Memadukan Niat&Keseriusan

Alhamdulillahirabbi’alamin,

Untuk mewujudkan suatu hal dibutuhkan niat dan serius yang terintegrasi, semangat saja tak cukup…apalagi kata-kata, mulai…mulai dan LAKUKANLAH dari hal yang kecil

Niat&Serius Berkebun

Meski hari ini tak “nyawah” dikarenakan mentari sudah meninggi dan kemarin juga digempur jalan santai yang rutenya lumayan, jadi sebagai substitusinya adalah dengan kegiatan ringan-ringan di sekitaran rumah. Pagi ini saya menggantinya dengan kegiatan berkebun dengan menyapu halaman depan rumah dan mengontrol tanaman-tanaman saya dengan menambahkan tanah ke beberapa pot karena mengalami erosi dan memindahkan beberapa pot supaya terlihat lebih estetis dan berubah suasananya.

Mungkin cerita singkat di atas bisa dijadikan sebagai hidangan pagi bagi para pengunjung semuanya. Karena bukan ini yang ingin sedang saya ceritakan atau bagikan. Ada beberapa hal yang ingin saya bagi dan ini membuat saya berusaha untuk belajar memperbaharui komitmen. Pelajaran ini saya dapatkan dari beberapa orang “sahabat” (aka murid)  saya terkait dengan niat dan keseriusan. Sebelum menceritakan lebih lanjut, perlu digarisbawahi bahwa sebagai sahabat dan teman yang membagi ilmu kepada mereka saya bukanlah orang yang rajin memberikan reminder atau peringatan “jangan lupa ya hari ini belajar jam segini dan bla”, jika saya tidak bisa maka baru akan saya informasikan kepada mereka bahwa “hari ini saya tidak bisa dikarenakan (alasan yang jelas&riil)”, dan apabila saya tidak memberikan pemberitahuan ini berarti bahwa saya available dan accessible di rumah. Atas sikap yang demikian tentunya ada pro dan kontra dan bahkan misunderstanding, tapi bagi yang sudah mengerti dan memahami tentang saya mereka akan lebih proaktif, karena sebelum mengatakan ini secara implisit saya sudah tegaskan kepada mereka bahwa yang namanya belajar itu kesadaran, keinginan dan motivasi sendiri. Tanpa adanya itu dalam diri sendiri susah untuk menyatukan komitmen, saya sendiri yang semangat kalau yang mau belajar tidak semangat buat apa juga. Saya lebih suka dengan sedikit orang tapi yang memiliki komitemen dan semangat dibandingkan banyak orang tanpa ada semangat dan sekedar ikut-ikutan. 1 Orang saja pada saat hujan deras datang ke rumah, asalkan saya ada di rumah, saya ajari dan temani, daripada banyak orang bawa yang berat-berat ke rumah tapi tidak berniat dan serius untuk belajar ya lebih baik bermain sendiri saja dan sepertinya sawah memang masih lapang untuk dijadikan alternatif bermain. Dan kalau boleh saya meminjam bahasanya Ust.Arifin Ilham “bahwa saya bukan guru mereka, saya adalah sabahat mereka untuk bertukar ilmu, saya ndak pake asisten juga”, “ilmu dan kemampuan masih standar gini gaya-gayaan pake asisten, karena saya yang ingin langsung belajar sama mereka” kalau boleh saya tambahkan sedikit kata hati saya.

Berikut cerita tentang niat dan keseriusan mereka yang juga sering saya ceritakan kembali ke “sahabat” dan para pendidik yang lain :

