Seorang Ibu di Titik Nol Bersama 2 Belahan Jiwanya

Alhamdulillah,

Maiin Keranjang2an

Selesai menunaikan sholat isya’ berjemaah, pada saat akan menuju pintu keluar samping Masjid tercinta di dekat rumah-di kampung tercinta, saya pun berbasa-basi sedikit dengan sang marbot (baca: penjaga masjid) yang bersiap-siap menutup pintu-pintu masjid dan mematikan beberapa lampu yang ada di dalamnya. Dalam basa-basi itu saya melakukan konfirmasi atas pernyataannya terkait kondisi salah seorang keponakan perempuan saya yang katanya sedang sakit dan sudah beberapa hari ini pulang dari pondok. Setelah beberapa saat tepat akan menuju tempat sandal saya, terlontar pernyataannya yang agak saya cuekin tapi saya mendengarkannya dengan baik : “ada tamu perempuan di luar dari Kangean-Sumenep nginap di Masjid, bawa anak 2”. Mendengar itu, saya pun kaget dan langsung menuju ke luar dimana perempuan itu duduk dan beristirahat. Sambil berjalan, saya pun menanyakan sang marbot : “perempuannya masih muda apa sudah tua?”, sang marbot menjawab : “kayak istri saya”. Saya pun bertemu dengan perempuan itu dan alangkah terenyuhnya saya ketika melihat 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil itu. Setelah berbicara sebentaran bersama sang ibu, saya pun menyapa anak-anaknya dan mengajak keduanya bersalaman. Seketika itu juga, saya langsung menawarkan diri untuk bermain dan bermalam di rumah saja, jangan di masjid, nanti kedinginan, kasihan anak-anaknya. Salah satu anaknya langsung mengiyakan dan meminta saya untuk dibawanya ke rumah saya. Saya elus-elus rambt mereka berdua dan sedikit bercengkrama. Mereka adalah laki-laki dan perempuan, yang laki-laki adalah yang tertua. Sesaat setelah itu saya, sang marbot dan sang ibu duduk dan mengobrol sebentar untuk menanyakan perihal kehadiran beliau di sana dengan membawa kedua anaknya.

Sang ibu pun bercerita, jika beliau saat ini sedang dalam masalah besar dan putus asa dikarenakan suaminya berselingkuh dan beliau juga sudah menggugat cerai suaminya. Maaf, saya agak lupa ini sudah sidang yang ke berapa. Berikut obrolan kami :
Saya : Kok ibu bisa sampe di sini, kan Kangean itu jauh bu?
Ibu : Iya Kangean memang 8 jam dari Sumenep, jadi dari kota Sumenep nyebrang dulu ke Kalianget, habis itu nyebrang lagi , baru sampai ke pulau Kangean
Marbot (Om Pepen) : Di deket rumah tetangga yang itu Is
Saya : Lah, Bapak itu bukannya Kalianget
Om Pepen : Iya sama kayak Mbak Tini (Istrinya, red)
Saya : Sekarang tujuan Ibu mau kemana dan kenapa bisa sampai di sini?
Ibu : Saya mo ke Jogja, tapi anak saya nangis-nangis terus di bis, karena malu sama penumpang yang lain, makanya saya pun turun dari bis (tepatnya di embong miring), kemudian saya cari masjid terdekat untuk menginap
Saya : Loh, kenapa nangis Bu?
Ibu : Dia gak mau mbak
Saya : Ke Jogja tujuannya kemana? ada saudara di sana?
Om Pepen : Gak bawa tanda pengenal atau sejenisnya?
Ibu : Tanda pengenal saya ada di Kangean semua pak buat mengurus cerai saya. Di Jogja juga sudah habis semua kena letusan gunung Merapi, rumah saya di Cangkringan
Saya : Ibu nginap aja di rumah saya, gak ada orang kok di rumah
Ibu : Gak mbak, saya di Masjid saja, pengen tenang, mo tahajjuddan
Om Pepen : Iya nginep aja di sana, ada kamar kosongnya
Ibu : Gak usah pak, saya di sini saja, saya sudah biasa, dulu pas di sana saya juga tidur di Masjid, saya gak kuat dengan kelakuan suami saya yang selingkuh
Om Pepen : Emang kerjaan suami ibu apa?
Ibu : Guru Pak
Om Pepen : kan sudah enak itu
Ibu : tapi selingkuhnya di depan saya sendiri Pak
Saya : (diam terpaku dan speechless mendengarkan dan memperhatikan rona dan lisan sang ibu, saya pun perhatikan kedua anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu)

