Oktober’11 yang Meng-Upgrade Syukur

Alhamdulillah,

October's gone

Membuang rasa ngantuk dan suntuk di jiwa, melarikan diri ke tulisan, karena siapa tahu hadir inspirasi tak dinyana yang bisa menerangi diri dan semoga saja orang lain juga. Bukan Oktober secara keseluruhan di tahun ini yang ingin saya ceritakan, bakalan panjang dan tak berujung nantinya. Adalah Oktober penghujung yang banyak memakan ruang emosi dan inspirasi serta rasa syukur, jadi ceritanya di flash-back aja :

 1) Akhir Oktober (31 Oktober’11); saya menerima sms dari teman mengenai update-an sebuah informasi untuk saya tuliskan. Saya pun membalasnya di saat itu juga. Masih belum ada apa-apa saat itu, sms lanjutan yang saya terima menjelang saya tidur dan setelah saya selesai makan malam saya menerima sms darinya. Apa yang terjadi? ya, salah paham dan salah intepretasi yang kalau boleh saya jujur saya agak berprasangka dan mulailah pencetan yang sudah mengikutsertakan emosi hadir membalas sms itu. Emosi full version sebenarnya tidak juga, karena sebelum mengirimkan saya berpikir dan memetakan diri dulu meski saya sempat rada shock saat membaca tiap-tiap kata yang terangkum dalam paragraf sms-nya itu. Tetap saja, bahasa emosional akan terbaca secara emosional juga, dia pun membalas dengan emosi yang terselubung juga meski dengan kemasan yang sedikit berbeda dengan saya.

Pelajaran indah apa yang saya dapatkan dari sini ? bahwa teknologi memang memberikan kemudahan bagi kita semua dalam hal efektivitas dan efisiensi, tapi tetap saja cara alami dan konvensional dibutuhkan untuk meluruskan dan memberikan penjelasan melalui bahasa tubuh atas pertanyaan dan pernyataan yang akan disampaikan. Jangan terlalu menjadi budak teknologi dan meremehkan metode konvensional, karena kalau tidak disikapi secara tepat maka akan merugikan kita sendiri.

Melalui blog ini, dari lubuk hati yang paling dalam; saya mohon maaf apabila ada karakter, kata dan kalimat yang kurang berkenan, semoga komunikasi, interaksi dan kerjasama selanjutnya bisa menjadi semakin lebih baik. Masalah siapa yang lebih baik, terus terang baik semua, ini berkaitan dengan waktu, komitmen dan kesediaan saja kok. Maaf kalau terkesan meremehkan, itu bukan maksud saya. Maaf juga kalau terkesan superior dan berpengaruh, itu juga bukan keinginan saya. Maaf juga kalau terkesan sok arif dan tahu segalanya, itu bukan saya juga, karena kesalahan dan kebodohan saya maka saya banyak belajar kebijakan dari orang lain yang bersedia berbagi ilmu, pengalaman dan pemahamannya yang tentunya lebih dari saya. Sekali lagi; maaf, maaf dan MAAF.

2) Minggu, 30 Oktober’11; saya bertemu dengan teman-teman lama satu kantor. Mereka banyak menceritakan tentang perubahan yang terjadi di kantor kami. Mulai dari orang-orangnya, sistem yang berlaku sampai dengan berita terupdate yang sedang marak di kantor. Wow…menarik sekali, sampai saya takjub mendengarnya dan sekali lagi sangat bersyukur bahwa saya telah “lulus” dari kantor itu dengan cepat.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari pertemuan itu :
– Di kantor kita bisa menjadi teman karena tuntutan peran dan dan tanggung jawab, di luar kantor belum tentu kita bisa memainkan fungsi yang seperti ini dengan baik. Alhamdulillah; baik di kantor maupun di luar kantor saya bisa bercengkrama dengan mereka sekalipun saya sudah secara resmi mengundurkan diri dari kantor itu. Padahal pada saat di kantor boleh jadi tersulut perang urat syaraf karena mempertahankan batas peran dan tanggung jawab masing-masing. Itulah yang namanya kematangan diri; bisa menempatkan diri pada situasi dan kondisi yang tepat.

