Memulai Hobi Baru #berkebun

Alhamdulillah,

tanaman hasi hibahan, pindahin ke pot

Setelah sekian lama tidak diseriuskan, muncul juga keinginan untuk menghidupkan kembali hobi yang satu ini. Hobi yang sudah ada sejak masa kecil dulu. Hobi itu adalah bertanam dan berkebun. Masih tersimpan di memori pribadi; saking dari senangnya menanam dan mencangkul di depan rumah, sampai-sampai kalau bermain dan melewati rumah orang/tetangga mencabuti tanaman/bunga yang ditanam mereka di depan rumahnya, dan benar saja jika kami diomeli oleh sang empunya karena mencabut tanpa ijin. Saya bersama beberapa sepupu dan teman sebaya yang lain lari kemudian kami menanamnya di depan rumah kami masing-masing. Benar-benar masa kecil yang tak terlupakan dan tolong jangan dipraktekkan hal ini karena tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga. Buktinya tanaman-tanaman yang saya tanam saat masih kecil dulu habis begitu saja diserang “hama”, yang tersisa hanya puring dan ini bukan diambil dari halaman orang lain/tetangga, tapi diambil dan ditanam dengan kreasi sendiri.

Dalam post it saya tertulis beberapa agenda yang mesti saya lakukan minggu ini, 2 sudah terelisasi dan tinggal 1 lagi yang belum. Di situ tertulis “pot”. Ouw ya beli pot dan lihat-lihat tanaman buat ditanam di teras rumah supaya rumah lebih asri dan segar. Sesaat matahari sudah terbit beberapa jam, saya keluar dari rumah bersama motor saya untuk membeli bensin dan sepulang dari mengisi bensin mampir dulu ke penjual tanaman untuk melihat dan membeli tanaman sebagai langkah awal untuk memulai hobi saya. Saya pun melihat-lihat tanaman dan bunga-bunga yang dijual. Masih bingung dan memang tidak mengerti hal yang beginian, tapi karena ada dorongan yang kuat sehingga tak sungkan untuk bertanya kepada yang punya. Saat masuk ke dalam ruangan yang berisi tanaman langkah pertama bertemu dengan mawar berwarna marun belang. Saya lihat dan amati “bagus, tapi kurang cerah, coba kalo ada warna kuningnya, pasti lebih bagus”. Sang ibu pun bertanya “cari bunga apa mbak?”, saya : “bentar dulu saya lihat-lihat dulu ya, emang yang bagus apa?”, ibu : “mawar juga bagus”, saya :”tapi di rumah saya sudah ada mawar warnanya pink dan itu ibu saya yang menanamnya di belakang rumah, bentar dulu saya lihat-lihat dulu”.

