Perhitungan itu Ada Tempatnya

Menuliskan judul ini, sebenarnya ada rasa tidak enak diri untuk mengungkapkannya, tapi untuk mengingatkan dan medidik diri rasa-rasanya sangat perlu bagi saya untuk mereview kembali. Hal ini didasarkan atas hal yang saya alami beberapa hari yang lalu bersama seorang teman wanita saya yang kebetulan meminta bantuan saya untuk menemaninya mencari komponen pengganti yang rusak dari laptopnya. Ia meminta saya untuk menemaninya kesalah satu plaza eletronik di kawasan Jakarta.

Singkat cerita, kami pun janjian di sebuah restoran junk food yang tak jauh dari lokasi dimana saya bekerja, saya menghampirinya ke tempat itu dan kami pun berangkat menuju tempat yang dimaksud. Di tengah perjalanan saya pun membelokkan motor saya karena terdengar adzan sehingga merupakan sebuah pengingat untuk menyegerakan berbuka. Kami menuju masjid yang berlokasi tak jauh dari Plaza Semanggi, sang teman membatalkan puasanya sambil menunggu saat shalat berjemaah, karena saya sedang berhalangan shalat maka saya pun menunggu di teras masjid sambil “merepotkan” diri untuk mengabari kabar duka yang saya dapat dari seorang teman di hari itu.

Sebelum membeli komponen itu, saya sudah menyarankan teman saya untuk meminjam terlebih dahulu laptop milik salah satu orang di rumahnya (bapaknyakah atau ibunyakah ataukah adiknya) jika memang urgent akan dipakai malam itu juga, tapi karena kurang kooperatif antara dia dengan orang rumahnya sehingga memaksa dia tetap kekeh untuk membeli komponen tersebut meskipun dengan kondisi belum mendapatkan persetujuan subsidi dari Bapaknya. Ok, tugas saya hanya membantu dan untuk urusan dia dengan keluarganya itu bukan zona saya, yang penting saya sudah mengingatkan dan memberikan saran lalu mengulurkan bantuan sebisa saya.

Selesai shalat kami pun melanjutkan perjalanan menuju plaza yang dimaksud, saat akan mengeluarkan motor di masjid saya pun meminta teman saya untuk memberikan uang parkir dulu sambil saya mengecek kembali kondisi uang di bagian kantong belakang celana jeans saya, sepertinya masih ada persediaan uang parkir. Berhubung sang teman sudah membayar uang parkirnya maka saya pun cuek keluar dari parkiran tanpa perlu bertanya lagi ke tukang parkir yang bersangkutan sudah membayar atau belum. Saat saya akan menjalankan motor, sang teman bertanya “lo gak bayar lagi?”, saya hanya bisa mengatakan “gak usah lah, kan lo tadi udah kasi”, dia menambahkan lagi “gak kurang tuh?”, karena saya sudah mempercayai maka tanpa banyak babibu saya melanjutkan menjalankan motor pada destinasi yang diminta.

Sampailah kami pada plaza tersebut, dan kami pun masuk mencari barang yang dicari oleh teman saya. Seketika teman saya mengatakan “gak nyari di toko yang lain dulu (baca : bukan toko dari merk laptop teman saya)”, spontan dan lugas saya jawab :”lah,ngapain,ini kan udah vendornya,udah lengkap semua,ujung-ujungnya nanti balik ke sini lagi, di sini aja lah”. Teman pun setuju, kami pun mencari barang yang dimaksud dengan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan pramuniaganya. Ada penjelasan menarik dari pramuniaganya bahwa untuk barang yang dicarinya harus dilihat dulu tipe laptopnya apa karena masing-masing laptop memiliki tegangan (Volt) dan arus (I) yang berbeda. Saya pun berkomentar kepada pramuniaga “bukannya sama aja ya mbak, saya sering ganti-ganti tuh di rumah charger notebook sama laptop kakak saya meskipun tipenya beda tapi satu merk”, sang pramnuiaga menjelaskan lagi “gak semuanya sama mbak,soalnya barang yang sudah dibeli gak bisa dibalikin lagi”. Wajah kecemasan teman pun hadir, apalagi setelah sang pramuniaga menyebut harganya sekitar 300an makin galau saja dan kemudian mengajak saya untuk mencari ke tempat yang lain dan malah hampir mau mencari barang BM (black market atau yang tidak asli), dengan perlahan-lahan saya merespon teman saya “lo itu lagi butuh barang itu,apalah artinya 300 ribu klo lo harus selesaiin presentasi itu malem ini juga, klo lo beli yang BM ntar rusak lagi dan harganya pun gak beda jauh, udahlah beli aja”, sambil memikirkan tipe laptopnya teman saya tersebut mencari-cari laptop yang kira-kira sama tipenya dengan yang dia miliki, kemudian saya ada pikiran untuk menghubungi teman kos saya yang tipe laptopnya tak jauh beda dengannya, karena tak ada pulsa maka saya pun mengenakan HP teman saya tersebut sambil dibumbui pertanyaan “providernya sama kan?”, saya pun menjawab “iya sama, murah kok”. Selagi menelpon dan mencocokkan tipe barangnya eh tiba-tiba muncul pembeli lain yang juga mencari barang yang sama, kami pun membandingkannya dengan yang dimiliki oleh sang teman dan ternyata memang tak beda jauh dengan apa yang diinformasikan oleh teman kosan saya dan pembeli lain tersebut. Barangpun kami beli. Saat akan membayar, nyaris teman saya akan membayar dengan menggunakan kartu kreditnya, namun karena pajaknya lumayan mahal maka saya pun meminjamkan kartu debit untuk membayarnya dengan harapan langsung dibayar setelah itu karena itu bukan uang saya semuanya. Selesai membeli barang kami pun keluar dari plaza tersebut dan menggagalkan acara makan malam di plaza tersebut karena pilihannya tidak banyak dan sangat standar.