– Ada beberapa cerita yang baru saat itu saya pelajari dan renungkan, apalagi kalau bukan sekitar urusan wanita yang penuh dengan lika-liku dan banyak dimensinya itu. Ada sederet parameter umum yang menjadi ukuran kesuksesan wanita, tapi kalau coba saya pahami dengan kacamata batin dan realitas waktu yang berjalan kok rasa-rasanya parameter-parameter itu akan sirna dan tergantikan dengan generasi selanjutnya. Jadi teringat tulisan di kaos saat sebelum bertemu teman-teman saya melihat-lihat dulu baju-baju di sekitaran Sarinah yang bertuliskan “Beauty without intelligence is a masterpiece painted on a napkin”, kurang lebih itulah yang terekam di kepala saya dan baru saya ingat kembali saat saya menuliskan ini. Miris sekali membacanya, analoginya pun kontradiktif sekali.

– Berhubung saya mengajak teman saya yang lain, yang merupakan teman di luar kerjaan tapi ketika saya memperkenalkan dia dengan kedua teman sekantor saya ini, teman saya begitu cepat beradaptasi dan tak hanya nempel senyum atau diam mendengarkan topik yang dibicarakan. Really great friend, bisa menempatkan diri dan menyesuaikan kapasitasnya, terimakasih banyak teman karena meski ke Depok tanpa output, setidaknya ia adalah bagian dari proses untuk meng-upgrade esensi pertemanan kita.

3) Sabtu, 29 Oktober; saya menghadiri resepsi pernikahan teman yang dulu sekantor dan satu tim juga serta teman makan, sekaligus saja teman curhat. Untuk pertama kalinya (mungkin) saya menghadiri pesta pernikahan di gedung secara sangat on time (malah mempelainya saja belum masuk). Hmmm cukup menarik, sembari menunggu mempelai masuk ke dalam gedung saya amati sekitar; mulai dari tetamu, dekorasi, catering, pelaminan dan dinamika suasananya. Benar-benar menghipnotis jiwa saya manakala saya mengikuti dan melihat langsung prosesi resepsi pernikahannya. 3 kata yang bisa mewakili itu semua adalah “Berbudaya, Sederhana dan Teratur” :

– Berbudaya : di jaman yang sudah mulai tereliminasi esensi budayanya, saya lihat di resepsi menggunakan ritual budaya Palembang yang masih kental dengan mengajak sang mempelai wanita menari bersama dan mempelai pria-nya berada di belakangnya. Lagu-lagu yang diputar pun lagu-lagu daerah setempat. Tentu saja dengan pelaminan yang berornamen Palembang.

– Sederhana : Saya lihat di dalam gedung, tidak ada hal-hal yang berlebihan dalam hal dekorasi dan penyajian, semuanya benar-benar apa adanya, tidak ada yang berlebih-lebihan, dan jumlah tamu pun tidak terlalu padat (lingkup keluarga dan teman terdekat saja) meski dia adalah anak pertama dan pertama yang melangsungkan pernikahan juga.

– Teratur; pemandu acara memandu acara begitu apik, mulai dari penyambutan mempelai, prosesi adat dan budaya, sambutan dari perwakilan mempelai sampai dengan do’a dan kemudian makan-makan. Benar-benar tersusun dengan rapi.

Di acara ini juga, bertemu dengan teman-teman lama di kantor dulu, jadilah kita bertegur sapa dan saling update satu sama lain. Tadinya yang sendirian dari kosan menuju Depok, jadilah bertemu banyak teman sesampainya di Depok. Hal indah yang di luar perkiraan memang selalu hadir tanpa disangka-sangka karena silaturrahim yang dilakukan dengan hati, bukan dengan keegoisan dan embel-embel sesuatu belaka.

Semoga berguna dan bisa menjadi makin mengUpgrade rasa syukur kita, segala puji hanya untukNya; atas ni’mat, teman, kesempatan dan kemauan untuk melakukan sesuatu yang positif. Terimakasih Yaa Rabb, Terimakasih Yaa Rahman Yaa Rahim –> berikanlah keberkahan dan ilmu untukku dan orang-orang yang aku temui dan hubungi.

– Upgrade Syukur –> Upgrade Kedewasaan Diri –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s