3 Paket Hikmah Silaturrahim (Jodoh, Kebersamaan & Anak)

Alhamdulillah,

3 in 1 bersama sepupu

Sebenarnya ada yang ingin saya tuliskan terkait silaturrahim, mudik dan idul fitri tapi sudahlah nanti saya coba buat di postingan yang lain saja karena postingan yang ini dapatnya hari ini jadi masih fresh dan meresap di hati. Berikut sedikit yang bisa saya bagi dan semoga bermanfaat.

1. Jodoh

Pamit dulu sama KUA

Sebenarnya rencana awal saya untuk unjung-unjung hari ini adalah ke beberapa teman SD saya. Saya pun mulai dari teman saya yang ibu sekaligus ponakannya adalah jemaah di AlFalah sehingga sering sekali saya mendengar cerita tentang dia dan dia pun sering menyampaikan responnya tentang saya melalui Ibu dan ponakannya. Penasaran dengan bahasa tubuh dan respon sebenarnya saya pun berkunjung eh eeeh ternyata orangnya lagi ke rumah saudaranya. Saya pun melanjutkan perjalanan ke rumah teman saya yang lain. Mau nyebrangin motor ke seberang kok susah gara-gara jalur lalu lintas padat sekali dari dan ke Suramadu. Saya pun ambil sisi samping jalan supaya saya lewat putaran depan masjid Al-Falah dan tak pakai menunggu segala buat memutarkan motor. Ternyata rutenya dekat dengan rumah sahabat saya, saya pun langsung menuju pintu belakang dan dari rumah di sampingnya yang merupakan rumah buleknya seorang sepupunya mengatakan :”Mbak gak ada, dia lagi halal bihalal”. Om-nya pun keluar menginformasikan perihal sahabat saya tersebut supaya infonya lebih valid, sekalian silaturrahim dan belum salaman juga saya menuju ke rumahnya sebentar. Selesai salaman saya menuju ke belakang dengan mengatakan “Ok gpp, nanti aja balik, saya mau ke rumah si itu aja yang merupakan sepupu mereka dan sahabat saya yang lain juga”. Saya pun menaiki motor dan tiba-tiba dari rumah yang berposisi paling tengah keluar seorang wanita yang membuka pintu belakangnya sambil tersenyum ke saya. Saya pun turun sebentar (niatnya) dan bersalaman, eh malah saya disuruh duduk dulu di dalam sambil ngobrol-ngobrol dan sampailah pada topik jodoh ini yang kesemua anaknya sudah berkeluarga dengan menceritakan prosesnya masing-masing. Memang sudah bisa ditebak arah pembicaraan kalau berkunjung ke rumah saudara dan teman-teman apalagi kalau bukan jodoh, tapi yang ini lebih applikatif dan bersifat berbagi cerita saja. Saya pun mendengarkan dan sambil memberikan sedikit respon yang saya rasa perlu saya tanyakan lagi. Berikut cerita singkatnya :

