Pisang Goreng pun Bisa Mengubah Mindset

Alhamdulillah,

“Pikiran itu ibarat parasut, ia akan berfungsi jika kita membuka dan mengembangkannya

Klo yang ini kreasi Ummiku

Alarm diri membangunkan saya di awal pagi. Hal ini bagian dari training personal saya untuk memperbaiki kualitas pagi yang amburadul beberapa tahun belakangan. Sholat shubuh tak ubahnya sholat dhuha, yang beda hanya di niatnya saja. Bersyukur melalui perantara para mentor kehidupan banyak memberikan asupan nutrisi, motivasi dan inspirasi bagi jiwa saya. Sehingga setiap pagi mau ngantuk atau tidak selalu DIPAKSAKAN untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur.

Seperti biasa; ada 3 perangkat di samping saya yaitu 2 remote dan HP yang alarm-nya berbunyi pada jam tertentu. Jika alarm sudah berbunyi maka saya raih remote pertama untuk memaksa mematikannya supaya tidak terbuai dalam tidur. Alih-alih meluruskan badan saya tertidur lagi beberapa saat dan jika nyamuk sudah “berteriak berjemaah” saya langsung bangun karena pasti saya yang jadi targetnya.  Sebelum benar-benar beranjak dari tempat tidur remote satu lagi saya raih kemudian sejenak menikmati beritanya lalu beralih ke stasiun yang lain yang sudah lama saya tidak menonton program ini gara-gara selalu diganti dengan pertandingan yang tidak penting. Dan kali ini tidak ada pertandingan sehingga program ini eksis lagi. Adapun topik kajian kali itu adalah tentang “hak dan kewajiban istri terhadap suami”. Lagi-lagi, kok melulu ini ya topiknya, hampir di setiap moment yang saya temui beberapa bulan belakangan tak jauh-jauh dari sini, saya hanya bisa membalas senyum, lebih-lebih pada saat seorang teman mengklarifikasi sebuah gosip ke saya terkait hal ini, yang bisa saya lakukan hanya tersenyum dan iya deh amin aja lalu saya tambahkan sedikit guyonan. Pemandu acara di stasiun  tersebut adalah Che Che Kirani&Ustadz Taifiqurrahman dengan audiencenya adalah ibu-ibu dan para mahasiswa. Intinya adalah : Tingginya tingkat perceraian di usia muda dan aneka permasalahan rumah tangga yang lain disebabkan karena mereka kurang tahu ilmunya. Jadi bagi yang belum kata sang ustadz bekali diri bukan hanya kesiapan lahir dan batin tapi juga Ilmu, ilmu di sini adalah mengaji&mengkaji. Dan ilmu ini juga berlaku bagi yang sudah berumahtangga, sehingga pemahamannya bisa terus diupdate. Kalau ditambahkan lagi, takut salah-salah ngomong jadi lebih baik tanyakan ke sudah berpengalaman sehingga lebih applikatif dan tidak teoritis. Kalau saya tulis semua apa yang sudah saya dengarkan terlalu lebay dan sok tahu nanti, ya mending yang kebetulan membaca ini langsung bertanya saja sama narasumber.

Setelah acara yang ini selesai, saya ganti ke channel yang lain yang diisi oleh Ust.Yusuf Mansur dan kebetulan ada ustadz tamu yang sudah tinggal di Australia 20 tahunan lebih. Sang ustadz membaca salah satu ayat Al Qur’an yang kebetulan saya sedikit hafal dan tahu itu tentang apa, ya ayat tentang orang tua (pokoknya artinya:”dan janganlah berkata ah kepada keduanya(orang tua)..”.), tapi terus terang juga susah dan butuh banyak belajar menerapkan ini. Saya pun sibuk di luar kamar sehingga TV itu pun yang menonton kamar saya, saya hanya mendengar sayup-sayup dari ruangan lain yang kebetulan di ruangan Ibu saya menyalakan stasiun yang sama. Jadi maaf tidak bisa dibuatkan inti sarinya. Silahkan berkunjung saja ke Masjid An-Nida’ jika ingin bertanya.

