Ritual Kenaikan Harga BBM

Tak bisa dipungkiri bahwa ritual dari adanya kenaikan harga BBM adalah adanya demonstrasi dimana-mana dengan dalih nama rakyat. Entahlah ya, rakyat yang mana ini? apakah rakyat secara keseluruhan atau rakyat-rakyatan yang tiba-tiba begitu nasionalisnya padahal di saat harga BBM tidak naik mati-matian menjatuhkan nama bangsa sendiri. Saya juga sering diherankan dengan kondisi ini; BBM naik, Demo pun merebak. Semacam latah sosial saja dalam masyarakat. Lah wong yang didemo itu, dulunya juga mantan demonstran yang dengan lantang membawa-bawa nama rakyat. Kadang malas mengikuti politik negeri ini; suka tidak jelas, penuh skenario dan ujung-ujungnya tanpa penyelesaian. Dalam politik memang tak ada yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi; hari ini A, bisa jadi menjadi Z. Itulah dinamika politik yang mesti kita ketahui bersama karena terlalu banyak manuver di dalamnya. Mau seidealis apapun pandangan kita tentang politik, tetap saja yang namanya politik itu tak akan pernah ideal.

Semarak dan ricuh akan ketok palu pemerintah terhadap kenaikan harga BBM menuai aksi penolakan di sejumlah wilayah Indonesia. Sebut saja di Medan; mahasiswa melakukan aksinya di bandara Polonia, Medan. Saat kejadian itu berlangsung saya sedang berada di  bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau. Saya mengetahui hal ini saat saya akan melakukan pencetakan tiket di salah satu counter maskapai penerbangan domestik dimana terpampang TV flat di dalamnya yang bisa dinikmati oleh karyawannya dan customer yang sedang melakukan transaksi dengan maskapai ini. Selesai melakukan pencetakan tiket, kami pun menunggu di dalam setelah kami mendapatkan boarding pass kami. Tak dinyana bahwa seorang wanita yang ditemani wanita lain yang sedang duduk di kursi roda akan melakukan penerbangan ke bandara Polonia, Medan. Kami pun saling berdialog terkait beberapa hal, khususnya jam keberangkatan menuju Medan. Sebentar lagi rupanya, namun kenapa tidak ada tanda-tanda pesawat akan siap-siap take off. Yah, mungkin di-delay karena aksi massa memprotes kenaikan BBM tersebut mengganggu operasional di bandara yang bersangkutan, ditambah kondisi cuaca di Pekan Baru saat itu yang memang kurang bersahabat dengan iringan guyuran hujan deras disertai angin. Terenyuh saya melihat wanita ini yang ditemani oleh seorang wanita lain yang sedang duduk di kursi roda yang makan dan minum saja harus disuap. Adakah demonstran merasakan hal ini ?.

Teringat akan pernyataan Soe Hoe Gie : ‎”Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” Sedih juga memaknai ini dalam kehidupan yang sudah modern seperti sekarang, mahasiswa yang katanya sudah keren dan gaul itu masih saja tersulut oleh tindakan anarkis yang disulut oleh kepentingan politik. Kalau memang mengatasnamakan rakyat, tolong dijelaskan rakyat yang mana; aparat keamanan adalah rakyat, pengguna jalan juga rakyat, pegawai jasa marga juga rakyat, pedagang juga rakyat dan saya pun rakyat. Siapa bilang demo itu haram, dan siapa juga yang mengatakan bahwa yang diam dan duduk-duduk itu yang lebih baik dibandingkan dari demonstran; semuanya punya peran, kapasitas dan batasan. Berdemolah dengan cara yang cerdas,  baik dan pintar membawa diri, bukan malah seenaknya sendiri merusak fasilitas umum dan melempari aparat dengan benda-benda yang berbahaya.

Jadilah pemerintah yang cerdas juga dengan cara mengaspirasi dengan baik kebutuhan dan teriakan rakyat. Jika memang saat itu rakyat sedang dilanda trend demonstrasi maka sediakan saja fasilitas yang proporsional sehingga membuat aspirasi mereka tersampaikan, dan bukan malah bersembunyi di balik gedung DPR-MPR atau berusaha cari muka ke rakyat dengan sok sibuk dan sok angkat bicara dalam rapat paripurna yang kadangkala tak ubahnya seperti anak kecil berebut mainan. Fasilitas itu bisa dalam bentuk penyediaan podium, toilet umum yang portable, tenda supaya tak kepanasan, makanan dan minuman. Kalau sudah begitu mungkin para demonstran urung diri untuk melakukan aksi-aksi yang macam-macam karena mereka sudah dijamu dengan baik oleh wakil rakyatnya. Setelah itu baru memberikan penjelasan yang transparan dan mudah dimengerti kepada mereka. Naikkah atau turunkah atau mungkin masih plin-plankah harga BBM jika penjelasannya enak rakyat pun semain bisa mencerna.

Dan bagi aparat keamanan juga sebaiknya jangan mudah tersulut oleh gertakan dan kalimat-kalimat pedas para pendemo. Kadang-kadang mereka hanya bagus di omongan saja, nanti kalau sudah memasuki realitas yang sebenarnya juga mingkem sendiri. Makanya bersahabat sajalah dengan mereka, dalam menghadapi mereka anggap saja seperti bermain-main dengan anak kecil, karena jika tidak begitu bisa capek hati, capek batin, kalau sudah demikian repot juga bukan? mana demontsrannya marah, aparatnya pun balik marah, dan yang ada aksi marah-marahan antara aparat dan demonstran. Dengan demikian, feel-nya pun tidak bisa dipertemukan, karena yang seharusnya adalah demonstrasi tentang BBM.

Bagi saya pribadi; BBM mau naik atau tidak naik pun tak masalah, yang jelas jangan pernah ada dusta antara kita, hindari konfrontasi dan utamakan perdamaian. Mau naik juga, harga-harga yang lain juga tetap akan naik dan memang harus disadari kenaikan harga BBM adalah hal yang mandatory…karena apa? bukankah quota SDA semakin menipis, begitu pun minyak bumi dan saudara-saudaranya, jadi lumrah saja kalau hal itu terjadi. Mau tidak naik sekalipun, harga yang lain juga akan selalu naik meski tanpa alasan kenaikan harga BBM sekalipun. Jadi nikmati saja dan jadilah orang yang bisa menerima keputusan dengan lapang dada; yang namanya rejeki itu sudah ada takarannya; BBM naik, rejeki inshaAllah akan naik pula. Intinya; BBM…kamu ini bagaimana? ataukah saya yang harus bagaimana menyikapi BBM?.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s