Menjadi Manusia Pilihan Dengan Jiwa Besar

Alhamdulillah,

Setelah beberapa lama parkir di folder pribadi terpublish juga catatan konversi ini. Judul ini didasarkan atas taushiyah yang disampaikan oleh Bapak Muhammad Thohir, SpKJ pada tanggal 24 Oktober 2010. Inilah catatan ala saya yang bisa saya bagikan kepada para pembaca blog ini, selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Pembuka :
(1) Mental rohaniah jauh lebih berharga dari fisik- jasmaniah
(2) Tidak ada orang yang mau mengaku sakit rohaniah, tapi banyak yang mengaku jika sedang sakit jasmaniah seperti : saya sedang batuk, flu, pusing dan lain-lain. Sementara ketika ditimpa sakit hati, putus asa, hilang semangat, iri, dengki, sombong, kecewa dan sejenisnya banyak yang menyembunyikannya * ini nyindir saya loh ya*
(3) Bangunlah JIWANYA, bangunlah badannya (lagu Indonesia Raya ini) –>  karena di dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang sehat
(4) UJIAN HIDUP harus disikapi sama dengan UJIAN AKADEMIK
(5) Mengenai PsikoSpiritual, yang dalam hal ini adalah Al-Qur’an :
5.1 Al Qur’an –> Pelajaran dari Tuhan : 1. Motivasi Belajar-Mengajar, 2. Memperhatikan, 3. Memikirkan, 4. Meneliti, 5. Menggali Ilmu, 6. Sebarkan Ilmu , 7. Cari dan Cintai Kebenaran. Point no 2, 3 & 4 merupakan fenomena alam dan manusia.
5.2 Al Qur’an –> Obatnya agar jiwa itu : Segar, Tegar, Tentram, Stabil , Matang/Dewasa
6. Tentang Paradigma Sehat & Sakit :
6.1 Sehat

  • Dalam Menghadapi Masalah : Sadar, Rasionil, Objektiif, Realistik, Sabar, Tawakkal
  • Jika Sukses  akan mendapatkan  : Puas, Percaya Diri, Pengalaman, Pematangan, Pendewasaan –> SDM yang efektif, produktif, efisien, sehat jiwa, IQ optimal, EQ berkembang, SQ semakin tajam
  • Jika Gagal akan mendapatkan : Dimaknai sebagai –> belum berhasil, introspeksi, koreksi, pengalaman, pematangan, pendewasaan

6.2 Sakit

  • Mekanisme pembelaan ego : emosional, subjektif, non realistik, tanpa disadari
  • Jika Sukses : tidak ada kecemasan, tidak menambah pengalaman dan pematangan
  • Mengalami disharmoni mobilitas jiwa dan fisik
  • Ingat : “Orang beriman yang kuat dan sehat lebih disukai Allah dibandingkan orang beriman yang lemah” *Amin Yaa Syifa, Semoga kita semuanya senantiasa dianugerahkan kesehatan jasmani dan rohani*

I S I

10 (Sepuluh) Langkah menuju jiwa sehat
(menurut pandangan Islam dan WHO-World Health Organization, Organisasi Kesehatan Dunia PBB) :

1. Membiasakan diri memilih yang benar walaupun sulit
– Ujian-ujian hidup selalu ada dan hadir –> Jadikanlah sebagai mitra tanding untuk membangun mental yang matang, sehat dan kuat
– Bergumul dengan permasalahan, kesulitan dan ujian : merupakan imunisasi kejiwaan. Mulanya agak “sakit” selanjutnya akan sehat dan kuat
– Internalisasi nilai : Al-Baqarah (147, 155 & 156), Al-Hadid (22-23)
(Al-Baqarah 155) : Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
(Al-Hadid  22-23) : Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.
Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.

– Menurut WHO : seseorang itu sehat jiwa bila ia dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan yang buruk.