Tiba-tiba si anak laki-laki itu memanggil saya “Mbak, ayo katanya mo maen ke rumah mbak”, saya : “Ouw mau, ayok ayok, nanti saya anterin lagi ke sini, makan mie dulu yuk di rumah, rumahnya deket kok dari masjid”. Tanpa takut dan curiga terhadap saya sang anak mulai memakai sandalnya untuk bersiap-siap ke rumah saya dan sang ibu hanya pasrah tak berdaya tanpa banyak bertanya. “Jangan lewat situ dik, lewat samping aja, rumah mbak lewat pintu samping, klo lewat pintu depan masjid agak jauh, sandalnya di bawa aja, nanti dipakai lagi di luar”. Kami pun menuju pintu keluar samping Al-Falah, dan ibunya mengatakan “adiknya gak dibawa?”, sang abangnya pun mengatakan “boleh mbak bawa adikku?”, saya :”boleh dunk, ibunya diajak aja (sambil melihat ke ibunya)”, ibu :”gak usah mbak, saya di sini saja”. Adiknya yang perempuan pun ikut ke rumah.

Saat sandal sudah saya kenakan dan si Tegar juga akan mengenakan sandal, tiba-tiba saya menanyakan mereka “loh sandal adiknya mana?”, Tegar :”di depan”, Saya: “terus siapa yang gendong?”, dengan polosnya Tegar menjawab “Mbak yang gendong”, saya pun kaget karena saya masih dalam keadaan mengenakan mukena (tapi yasudahlah, positif saja dia sedang tidak pipis dan sejenisnya) dan secepat kilat saya respon pernyataannya dengan mengatakan “Ok”. Kami pun menuju ke rumah, dalam  perjalanan di rumah sepupu dari Bapak yang kebetulan sedang diadakan acara pengajian, beberapa orang bertanya :”anaknya siapa?”, saya hanya menjawab dan cepat-cepat berlalu dari kerumunan itu supaya tak banyak intergosi dengan mengatakan “anak saya”.

Sesaat akan sampai di rumah, Tegar bertanya “mbak, rumahnya yang mana?”, saya : “itu yang di depan”. Saya (lagi) : “buka pagar dulu ya, sampai juga di rumah, nah Tegar sama Citra duduk di kursi dulu ya, aku mau lepas mukena dulu”. Mereka :”takut mbak”, saya :”ya udah, aku ambilin makanan sama minum dulu ya, sambil nunggu aku dimakan dulu ya”. Baru saya jalan ke dalam rumah beberapa langkah, mereka sudah mengikuti saya dan bermain-main di dalam rumah “Mbak banyak mainannya ya”, saya pun melirik “mainan apa ya?”, ternyata yang mereka anggap mainan itu adalah kalkulator dan celengan tweety bird. Melihat wajah mereka berdua, tak tega rasanya kalau kelamaan saya tinggalkan, maka dengan melepas bawahan mukena, saya melanjutkan membuatkan mereka pop mie dan alhamduillah dispenser masih hidup “emang rejeki dan kelancaran suatu urusan ada yang Maha Mengatur”, saya pun mengatakan kepada mereka “mienya jangan dimakan dulu, tunggu dulu sampai masak, kita tutup dulu yuk sama buku biar gak masuk angin. Tegar, tolong ambilin buku di lemari itu”, si Tegar menjawab:”takut mbak”. Aduh, takut mulu deh dari tadi, mau diapain lagi namanya juga anak kecil.

Karena ruwet dengan atasan mukena saya, saya pun masuk ke dalam dan berganti kostum, lagi-lagi mereka mengikuti saya dan pada saat beberapa detik memasuki ruangan lain di rumah mereka main-main keranjang untuk cucian sambil tertawa bersama “kasian 2 anak itu”. Setelah selesai kami pun ke teras lagi menyaksikan mie-mie yang sudah masak. Selagi menikmati mie yang panas itu, si anak-anak laki-laki itu mengatakan kalau ibunya tak punya uang untuk ke Jogja. Jelas saja saya kaget mendengar itu, karena sebelumnya sang ibu mengatakan jika ia turundari bis karena anaknya nangis-nangis. Saya hanya merespon dengan senyuman pada saat sang anak curhat demikian.