Dalam pencarian saya, terlihat seorang ibu yang saya kenal turun dari angkutan umum. Biasakan diri menyapa duluan dan saya pun menyapa beliau “mik, beliau bunga apa?”, ibu yang turun dari angkutan : “eh kamu, ini lagi nyari-nyari tanaman”, saya : “sama mik, saya juga lagi nyari, mau ditanem di depan rumah”. Kami pun asik dengan dunia kami masing-masing dengan mengamati tanaman-tanaman yang dipajang di situ. Membuat bingung memilihnya, tapi saya senang dalam kebingungan saya itu karena saya bisa menentukan pilihan yang saya suka dan tanpa paksaan dari orang lain. Saya pun bertanya kepada sang ibu penjual bunga : “saya nyari bunga atau tanaman yang gampang dan gak ruwet?”, ibunya pun bingung dan saya juga susah menjelaskannya, sang ibu bertanya lagi : “maksudnya gimana ya?”, whahahaha (bingung kan, saya juga bingung Bu), saya : “jadi gini, saya cari bunga atau tanaman yang gak perlu saya siram tiap hari tapi dia tetap hidup, soalnya takutnya saya gak sempat nyiram atau ngerawatnya”, ibu : “jadi gini, orang kebayakan salah kaprah, kalau nyiram bunga itu tiap hari, padahal gak slalu begitu, seminggu 2 kali udah cukup, klo masih kecil-kecil memang harus tiap hari”, saya : “saya percaya sama Ibu lah, ibu ini kan sudah ahlinya”. Saya pun ngider lagi mencari pilihan saya. Sang ibu memberitahukan saya : “mbak, mawarnya ada yang warna kuningnya loh, itu tinggal satu, jadi warnanya marun, putih, kuning”, saya : “ok bu, saya beli satu, saya cari yang lain lagi. Terlihatlah tanaman berjenis palem dan berwarna-warni. Saya tanyakan pada ibu : “ini apa namanya apa Bu?”, ibu : “itu three colors”, saya :”halah, ada-ada aja deh namanya”. Kemudian saya lihat tanaman dengan daun yang bagus, namun tidak berbunga “berapa harganya bu?”, ibu : “30 ribu”, saya :”mahal banget, nanti aja saya kembali lagi”. Pencarian pun dihentikan dulu, dan saya masih teringat dengan post it saya, ya pot, saya melihat pot juga di sana “ada pot plastik yang di bawahnya ada alasnya”, ibu : “udah gak ada mbak, sudah jarang sekarang”, saya : “ya udah itu aja dulu bu”. Mawar 5000 rupee, three colors 10000 dollar. Saya pun membayarnya dan saatnya mencari pot.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari sahabat saya tentang siapa dan dimana yang menjual pot plastik, dia mengatakan bahwa ibu dari sepupu sekaligus sahabat kami menjualnya. Daripada beli ke orang, bukankah lebih baik membeli ke saudara terdekat, selain menyambung silaturrahim juga mendukung usahanya. Saya pun ke tokonya dan terlihat sibuk karena banyak pembeli yang datang pagi itu. Beliau menanyakan ke saya : “mau beli apa?”, saya : “ada polybag?”, ibu teman : “ada, mau yang berapa kilo?”, saya bingung dan saya pun mengatakan “yang kecil saja”, sambil melayani pembelinya beliau bertanya lagi “gak buru-buru kan?”, saya : “gak mi”, saya pun masuk ke dalam tokonya dan melihat-lihat isi di dalamnya, tak henti-hentinya saya kagum dengan Ibu teman saya tersebut karena berdasarkan fakta dan cerita yang diungkapkan oleh ponakan dan anaknya sendiri yang juga sahabat saya beliau adalah seorang yang tidak bisa membaca dan mengerjakan usahanya itu dari nol. Subhanallah memang; inilah kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya, tidak bisa membaca saja dia bisa membaca dengan hati permintaan pembelinya saat mencari pupuk, pemberantas hama dan obat-obatan pertanian yang lain. Tak tahan dengan bau obat-obatan di dalam toko, saya keluar dulu dan melihat ke samping, ibu teman saya itu mengatakan :”is ini polybagnya”, saya pun melirik ke benda yang sedang dipegangnya “bukan polybag yang itu mi’, yang kayak pot tapi plastik”. Beliau pun mengatakan ke saya : “itu bukan polybag namanya, tapi pot plastik”, bodohnya saya dan seketika itu saya langsung tersenyum dan bertanya balik “yang jual dimana ya?”, beliau mengatakan : “di Syamsul”, saya bingung dimana itu, seorang pembeli mampu menerjemahkan kebingungan saya : “di sebelah barat SMP 4, ada banyak pot plastik di sana”, lagi-lagi bingung, pria setengah baya itu menyatakan lagi : “iya Syamsu namanya, cari aja di sana”. Saya : “oh toko itu, ya saya tahu”. Saya pun balik lagi ke kota dan mencari barang yang saya maksud di toko itu.

Sesampainya di toko itu, supaya fokus saya tidak melihat barang yang lain saya langsung bertanya “pot plastik yang ada alasnya di sebelah mana?”. Saya lihat warna dan harganya, kebanyakan berwarna orange dan sedikit hijau, tapi yang sedang saya cari saat itu adalah yang hijau, bukan maksud go green house, tapi dominansi warna di luar rumah sepertinya kebanyakan hijau sehingga saya pun memilih yang warna hijau. Alamak, ternyata harga pot tak semahal yang saya duga. Ini pengalaman pertama saya beli pot. Dan lebih shock lagi, saat saya melihat harga pot plastik kecil warna hitam yang hanya 1000 peso, makin kaget saya. Kemudian saya beralih ke pot yang lebih kecil lagi dari 1000, dan saya bertanya ke pramuniaganya “berapa harganya mbak?”, dia : “gak tahu mbak, paling 500”, saya : “apaaaa????, masak sama kayak harga krupuk?”. Setelah mencari pot, nyasar dulu ke tempat yang lain membeli barang yang lain yang di luar perencanaan. Dapatlah saya keset dan tellennan warna hijau. Bisa disimpulkan kalau topik belanjaan kali ini adalah “green shopping for green future” (gaya abis lah).

Yes  saatnya menanam dan ternyata aktivitas ini menarik dan menyenangkan sampai lupa waktu, padahal yang ditanam hanya 3 tanaman saja. Beceknya kemana-mana dan untung saja emak lagi berada di dalam rumah dan tidak sedang duduk di depan rumah. Coba kalau ada Ummi pasti berkata demikian “I-i-s, kamu itu kok ada-ada saja yang dikerjain”.

Gara-gara ini, setiap lewat rumah saudara atau tetangga yang saya lirik adalah tanamannya siapa tahu ada anaknya yang bisa saya tanam di rumah, Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah tidak sebaiknya menanam apotik hidup dan yang berguna? contohnya : cabe, tomat, pepaya (lumayan buat rujakan) atau laos, sirih, kunir dan sejenisnya (lumayan buat masak *kayak yang masak aja*).

– Menuju Hijau; Mencari Pot, Mengincar Tanaman –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s