Menang Melawan Diri Sendiri

Alhamdulillah,

Selamat berakhir pekan semuanya, ada hal baru lagi yang bisa saya bagikan lagi di sini, selamat membaca lagi :

Do'a pribadi ustadz

Tulisan ini diinspirasi oleh catatan yang terdapat dalam diary saya saat beberapa minggu yang lalu (Minggu, 14 Maret 2011) saya bersama 2 sahabat kecil mengikuti kajian di Graha Pena, Surabaya. Kajian ini dibawakan oleh Ustadz Amir Faisal, yang juga seorang trainer dan penulis beberapa buku. Dikarenakan catatan yang saya buat agak amburadul dan kurang runut maka saya mencoba untuk merangkainya kembali dengan bahasa saya dengan mengambil dari sumber yang lain juga berdasarkan apa saya saya ingat, pikirkan, baca dan tuliskan. Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat bagi yang menulis dan yang sudah/sedang membaca.

Menurut Prof. Kazuo Murakami, Phd : “paksa dirimu dan ubahlah kelakuanmu”. Karena berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya manusia hanya menggunakan potensi maksimalnya sebesar 5%, sedangkan 95%-nya adalah konflik. Salah satu contoh yang telah menggunakan potensinya secara maksimal adalah Albert Einstein, dan dia juga salah satu sosok yang memiliki kualitas adversity quotient yang tinggi; di kala kegagalannya dalam beribu-ribu kali percobaan, dia terus-menerus mencoba sampai akhirnya dia menemukan dan menghasilkan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi peradaban dunia. Dunia yang tadinya gelap tak berdaya menjadi terang-benderang dan gegap-gempita. Terbukti bahwa di setiap kesulitan, akan selalu beriringan kemudahan-kemudahan. Dan di setiap kegagalan, selalu ada pembelajaran hidup bagi tiap-tiap yang berpikir dan percaya bahwa akan ada yang mengantarkan jalan kita menuju kesuksesan yang sebenarnya. Konflik hidup yang berupa pesimis, optimis, berani, takut, harapan, putus asa dan lain-lain akan selalu datang dan pergi menemani keseharian kita, dan ini bagian dari kejutan hidup yang indah tiap harinya agar kita selalu mengingat dan berharap kepada Allah 24/7 (baca : 24 jam, 7 hari = sepanjang waktu). Jangan takut dengan konflik karena merupakan bahan baku manusia, tanpa bahan baku ini maka manusia bukanlah manusia. Dengan bahan baku ini maka mendorong manusia untuk mengoptimalkan fungsi akal, rasa dan karsa yang telah dianugerahkan kepadanya. Semakin besar konflik yang dihadapi seorang manusia maka akan menjadikannya sebagai manusia yang besar.

Menurut penelitian lagi; setiap harinya manusia melakukan komunikasi dengan dirinya sebanyak 60 ribu kali. Wow, angka yang fantastis bukan?, komunikasi itu seperti misalnya : mau pakai baju yang mana?, hari ini mau kemana?, kira-kira makan apa ya hari ini?, mau ngapain aja ya hari ini?, dan lain-lain (silahkan catat sendiri saja kalau saat Anda bangun tidur, pasti toko buku dan media penyimpanan laku keras). Komunikasi itu menimbulkan konflik bagi diri kita, karena setiap pilihan yang kita putuskan selalu ada konsekuesinya. Sehingga bisa juga dikatakan bahwa dalam setiap pilihan selalu ada konflik. Kita pun memiliki kebebasan untuk memutuskan pilihan yang baik ataupun buruk karena setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Oleh sebab itulah, adanya agama hanya memberikan berita gembira dan menuntun jalan manusia dalam menghadapi dan menyikapi setiap konflik yang sedang dihadapinya, disertai juga contoh-contoh kasus yang riil yang akan mengajak manusia untuk berpikir dan mengambil hikmahnya.

Ustadz yang sudah pernah mengikuti training NLP (Neuro Lingusitic Programming) dari sumbernya ini juga berbagi ilmu tentang ilmu yang telah diperolehnya dari training tersebut. Beliau menuliskan dalam slidenya bahwa NLP mempelajari apa yang membuat kita berpikir, merespon, bertindak, memilih dan mengambil keputusan serta bagaimana membuat pilihan-pilihan yang paling konstruktif dan maslahat.  Dalam NLP juga belajar bagaimana menerima realitas diri yang dahsyat. Saat itu juga saya teringat postingan sebuah blog yang mengupas tentang bagaimana caranya jatuh cinta lagi pada diri sendiri. Dengan demikian, 2 macam anggapan dasar dalam konflik :
1. Konstruktif
; memaknai konflik sebagai pengalaman, hal ini terbagi atas 2 hal : a. Ada strukturnya ; b. mengandung anggapan dasar
Dalam bagian ini, tanpa perlu saya jabarkan, kita akan memahami bahwa permasalahan membangun struktur dan anggapan dasar supaya kita banyak berintrospeksi dan memperbaiki diri supaya tidak masuk dalam jurang yang sama. Pantas saja, jika ada sebagian orang yang dengan aneka permasalahan bisa menjadi penerang bagi yang lain. Ini karena Sang Pemberi Cahaya menghidupkan bashirah orang tersebut.
2.  Destruktif ;
konflik bisa meyeret kita dalam degradasi karakter yang semakin jauh dan bertentangan dari tuntunan. Karena kita merasa dikecewakan oleh hidup karena hidup tidak sesuai dengan yang diharapakan, maka terjadilah pemberontakan diri yang habis-habisan yang mengakibatkan terjadinya erosi karakter, dan inilah yang mengantarkan kita pada kelongsoran dan kesengsaraan diri.Contohnya : putus asa lalu bunuh diri, suka mengeluh, suka menyalahkan orang lain dan merasa benar sendiri, dan lain-lain.

