Pendalaman Budaya Madura;Museum & Kerapan Sapi

Alhamdulillah,

Setelah sekian lama tidak menuliskan tentang Madura, terpicu juga untuk sedikit berbagi tentang pengalaman pribadi yang menjadi momentum pengenalan, pengetahuan dan pemahaman akan budaya Madura. Jadi semakin cinta dengan Indonesia; negeri yang memiliki aneka ragam budaya.

Pengalaman ini saya dapatkan ketika tahun yang lalu saya banyak menghabiskan waktu di Madura. Kesempatan ini pun saya pergunakan untuk mempertajam kembali kemaduraan saya yang sering disangsikan oleh teman saya sendiri yang orang Madura, maupun orang lain yang bukan orang Madura, kenapa demikian? panjang ceritanya jika diceritakan dan jadi OOT (out of topic, red). Padahal, dibalik kecuekan saya akan Madura, sebenarnya saya adalah pemerhati dan pencinta Madura. Tentu saja, kalau boleh jujur, jika tradisi dan budayanya agak-agak menyimpang dari cara berpikir saya dan terkesan mengandung elemen-elemen yang tidak penting secara spontan kadang saya by pass atau cut saja, mohon maaf ya buat nenek-nenek dan kakek-kakek moyang. Ok, langsung menuju TKP judul ya, saya mulai dari museum dulu.

MENGUNJUNGI MUSEUM CAKRANINGRAT BANGKALAN 

(2010) Kunjungan Perdana

(2011); Kunjungan Bersama Murid Gede2

(2011); Kunjungan Ketiga

Selama saya berada di Madura, selamat saya berhak mendapatkan piring dan gelas cantik karena sudah 3 kali saya mengunjungi museum ini; di tahun 2010 sekali dan di tahun 2011 sebanyak 2 kali. Pastinya, saya tidak sendirian ke museum ini, saya bersama dengan murid-murid saya yang belajar di rumah. Kenapa saya mengajak mereka? jelas alasannya; kita adalah bangsa yang berbudaya dan sudah seharusnya kita memperkenalkan budaya sejak dini, khususnya budaya daerah dimana kita tinggal. Dengan demikian, ketika sudah dewasa kelak mereka dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang baik dan memperkenalkannya ke elemen-elemen yang lain, baik yang berbeda daerah maupun bangsa. Itulah ide dasar saya kenapa mengajak mereka. Selain itu juga, supaya saya tidak sendirian di museum, karena tidak lucu juga jika saya satu-satunya yang menjadi pengunjung.

Ada apa saja di dalam museum ini? jawabannya rahasia; ada benda-benda bersejarah🙂. Sedikit berbagi saja, di dalam museum ini ada beberapa benda yang menjadi kekhasan orang Madura : clurit, batik Madura, rumah Madura, alat kesenian ala Madura, raja-raja Madura, piring-piring jaman dulu, peralatan memasak dan peta-peta (situs yang baru saya tahu dan belum sempat saya kunjungi, ckckckck; jadi ingin berwisata budaya yang ada di Bangkalan). Ouw ya, dan lain-lainnya hampir ketinggalan.

Alat Kesenian Madura

Lay Out & Arsitektur Rumah Madura Jaman Dulu

Alat Tempur Buat Memasak

Corak Batik Madura Dengan Warna Khasnya; Merah, Hijau, Coklat

Bukan di Museum, di Pengrajin Batik Langsung @Tanjung Bumi

Jika ada yang berkata dan berargumen “ngapain siy ke museum, kayak gak ada kerjaan aja”, maaf ya saya hanya bisa membalas dengan senyuman, susah saya menjelaskannya dengan kata-kata bagi orang-orang yang  kurang menghargai budaya. Kalau semuanya berpendapat seperti itu, jangan ngambek dan sok-sok nasionalis jika kebudayaannya diambil bangsa lain.

