Menembus Embun Pagi

Alhamdulillah,

Teman Masa Kecil di Ujung

Selamat pagi semuanya dan selamat beraktivitas, semoga diberikan keberkahan dan kemudahan untuk setiap hal yang kita hadapi.

Pagi; tak sekedar realitas alam dan rutinitas yang setiap hari kita lalui bahkan kita sempat melupakannya karena kesibukan yang kita kerjakan. Ada begitu banyak hal yang bisa dikerjakan dan direnungkan di pagi hari. Cinta sekali sama yang namanya pagi, seperti halnya cintanya saya sama (ckckckc…?), yah yang jelas tanpa definisi, tanpa pernyataan dan tak perlu juga untuk ditanyakan karena jawaban tak cukup untuk mewakilinya. Ada kesegaran di pagi hari, ada ketenangan di balik kesederhanaan yang sebenarnya kompleks dan multi-tafsir, ada semangat untuk terus melangkah, ada harapan dalam keputus asaan dan yang jelas selalu ada cinta untuk pagi. Karena cintanya sama pagi, maka hadir pengorbanan dan perjuangan untuk merebutnya meski mata sepet dan semangat pasang surut. Demi matahari yang naik sepenggalan dan demi embun yang melingkupi tumbuhan-tumbuhan. Benar-benar indah tak terkira, membuka bashirah;menyadarkan mata batin bahwa alangkah besarnya nikmat yang telah Allah berikan yang hampir selalu kita lupakan. Terimakasih wahai Pemelihara Alam mengijinkan saya untuk menikmatinya. Bahagia di saat matahri sudah mulai keluar dari peraduannya; membagikan maslahatnya untuk seluruh alam. Bersyukur di kala embun masih menggenangi rerumputan; membasahi kaki dan semangat yang mengering. Terkagum-kagum manakala menatap burung-burung yang terbang dengan presisi yang sedemikian sempurnanya dan kicauannya pun menentramkan hati. Tenang saat percikan dan suara aliran sungai mulai mengalirkan airnya ke sekitarnya. Terus belajar merasa muda, meski logikanya sudah tak muda lagi; belajar arti membekali diri, menanam dan kemudian menuai. Benar sekali; mana mungkin menuai, jika menanam saja tidak pernah. Bukan tuaiannya, tapi proses dari menanamnya yang perlu dikaji lebih dalam. Hasil tak selalu sesuai harapan karena seringkali fenomena alam hadir untuk menguji kesabaran. Terlalu lama meratapi kegagalan dari keberhasilan yang sudah direncanakan tak bagus juga bagi vitalitas diri, dan terlalu cepat takjub atas keberhasilan yang tak direncanakan juga tak bagus bagi vitalitas diri dan sekitar; mari serahkan semuanya kepada Sang Maha Pemberi Keputusan, gagalkah ataukah sukseskah semoga selalu ada poin-poin hikmah yang senantiasa menuntun kita untuk menjadi lebih baik, dan bukan menuntut kita untuk terlalu cepat menikmati hasil.

Di semester maghfirah Ramadhan ini untuk pertama kalinya saya mengunjungi sawah karena beberapa minggu sempat absen, maklum ada beberapa hal yang perlu saya kerjakan di luar rumah. Sebenarnya sudah rindu berat jaya untuk bersepeda sendirian atau berjalan kaki bersama anak-anak ke sawah tapi apa daya hanya bisa menikmatinya dalam alam pikiran. Hari ini; memang dari semalam berniat untuk bersepeda sendirian ke sawah dengan menikmati matahari terbit dan mengembunkan kaki sambil menikmati bacaan yang saya bawa, pulang-pulang dari sholat shubuh di Al-Falah tercinta saat akan memasuki gerbang rumah seorang teman masa kecil sekaligus tetangga bertanya “gak jalan-jalan ke sawah Is?”, saya : “iya ini mo bersepeda”, dia :”oh, naik sepeda ya”, saya :”oh kamu mo ikut ya?, ya udah kita jalan kaki aja yuk ke sananya, aku ganti dulu ya, nanti aku hampiri ke rumahmu”, dia:”iya iya, aku ikut”.

Kami berdua pun berangkat menuju ke sawah dengan kondisi pagi yang masih pekat dan belum terlihat sang mentari. Suasana yang benar-benar membuat semangat, tenang dan damai. Dalam perjalanan kami pun bercerita-cerita tentang masa kecil kami dulu; “Is inget gak dulu yang maen kemah-kemahan di depan rumahmu yang pake sprei atau sarung”, “masih inget lagi gak yang klo bulan puasa kita maen monopoli, bongkar pasang, atau kartu bergambar bareng”, “Is, waktu SMP  dulu kan aku pernah belajar matematika dan bahasa Inggris sama kamu, gara-gara itu nilaiku jadi bagus”(# yang ini rada lupa, jago juga klo gitu😀 ), “inget juga dulu belajar ngaji sama Abamu, terus klo salah bukannya dimarahi tapi dikiti-kitik, selesai belajar ngaji belajar menggambar anak ayam”(# tersenyum dan teringat buku Pak Tino Sidin-nya Bapak ada dimana ya???), dan inget-inget yang lain #puter aja lagunya Evi Tamala dan Maia.

