sempat membulat itu

(*) Jika memang harus kecewa
Maka tumbuhkanlah rumput-rumput yang mampu mengalirkan embun sepanjang pagi
Dan jika memang harus menghindar dan menjauh
Maka jagalah jiwa dan hati dari kekeruhan dan permusuhan
Jauhkanlah dari segala hal yang semakin menambah kekecewaan dan kekacauan
Hanya kata “cukup” untuk mewakili semuanya

(*) Pengenalan dan pengetahuan itu
Tidak lantas permisif menyikapinya
Atau mungkin pura-pura bertoleransi
Sudah bukan saatnya lagi terlihat baik
Semuanya sudah cukup mengajarkan untuk menjadi apa adanya
Dan bukan karena ada apanya
Mau dikatakan baik atau tidak baik itulah prosesi dari perjalanan kebijaksanaan
Tanpa paksaan dan tak perlu lagi rayuan
Hanya kata “cukup” untuk mewakili semuanya

(*) Dinamika rasapun memicu kecerdasan diri
Seperti kata Imam Alghazali : dalam menjalani hidup orang harus cerdas
Yakni mampu memahami dirinya,Tuhannya,dunianya serta akheratnya
Jika ia mampu memahami 4 hal ini maka dijamin akan mendapat kebahagiaan di dunia dan di akherat
Tak hanya kata “cukup” untuk meresapi sang Alghazali ini
Jiwa perlu berjalan lagi, bergerak langkah per langkah
Menjauhi kekecewaan dan kekeruhan hati

(*) Sampai pada titik tertentu
Dimana hasrat ambisi mencapai klimaks
Maka sang jiwapun dahaga akan kebenaran
Mencari telaga sunyi untuk meneguk kebahagiaan yang sulit didapatkan itu
Tuhanpun menunjukkan jalan menuju telaganya
Melalui wudhu’,shalat, puasa, tilawah dan berbuat baik dengan sesama
MelayaniNya, melayani hambaNya maka telaga pun mendekat dengan sendiri
Menyadarkan diri dan memurnikan langkah

(*) Menemui telaga sunyi
Jiwa yang membara karena amarah kembali tersenyum
Dan wajahpun memancarkan aura yang bercahaya
Karena tentu berbeda senyuman seorang yang bercahaya dengan orang yang menuruti ambisinya
Lalu ada nasehat jiwa yang bertutur dengan lembut “tiada hari tanpa melakukan perbaikan dan kebaikan”

(*) Yaa Nurul Qalbiy, Alhamdulillah atas petunjukMu
Bagi pendosa dan pembuat prasangka ini
Terangilah jalanku, tuntunlah jiwaku
Agar tak jatuh di kubangan yang sama
Mohon jauhkanlah dari orang-orang yang mengecewakan
Agar prasangka hamba tak semakin menjadi-jadi
Mohon jauhkan dari ketidakjelasan
Agar khayalan-khayalan hamba tak dibangkitkan oleh syetan
Kalau memang prasangka dan khayalan telah terbentuk
Maka kembalikanlah kembali pada jalanMu yang lurus
Ihdinasshirathal Mustaqim…Ihdinasshirathal Mustaqim…Ihdinasshirathal Mustaqim

(*) Di bulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah ini
Didiklah hamba menjadi hamba yang berilmu dan berhikmah
Yang bisa hamba bawa untuk bulan-bulan berikutnya
Menjadi bekal spiritual yang keberkahannya tak akan lekang oleh masa
Jadikanlah Ramadhan tahun ini menjadi ramadhan yang lebih berkah dibandingkan sebelum-sebelumnya
Beri kekuatan bagi hamba untuk memurnikan langkah dalam menyongsong masa depan yang lebih bernilai

-Ramadhan 1433H; Memurnikan Langkah Menyongsong Masa Depan-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi, Ramadhan-Syawal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s