Habis Ditabrak, Alhamdulillah Masih Diselamatkan

Bismillah,

Tepat beberapa jam yang lalu, sebuah kejadian yang tak terlupakan menimpa saya dan ummi saya. Tepat beberapa meter dari POM Bensin Junok, Bangkalan persisnya di depan pabrik tahu motor yang kami tumpangi ditabrak dan disenggol motor lain. Hal ini membuat motor saya terpelanting ke seberang, yang di bawahnya ada sungai.

Alhamdulillah kami tidak jatuh, posisi kami masih di atas motor meski motor kami “diarahkan” ke seberang dan seakan-akan kendaraan yang berada di depan dan di belakang kami diam secara serentak. Pada saat terpelanting, kaki saya sambil menahan motor dengan menggeser kaki di atas aspal, supaya kami tidak terjatuh. Inilah kondisi puncak yang bisa saya perbuat saat itu, dan pada saat motor yang menggeser saya kabur, terlihat di depan saya adalah sebuah truk dan tangan tidak dapat saya tahan terus ke samping dan di belakang saya terlihat ummi saya yang berusaha menahan motor dan melindungi saya. Seketika itu, saya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, saya tidak tahu harus berbuat apa. Dan Alhamdulillah truk yg berada paling depan di lajur yang berlawanan itu berhenti seketika saat melihat adegan saya, ummi dan motor yang lari.

Rasa perih pun hadir, dan ketika saya lihat kaos kaki saya robek dan ada darahnya. Ibu saya alhamdulillah masih tidak terluka apapun. Tapi yang saya ingat adalah pada saat saya akan menuju ke seberang ibu saya berteriak-teriak dan saat itu saya sempat berpikir takutnya ibu jantungan atau kenapa-kenapa. Dan ternyata saya salah, yang ibu saya khawatirkan justru keselamatan saya, beliau khawatir saya terjun bebas ke sungai. Saya pun mematikan motor, dan bak adegan sinetron orang-orang pada bertanya dan menginterogasi saya. Saya katakan saya tidak apa-apa, namun sebenarnya saya sedang menahan perih luka di kaki yang belum saya temukan lokasinya dimana. Ternyata, sandal ibu saya terpelanting dan hilang. Seorang laki-laki berseragam PNS tiba-tiba datang dan menanyakan kondisi kami. Laki-laki itu adalah Bapak Qudsi, seorang pimpinan sekolah dimana saya pernah mengisi acara di sana. “Gimana is” kata beliau, saya:”gpp pak, alhamdulillah selamat”. Ummi saya sudah begitu kesalnya dengan motor yang menabrak kami, sedangkan saya never mind dan don’t care lah dengan motor itu, toh saya masih diselamatkan oleh Allah. Saat itu tak henti-hentinya saya bersyukur dan berdzikir “alhamdulillah Yaa Allah, masih Engkau selamatkan kami”.

Karena pengen-pengen cepat sampai ke rumah, maka saya pun mengambil dan menghidupkan motor. Seorang ibu penjual rujak dengan ramah dan simpati menawarkan saya minum “nak, minum dulu ya”, saya : “gak bu, makasih”. Saat saya sudah di atas motor dan menunggu untuk menyebrang tiba-tiba pusing menyelimuti saya dan awan pun berubah menjadi gelap, seketika itu saya katakan pada ummi saya “aku pusing mi, gelap, aku mau duduk dulu”, saya berusaha bangkit lagi dan ternyata masih gelap. Saya tidur di pangkuan ummi dan beliau pun sambil memijit leher saya dan Alhamdulillah sudah terlihat normal kembali. Saya menghampiri motor lagi, dan apa yang terjadi? rasa-rasanya saya lemes dan saya kembali duduk di penjual rujak tadi dalam kondisi tambahan perut saya mules dan saya pengen cepet-cepet sampai rumah. Ibu saya melarang dan diminta tiduran dulu di warung itu, beliau pun menyarankan supaya saya naik angkutan umum saja dan yang membawa motornya adalah ummi saya. Aha, ada mobil umum rupanya, saya pun menuju ke sana dengan dituntun dan sambil tertatih membawa helm “udah mi, gak usah dituntun, kyk apa aja”, ummi :”kamu ini pucat mukanya”, ummi pun memanggil sang sopir dan minta tolong menyebrangkan saya, saya :”gak usah pak, tunggu situ aja, saya bisa nyebrang sendiri”, saya nyebrang dan sang sopir berlaku bak polisi dengan menyetop mobil yang akan melalui. Sebelum menuju angkutan ummi saya memberi uang 2000-an 2, satu untuk angkot, satu lagi untuk becak. Baru saya tahu tarif becak dan angkutan hari ini.