1) Didik dan Ibunya; tiba-tiba saya mendapatkan beberapa missed called, karena HP tak di pangkuan, sang misser mengirimkan sms yang membuat saya kaget dan ini adalah peringatan sehabis saya pulang sholat Dzuhur dari masjid, dalam smsnya tersebut sang ibu mengatakan “Dik (panggilan untuk saya), sebenarnya ada apa dengan anak saya, kok gak pernah belajar lagi ke rumah adik”, membaca sms tersebut tidak langsung saya balas, tapi saya coba cooling down dulu  dan mengambil moment paling pas dalam diri saya kemudian saya menelponnya balik “Assalamu’alaikum mbak, maaf saya baru bales, saya baru pulang dari masjid dan gak bawa HP”, si Ibu dengan aksen Maduranya dan nadanya di atas rata-rata :”ya dek gpp, saya cuman pengen nanya, knapa didik gak pernah masuk lagi”, saya:”mbak, saya memang sengaja gak pernah nanya atao sms atau yg lain karena saya pengen ngajari ke dia bahwa dia laki-laki dan harus sudah mulai belajar bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan keluarganya, dan yg lebih penting membangun kesadarannya sendiri”, si Ibu mulai menurunkan nadanya:”iya dek, saya takut ada apa2, klo bertingkah dipukul dan dimarahi aja gpp, saya ijinin”, saya:”gak mbak, inshaAllah gak ada apa-apa kok, saya baek2 aja dan gak ada masalah sama dia, cuman karena pernah dia bilang ijin pas waktu itu ada nikahan sodaranya jadi saya pikir ada acara yg sama, jadi saya pikir sampeyan juga tahu tentang hal ini”, si Ibu:”hahaha, gak dik udah gak ada lagi, masak ada nikahan terus, cuman pas sekali itu kok, sisanya dia maen sama mancing dan ikut2an temannya, dia pamit berangkat tapi gak taunya gak pernah nyampe, setelah ini saya&keluarga yg akan mengantarkan dia ke sana biar ketahuan, saya pengen anak saya itu gak sama kayak anak-anak kebanyakan di sana, apalagi yg bisa saya lakukan sebagai orang tua, mo ngajarin sendiri juga gak bisa, sampe2 sama saya dan pamannya dipukul dan dimarahi”. (waduh, mendadak kaget saya) lantas saya balas:”biasa mbak umur segitu, disitulah peran penting orang tua, mengarahkan jalannya biar nanti gak jadi suka ikut2an, gak usah dipikul dan dimarahin kasian anaknya, nanti juga sadar sendiri kok”.

Pasca insiden ini, sang anak tersebut menjadi anak yang mandiri tanpa tergantung sama teman sepermainannya yang juga ikutan belajar ke rumah. Dengan setia, keluarganya mengantarkannnya ke rumah meski dia sendirian. Kemudian saya appresiasi sikap keluarganya tersebut dengan mengatakan ke “sahabat kecil” tersebut dengan mengatakan “nah gitu jadi laki-laki, gitu jadi anak, jangan suka ikut2an, bikin bangga orang tua, belajar sendirian gpp, wong di sini juga gak diapa-apain, hebat ya ibu kamu bisa punya niat yang baik dan serius yang setinggi itu, kamu harusnya bangga punya ibu seperti itu karena gak semua anak punya ibu seperti itu, waktu masih kecil aku juga gitu, kursus bahasa inggrisku jauh dan masuk-masuk ke pelosok, tapi Abaku selalu mengistruksi anggota keluarga yang lain untuk mengantarkanku ke sana, jadi waktu masih kecil dulu, anak-anak di sini gak bisa bahasa inggris, aku sudah cas cis cus sama Bule yang sering dibawa abang ke rumah, kata sapa maen gak boleh, boleh kok, jangan sampe gak maen, tapi masak iya seminggu itu maen trs kan gak mungkin juga, jangan sampe klo udah tua nanti menyesal karena gak sempat belajar, mumpumasih kyk gini belajar dan bermain sebanyak-banyaknya biar klo sudah tua gak pernah kehilangan masa kecil, waktu masih kecil saya juga ulatnya main tapi klo sudah jadwalnya kursus sama ngaji itu mesti stand by dan gak ada tawar2an meskipun segirang apa pun mainnya, sering pengen nangis juga dulu, tapi yang namanya belajar itu memang hasilnya tidak langsung terasa hari ini, butuh waktu, nanti klo kamu sudah besar kamu akan tahu sendiri rasanya, orang yang sudah tua kebanyakan menyesal karena mereka lalai dalam belajar dan mendidik anak-anaknya, kamu gak mau kan anak kamu sama kayak orang-orang sana, penting belajar ilmu yang umum bukan berarti melupakan ilmu agama, jangan lupa sama ngaji dan madrasahnya juga”. Si Didik pun menjawab dengan bahasa Madura halus ala anak-anak : “iya mbak, saya juga ngaji klo abis maghrib dan madrasah klo pulang sekolah”, saya : “bagus itu, saya juga gitu dulu, siang madrasah, sorenya les, dan malamnya ngaji sama Bapak, klo sudah tua kamu gak bisa kayak gitu soalnya sudah banyak yang dipikirkan, klo gak percaya coba tanya sama Bapak-Ibu kamu”, si Didik merespon :”iya mbak” (sambil tertunduk).

Sejak insiden itu juga, si Ibu ini juga lebih perhatian dan sayang sama anak tertuanya ini, sampai-sampai sering saya mendapatkan missed called untuk menanyakan anaknya apakah sudah selesai belajar apa belum, karena jika memang masih lama dia akan mengerjakan hal yang lain dulu dan menitipkannya dulu di rumah. “Wow, bener-bener appresiasi orang tua yang dua jempol untuk ibu ini, pendidikan boleh SMA…tinggal memang agak mlosok dengan kondisi masyarakat yang nyaris homogen kurang berpendidikan, tapi peran dan tanggung jawabnya mengalahkan yang berpendidikan pasca sarjana yang dengan enteng menitipkan anaknya kepada pembantu, apalagi niat & keseriusannya untuk menjadikan anaknya berbeda menjadikan ibu ini spesial di hati saya”