Ada beberapa pelajaran berharga dari kunjungan saya ke museum ini :
1. Pengenalan secara langsung tentang nilai-nilai orang Madura ke murid-murid, karena sering kali saya merasa kurang bisa memberikan penjelasan yang lengkap jika ditanyakan terkait dengan Madura yang sudah tingkat mendalam.
2. Mengajarkan kepedulian terhadap kebudayaan lokal sejak dini, bukan untuk menjadi orang yang fanatik  sempit akan ras dan budayanya, tapi jadilah orang yang terbuka dan mau berinteraksi dengan orang dari budaya dan ras manapun.
3. Menambah pengetahuan terhadap beberapa hal akan nilai-nilai Madura yang sempat sirna dari memori. Tentunya sebagai orang Bangkalan mengenal yang namanya Syaichona Kholil; setiap malam Jum’at orang-orang dari luar maupun lokal banyak yang berziarah ke makam beliau. Baru tahu dari museum, bahwa beliau menghasilkan karya tulis antara lain bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Karya Beliau

4. Perlunya pendidikan budaya, khususnya bagi petugas yang menjaga dan bertugas. Untuk apa? untuk menginternalisasi nilai-nilai kebaikan yang tersurat maupun tersirat di dalamnya. Jadilah petugas yang berbudaya terhadap pengunjung dengan bersikap ramah dan menempatkan diri dengan semestinya dengan cara menyediakan informasi yang cukup dan tidak membingungkan bagi pengunjung. Jangan hanya duduk-duduk, karena budaya adalah representasi suatu bangsa atau daerah. Jika petugas kebudayaan saja kurang ramah, dimanakah letak nilai-nilai kebaikan kebudayaan itu sendiri?.
5. Untuk kesekian kalinya mengunjungi beberapa macam museum, baik yang di kota maupun di daerah, terlihat bahwa jumlah pengunjung tidak begitu banyak, malah bisa dihitung dengan jari, padahal harga tiket masuknya lebih-lebih murah dibandingkan harga bakso. Jika boleh memberikan masukan, perlu dilakukan publikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah. Kalau bisa, museum dijadikan sebagai tempat kegiatan murid untuk menggali informasi terkait beberapa mata pelajaran khusus, seperti : sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, geografi, sosiologi. Tujuannya apa? mereka semakin dekat dengan materi yang diberikan, bukan sekedar contoh di buku, tapi mereka bisa melihat langsung bentuknya. Selain itu, pengelola museum dan pemerintah pun sebaiknya memberikan variasi acara yang membuat pengunjung tertarik untuk datang ke museum; jangan hanya menyuguhkan benda-benda bersejarah yang bisa dilihat dan ditatap, tapi cobalah untuk menghidupkannya seperti misalnya : pagelaran musik dengan komposisi modern dan klasik yang digabungkan, cerdas cermat bernuansa budaya, atau mungkin pagelaran budaya yang mengangkat tema-tema tertentu yang kompatibel dengan trend yang sedang berkembang. kembali lagi ke masalah kreativitas dan keterbukaan. Kalau komponen museumnya saja tidak mau terbuka dengan sekitar, jangan salah jika sekitar menutup diri dengan museum. Tiba-tiba kepikiran; kenapa tidak dibuatkan saja acara “MUSEUM OPEN HOUSE”, terbuka untuk anak-anak panti asuhan, jalanan dan beberapa elemen masyarakat yang lain #hanya lamunan sesaat.
6. Ada edukasi budaya, perlu juga yang namanya aktualisasi budaya karena pendidikan tanpa praktek hanya akan meninggalkan teori-teori indah, bisa juga dibilang berkarya kata tanpa karya nyata. Ada ragam cara untuk aktualisasi dan ekspresi budaya, misalnya kesenian dan tulisan. Kenapa kesenian dan tulisan? Bapak saya adalah salah satu contoh terdekat untuk hal ini, kepedulian dan aktualisasi beliau ketika saya masih kecil dulu (saat belum mengerti tentang budaya) menjadi inspirasi dan motivasi di masa dewasa saya untuk semakin mendalami budaya Madura; budaya yang menghiasi masa-masa kecil saya, dan di masa dewasa banyak membayang-bayangi langkah saya. Bapak saya bisa memainkan beberapa kesenian khas Madura, dan untuk tulisan? tak usah diragukan, karya-karya beliau dalam bentuk artikel berbahasa Madura, pantun Madura, caraka Madura tertulis dengan tangannya yang rapi dan sangat eduktif, menghibur dan inspiratif.

MENONTON KERAPAN SAPI

Ngilmu Kerapan di 2010 dari Mereka

Keseriusan Kerapan di 2011, Mana Jackie?

