Cerita di Ramadhan & Syawal 1432 H (1 Of 2)

Alhamdulillah,

Ramadhan 1432H Saat Indonesia 66

Madrasah Ramadhan yang memberikan banyak nutrisi ruhiyah dan pacuan pembuka bashirah berlalu juga. Semoga esensi dan nilai-nilainya selalu mengiringi proses kita semuanya. Begitupula dengan kemeriahan dan kegalauan Idul Fitri juga sudah lewat dari kita. Semoga kemenangan ini membawa kita semua menuju kemenangan yang sebenarnya, bukan kemenangan pembenaran, tapi lebih kepada kemenangan hakikat yang membawa bashirah kita menikmatinya. Karena kalaupun lahir dan batin kita masih menang secara pihak, tapi kalau sudah bashirah yang dimenangkan, mau tidak mau lahir dan batin pun akan mengiringinya.

Setiap orang tentunya punya cerita dan pengalaman unik dalam mengisi dan merayakan Ramadhan dan Syawal 1432 H. Saya juga demikian, berikut cerita singkat yang bisa saya bagi dan semoga memberikan manfaat bagi yang membaca dan menulisnya :

1. Cerita di Ramadhan 1432 H

Bertemu tralala sblm Ramadhan

Sudah tahu semua jika bulan Ramadhan terbagi dalam 3 semester; 10 hari pertama adalah semester Rahmat, 10 hari kedua adalah semester Maghfirah (Ampunan), dan 10 hari terakhir adalah semester Pembebasan dari api neraka. Ada sederet cerita menarik yang saya dapatkan dari masing-masing semester ini :