Setelah pulang bersepeda; karena sebelum berangkat saya sudah membersihkan dan merapikan rumah, saya duduk-duduk sebentar di rumah adik bungsu ibu saya yang sedang mencuci. “Kayaknya setiap hari mencuci, kemarin saya lihat juga nyuci, kemarinnya juga” kata saya. Beliau pun membalas “iya klo gak gini, cuciannya banyak” jawabnya, “jangan mau lek dikerjain sama cucian, setiap berapa hari sekali aja gitu nyucinya, jgn tiap hari”sambung saya, “iya sebenernya gak kotor siy yang dicuci,  baru dipake sehari kok”kata bulek, “ya emang gak kotor, tapi baunya kan gak enak, baunya bau matahari gitu apalagi baju kerja emang harus ganti tiap hari, tapi gak harus tiap hari juga nyucinya, masih ada hal lain yg bs dikerjain disamping nyuci”kata saya, “ya mo gimana lagi” katanya. Cuciannya sudah disucikan dan siap untuk dijemur, sebelum menjemurnya tampaknya ia sibuk dengan hal lain yang berhubungan dengan masakan dan makanan “ini mo buat pisang goreng buat tukang yang lagi kerja, pengiritan hari ini, soalnya gak usah beli pisang lagi, pisang yang sisa kemarin bisa dipake buat hari ini”kata bulek, lalu saya balas “namanya juga emak-emak”. Pada saat bulek sudah menuju tempat jemuran, saya sudah mau balik ke rumah tapi entah kenapa naluri untuk membantunya membuat pisang goreng muncul karena melihat kesibukannya di rumahnya dan dia juga harus ke kantor untuk mengajar. Sehingga selagi bulek saya jalan ke belakang saya lihat di pancinya sudah ada tepung yang sudah diadon dan tinggal memasukkan pisang “lek, biar aku aja ya yang buatkan pisang gorengnya”, (bulek tampak repot dan tidak percaya) (saya biarkan dengan mengupas pisangnya), lalu dia mengatakan “tepungnya masih kurang airnya”, saya menjawab “iya”. Tidak seperti orang Madura pada umumnya dalam memotong/mengiris pisang; biasanya mereka mengiris vertikal dan memanjang, sedangkan saya mengirisnya horisontal dan kecil-kecil. Bulek saya belum melihatnya dan saya sudah akan tahu responnya jika dia melihatnya. Saya tambahkan tepungnya dengan sedikit air dengan sambil berteriak dari tempat jemurannya dia mengatakan “kamu bisa ya Is?”, saya balas “ya elah, nambah air masak kagak bisa lek”. Setelah dia lihat pisangnya yang dipotong kecil-kecil lalu dia pun mengatakan “ya ampun Is, kenapa dipotongnya begitu”, saya dengan santai mengatakan “nanti liat aja lek hasilnya, aku tuh tau pasti nanti mo bilang gitu”, saya pun menggorengnya dan bulek saya takjub melihat hasil gorengan dan kreasi saya “jago juga kamu ya Is, bagus dan cantik pisang gorengnya” #tergantung siapa dulu, lalu saya bilang “memangnya orang Madura, bukannya bikin pisang goreng tapi tepung goreng, memanjang lagi, bikin gak menarik aja”. Cepat siy boleh cepat memasak, tapi kalau tak menarik dan tak enak bikin ilfeel aja. Bulek saya tersenyum dan mantengin terus pisang goreng hasil kreasi saya pagi ini. Saya bahagia melihatnya seraya tersenyum, sampai-sampai dia mengatakan “Is masih sisa 2 pisang di luar, tepungnya juga masih ada sisa, kamu bikin aja tuh lagi”, saya :”iya lek, tambahkan aja gula sama garamnya, takut kurang pas klo saya yang bikin”. Sekedar info saja, bulek saya kalau buat apa-apa pasti tak ketinggalan garamnya, pernah saya iseng bikin getuk dari ubi yang tadinya mau langsung dimakan setelah direbus, langsung saya tahan supaya lebih menarik, enak dan beda buat getuk aja. Seperti biasa selalu mengatakan “gak usah aja gimana”, saya “usah lek, klo makan ubi rebus itu biasa, tapi klo dibikin getuk kan agak beda ada nilai tambahnya”, bulek menyerah dan mengatakan “ya terserah kamu aja, jangan lupa tambah garamnya”. Saya memang rada-rada iseng orangnya, tapi dibalik itu ada maksud dan pembelajarannya, baik untuk sisi orang yang saya isengin maupun untuk saya sendiri. Seringkali di keluarga Ibu terlontar pernyataan dari saudara-saudara “pokoknya orang satu ini ADA-ADA AJA”.