2. Menikmati dengan puas dan mensyukuri apa yang dimiliki (dalam jangkauan)
– Semua kerja dan usaha pasti ada hasilnya
– Milik kita di dua wilayah :
a. di luar diri (uang, barang, fasilitas – lebih mirip fatamorgana)
b. di dalam diri (jantung, mata, otak, ilmu, kesehatan, kompetensi-kompetensi)
– Uang banyak di tangan belum tentu milik kita, tapi uang yang diberikan ke orang lain sudah pasti milik kita *mari bersedekah dan berinfaq !!!*
– Internalisasi Nilai : Ibrahim 7 “Lainsyakartum laadzidannakum … “= …”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azab-Ku saangat berat”
– Menurut WHO : seseorang itu sehat jiwa jika ia dapat merasakan kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya

3. Membiasakan diri untuk berbagi dan peduli. Mengubah paradigma dari penerima menjadi pemberi
– Potensi dan kelebihan diri harus digunakan untuk berbagi
– Berbagi dan memberi adalah hadiah bagi diri sendiri
– Paradigma memberi : uang, tenaga, waktu, ilmu, perhatian, kasih sayang, senyuman     * untuk semuanya🙂 *
– Paradigma menerima : mengambil, mencuri, korupsi
– Internalisasi nilai : Ali Imron 135,  Al-Baqarah : 177,  Al-Lail 18-21
(Al-Baqarah 177) : kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke arah barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin , orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk  memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.

* Jadi yang namanya kebajikan itu bukan hanya sholat (ibadah mahdah saja), tapi dimensi dan sisinya banyak. Sholat saja, atau puasa saja tidak cukup mengklaim diri seseorang atau diri sendiri itu baik
– Menurut WHO : seseorang itu sehat jiwa bila ia merasa lebih puas untuk memberi daripada menerima

4. Membiasakan untuk berpikir dan berdzikir
– Manusia menjadi unggul karena berolah fakir
– Internalisasi nilai : Ali Imron 190-191, Ar Ra’du 28
(Ar Ra’du 28) : yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

– Menurut WHO : seseorang itu sehat jiwa bila ia relative bebas dari ketegangan dan kecemasan

5. Membiasakan kerjasama dan bersinergi tolong menolong
– Potensi kelebihan disinergikan dengan potensi kelebihan orang lain
– Semangat interaksi : cara memberi guna kepada sesama
– *Maaf, yang internalisasi nilai tertinggal *
– Menurut WHO : seseorang itu sehat jiwa bila ia dapat berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong saling memuaskan

6. Belajar melihat hikmah di balik musibah
– Menurut WHO : seseorang sehat jiwa bila ia dapat menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran di kemudian hari
– * ckckckck, maaf lagi ketinggalan slide*

7. Membiasakan untuk memberi reaksi positif walaupun terhadap aksi negatif
– Internalisasi nilai : Fushilat 34 –> “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia”
– Menurut WHO : seseorang sehat jiwa bila ia dapat mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif

8. Menyebar kasih sayang seluas-luasnya
–  “Sayangilah mereka yang di bumi, engkau akan disayangi oleh yang di langit” Hadits Rasulullah SAW           *like this*
–  Jangan memandang remeh sesuatu yang kecil
– Internalisasi nilai : Al-Balad 17 –> “Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”
– Menurut WHO : seseorang sehat jiwa bila ia mempunyai rasa kasih sayang yang besar

9. Membersihkan hati dari sampah pergaulan
– Memaafkan adalah langkah elegan untuk membersihkan hati dari sampah pergaulan
– * injury time, jadinya di point ini banyak yang ketinggalan, maaf *

10. Tidak marah kecuali untuk mengingatkan, tanpa diberi muatan emosi. Marah sebagai tugas bukan pelampiasan emosi
– Internalisasi Nilai : An-Naziat 40-41 –> “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya. Maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)”

SEDIKIT SIMPULAN (berdasarkan pertanyaan peserta):
** Menghilangkan marah, bukan menyimpan marah supaya tidak menjadi penyakit *Jujur : “rada susah ya Dok?”*
** Jiwa yang tenang –> tak tergoyahkan oleh kegagalan, dan tak teperdaya oleh kesuksesan = bersikap TENANG-TENANG SAJA (klo kata bahasa personal saya “Biasa aja kali ya”)

Dari pertemuan ini, saya bisa memaknai dengan hati instrument sang Yanni-Adagio C Minor : “Super sekali” *curhat colongan*

– Senangnya bisa berbagi tulisan ini, semoga berguna bagi kita sekalian-

 

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s