Gak Bilang Siy, Suruh Siapa Gak Nanya

Disebabkan ban motor “pinjaman” saya bocor, ditambah lagi kuota helm yang tersedia di kosan tidak mencukupi dengan jumlah orang yang akan pergi mengendarai motor, kami pun memutuskan untuk menggunakan transportasi umum. Kami memilih Trans Jakarta dan kami pun jalan kaki menuju halte terdekat-halte relasi, depan kompas Gramedia. Beberapa saat kami menunggu, datang juga sang TJ (singkatan dari Trans Jakarta), 2 teman saya mendapatkan tempat duduk, sedangkan saya nyempil diantara mereka. Tak terlihat, rupanya di deretan depan saya ada satu kursi yang masih kosong, saya pun berpindah ke kursi tersebut. Di samping saya adalah seorang wanita dan di depan saya adalah 2 orang teman kosan saya.

Dalam perjalanan TJ menuju titik-titik shelternya, tiba-tiba seorang wanita di samping saya bertanya singkat “ini halte apa namanya?”, saya menjawab sambil menatap 2 orang teman  di depan saya “Green Garden kan”, kami pun menyatakan bersama bahwa itu Halte Green Garden. Beberapa saat kemudian, setelah TJ sampai di halte Grogol, seorang wanita di samping saya bertanya lagi ke saya setelah beberapa saat kami diam dan tidak saling bertegur “kalau halte kebon jeruk dimana?”, saya pun langsung menjawab “udah lewat dari tadi”, dan 2 orang teman saya pun menambahkan lagi “tadi saat kita masuk pertama itu halte kebon jeruk”, kami pun menyatakan lagi “kalau mau ke halte kebon jeruk transit dulu yang ke arah sana” sambil menunjukkan arah TJ-nya. Sang wanita yang bertanya itu pun keluar dan menuju halte yang dimaksud. Secara spontan 2 orang teman saya menyatakan ke saya “kenapa gak lo kasi tau mbak?”, saya dengan santai menjawab:”gak bilang siy mo turun dimana, lagi gak nanya halte kebon jeruk dari tadi, coba klo nanya kan gw kasi tau”. Setelah pernyataan saya ini, saya berpindah tempat duduk di samping 2 orang teman saya dan di sebelah saya ada seorang Bapak yang langsung bisa membaca pernyataan saya seraya menanyakan ke saya “klo ke halte Senen turunnya dimana?”, dengan lengkap saya memberikan guide-nya ke Bapak ini dengan diselingi beberapa pertanyaan saya terkait lokasi Senen-nya dimananya, karena bagi saya tanpa pertanyaan saya tidak gampang memberikan jawaban, oleh karena itulah jika di ruang publik yang asing bagi saya maka saya akan lebih aktif dan interaktif untuk bertanya karena saya memerlukan informasi dari sekitar, sedangkan di ruang publik yang tidak begitu asing bagi saya maka saya akan lebih terlihat cuek dan seperlunya saja, namun jika ada yang bertanya dan saya cukup tahu jawabannya maka saya akan meresponnya menurut yang saya bisa.  Salah satu teman saya  yang satu TJ dengan saya merupakan alumni salah satu kampus di daerah Senen, sehingga ia banyak tahu tentang daerah sini.

Kejadian ini spontan mengingatkan saya dengan cerita salah seorang teman yang beberapa hari yang lalu berkunjung ke tempat bermain-main saya di daerah Bangka, Kemang. Ia menceritakan tentang kisah cinta yang pupus salah seorang juniornya yang menyukai seorang wanita yang juga disukai oleh teman saya yang berkunjung tersebut. Berbagai macam cara sang junior ini yang juga teman seangkatan sang wanita mendekatinya, namun respon sang wanita biasa saja karena menganggap dia adalah teman biasa seperti yang lain. Sampai kemudian ada salah seorang temannya yang mengatakan bahwa temannya tersebut menyukainya baru dia tahu bahwa selama ini dia mendekatinya dan menyukainya. Apa yang dikatakan oleh teman saya yang berkunjung tersebut dari rentetan cerita yang dikisahkannya kepada kami : “kan si wanita udah bilang ke temennya suruh siapa gak bilang, coba kalo bilang kan bisa dipertimbangkan, giliran sudah jadian sama orang baru bilang” tutur teman saya dalam ekspresi yang penuh semangat.

Dari 2 cerita di atas; TJ dan teman saya, mungkin kita bisa mengambil sedikit simpulan bahwa betapa pentingnya kita menanyakan dan menyatakan hal yang meragukan kita yang seringkali tidak bisa terbaca dengan mudah oleh orang lain. Jika wanita yang saya temui di TJ beranggapan bahwa saya akan tahu arah pertanyaannya maka itu adalah hal yang salah, karena saya menganggap bahwa dia sudah tahu dimana dia akan turun, karena saya bukanlah orang yang gampang membaca pikiran orang jika tidak bertanya, jika saya menjadi wanita tersebut mungkin saya akan bertanya langsung ke petugasnya jika sungkan atau merasa tidak enak bertanya ke orang di samping saya, bisa juga sebelumnya saya menyediakan panduan yang sudah saya tanyakan ke teman yang sudah mengetahui daerah yang bersangkutan. Siapa yang perlu, dialah yang bertanya; singkirkan rasa malu dan jaim yang tidak bersketsa itu,  daripada saya ragu, tidak jelas dan penuh prasangka lebih baik bertanyalah dan kemukakan hal yang meragukan itu sehingga bisa mencerahkan arah dan pikiran.  Tanpa pertanyaan, tentu saja kita tidak tidak akan pernah tahu jawabannya, karena orang-orang yang kita temui bukanlah malaikat yang tahu isi hati dan pikiran kita. Tanpa pernyataan yang jelas tanpa embel-embel sindiran dan sejenisnya kita juga tidak akan pernah tahu apa sebenarnya maksud dan tujuan dari pernyataan itu. Menyimak lagi dari kasus teman saya tersebut; jangan sampai sudah menjadi milik orang baru kemudian bertanya dan menyatakan, kenapa tidak sebelumnya dilakukan agar semuanya jelas, bukankah yang namanya perasaan kadang tidak sebanding dengan yang kita pikirkan, seringkali dibutuhkan nalar-nalar yang berani untuk menerjemahkan dan mengeksekusinya, bukan hanya diam menjadi pengecut dan enggan memaparkan maksud dan tujuan. Berani menyukai berarti berani ditolak, ya kalau sudah begitu kan tinggal ada 2 pilihan? tetap menunggu atau mencari yang lain. Kalau masih saja hanyut dalam kebimbangan ya itu berarti masih berjiwa ranum; yang semuanya harus indah terlihat mata dan tidak berani menghadapi kenyataan. Melalui tulisan ini, saya haturkan terimakasih untuk Badia (Himtek, 2005) yang sudah banyak memberikan cerita-cerita inspiratif tentang kehidupan anak-anak SK dari beberapa angkatan yang menjadi pelajaran penting bagi saya, mungkin tidak terpakai untuk saat ini, tapi beberapa tahun yang akan datang pasti akan terpakai untuk dijadikan sebagai kisah buat anak-anak dan cucu-cucu.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s