Pengalamanku Kerja Tanpa Kantor

Didapat dari kompasiana.com, ditulis oleh : Julianto Simanjuntak, bagi saya secara pribadi sangat inspiratif sekali, semoga bisa menjadi panduan, semoga bagi yang lain juga cukup berguna. Salam kenal buat keluarga beliau.

****

Sebagai yang suka traveling memberikan seminar  ke beberapa kota, ada satu fenomena yang menarik saya jumpai. Yakni makin banyak ibu rumah tangga bekerja tanpa kantor. Rumah mereka jadikan tempat bekerja.

Salah satu  mahasiswa kami berbagi pengalaman.  Tiga bulan lalu demi anak dia memilih  keluar dari pekerjaannya sebagai staf akuntan. Namun  pimpinannya tidak mengijinkan. Sang Bos justru memberi dia kesempatan bekerja dari rumah dan hanya sekali seminggu membawa laporan keuangan ke kantornya.

Keputusan Besar

Tahun 1994, setelah melahirkan putra kami yang pertama,  istri saya Wita menghadap Bosnya. Dia  meminta resain dari kantor. Saat itu posisinya cukup bagus, menjadi  kepala informasi, semacam humas. Pekerjaan Wita menyediakan informasi untuk kantor, menangani majalah, dan mengirimkannya ke pelbagai daerah cabang dan member kantornya.

Namun demi untuk mengasuh putra kami, Wita memutuskan bekerja di rumah saja. Atasan Wita awalnya tidak merestui dia mundur. Bosnya memberikan  kesempatan bekerja  di rumah, dan sewaktu-waktu ke kantor. Namun setelah beberapa saat istri saya tetap memilih keluar. Mulai bekerja dari rumah

Tahun 2002 kami memulai sebuah lembaga konseling. Karena tidak punya dana cukup, kami tidak punya kantor. Kami terpaksa sesekali memberi konsultasi di rumah, dan sebagian waktu kami konseling secara nomaden. Berpindah dari satu cafe ke cafe lain. Dari satu mal ke mal lainnya. Sesekali untuk konseling berkelompok kami meminjam sebuah sekolah di bilangan cilandak. Sesekali saya memberi seminar dan pelatihan.

Memanfaatkan Media dan Jejaring

Karena tidak memiliki kantor memang terasa produktifitas kerja kami lamban. Saya sempat berpikir  menerima tawaran kerja di sebuah kantor. Tetapi baik saya maupun Wita ragu meninggalkan pekerjaan kami. Kamipun memutuskan konsultasi ke Ayah Wita.

Ayah Mertua saya seorang guru besar yang pengalaman dalam dunia pendidikan. Dia lalu memberi kami  motivasi kami agar tidak pusing soal  kantor dsb. Dia menantang kami tetap bekerja meski hanya dari rumah dan mulai tekun   menggunakan media. Media apa saja, terutama internet. Kamipun mulai rajin menyebarkan visi kami  dengan rajin.

Inilah yang kami lakukan

Pertama, kami membeli jam siaran di satu radio swasta. Meski mahal, kami memaksakan diri agar bisa siaran seminggu sekali pada prime time. Kami juga bekerja sama dengan salah satu program TV swasta. Memberi konseling via radio dan Tivi.

Kedua, kami bertekun menulis dan menerbitkan buku. Sebagai sarana edukasi dan kampanye pentingnya konseling. Lewat buku ini tenyata kami bisa survive secara finansial, bahkan  di tahun ketiga sudah mampu menyewa kantor serta mempekerjakan dua-tiga  staf.

Ketiga, kami mensosialisasikan program dan buku kami via SMS. Setiap hari. Kemudian menggunakan  BBM dan Twitter.  Mulailah jejaring terbentuk. Kami makin sering mendapat  undangan  memberikan seminar. Sampai saat ini sudah memberikan seminar, khususnya tentang buku-buku kami, di  56 Kota dan 23 Propinsi.

Keempat, membuat akun facebook baik pribadi maupun grup. Lewat grup itu Kami mengirimkan artikel konseling secara rutin. Termasuk promo karya karya kami. Kemudian kami beralih  membuat website dan  menulis di beberapa blog lain seperti  Kompasiana dsb.

Dengan membesarnya jejaring, pekerjaan kami berkembang dan menghasilkan finansial yang memadai. Kami berdua makin sering diundang mengajar dan memberi seminar. Buku kami menjadi laris.

Setelah dipinjamkan kantor kecil selama dua tahun, barulah tahun 2005 kami bisa menyewa sendiri kantor di daerah Grogol. Sampai sekarang kami belum mampu membeli kantor, tapi masih bisa menyewa. Benarlah perkataan Ayah mertua saya,  ”Jangan kuatir tak punya kantor. Bertekunlah menggunakan media dan bangunlah jejaring seluas mungkin”

Penutup

Kantor adalah fasilitas sangat penting dalam bekerja dan berusaha. Namun, pada situasi dan kondisi tertentu, tidaklah mutlak. Bekerja di rumah sudah menjadi tren saat ini. Jika ada niat, kita bisa memulai sebuah usaha atau pekerjaan (tertentu) tanpa kantor.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Enterpreneur(ship). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s