2) Tadi malam, sambil menunggu santapan makan malam saya mendapatkan telpon dari seorang tetangga yang juga belajar di rumah dan beliau juga seorang kepala sekolah di sebuah SDN di kecamaatan tetangga. “Mbak Iis, malam ini bisa belajar?” kata beliau, seketika saya akan menjawab “Mbak Iis gak capek kan ya?”, mendengar nadanya yang penuh semangat itu mampu membuat raga saya yang capek digempur jalan santai, ngepel di rumah dan memasak bareng Shabrinayang baru selesai menjelang ashar dan setelah ashar mengajar spontan langsung rileks kembali dan dengan cepat saya mengatakan “Iya mik bisa, tapi saya mau makan malam dulu, nanti klo sudah selesai saya telp balik ke sana”, beliau dengan aksesn Jawanya yangg kental:”iya mbak, tenang-tenang sajha, jhangan bhuru-bhuru”. Astaga, dari sekian banyak ibu-ibu yang saya temui, hanya beberapa ibu yang memiliki semangat belajar tinggi dan beliau adalah salah satu yang saya temui. Diantara kebanyakan wanita yang berstatus ibu-ibu yang enggan untuk belajar atau mengupgrade ilmunya adalah dengan alasan –> banyak pekerjaan rumah, capek, buat apa juga belajar-belajar lagi, takut ketinggalan sinetron, anaknya rewel dan aneka yang lain.

Melihat niat dan keseriusan tetangga ini saya jadi malu sama diri sendiri, saya tahu banget tetangga ini kesehariannya karena rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tua saya, menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga dan juga wanita karir. Sering jika malam-malam saya duduk di teras rumah dengan mematikan lampu saya masih mendengar suaranya menjemur baju dan aroma wangi cuciannya tercium sampai ke rumah, atau pada saat berjemaah maghrib di Masjid di banyak kesempatan selalu pamit duluan karena tak bisa menunggu sampai isya’ disebabkan harus memasak dulu untuk suami dan anak-anaknya untuk makan malam. Selalu melirik ke saya kalau mau pulang “kan sama-sama ibadah ya mbak” kata beliau, saya hanya bisa tersenyum membalas ungkapannya tersebut. Apalagi satu-satunya wanita di keluarganya adalah Ibu ini (karena anak-anaknya semuanya laki-laki). Sehingga urusan mengepel, menyapu, menyetrika, mencuci dan pekerjaaan rumah yang lain kebanyakan dilakukannya sendiri.Dan saya lihat beliau enjoy saja dan selalu mengatakan kepada saya “memang sudah tugasnya mbak”

Hal lain yang tidak terlupakan dari Ibu ini adalah sering menyatakan “semangat siy ada mbak, tapi fisik kadang tidak mendukung, klo sudah kyk mik titin ini kan sering kambuh kolesterol sama asam uratnya, jadi harus benar-benar diniatkan dan diseriuska untuk belajar mbak, apalagi kan kerjaannya di bidang pendidikan, harus bisa ngasi contoh yang baik sama murid dan bawahan”. Astaga, mendengar ini betapa berharganya nikmat kesehatan yang sering kita abaikan “diberi sehat tapi kadang kitanya tak niat dan serius”

3) Sebenarnya masih ada beberapa sahabat saya yang mempunyai niat dan keseriusan untuk belajar, tapi kalau diceritakan semua nanti bisa jadi buku dan difilmkan, kan gak enak juga kalau jadi terkenal….hehehehehe. Semoga sosok di atas bisa menginspirasi dan memperbaikki kualitas niat dan keseriusan kita untuk segala hal.

****

Seringkali kita punya niat untuk melakukan suatu hal, tapi kadang di tengah perjalanan niat itu pupus begitu saja karena kita tak serius menjalaninya. Hal yang terpenting dalam niat adalah mengubahnya menjadi langkah konkrit meski hanya hal yang kecil, misalnya niat ingin bisa membaca mengaji dengan baik maka cobalah untuk mendengarkan kaset atau DVD-nya, lambat laun datang ke majelis ilmu sambil mendengarkan pengajian, coba sendiri lalu carilah gurunya.

Niat dan serius itu tak perlu berlebihan tapi yang sedikit dan penuh dinamika. Tak perlu janji dan kata-kata yang indah, pembuktian yang kecil dan terus-menerus disertai dengan komitmen yang terus diperbaharui dan konsistensi yang terjaga sudah cukup merepresesntasikan bahwa kita adalah bagian dari niat dan keseriusan itu.

Sebuah komitmen menjadi berarti jika kita mau berjuang untuk terus melakukannya

– Selamat beraktivitas, semoga diberikan keberkahan-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s