Zona Kontemplasi

Inikah zona itu?

(1) Bersepeda menyusuri sawah di pagi hari
Sambil menantikan terbitnya sang fajar
Ditemani suara burung, gemericik sungai, semilir angin, dan tetes embun yang membasahi rerumputan
Menghadirkan zona kontemplasi yang mengajarkan arti ketenangan dalam kesederhanaan

(2) Memarkir sepeda
Kemudian duduk di pinggiran sungai
Lalu berpindah ke jembatan yang berada di dekatnya
Ditemani kerbau yang sedang merendamkan badannya
Dan sapi yang sedang membajak sawah
Serta hilir mudiknya orang di tepian sungai
Menghadirkan zona kontemplasi yang mengalirkan semangat

(3) Menikmati setiap sudut rumah,
Mulai dari kamar, berpindah ke “studio” pribadi lalu ke teras depan
Ditemani alunan musik pilihan
Menciptakan zona kontemplasi yang menggiring kreativitas

(4) Melangkahkan kaki menuju masjid
Dalam balutan mukena
Ditemani generasi yang sudah banyak makan asam garam kehidupan
Dan juga generasi yang masih ranum dan menghijau
Menghadirkan zona kontemplasi yang mengajarkan makna di balik usia dan pencapaiannya

(5) Bersama keluarga,
Bersama tetangga,
Bersama murid,
Bersama guru,
Menghadirkan zona kontemplasi yang menyadarkan arti peran, tanggung jawab dan kebersamaan

Solidarity For Mindfacturing

(6) Bersama teman
Bersama sahabat; bersama mereka dan bersamanya
Menghadirkan zona kontemplasi yang mampu merevitalisasi kegalauan
Namun, ada kalanya
Tersentak dan terdiam
Oleh personifikasi dan metafora yang statis dan kurang kreatif
Membanding-bandingkan dan cenderung mengidentik-identikkan
Yah…mungkin logika indra penglihatannya yang menganalisa
Toh…logika hatinya sedang ditirai
Oleh anggapan akan keidealan personal dan kesempurnaan yang subjektif
Lagi-lagi zona kontemplasi hadir
Yang memberikan nutrisi pada jiwa
Untuk diam sejenak dan berkata dalam-dalam bahwa sejujurnya saya tidak sependapat dengan hal tersebut
Ajakan jiwa pun hadir untuk mengeliminasi kestatisan dan keakuan yang seringkali muncul
Manakala ada pancingan yang lain
Mohon maaf saja; jika secara tiba-tiba saya diam
Ini adalah bagian dari cara saya mengingatkan diri dan melihat (lagi) sekitar

(7) Dalam tiap latar waktu, tempat dan suasana
Zona kontemplasi mengantarkan pada esensi citra, cita dan cinta
Ketiganya adalah kekuatan dari dalam
Yang akan selalu memperbaharui posisi dan lokasinya
Citra menghadirkan mitra
Cita menciptakan karya dan kata yang tersita
Cinta menggerakkan pinta pada Sang Maha Pembolak-balik hati
Karena senantiasa ada wajah Tuhan untuk orang-orang yang dicintai dan disayangi
Tak salah jika ada yang berargumen : karena aku mencintaimu, aku tak pernah lupa untuk  mendo’akanmu

(8) Ada begitu banyak cara mencari zona kontemplasi
Melalui pendekatan waktu, suasana dan tempat
Dengan kesunyian; karena kesunyian adalah keramaian dalam kata-kata
Dengan keramaian bersama teman, sahabat dan kerabat; karena kegalauan seringkali memanggil-manggil manakala sendirian
Dengan mendekati alam; karena pesan alam lebih cepat merambat ke dalam seseorang yang sedang menikmati kontemplasinya

(9) Kesunyian mampu menyapa nurani dengan ramah
Keramaian mengajak diri untuk lebih banyak diam, mendengarkan dan memperhatikan
Alam menyediakan rupa-rupa ilmu yang meresap ke dalam nurani dan semangat

(10) Fenomena agresif lalu hadir
Pembenaran diripun muncul tanpa ijin
Bahwa zona kontemplasi itu tertentu, terbatas serta terikat
Kalau demikian, persepsinya dinilai cukup statis dan dalam area fanatisme yang sempit
Lagi-lagi buku kebijaksanaan mesti dibuka lagi
Dan guru-guru kehidupan mesti didekati lagi
Untuk lebih memperlebar zona kontemplasi yang subjektif itu

11) Selalu muncul dalam diri pertanyaan atas esensi dan eksistensi diri yang sedang dilakoni
Seringkali diri tak bisa menjawab; dan skenario Sang Pencipta pun berjalan
Dengan menghadirkan sosok-sosok yang mampu menjawab kegalauan diri
Sehingga sampai pada sebuah renungan akan pernyataan :
“Yang jelas, apapun pertanyaannya, apapun jawabannya, siapapun yang bertanya, siapapun yang menjawab, ada sebuah gejala yang terus menerus berjalan”
Bagi saya gejala itu adalah gejala yang menggali definisi zona kontemplasi dalam sisi subjektif dan objektif
Tapi tidak menutup kemungkinan jika gejala itu bisa dimaknai yang lain oleh setiap orang
Bukankah logika dan kata-kata manusia bebas untuk memberikan judul ?

12) Di titik manapun berada
Zona kontemplasi akan membawa kita pada kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan
Bukankah kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan hanya bisa diajarkan oleh kegagalan dan tidak bisa diajarkan oleh keberhasilan manapun ?
Hidup serupa bawang merah, di luar kotor kecoklatan, tatkala dibuka jadi putih
Semakin dibuka semakin putih, tambah dibuka tambah putih
Dan tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh
Rabb, Yaa Nuur Yaa Rasyid; terangi langkah kami, bimbing kami dalam petunjuk-Mu yang lurus
Rabb, Yaa Mujib; perkenankan do’a-do’a kami dan beri kami tuntunan yang benar dan hikmah dalam menyampaikan permohonan kami
Rabb, kenapa saya mesti jauh-jauh mencarinya di atas gunung, sawah, sungai bahkan kampung halaman yang kadang “menjauh” dari saya
Padahal sebenarnya ia begitu dekat
Sering saya bawa-bawa dimanapun dan kapanpun saya berada
Ajarkan saya untuk memahami semua ini; meramahkan diri ke dalam diri dan memaafkan diri sendiri
Rabb, hanya dengan mengkontemplasikan keagunganMu hati menjadi tenang
Bukankah ketenangan hati menjadi zona inisiasi bagi proses kontemplasi diri.

Selamat Membuka Tahun yang Baru; Jakarta , 2-1-2012

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s