Memang saya jwaraaaang sekali memasak di rumah, tapi bukan berarti tidak bisa, saya bagikan-bagikan pahalanya buat Ibu saya karena selain kewajiban beliau juga lebih jago dalam hal ini, bukankah sesuatu itu harus diserahkan pada ahlinya dan yang berkepentingan sehingga akan lebih terasa hasilnya. Kalau lagi iseng-iseng dan “insyaf”  saya berkunjung ke dapur belakang bukan untuk memasak tapi untuk membersihkan dan merapikannya karena saya paling ahli dalam bidang bersih-bersih dan rapi-rapi sampai seisi-isinya juga hilang. Kalau sudah mepet dan terpaksa baru saya bisa mengoptimalkan potensi saya yang sangat terpendam ini. Jadi kadang orang-orang rumah kaget kalau saya masak dengan mengatakan “apa lagi itu yang dilakukan”, saya hanya bisa mengatakan “nanti liat aja ya hasilnya”. Lidah yang searus dengan saya adalah Shabrina dan kakak di atas saya, yang lain lidahnya mengandung “garam”, makanya sering tidak cocok dengan masakan saya.

Alhamdulillah, pagi ini hal sederhana berupa pisang goreng bisa mendistribusikan makna dari sebuah mengubah mindset. Karena seringkali kita terjebak oleh tradisi, budaya dan pemikiran yang menjebak kita sendiri dalam batasan-batasan yang kita buat. Sehingga apa yang terjadi? kita tidak lebih adalah orang yang sesuai dengan batasan yang kita ciptakan sendiri. Sehingga perlu juga untuk membagikan hal baru positif yang kita dapat kepada orang lain sehingga bisa terbangun entitas yang sedikit lebih maju. Kata siapa kita tidak boleh cinta sama budaya? seharusnya itu, tapi kalau tidak mendidik dan membatasi kita sepertinya kita yang harus mengingatkan diri kita Dulu-dulunya saya juga begitu, suka menciptakan mindset-mindset yang  membatasi dan membodohi saya sendiri, namun seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman dan pemahaman parasut-parasut itu sedikit demi sedikit saya buka dan kembangkan sehingga saya bisa mengoptimalkan dan “menerbangkannya”.

Bagaimana cara mengubah mindset :
(1) Lebarkan network dan komunitas
(2) Jangan merasa paling pintar dan berpengalaman
(3) Tak usah malu bertanya
(4) Bertanyalah bukan untuk menguj, bertanyalah karena tidak tahu, sangsi dan untuk pencerahan bagi sekitar
(5) Lihatlah kesalahan orang lain dan belajar darinya
(6) Siapa saja yang kita temui dalam keseharian jadikanlah ia sebagai guru kehidupan
(7) Berusaha memberikan sikap terbaik yang bisa diberikan kepada orang lain : tersenyum, menyap duluan, bersikap ramah
(8) Kalau ada yang berbeda, jangan dianggap musuh/saingan. Pisau jika tak pernah dipakai jadi tumpul, tapi kalau sering dipakai akan tajam. Perbedaan semakin menajamkan pemikiran dan pandangan, tanpa perbedaan hidup kurang seru.

Sekian dulu, semoga bermanfaat hikmah pagi yang saya dapatkan hari ini.

Cara untuk memulai sesuatu adalah dengan Berhenti Berbicara dan Mulailah melakukan

– Salam Mentari, Salam Embun –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Iseng. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s