Sampailah di Burneh, turun di Embong miring atas dan saya kasi ongkosnya 2000 tanpa basa-basi dan bertanya. Hanya mengatakan “terimakasih”. Sang sopir mengatakan kepada tukang becak di situ “sepi penumpangnya”. Emang rejeki gak kemana, seturunnya dari angkot saya turun dengan menahan sakit dan saya langsung duduk di becak seorang yang sudah menunggu penumpang. Terheran bapak itu, apalagi setelah saya katakan “belakang masjid ya Pak”, mungkin persepsi pun hadir dalam benaknya”kok belakang masjid aja naik becak, wong deket ini”. Dia pun mengantarkan saya melewati gang samping, dan terlihat tetangga saya yang sedang menggendong cucunya, saya pun menyapanya dan menyapa juga cucunya. Tiba-tibaa muncul tetangga sekaligus teman SD saya yang berlawanan arah sedang duduk dalam mobil dan kemudian menyapa saya “is, gaya banget becak-becakan, habis darimana?”, saya hanya tersenyum. Setelah mobil tersebut lewat, saya pun curhat sama tukang becak itu “pak, klo kaki saya gak sakit, saya gak naik becak, tadi saya habis ditabrak motor di Bangkalan dan kaki saya lecet, karena pusing saya disuruh naik angkot sama ummi”. Ok sudah sampai depan rumah dan saya bayar juga 2000 “makasih ya Pak”.

Sesampai di rumah, saya jalan tertatih dan langsung mengecek TKP luka dan ternyata jari kaki lecet dan terkelupas, kaos kaki dan sepatu karet telah melindungi saya dari tajamnya aspal jalanan. Kaos kaki sebelah kiri bolong, dan bagian jempolnya berdarah dan ibu jari kaki masih terlindungi sedangkan yang lain perihhhhh. Ummi belum sampai rumah, saya pun mengompress kaki dengan air biasa, kemudian menghidupkan kompor bukan untuk memasak tapi membuat air hangat untuk menetralisir kaki saya yang luka itu. Apa yang terjadi? perih tak tertahan. Saat ibu sampai rumah, langsung diberikan betadine dan alamak makin perihhhh menjadi-jadi. Sekarang masih terasa perih dan nyerinya, inshaAllah ini menjadikan pelajaran bagi saya untuk berprasangka baik terhadap orang tua dan memperbaiki bakti…Amin yaa Muhaimin. Semoga secepatnya bisa diberikan kesembuhan supaya bisa berkativitas seperti sedia kala. Dan semoga yang nyerempet saya tidak menderita seperti yang saya derita dan diberikan keberkahan dalam setiap aktivitasnya, amin yaa rabbal ‘alamin. Terimakasih untuk ummi saya atas do’a dan perjuangannya, ternyata menjadi orang tua itu tidak semudah yang dibayangkan dan dikira,,,”maaf jika sempat terbesit khilaf dan dosa”, Yaa Latif, lembutkanlah pikiran, lisan dan hati hamba ini agar senantiasa bisa belajar bertutur santun dan menyenangkan kepada siapa pun. Mohon do’anya dari para pembaca sekalian, semoga kita semua dihindarkan dari marabahaya yang disengaja maupun tidak disengaja.

Yaa Muhaimin, Wahai Engkau yang Maha Memelihara, terimakasih banyak atas nikmat keselamatan dan pemeliharaan Engkau hari ini untuk hamba dan ibunda hamba. Yaa Ghaffar, maafkan dosa dan kesalahan kami baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Lindungilah kami semuanya dari keburukan orang lain dan keburukan yang kami buat sendiri.

– Perih dan nyerinya baru terasa

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s