Menikmati aroma Madura dengan kekhasannya membuat saya semakin tertarik mendalami budayanya. Sejak berada di Madura, saya 2 kali menonton event ini. Yang pertama kali adalah di tahun 2010, dan yang kedua adalah tahun 2011. Di tahun 2010, saya diajak dan ditemani oleh murid-murid saya, sedangkan di tahun 2011 saya diajak dan ditemani murid-murid dan sepupu saya. Kalau boleh jujur, inilah keseriusan saya menikmati dan menonton kerapan sapi, karena sebelumnya hanya menonton jauh dari arena pertandingan dan hanya beberapa menit karena masih tercipta persepsi menakutkan di kepala tentang orang-orang yang menonton di dalamnya dan sapi-sapinya sendiri. Lagi-lagi, seringkali persepsi menghambat dan membuat mindset jadi tidak berkembang. Berbekal keseriusan ini, saya pun mendapatkan beberapa pelajaran menarik dari ajang perlombaan prestisius bagi orang Madura tersebut. Anak kecil yang mengajak dan menemani saya mengajarkan saya tentang kerapan sapi dan elemen-elemen di dalamnya. Jujur lagi, saya tidak begitu mengenal perangkat tempur untuk kerapan sapi, tapi mereka? alamak!!! tahu semuanya, yang ini gunanya untuk apa dan yang itu untuk apa. Sedangkan saya, namanya saja tidak tahu dan baru tahu dari mereka, padahal dulu sering diajari oleh Bapak, dan lagi-lagi karena tidak bersentuhan dengan objek secara langsung sehingga memori saya cepat melupakannya. Tak heran jika pelajaran Bahasa Madura semasa SD sering mendapatkan nilai jelek, “benar jika kemaduraan saya sering disangsikan”. Kalau sekarang, mari silahkan diadu🙂.

Kerapan sapi yang saya tonton di tahun 2010 adalah kerapan sapi asli Madura, sedangkan kerapan sapi yang di 2011 adalah kerapan sapi Turis. Apa letak perbedaannya? kalau kerapan sapi asli adalah benar-benar keturunan Madura asli; Sapi jantan dan betinanya berasal dari Madura. Sapinya tidak terlalu besar, padat dan berisi, larinya kencang, stamina ok punya (jelas sekali, efek samping ramuan Madura mungkin). Jadi yang bertanding di ajang ini harus benar-benar sapi lokal, sapi indo dilarang untuk bertanding. Sedangkan untuk kerapan sapi turis adalah ajang kerapan untuk sapi-sapi yang telah mengalami perkawinan silang dengan suku bangsa dan ras yang lain, biasanya sapinya besar-besar dan gemuk.

Ada hal menarik yang saya dapatkan di kerapan sapi 2010 :

Dek; ati2 ya, bersedia..siap..yak!!!

1) Jokinya adalah anak kecil, lantas muncul pertanyaan dari saya ke anak-anak.
saya : ya ampun, mengerikan, gak bahaya tuh?
mereka : justru klo anak kecil, larinya sapi lebih kencang karena gak keberatan
saya : ya ya ya
2) Melihat sapi yang berdarah-darah di bagian badannya sebelah belakang
saya : astaga, kenapa bisa begitu? kasian amat sapinya
mereka : iya emang gitu, sapinya mesti dipecut supaya larinya lebih kencang (maybe life is seem like that)
saya : ok

Sapi ngamuk, kabur lari !!!

3) Kondisi agak kontradiktif karena becek dan teriknya ampun-ampunan, saya pun mendekat ke arena line finish sapi dikerap, anak-anak melarang saya karena berbahaya, dikhawatirkan sapinya mengamuk dan larinya kemana-mana (bungkus, thanks my heroes). Kami pun berpindah titik di sampingnya, dan sedikit demi sedikit mendekat ke titik start dimana sapi-sapi akan dikerap. Hmmm, cukup lama persiapannya sebelum sapi benar-benar dilepaskan, mulai dari posisi alat-alat tempur kerapnya sampai dengan posisi jokinya. Dan ini dilakukan oleh banyak orang, dan seketika sapi akan dilepaskan secara serentak mereka berteriak (oalah, begitu ya yang namanya kerapan sapi).

Lama di persiapannya, Banyak orang lagi

4) Para murid juga menginformasikan ke saya kalau sapi-sapi sebelum bertanding diberi minum jamu dulu dan beberapa racikan yang lain yang harganya mahal mengalahkan makanan majikannya.
5) Melalui sang MC, saya baru tahu kalau kerapan sapi secara historis adalah bentuk perayaan para petani karena telah panen. Selengkapnya silahkan tanya sama tetua-tetua Madura.