(Saatnya kembali ke Masjid bertemu sang Ibu). Mie-mie yang sudah dibuat tadi, tidak dimakan di rumah tapi mereka mengatakan ingin di Masjid bersama ibunya. Saya : “ok kita bawa semua makanannya ke Masjid, aku cari plastik dulu”, Tegar dengan kritis mengatakan :”gimana bawanya, kan mbak nanti gendong Citra, kalau aku semua yang bawa kan gak bisa”, saya :”kan pake plastik, jadi bisa dimasukin semua dan gk bikin tumpah”, ia pun menambahkan lagi:”mbak nanti bawa kameranya lagi ya, kita foto-foto di Masjid bareng Ibu”. Saya pun membawa kamera dan menggendong lagi dengan kondisi yang agak tidak ribet dengan mukena, lagi-lagi pertanyaan hadir dari sepupu: “mbak, anaknya sapa?”, saya :”anak saya”, mereka : “sejak kapan”, saya :”sejakarta”, mereka pun tertawa. Saat akan sampai di Masjid Tegar pun mengatakan “aku sama adikku kan anaknya Mama”, saya : “iya, aku juga tahu”

Sesampainya di masjid, kami pun menghampiri sang ibu dan tegar pun bercerita pengalamannya selama di rumah dan dalam perjalanan. Satu hal yang paling saya ingat kata Tegar :”Ma, masak katanya aku anaknya mbak”, ibunya pun tersenyum mendengarkannya dan sambil membuka bungkusan plastik yang dibawa dari rumah. Sang Ibu menyuapi anaknya yang perempuan, sedagkan Tegar makan sendiri. Di tengah-tengah itu, sang ibu curhat ke saya dengan mengatakan bahwa dia sudah putus asa dan tidak tahu harus kemana. Dan saya pun  mencoba mengklarifikasi pernyataan Tegar di rumah “emang bener ya Bu ibu gak punya uang buat ke Jogja”, sang ibu sambil menangis mengatakan : “iya, tadinya saya sudah mengajak anak-anak buat bunuh diri, tapi karena Tegar mengatakan dosa makanya tidak jadi”, saya (pengen nangis juga sebenarnya, tapi menahan air mata pada saat mendengar curahan dan jeritan hatinya): “sabar ya Bu, insyaAllah ada jalan keluarnya, banyak berdo’a ya Bu, Allah gak akan membiarkan 2 orang anak Ibu ini kelaparan, akan selalu ada rezeki buat mereka”, Ibu (sambil meneteskan air matanya) : “iya, anak-anak kemarin seharian gak makan”, makin kaget saya dibuatnya dan saya menanyakan langsung ke Tegar : “emang kemarin gak makan, emang kuat gak makan”, Tegar : “klo aku lapar, aku minta nasi sedikit sama orang”. Tiba-tiba si Tegar minta disuapin mienya ke saya “Mbak, aku suapin ya”, saya agak-agak bingung dan salah tingkah gitu lalu mengatakan “ouw iya, mbak suapin sini, enak kan ya Mienya?”
***
Begitulah kurang lebih, cerita menyentuh hati yang saya dapatkan dan alami sendiri yang dialami oleh seorang Ibu yang tengah berada di titik nol. Setiap orang punya persepsi sendiri atas cerita yang saya sampaikan ini, semoga persepsinya bisa menyentuh hati dan jiwa para pembaca sekalian. Hanya air mata dan kepasrahan yang ada dalam diri ibu tersebut. Allah menyelamatkannya melalui kedua belahan jiwanya yang dengan sabar, setia dan ceria menemani rintihan dan pilu sang ibu. Jangankan seperti itu, terdampar beberapa jam saja di Jogja karena tidak mendapatkan hotel membuat seluruh syaraf-syaraf mengendor, apalagi ibu tersebut. Semoga ibu tersebut diberikan kesabaran dan dimudahkan jalannya dan digantikan setiap air mata yang keluar darinya dengan kebahagiaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan yang terpenting lagi semoga mendapatkan pengganti apapun yang hilang darinya dengan yang lebih baik. Semoga kita semua diijauhkan dari sifat yang tidak baik dan tercela. Semoga Tegar dan Citra menjadi anak yang sholeh(hah), sukses,mulia dan jauh dari sifat tercela…Amin yaa Mujib.

– Love Tegar & Citra, my little kids –

 

 

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s