Trimakasih atas kosannya&yg lain

a) Semester 1 dari R1432H :
(*) Grand opening-nya dari R 1432 H saya sambut di Jakarta, benar-benar di luar perencanaan logika karena saya sedang “terjebak” oleh suatu urusan dan mengharuskan saya kembali ke “ibu” pertiwi pada hari ketiga Ramadhan. Membuka tarawih di masjid berdekatan dengan rumah teman saya di daerah ciledug yang macetnya ampun-ampunan-masjid yang dulu sering kami lewati bersama teman-teman yang belum kelar-kelar dan Alhamdulillah di tahun ini saya berhasil memasukinya dan sholat di dalamnya dengan keadaan masjid yang sudah siap digunakan. Hal seru tentang masjid ini adalah : pada saat maghrib ketika saya akan menuju ke sana, saya sempat kesasar karena teman saya tidak ikutan dengan alasan cuciannya belum selesai dan bertanyalah sama anak kecil tentang lokasi masjid. Sampai-sampai masjid bertemulah dengan anak kecil tadi yang saya tanya dan mereka pun mengatakan “Mbak yang kesasar itu kan ya”, saya hanya tersenyum dan meminta mereka untuk merapatkan shaf-nya dengan saya dan ngobro-ngobrol sedikit #teringat anak-anak di rumah. Sahur pertama pun di rumahnya yang serasa seperti anak angkat saja karena kebetulan adiknya sedang di Malang untuk melanjutkan studinya. Menu sahur yang disediakan benar-benar representatif dengan selera saya;sayur bening, ayam goreng, sosis dan kawan-kawan. Terimakasih banyak untuk Rahmi dan keluarga, untuk Syifa maaf sementara itu posisinya diswitch.
(*) Hari pertama puasa saya kembali ke kosan teman saya yang serasa kosan saya saja. Jakarta begitu terik dan panas poll, sebelum kembali ke kosan, atas permintaan Ibu semalam dan paginya tadi kami mampir dulu ke Cipulir untuk membeli beberapa pesanan Ummi tercinta. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke sebuah Universitas yang berlokasi di dekat Mayestik. Setelah itu ke kampus tercinta untuk bertemu dengan seseorang yang ternyata orangnya sedang keluar. (Fiuhhh), kembali ke kosan dalam keadaan tepar, lemas dan tak berdaya.
(*) Saat di kosan, teman-teman gokil menghubungi saya untuk bertemu di Slipi Jaya. Karena ada sesuatu yang lain maka saya meminta mereka untuk bertemu di kampus atau kosan teman yang menghubungi tadi. Setelah Ashar menjelang maghrib saya pun ke sana dan bertemulah dengan mereka yang baru saja pulang dari jalan-jalan ke Jogja, oleh-olehpun sudah menanti dan rupanya mereka belum naik (baca:masuk ke kamarnya) dan dengan setia menunggu di bawah diiringi senyum penuh tanda tanya itu. Saya cuekin senyumnya karena saya tahu maksudnya dan duduklah saya di depan mereka sambil mendengarkan cerita mereka. Menjelang maghrib kami pun keluar dari kosan dengan membawa oleh-oleh yang dibawa dari Jogja untuk membatalkan puasa bersama-sama. Terimakasih buat Arlinda dan Rafika atas oleh-oleh dan cerita serta impian kita bersama itu.
(*) Hari kedua puasa teman yang punya kosan dan ada seorang teman kami yang sengaja datang berkunjung untuk melepas rindu dengan saya🙂 (Sri, red). Sorenya dia pulang duluan dan tidak sabar menunggu saya datang karena ada hal yang sedang saya kerjakan di luar. Selesai urusan, saya kembali ke kosan dan kami pun ngabuburit menikmati nostalgia masa ngekos di sepakat dulu dengan mencari menu takjil untuk berbuka #Indahnya masa ngekos itu, begitu cepatnya berlalu.
(*) Hari kedua puasa, saya bertemu dengan teman-teman himpunan di sebuah tempat makan bernuansa Jepang yang juga milik teman saya yang bekerjasama dengan teman seangkatannya, lokasinya di dekat kampus Sahdan gang H.Senen. Sekalian buka bareng dan kumpul-kumpul, padahal saya waktu itu tidak sedang berpuasa karena alasan yang syar’i tentunya. Alhamdulillah ada yang mentraktir saya dan teman-teman yang lain. Sepulang dari kumpul-kumpul demi alasan kenyamanan saat di Bandara besoknya maka saya pun boarding  duluan di daerah harmoni, sehingga saat saya di Bandara tinggal santai dan berleha-leha sendiri tanpa antri dan menunggu. Syukurlah ada teman yang bersedia mengantarkan saya ke sana dan lumayan juga dapat cerita-cerita seru tentang kondisi himpunan dari dia. Terimakasih teman sudah bersedia menjadi tukang ojek amatiran.
(*) Hari ketiga puasa saya menuju Bandara untuk memenuhi tiket yang sudah dipesankan untuk saya. Syukurlah ada teman yang tiba-tiba baik dan bersedia menjadi tukang ojek amatiran dan mengantarkan saya ke stasiun Gambir karena ke Bandaranya menggunakan Damri. Terimakasih teman atas jasanya semoga lain kali bisa menjadi tukang ojek profesional.
(*) Sampai di kota pahlawan, saya tidak langsung menuju pulau garam. Ngendon dulu selama beberapa hari di sana sambil memantau aktivitas ponakan yang baru beberapa minggu masuk SD juga melakukan beberapa kegiatan bersama kakak yang kebetulan tidak berpuasa juga karena alasan syar’i (berbelanja, kuliner, jalan-jalan dan lain-lain).
(*) Saat sudah siap berpuasa lagi, kembali ke kampung halaman dan menikmatinya di sana, tentu saja bersama dengan keluarga dan “anak-anaknya orang tercinta”. Terasa sekali suasana Ramadhannya; suara tadarrusan, sahutan riuh anak kecil saat selesai tarawih, penjual soto dan rujak di malam hari, masakan ibu yang siap selalu di meja makan, gebrakan saur yang membuat saya takluk dari kamar.

b) Semester 2 dari R1432 H :

lantunan dzikir dr tim inti

Mari kita sholat !!!

