Pagi Penuh Barokah&Indah

Alhamdulillah,

“Keraguan hanya bisa dihilangkan dengan tindakan”

Sawah biasanya

Setelah terjaga dan terbangun dari tidur, saya pun langsung menyalakan TV sebagai langkah awal untuk menerangi kamar yang gelap karena tangan saya tak begitu panjang untuk menjangkau switch-nya lampu kamar. Pagi-pagi begitu acara TV tak jauh-jauh dari berita dan taushiyah pagi. Hari selasa; biasanya ada Yusuf Mansur di salah satu stasiun TV swasta yang baru ganti nama. Bukan Yusuf Mansur yang saya temui, tapi pertandingan bola baru saja usai menjelang jam 5 pagi. Pemandangan yang kurang enak karena setiap bangun lebih pagi dan sedang mengincar sebuah program TV favorit selalu disuguhkan dengan tendangan-tendangan tak penting itu yang secara otomatis saya pindahkan ke program berita atau malah stasiun yang hanya berisi lagu-lagu. Damai tanpa mendengar komentator dan suara pluit wasit.

Setelah pertandingan itu, saya berkunjung sejenak ke stasiun yang lain, beritanya pun sama saja seputar meninggalnya Osama Bin Laden di Pakistan. Baik media lokal maupun internasional ramai membicarakan pria ini, karena bikin malas, balik lagi ke stasiun TV yang sebelumnya. Acaranya sudah mulai rupanya dan yang membuka adalah Ust. Subki Albughuri, rupanya Ust. Yusuf Mansur berhalangan hadir. Sebelum beranjak dari tempat tidur saya mendengarkan sebentar; tentang pengertian barokah. Beliau menuturkan bahwa barokah bisa dimaknai Bertambah kebaikannya atau added value (apa value added???, sami rawon kali ya). Ckckckck “bener juga tuh ya”, beliau menambahkan lagi rezeki banyak kalau tidak barokah ada aja hambatannya; sholat tidak khusuk, pikiran tidak tenang dan lain-lain. Rezeki sedikit tapi kalau barokah semakin dimudahkan ibadahnya; senang untuk mengerjakan amalan kebaikan, suka bersedekah dan lain-lain. Orang yang tahu ilmunya, sebelum makan selalu berdo’a karena dengan itu menambah kebarokahan dalam makanan. Memang oncom akan tetap terasa oncom, tapi kalau diiringi dengan berdo’a maka ia akan memiliki nilai tambah. Teringat dengan cerita seorang sepupu yang ia sendiri pernah dinasihati oleh ponakannya yang santri supaya tidak membuang makanan yang sudah tinggal sedikit. Sang ponakan yang juga ponakan saya berkata “jangan dibuang makanannya, siapa tahu barokahnya ada di situ”, sang sepupu secara naratif menceritakan kepada saya dengan mengatakan “sudah sebutir ini sisanya, barokah dimananya”, saya tersenyum dan mengatakan “tapi memang iya kok, dulu aku pas madrasah juga diajarin gitu”. (Sharing sedikit) menurut ustadz saya di sekolah madrasah dulu : kalau makan jangan langsung ambil yang bagian tengah, ambil dulu yang pinggir-pinggir kemudian bergeser ke tengah, karena kalau ambil yang tengah langsung bisa cepet bikin kenyang dan barokah makanan biasanya ada di tengah itu. Keren niy agama saya, hal yang sepele seperti ini diajarkan dan bukan sekedar teori tapi bagian dari etika juga. Stop dulu masalah ini, jika ingin bertanya maka tanyakanlah pada ponakan saya kalau nanti pulang dari pesantren atau langsung ke ustadz Subki.

Setelah mendengarkan sejenak taushiyahnya, saya melanjutkan ritual pagi kemudian membuka penutup rumah, membersihkan tempat tidur dan ruangan sekitar kemudian lanjutkan bersepeda. Sebelumnya sempat ragu untuk bersepeda karena terdengar rintik-rintik, tapi karena sudah rindu sama sawah maka yakin saja bahwa rintik akan berlalu. Saya pun sampai di sawah dan terlihat rumput yang berembun itu sudah tak berkabut lagi, ini mengindikasi bahwa sudah banyak yang lebih dulu hadir di sana. Yaaah, ketinggalan deh, padahal target saya adalah lari-lari kecil di atas rumput yang sedang banyak embunnya sehingga kaki pun segar dan bugar. Sudah beberapa kali saya berhasil merebut pagi dengan datang lebih awal atau mungkin yang pertama untuk bisa menginjakkan kaki di atas rumput yang berembun dan menikmati terbitnya matahari di ufuk sana sembari duduk-duduk di jembatan dengan memarkir dan melepaskan alas kaki yang saya kenakan.

Di jembatan yang biasanya saya duduki terlihat ada seorang laki-laki yang baru saya lihat yang sedang asyik menelpon. Karena masih sepi dan di sekitar situ belum ada petani yang datang saya putarkan sepeda saya dan saya pun kembali ke rumah. Dengan melalui beberapa petani di jembatan yang lain saya menyapanya dan beliau pun mengatakan “tumben kok sudah pulang”, saya dengan senyuman dan singkat pernyataan mengatakan “iya niy pak, mari ya Pak”. Rute embun yang saya lalui belum full, saya pun hentikan gowesan di sekitaran rumput yang masih belum diinjak orang dengan ditemani suara gemericik aliran sungai dan bunyi bebek kwek kwek kwek. Dan nampaknya matahari yang biasanya saya tunggu-tunggu untuk terbit tak jua muncul karena awan diselimuti kabut, sehingga pemandangan yang tampak pagi ini bak dalam pementasan dongeng; di sekeliling sawah awan berkabut nan segar, tanpa sengatan matahari, damai dengan suara-suara alam. Subhanallah, benar-benar indah paginya…speechless, needless to comment pokoknya.

Setelah itu barulah saya balik ke rumah dan menikmati pagi saya di rumah. Aktivitas di dapur kali ini agak ada kemajuan, jika biasanya saya hanya mencuci piring dan memasak air. Kali ini saya memasak air, mencuci yang sudah dicuci karena terlihat belum bersih, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk membuat roti bakar ala heroy. Walah, baru saja dapat 1 putaran memanggang roti panggangan elektriknya sudah mengalami error, jadilah saya membuat roti bakarnya di atas kompor menggunakan teflon. Ternyata hasilnya lebih bagus menggunakan ini, saya pun menambahkan ornamen pisang di dalam roti yang sedang saya bakar, benar-benar mirip heroy. Kalau roti gosong mungkin enak, tapi kalau tempe yang gosong dan dimasak sendiri harus dipaksakan enak dan jangan sampai terulang lagi. Jadi bagi saya mendingan suruh bikin roti bakar daripada memasak atau membuat kue-kue yang bikin rwiiiibet itu.

Air yang saya masak saya buat untuk susu coklat dan roti pisang yang sudah saya bakar saya tambahkan susu kental cokleat. Wow, Alhamdulillah, nuansa sarapan kali ini adalah cokelat dan berkreasi sendiri. Saya menikmatinya di teras rumah bersama majalah dan dvd kesukaan saya.

Terimakasih Yaa Allah atas nikmat yang telah Engkau berikan di pagi ini, semakin menjadi barokah, dan berikan nikmat dan kebarokan itu bagi keluarga, saudara dan orang-orang yang sedang sakit.

“Anda tak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai”

– Nikmat Alam, Barokah pagi –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Iseng. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s