Jodoh gak kemana

(a) Awalnya, saya tidak setuju pada saat si anak saya yang kedua yang merupakan sahabat saya memilih suaminya yang sekarang ini. Habisnya waktu itu orangnya hitam dan pendek dan rumahnya jauh lagi. (Komentar saya) : “hahaha, trus sampe bisa setuju critanya gimana Mi?”, Ummi pun melanjutkan ceritanya : jadi anaknya yang kedua itu dulunya didekati sama laki-laki yang kalau dari kacamata manusia dan fisik sangat-sangat lebih baik dari itu (sebutlah tentara yang tinggi-ganteng, polisi, calon pengacara #saya hanya tersenyum, karena dibandingkan Ibunya saya lebih tau juga ceritanya, masalah hati kita sering curhat bersama, tapi kita saling memasang aksi bungkam kalo salah satu dari keluarga kami bertanya). Semuanya ditolaknya, dan kalaupun dekat itu hanya sebagai batu loncatan untuk menunggu yang dia maksud. Alasan penolakannya adalah “mereka belum sampai ke mimpinya, istikharah yang sudah dia lakukan tidak menampilkan sosok-sosok itu”. Dan ketika sosok laki-laki yang awaknya tidak disetujui umminya ini hadir setelah istikharahnya ada semacam telepati hati kalau dialah jodohnya. Cukup simple dan singkat pertemuannya, kalau saya ceritakan di sini bisa-bisa bikin buku nanti, hal ini sudah saya konfrontir ke kedua belah pihak (sahabat&suaminya). Apa jawaban si Ibu dari sahabat kenapa dia bisa menerimanya : “dia orangnya tulus sama orang tua dan peduli sama keluarga”. Saat saya menolak suaminya mengatakan “bukankah yang menikah itu anak kita dan bukan kita, biarkanlah dia dengan pilihannya, siapa tahu bisa jadi jalan keselematan buat anak kita”. Seperti diceritakan oleh sahabat saya memang saat itu dia pusing banget karena hal ini tapi si Abi (baca : Bapak) yang menguatkannya untuk bisa membujuk Ibunya. Saya pun di lain kesempatan bertanya kepada suami sahabat saya ini : “kok kamu bisa diterima siy sama keluarga si sahabat saya ini, emang gimana caranya”. Dia pun berbagi cerita : “Is, rumah saya itu jauh, Sumenep masih ke pelosok (lebaran kemaren saya sudah ke sana dan memang terbukti), klo saya ajak Bapak-Ibu saya melamar dan ditolak, kasian kan mereka, mana jauh-jauh ditolak lagi, makanya saya lamar dan ngomong sendiri sama Bapak-Ibu dan anaknya”. Saya pun bertanya kembali : “emang kamu berani?, ngomong apa sama mereka?”, Dia menjawab : “Yahh, begituan aja gak berani, klo sudah niat apa aja tantangannya ya lewat semua, klo ditolak ya udah kejar lagi nanti, saya bilang sama mereka klo saya serius sama anaknya”.  Ada cerita lain dibalik itu yang membuat saya tertawa dan tersenyum kalau bertemu dengan mereka dan jadi santapan lezat saat kita berkumpul, tapi maaf tidak bisa saya ceritakan. Tapi yang paling sering saya ingat dari Ummi berdasarkan cerita tadi, beliau selalu menirukan pernyataan suaminya dengan mengatakan “Dulu gak mau, sekarang jadi sayang”, Ummi pun tersenyum.
(b) Kakak tertuanya membawa seorang laki-laki yang secara fisik di atas nilai fisik anak perempuan pertamanya ini. Ummi pun mengatakan “beneran tuh si dia suka kamu, gak salah kamu Nak?, kan temen2mu yang kamu bawa waktu itu masih kalah cantik sama kamu?”. Si anak pertama yang juga teman kakak tertua saya di kampus ini pun mengatakan kalau dia serius. Si laki-laki ini pun melamarnya langsung ke orang tuanya. Maaf saya kurang begitu mendetail kalau cerita tentang kakaknya ini karena memang beda generasi.
(c) Sementara anak bungsunya yang satu-satunya lelaki di dalam keluarganya bermaksud melamar seorang anak perempuan dari Surabaya. Si Ummi pun mengatakan ras ketidakpedeannya kepada anak bungsunya ini : “Nak, keluarga si cewek ini keluarganya orang kaya, cantik lagi, kan kamu pendek, kalau kita nanti ke sana terus ditolak gimana?”. Si anak bungsu ini pun menjawab : “ditolak ya nanti lamar cewek yang lain aja”, mendengar pernyataan anak bungsunya yang ditirukan oleh sang Ibu saya hanya bisa tertawa dan tersenyum. Dan setelah sampai ke rumahnya, si orang tua dari cewek ini pun bercerita kalau putrinya ini pernah disukai sama dokter, tapi dia tolak. Nah kalau yang ini saya belum konfirmasi bolak-balik kenapa si istri dari adik sahabat saya ini bisa diterima.

Sekarang giliran saya ditanyakan Ummi  : kamu kapan Is, sama orang mana?. Saya hanya bisa menjawab dengan senyuman dan jawaban diplomatis : do’ain aja Mi, biarlah KUA yang menjawab di buku nikah, nanti klo saya bilang kan gak seru😀. Selalu dan selalu Ummi mengatakan kalau saya berkunjung ke sana “Buruan nikahnya, jangan lama-lama”. Apa respon saya : teteup do’ain aja

2. Kebersamaan Keluarga

Kebersamaan keluarga

Sepulang silaturrahim dari sahabat saya, sekitar jam 11-an lewat saya pamit pulang, dan sebelum keluar rumah saya menghubungi sahabat saya yang lain karena saya meminta ijinnya apakah saya bisa berkunjung ke rumahnya. Ternyata dia sibuk menidurkan 2 anaknya, dia pun menawarkan sore aja ke sananya dengan ditambah penyediaan kuliner kesukaan saya “rujakan ya Is (saya tolak karena abis sakit perut setelah kemaren rujakan di rumah bersama ibu dan kakak), ikan asin Is (saya juga tolak, karena pagi itu saya sudah makan di rumah, apa dunk Is?”, saya hanya menjawab dengan tertawa di HP dan mengatakan “liat nanti aja soalnya nanti sore mau ke rumah saudara Ummi”.

Tadinya mau beli bakso, tapi alamak rwame tenan, saya pulang saja ke rumah. Tak dinyana sudah banyak orang di teras depan. Anak-anak dari saudara tertua Bapak saya berkunjung hari ini. Seorang sepupu yang merupakan saudara nomer 2 Bapak langsung bertanya ke saya setelah saya membuka helm dan memarkir motor depan rumah “Darimana Is”, (berhubung saya tahu arah pertanyaan) saya pun menjawab “Abis nyari jodoh niy”, sepupu yang lain tertawa serempak, sang sepupu pun mengomentari lagi “Wah pantesan aja…(gini gitu, gitu gini #susahditulisnya)”, saya kasi komentar lagi :”Tuh kan, aku kan bilangnya cuman bcandaan, malah ditanggepinnya seriusan dan ditambah-tambahin lagi”, saya pun umumkan ke sepupu yang lain  kalau kadang sepupu saya yang ini suka menambah-nambahkan”. Sepupu saya yang mengometari ini dan yang lain pun ikut tertawa serempak lagi. Selanjutnya saya menyalami mereka satu per satu. Alamak, banyak amat anak dari saudara tertua Bapak saya, padahal masih ada 3 lagi yang belum ikutan. Manalagi anggota barunya dibawa lagi, jadilah di rumah riuh dan ramai, serunya.