(*) Membuat acara buka bersama di rumah bersama murid-murid dan anak-anak sekitar rumah dilanjutkan dengan acara sholat maghrib, isya’ dan tarawih berjemaah di rumah. Wow…serunya !!!, kalau tahun kemarin hanya sampai maghrib, di tahun ini Alhamdulillah sampai tarawih dan sedikit tadarrus. Tahun depan sampai saur pada bisa gak niy ?🙂 (bcanda kali ya ). Ada yang lucu saat acara ini :
Diva (murid yang baru masuk SD yang seharusnya masih TK) : Mbak, besok ada lagi acara seperti ini?
Saya  (sambil tersenyum lalu tertawa terus menjelaskan) : ya gak ada lagi, cuman hari ini
Diva : klo gitu, setiap hari senin ya acaranya kayak gini * gara-gara acaranya kebetulan jatuh hari Senin
Saya :🙂, lol, ya gak Div, nanti klo puasa lagi baru ada lagi, klo tiap hari kayak gini capek dunk yang di dapur
Diva : Ouw ya ya, hehehehe
(*) Sholat bareng Ummi di masjid Jami’ Bangkalan (sholat maghrib, isya’ dan tarawih), karena Ibu saya suka sekali dengan imamnya yang suaranya mirip dengan imam di Makkah. Sepulang dari sholat menjenguk sepupu dari Bapak yang baru keluar dari rumah sakit yang lokasi rumahnya tak begitu jauh dari Masjid.
(*) Berhubung penasaran dengan yang namanya Masjid Al-Akbar, Surabaya-Masjid terbesar di Surabaya, saya pun sengaja ke sana untuk bisa bertarawih di sana. Sudah sejak lama penasarannya dan Alhamdulillah di tahun ini saya berhasil masuk dan tarawih di sana. Rencana untuk tarawih di masjid Sunan Ampel atau Al-Falah yang berlokasi di Surabaya belum sempat diwujudkan karena sebelumnya sudah merasakan masuk ke masjid ini.
(*) Malam proklamasi, kakak saya meminta saya untuk menemani anaknya ke acara buka bersama di sekolahnya. Jadi berpikir “Ibunya itu siapa ya?”, karena alasan cucian yang menumpukkkk, saya pun didaulat ke sana dan jadilah saya ibu dadakan bertemu dengan teman-teman ponakan saya yang lucu-lucu dan imut-imut dalam balutan busana muslim anak-anak yang colorful dan menggemaskan. Berkenalan dan ngobrol-ngobrol dengan salah satu teman ponakan saya membuat produksi zat serotonin dan dopamin saya meningkat, benar-benar lugu dan apa adanya.
Saya : namanya siapa?
Rania : Rania
Saya : Bagus namanya, loh Mamanya mana kok sendirian?
Rania : Gak tau, gak kliatan
Saya : Klo Papanya dimana?
Rania : Di Jakarta kerja
Saya : Oooo, Rania punya kakak?
Rania : Punya
Saya : Klo adek?
Rania : Punya
Saya : Ya ampun punya semua ya, seneng dunk
Tiba-tiba ponakan saya tidak punya kakak dan belum mempunyai Adik memotong pembicaraan
Sabrina : Klo tante punya?
Rania : (geleng-geleng kepala)
Sabrina : aku punya 2 yo tante Iis, satunya tante Iis satunya lagi tante Didin
Saya : (iya aja, kayaknya masih ada lagi deh tantenya…) #hebat juga tuh tante🙂 bisa masuk dalam pembicaraan

c) Semester 3 dari R1432 H :

Ngabuburit sambil layangan

(*) Yes, keinginan untuk menikmati alam sore di sawah dan sungai pun terwujud dengan sambil bermain layang-layang bersama anak-anak. Saat mencoba menarik tali layang-layang tiba-tiba tangan tergesek dan hampir luka, seketika saya lepaskan talinya dan saya serahkan ke pemiliknya.
Saya : Aduh (sambil mantengin jari tangan yang tergesek)
Jeffri :kenapa Mbak?
Saya : kegesek
Jeffri : berdarah mbak?
Saya : Gpp kok, sakit dan kaget aja
Jeffri : Aku udah biasa kayak gitu, apalagi klo pake benang lebih parah lagi
(*) Sempat sakit yang membuat saya absen dari Shubuh dan tarawih berjemaah; badan benar-benar lemas, serasa mau muntah, pusing dan diare #loh kok?, asam lambung rupanya sedang tidak normal.
(*) Benar-benar menikmati 10 malam di masjid tercinta, masjid Besar Al-Falah, Burneh.
(*) Detik-detik menjelang Idul Fitri tiba, takmir pun menunggu hasil keputusan sidang Isbat sedari maghrib. Sampai dengan sholat isya’ selesai sidang belum selesai, tanpa kepastian para jemaah pun pulang dan saya masih stay tune sambil melipat sajadah untuk pulang mendengarkan perbincangan dan diskusi di tabir sebelah. Eh tiba-tiba sepupu saya mengumandangkan ajakan tarawih melalui speaker masjid “Assholatu Minat Tarawih Jama’an…”, lipatan saya buka kembali dan gelar dan hanya sendirian pula jamaah perempuannya. Belum sampai ruku’ terdengar langkah para jemaah perempuan lain yang tadinya pulang untuk ikut serta dalam tarawih dan terdengar suara mereka yang ngos-ngosan. Kami pun memutuskan untuk berlebaran mengikuti Umara (pemerintah, red) di hari Rabu. Benar-benar setitik hilal merusak opor sebelanga.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ramadhan-Syawal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s