Kami keluar menuju tempat parkiran, saya agak lupa kronologisnya apakah saya sedang tidak ada uang pecahan atau gimana yang jelas saya meminta teman saya membayar uang parkir yang tak sampai 1 jam di dalam plaza tersebut. Kami pun menuju tempat makan yang lokasinya di tengah-tengah karena sekalian saya akan mengantarkan teman saya tersebut sampai rumahnya dengan memastikan bahwa barang yang sudah saya rekomendasikan untuknya  memang benar dan bekerja dengan baik. Kami pun makan sambil bercerita-cerita. Saat kami sudah selesai makan kami pun memanggil sang penjualnya untuk membayar tagihan kami masing-masing. Saya pikir teh tawar saya gratis, eh ternyata bayar 2000, karena tak ada uang receh 2000an sehingga saya pun mengatakan ke teman saya “ya udah lo traktir gw teh tawar aja deh”, langsung sang teman menjawab “tadi gw udah bayar parkirnya”, saya kaget mendengarnya, dan tanpa banyak komentar saya mengatakan “ya udah tunggu kembalian dari parkir aja deh,gw gak ada uang 2000an”. Sambil berpikir “segitu perhitungannya ya”, kalau saya mau perhitungan juga sebelum menuju plaza tadi saat mengisi pertamax bersama sudah saya tarik tagihannya. Kalau saya juga tega dan hitung-hitungan buat apa juga saya mau mengantarkannya pulang sampai rumah.

Berdasarkan cerita di atas, bukan maksud untuk menjelek-jelekkan teman atau meninggikan diri sendiri, di satu kondisi memang kita harus perhitungan, tapi di kondisi tertentu sejenak kita lupakan yang namanya perhitungan “buang deh jauh-jauh ke laut, gak guna soalnya dan bikin orang lain menjauh, apalagi yang dihitung duitnya gak seberapa…fiuhhhh”, apalagi hal itu sudah menyangkut kepentingan diri sendiri yang lagi urgen “masih perhitungan juga, kapan bahagianya hidup kalo kayak begini”. Rasa-rasanya memang sebaiknya ada pendekatan ekstra dan teladan nyata untuk teman ini supaya tidak memelihara rasa perhitungannya ini dalam-dalam karena kalau masih dipelihara akan dikucilkan dari lingkungan sosial dan orang lain pun takut mendekatinya karena apa-apa harus disertai kompensasi untuknya. Jadi terinspirasi oleh sikap seorang teman yang tanpa ditanya sekalipun saat jalan bersama untuk kepentingan bersama atau untuk sekedar menemani saya dia selalu mengatakan “Is, bensinnya PT-PT brapaan?, kan lo nanti juga nganterin gw”, dengan ramah saya menjawab “ya nanti klo udh isi bensin gw kasi tau lo deh brapa”. Ada lagi seorang teman yang tanpa diminta sekalipun langsung membawa motor saya ke POM bensin dan mengisi bensin dengan penuh sebagai bentuk terimakasih karena telah diberikan tebengan.

Saran saya untuk teman (orang) yang masih perhitungan adalah banyak-banyaklah melakukan interaksi sosial supaya tidak canggung dan seenaknya sendiri saat berelasi dengan orang lain. Syukur-syukur kalau sudah kenal, masih ada kata permisif, nah kalau yang belum kenal kan jadinya ilfil duluan. Ingat : rezeki sudah ada takarannya, kalau waktunya keluar ya keluar aja, jadi tak usahlah perhitungan yang keterlaluan daripada menyiksa diri sendiri, diri sendiri aja dhitung-hitung apalagi orang lain…Fiuhhhh. Semoga kita semua terhindar dari sifat pelit dan kikir.

– Kikir bikin fakir jiwa –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s