Apa yang saya dapatnya dari pertemuan dengan mereka ? meskipun mereka sudah menikah tapi kebersamaan begitu terlihat dalam keluarga ini dimana jika menjenguk serombongan, bersilaturrahim seromobongan, sampai memasak pun serombongan di depan rumahnya. Teladan kebersamaan ini yang sering saya lihat dari saudara Bapak saya ini; kompak dan kekeluargaan (masalah dalemnya seperti, itu mah bukan urusan saya). Apalagi ada anaknya yang sengaja “dititipkan” ke rumah untuk diajari sebagai persiapan ujian masuk perawat dan Alhamdulillah anak sepupu saya ini diterima di kampus yang dia inginkan. Malah ada anaknya sepupuu yang masih 3 tahun mau “dititipkan” ke rumah juga gara-gara anaknya ini betah di rumah dan selalu mencari-cari saya “Kapan bisa mulai belajar?, biar sekalian main di sini sambil belajar”, saya hanya bisa berkata : “aaah ntar aja lah, susah niy ngajarinnya masih terlalu kecil”, sepupu mengatakan :”3 tahun Is, ajarin aja Bahasa Inggris”, jujur saya bukan masalah materinya tapi kalau pipis dan yang lain bagaimana? bisa-bisa pusing 7 keliling, kalau urusan mendidik dan bermain siy Ok saja tapi kalau yang teknis dan operasional aduhhh maaf saya belum berpengalaman takut-takut salah dan khilaf nanti.

Ya, ada banyak kebaikan yang masih dibudayakan di dalam keluarga ini dan ini yang sedikit banyak menginspirasi saya. Keluarga ini juga yang banyak tahu tentang seluk-beluk keluarga;tentang kakek-nenek kami, buyut kami dan saudara-saudara kakek-nenek dan buyut kami mereka juga tahu #mantap. Coba saya yang ditanya? pasti bingung dan banyak mengatakan “yang mana itu?”. Masih ingat saking kurang begitu mengenalnya keluarga sampai waktu SMA saat pelajaran sosiologi dan ada tugas membuat silsilah keluarga sengaja saya nongkrong di rumah mereka untuk menanyakan perihal silsilah keluarga. Mengenai silsilah keluarga Bapak saya banyak mencuri ilmu dari mereka.

3. Anak

Semoga menjadi anak sbg jembatan keluarga

Pertanyaan yang tidak pernah lewat saat acara unjung-unjung salah satunya adalah “punya anak berapa” dan mustahil orang bertanya “masnya udah berapa kilogram atau mungkin sawahnya sudah berapa hektar?”. Pada saat sore tadi saya berkunjung ke rumah saudara kakek dari Ibu saya mendapatkan ilmu tentang anak ini. Lambat laun seiring dengan bertambahnya usia peran anak akan menggantikan orang tua. Saat orang tua tidak bisa berkunjung ke rumah saudara-saudaranya maka anak-anaknyalah yang didaulat untuk ke sana. Peran anak menggantikan orang tua, anak-anak itu juga nantinya menjadi orang tua. Dan kalau-kalau dipikir memang inilah esensi sebenarnya dari silaturrahim, kebersamaan dan kekeluargaan bahwa sebenarnya kita memiliki peran dan sebisa mungkin kita sudah terus coba tanamkan dan ajarkan ke generasi selanjutnya supaya tidak terjadi missing link. Berusaha untuk terus belajar meyambung silaturrahim orang tua dengan orang-orang sekitar, saudara-saudara yang dikenal atau mungkin saudara-saudara jauh yang belum terjangkau. Semoga kita semua bisa menjadi anak yang menjadi jembatan antar dan inter keluarga dan terhindar dari anak yang menjadi pemutus hubungan keluarga.

Simpulan :

(1) Kalau ditanya kapan (aka JODOH)? terus terang belum dapat contekan dari KUA, terlebih lagi malaikat. Menambahkan pernyataan sahabat”InshaAllah kalao sudah sampai ke mimpi dan alam realitas, gak perlu kan diumumin di facebook atau twitter, tanpa itu malaikat juga udah tahu duluan”

(2) Kebersamaan keluarga? penting dunk; harus dipupuk sejak dini dan terus belajar dari yang sudah berpengalaman. Selagi bisa sering-seringlah menemani orang tua bersilaturrahim. Mulailah tradisi kuunjung-mengunjungi sejak muda supaya ketika tua lebih fleksibel dan dinamis topik pembicaraannya #UnjungUnjung.

(3) Anak ? yang sekarang masih jadi anak jangan santai-santai aja, banyak-banyaklah belajar dari orang tua dan sekitar bagaimana cara cara mendidiknya agar bisa menjadi jembatan keluarga dan masyarakat.

Waa Syukurillah.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s