Sedangkan di moment 2011, seorang sepupu saya memberikan saya beberapa informasi terkait kerapan sapi :

Antara Sapi dan Saya

1) Fifin :”tadi lihat kan mbak?, orang yang pake baju hitam jalan mondar-madir, cincinnya banyak, hampir di semua jarinya” (gaya yang madura abis. Karena saya bukanlah pemerhati objek orang, maka saya katakan kepadanya “enggak, emang kanapa?”, Fifin : “itu dukun mbak”, saya :”buat apa?”, Fifin :”biar menang”, saya: “pantesan aja mondar-mandir dari tadi, penasaran jadinya”
2) Melihat-lihat stand-stand sapi diistirahatkan, akhirnya bisa melihat lebih dekat aksesoris yang dikenakan para sapi-sapi tersebut sebelum dikerap.

Beda, diantara keramaian homogen

3)  Di tengah-tengah hiruk pikuk dan panasnya suasana kerapan sapi ada 2 orang pelukis yang duduk santai, entah melukis kerapan sapinya ataukah latar tempatnya yang berisi sapi-sapi (seniman memang selalu memilih berbeda di tengah anggukan yang sama)
4) Wah, bang Jack rupanya menjadi tamu untuk event kali ini. Sedang libur shooting mungkin. Sosok Dedy Mizwar hadir di tengah-tengah perhelatan itu, hal ini saya ketahui dari MC. Sosok yang pernah saya temui langsung saat menemani adik teman saya wawancara untuk tugas akhirnya; terbuka, apa adanya, santai dan rendah hati. Ada pernyataan beliau yang saya ingat saat menonton film para pencari Tuhan :”Musuh dan sahabat sama saja ada di hati dan pikiran kita, yang berbeda hanya RASANYA saja. Yang terpenting, dekat dulu saja, mau jadi musuh atau sahabat itu PILIHAN” (pembelaan bang Jack saat akan mendekati seorang perempuan, bisa aja ya Bang, tapi nice quote kok).

***

Hal tersirat apa yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas? singkat saja kok, bahwa pemahaman akan budaya tidak cukup dengan hanya membaca buku-buku dengan penulis yang handal, diperlukan kedekatan yang signifikan dengan budaya yang bersangkutan agar nilai-nilainya mampir di kepala lalu melekat ke hati. Bagi saya, budaya Madura “not just in my head, but also in my heart”. Jika ada penilaian skeptis tentang budaya Madura khususnya, dan budaya Indonesia pada umumnya “mohon maaf line saya sedang sibuk untuk mengomentari atau merespon hal-hal tak penting itu”. Saya memberikan apresiasi yang positif bagi orang-orang yang peduli dengan budaya, dalam apapun bentuknya, karena merekalah nilai-nilai budaya tetap lestari diantara terjangan nilai-nilai yang sok-sok westernisasi, padahal mengerti saja tidak (ini bilang ke saya loh ya).

Tak bisa dipungkiri bahwa kita adalah para pelaku sekaligus korban dari modernisasi, tapi bukan berarti melupakan budaya juga kan?. Ada begitu banyak macam cara dan aktualisasi akan kecintaan dan penghargaan kita terhadap budaya daerah, itu adalah pilihan. Biarkanlah kesangsian hadir silih berganti, toh tidak mengubah semangat saya untuk berusaha belajar kenakeragaman budaya sehingga bisa menjadi bekal dalam pengembangan kepribadian dan sosial yang saya jalani. Mesti disadari bahwa budaya dan sosial adalah dua dimensi yang tak terpisahkan satu sama lain; pemahaman dan aktualisasi terhadap budaya mendorong seseorang untuk peduli terhadap lingkungan sosial sekitar, dan kepedulian sosial tanpa memperdulikan budaya akan membuat seseorang salah menempatkan diri. Bisa juga dikatakan bahwa pendekatan budaya untuk memperlebar atau meningkatkan kualitas sosial dapat menjadi jalan bagi adopsi dan adaptasi nilai-nilai kebaikan bagi pengembangan personal dan sosial.

Sekian yang bisa disampaikan, jika ada pernyataan yang kurang berkenan, mohon koreksinya, karena saya bukanlah seorang budayawan, seniman maupun sosiolog. Hanya seseorang yang berusaha belajar untuk menikmati budaya saja melalui fenomena yang terjadi di lingkungan terdekat. Semoga hal ini bisa menggiring saya untuk bisa memperlajari budaya-budaya yang lain.

“Kemampuan manusia untuk peduli adalah sesuatu yang menjadikan hidup bermakna paling dalam.” – Pablo Casals (1876–1973), pemain celo dan dirigen terkemuka asal Spanyol

– Mari Peduli Budaya Dimulai dari Aktualiasasi yang Kecil –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi, Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s