Kemarin, iseng-iseng saya membaca lembaran-lembaran yang dituliskan Bapak saya dan membuat saya shock seraya bersyukur karena ada saja yang mengingatkan saya, dalam tulisan itu tertulis sebuah isi hadits riwayat Muslim yang dituliskannya dengan tangannya dan artinya diketik dalam bahasa Madura yang halus (kali ini saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia saja, jujur saja ada kata yang saya kurang tahu artinya *maaf ya Madura*) :“Saat Musibah datang kepada kamu sekalian, jangan mengatakan: Seandainya (kalau-kalau) saya berbuat demikian, tentunya akan demikian. Tapi katakanlah : Allah SWT sudah menakdirkan semua yang dikehendakiNya. Perkataan kalau-kalau sama dengan (=) seperti membuka amalnya/perilaku syetan“. *baru tahu saya, Allahummafighlahu Warhamhu Waafihu Wa’fuanhu buat Aba saya…Amin*

Lantas, bagaimana menyikapi hidup yang penuh ketidakpastian ini. Sang ustadz pun memberikan 2 pertanyaan kepada para peserta kajian yang hadir, pertanyaan ini juga bagian dari pertanyaan hidup saya atas eksistensi yang sering kali tidak saya syukuri, dan melalui sang ustadz Sang Pemberi Jawaban menyampaikan kompleksitas ungkapan saya dalam bahasa sederhana sang ustadz : 1) Manusia di dunia berada di tempat yang tidak dikehendakinya?, ataukah 2) Sudah berada di tempat yang seharusnya?. Jika anda yang ditanyakan demikian apa yang kira-kira akan Anda jawab? jujur saat itu belum punya jawaban, karena memang itu yang sedang saya pertanyakan ke dalam sudah sejak lama. Dan pernyataan sekaligus jawaban ustadz saat itu memberikan pencerahan bagi hati dan pikiran saya. Beliau mengatakan bahwa jadilah manusia bukan sekedar pencari nafkah. Kebanyakan orang-orang setiap pagi jika pergi ke tempat kerja masing-masing jika ditanyakan ”mau kemana?”, jawabannya adalah : ”kerja”. Padahal untuk apa sebenarnya manusia itu hidup, beliau mengatakan ada 3 hal :
1. Ibadah
2. Menjadi Khalifah/Pemimpin di muka bumi
3. Membawa Kemaslahan/Manfaat
.
Jadi, jika boleh kembali ke 2 pertanyaan di atas ditanyakan, kira-kira apa yang akan kita pilih? (*) jika di kantor merasa bosan maka kalau diniatkan untuk ibadah maka akan mendapat pahala, sehingga energi negatif pun berubah menjadi positif   (*) jika dalam masyarakat atau orang lain membuat kita kecewa maka giring diri kita untuk memberi manfaat kepada sekitar dengan melakukan perubahan sedikit demi sedikit (*) jika kita menjadi manusia yang egosentris dan selalu menuruti keinginan/nafsu maka teruslah berusaha untuk membimbing diri dan menjadi pemimpin bagi diri sendir. Ternyata 2 pertanyaan itu jika dikaji mendalam susah juga ya penerapannya, semoga dengan bertambahnya usia dan ilmu kita maka akan semakin menambah pula amal dan pemahaman kita.