Kaos segala suasan; dipaksa resmi, diresmikan nyantai

Dalam perjalanan itu saya mendengar nafas teman saya itu berbunyi dan saya pun bertanya : “kenapa ?capek ya?”, dia :”iya, biasanya klo pagi kan tidur, tapi besok ajak aku lagi ya Is jalan-jalan pagi”, saya :”hahaha, apa duduk aja kita?”, dia: “gak usah, emang gini kok, keberatan ini”, saya:”emang klo sehari makannya berapa kali”, dia:”berkali-kali”, saya : “hahah”. Eh tiba-tiba sang teman memperhatikan kaos saya dan mengatakan “kausmu bagus, beli dimana?, harganya berapa?, itu kayak kaosnya smash”, saya kan kaget soalnya kaos ini dibeli saat smash belum booming, saya pun menjawab :”masak siy, smash yang mana?”, dia: “kamu gak tahu smash ya, aku kan ngefans sama dia Is, nanti aku nitip beli kaos, kenapa kamu gak dagang kaos aja, nanti aku mau beli”, astaga ada-ada saja ini teman saya, saya meresponnya :”udah lama aku belinya di Surabaya, smash aku tahu tapi gak kenal” (#ssssttt, itu pun tahu gara-gara ponakan saya, Sabrina yang ngefans juga yang kalau saya tatap dia bilangnya gini “aku loh gak suka sama orangnya, aku suka sama lagunya, yek”, karena saat dia menonton videonya saya bilang gini “iya nonton terus aja lagu-lagu itu, aku gak tanggung jawab loh ya klo kamu nanti cepet gede” (= tantenya lebay deh, apa ponakannya yang ababil?). Dia : “nanti aku nitip ya, aku mo ngumpulin uang dulu”, saya:”iya, do’ain aja ada rejeki”, dia:”gak Is, jangan diibeliin”, saya:”lah iya, maksudnya klo ada rejeki kan saya bisa berangkat ke sana dan nanti saya belikan”, dia: “ooooh, hehehhe”.

Saung Sawah yang ini

Kami pun sampai di jembatan yang biasanya saya tongkrongi, belum sempat duduk teman saya mengajak ke saung (baca : gardu petani) yang berada di tengah sawah. Sebenarnya saya rada kurang bersemangat ke sana karena kaki saya nyeker dan saya pernah ke sana siang hari bersama teman-teman kecil saya banyak dijumpai putri malu yang berduri, tapi untuk membangun harapan dari bungsu yang sudah lama ditinggalkan ayahnya sejak kecil ini maka saya pun mengiyakan dan saya mengambil posisi paling depan. Oooops, hampir jatuh di tengah perjalanan dan sang teman pun mengatakan “balik aja Is gpp”, saya : “gpp, saya salah ngambil pijakan, udah separuh gini, tanggung klo mesti balik lagi, kan bentar lagi mau nyampe saungnya”. Kami pun sampai, dan saat sampai di saung itu teman saya terdiam sejenak mengatakan “tinggi banget ya, mau duduk susah ini, takut jatuh”, saya:”saya udah pernah duduk di situ bareng anak-anak, tapi emang tinggi siy”, dia:”kamu bisa naik Is?, gak usah Is nanti jatuh”, saya: “harusnya siy bisa, soalnya udah pernah juga naik susah payah ke saung itu”. Saya pun naik dengan menggunakan formula Macgyver ala saya dan alhamdulillah saya duduk di saung yang tinggi itu. Sementara teman saya berdiri di bawah saya, saya mengajaknya naik dianya takut. Ya sudah kita berbincang bagaikan orang yang benerin genteng.

Di saung itu, untuk pertama kalinya saya menikmati matahari terbit; perlahan-lahan si bulat jingga hadir menyinari bumi dan menerangi awan yang agak mendung. Awan yang mendung membuat sinarnya tidak terik dan yang terasa adalah keteduhan dan saya pun mengutarakan ke teman saya : “coba deh kamu perhatikan matahari terbit itu bagus ya, bulat, jingga dan tanpa terik” #what a sun rise. Biasanya kalau sendirian saya menikmati matahari terbit duduk ngampar di jembatan sambil membaca atau menulis-nulis sesuatu dari buku-buku yang sengaja saya bawa dari rumah, tapi kalau bersama orang lain saya simpan bacaan dan tulisan saya dalam hati saya dulu (# agak mulai lebay🙂 ).

Setelah beberapa saat matahari telah terbit kami pun kembali ke rumah dan mengerjakan aktivitas kami masing-masing. Benar-benar pagi yang penuh petualangan, menikmati matahari terbit, mengendorkan kaki, merebut embun yang ternyata sudah direbut orang, melihat bebek-bebek di sungai yang berekspresi sama dengan posisi yang berbeda. Benar-benar cinta pagi sepertinya cintanya !??!🙂. Gangguin Adeng dulu ah yang lagi lucu-lucunya bergaya seperti ibu guru; rambut dijepit kanan-kiri, terus dikuncir #cubit-cubit pipinya sampai nangis.

Yaa Nuur; Wahai  Engkau yang menerbitkan matahari, sinarilah pikiran & hatiku Yaa Nuurul Qolbi dengan cahaya-Mu agar hidupku semakin indah dan bersinar. Dan sampaikanlah berkas-berkasnya pada orang, waktu dan suasana yang tepat sebagaimana Engkau selalu menepatkan terbit dan berkas-berkasnya matahariMu.  

Demi matahari yang naik sepenggalan; berikanlah kemampuan kepada kami untuk senantiasa bersyukur dan menjadi pribadi yang memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Madura. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s