Nah, bagaimana caranya untuk bisa menang melawan diri sendiri :

1. Manusia telah diciptakan dan dirancang untuk menjadi ”wakil Allah” di bumi :
(-) Rancangan Allah tidak mungkin salah
(-) Gagal adalah hal yang IMPOSSIBLE, karena menyatakan gagal sama saja dengan MERAGUKAN Allah. Bagaimana supaya tidak gagal –>  HILANGKAN kata ’gagal’ dalam input sehingga mindset kita bersih dari kegagalan
(-) Bekerjalah dengan ikhlas sesuai dengan kompetensi yang kita miliki; saat mejadi guru jadilah guru yang baik yang mampu menjadi ”wakil Allah” sebagi pemberi ilmu, saat menjadi sarjana komputer atau yang menyukai dunia IT jadilah profesional yang baik dan bermanfaat , saat menjadi petani jadilah petani yang ikhlas

2. Karena hasil akhir HANYA bisa diprediksi maka potensi manusia menjadi tidak terbatas
(-) Jika seandainya kita tahu nanti akan menjadi apa atau akan dengan siapa? Kira-kira apa yang akan kita lakukan ? kalau yang enak-enak dan sesuai harapan tentunya kita akan senang dan berleha dan bersantai-santai serta tidak akan mempergunakan kesempatan hidup yang telah diberikan oleh Allah, kalau tidak sesuai harapan maka kita akan sedih dan bermuram durja.
(-) Kemarin saya membaca surat Al-Hadid dan artinya (lokasinya setelah surat Ar-Rahman, Al-Waqiah, silahkan dibaca-baca), dan baru saat itu saya agak mengerti dengan pernyataan nomer 2 ini (maaf saya lupa pastinya ayat yang ke berapa, yang jelas yang akhir-akhir, 20-an ke atas) : disebutkan bahwa setiap kejadian yang menimpa manusia dan bumi ini sudah tersimpan dalam kitab lauh mahfudz (lanjut ke ayat selanjutnya) supaya manusia tidak bersedih hati mengenai apa-apa yang luput darinya dan tidak sombong/membanggakan diri mengenai apa-apa yang didapatkannya
(-) Lah justru itu kenapa hidup itu misterius dan tidak logis, karena Allah ingin selalu menjaga ketaatan dan melindungi mahluknya. Coba kalau tidak misterius, kalau Einstein tahu sejak kecil dia akan menjadi seorang penemu kelas dunia, tentunya dia tidak akan repot-repot melakukan percobaan dan saat kecil dia sudah membuat pengumuman ke seluruh penjuru dunia bahwa dia adalan sang penemu. Seperti diutarakan oleh Ustadz Arifin Ilham tadi pagi bahwa ”tunggu saja waktunya”. Beliau mengingatkan lagi bahwa kesabaran adalah ikhtiar dan bukan diam. Diamnya kita adalah do’a, karena do’a adalah senjatanya orang beriman. Dan ingat bahwa pertolongan Allah sangaaatttt dekat, bukan pertolongan orang tua, boss, sahabat, teman, saudara dan lain-lain. Karena pertolonganNyalah kita didekati oleh keluarga, teman, sahabat, saudara dan orang yang tak diduga-duga. *inilah skenario Allah*

3. Fokuslah pada sesama, jangan hanya menjadi manusia egois yang merasa jago kandang dan paling hebat
(-) jangan selalu berpikir dan mengatakan ”saya dapat apa”
(-) tapi berpikir dan katakanlah ”apa yang bisa saya lakukan/bantu?”
(-) dengan berfokus pada sesama maka kita akan menjadi manusia yang berpikir besar untuk mimpi bersama
(-) dengan menjadi manusia yang egois maka kita hanyalah sekedar komoditi

4. Kebaikan yang akan mendatangkan keberuntungan. Bukan keberuntungan yang menyebabkan seseorang menjadi bersikap baik
(-) Dalam postingan saya kemarin dalam versi bahasa Madura yang berjudul ”3 Unsur Ngeba Dha’ Kagampangan (= 3 Unsur yang membawa pada kemudahan hidup)”, yaitu : orang yang suka memberi, orang yang bertaqwa dan orang yang melakukan kebaikan
(-) Selain itu apa lagi kebaikan yang lain yang kadang sering kita abaikan, ini juga salah satu kiat yang diberikan oleh sang ustadz supaya diberikan kemudahan dalam hidup : 1. Sholat Tepat Waktu 2. Tahajjud  3. Ibu. Wow, susahnya, tapi harus terus belajar, berusaha dan mencoba.
(-) Dengan banyak berbuat baik, maka akan semakin mengasah keikhlasan kita dan perlu diingat bahwa Energi yang terbaik dalam diri manusia adalah Ikhlas.

Saat berperang melawan musuh sudah jelas lawan dan kawan kita siapa. Tetapi saat berperang melawan diri sendiri tidak bisa dibedakan antara yang kawan dan lawan. Sehingga benar bahwa perang yang paling dahsyat adalah perang melawan hawa nafsu, dan untuk melatih ini mari kita coba dengan berpuasa sunnah. Semoga dalam setiap konflik yang hadir dalam diri kita, kita bisa tampil sebagai pemenang. Yaa Nuur, mohon penerangMu, Yaa Rasyid Yaa ’Ilmu mohon bimbingan dan IlmuMu…Amin Yaa Mujib.

“Menghindari konflik itu pilihan, menghadapi konflik itu keharusan”

Belajar dan Terus Berusaha,

– Selamat Bertarung, Semoga Menjadi Pemenang –

 

 

 

 

 

 

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s