Asik Juga Belajar Motor Maskulin

Alhamdulillah,

untung yang punya lagi tidur

Sore tadi setelah beberapa saat nongkrong untuk mengisi perut dengan aneka jajanan khas di sekitar rumah, saya pun mampir sebentar di rumah seorang sepupu. Karena malas untuk duduk karena kondisi perut yang perlu dikurangi pasokannya, maka saya pun berdiri dan seperti biasa mencari keisengan dengan melihat-lihat sekitar. Apa daya, tepat di depan si “kuning” yang saya parkir terlihat si “biru” maskulin yang sedang diam seribu bahasa.

Sembari mantengin kondisi si biru, saya pun tertantang untuk mencoba mengendarainya sambil mengatakan dalam hati “masak gak bisa yang beginian?”. Saya pun mengukur ketinggian saya dengan motor tersebut dan alamak ternyata cukup kompatibel tinggi badan saya. Maka saya pun mengatakan ke sepupu saya “ada kuncinya niy?”, si dia pun membalas “kyknya nempel di motornya”, karena tak ada di motor maka saya memintanya untuk mengambil kontak motornya. Rada kurang pede sebenarnya dan takut juga karena sebelum-sebelumnya belum pernah mengendarai motor maskulin, dulu pernah tapi semi maskulin. Dan inilah maskulin yang pertama kali yang baru saya kendarai. Dengan memancing nyali, sang istri yang punya motor pun mengatakan “mbak fifikmu aja bisa pake motor segala rupa, masak kamu gak bisa”, “alamak, saya dibandingin sama si dia, kan dia emang jagoan neon, wong yang ngajarin abang saya naek motor sampe nabrak-nabrak tiang segala itu salah satu kegemarannya apalagi yang begituan”menurut saya.

Sebelum menyalakan motornya saya  belajar sendiri mengoperasikan giginya dulu dengan sambil menanyakan kalau masuk 1, 2, 3 dan 4 seperti apa. Rupanya, sepupu saya sudah bisa mengendarai sepeda motor maskulin, namun karena sedang hamil makanya dia hanya memberikan panduan sekilas saja. Selanjutnya saya mundurin motornya dan bergerak berlawanan dengan posisi motor yang sedang saya parkir “tak berat ternyata, cukup ringan juga motornya”. Kemudian saya tes kopling dan remnya “ok, jalan”. Ouw ya tak lupa saya matikan lampunya karena mengganggu pandangan. Ok selanjutnya menyalakan motornya dan mulai bergerak lalu melangkah dan apa yang terjadi? motornya hidup mati, mati hidup dan tidak jalan-jalan. Di tengah-tengah itu, saya pun mencoba mempelajarinya “kenapa bisa demikian?”, “yah saya terlalu cepat ingin melangkah padahal konfigurasi antara kopling dan gasnya masih belum saya pahami dengan baik”. Ya ya ya, rupanya inti dari motor jenis ini adalah : saat gigi akan dimasukkan tekan koplingnya lalu perlahan-lahan lepaskan koplingnya dengan sambil membuka gasnya. Kalau sudah berjalan lepaskan kopling dan tancap gasnya “Yihaaaa, berhasil!!!!, satu putaran pertama gagal karena motor sering hidup mati dan putaran kedua motor agak stabil meski dengan kondisi gigi 1” *Alhamdulillah, pelajaran baru*.

Saya pun mengatakan kepada sepupu saya yang ada di situ “pantes saja anak cowok cepet banget belajar nyetir mobil soalnya sudah terbiasa menggunakan teknik semacam ini”. Saat belajar menyetir mobil kita pun akan selalu berhubungan dengan gas, rem dan kopling. Bedanya dengan motor maskulin adalah semuanya bertumpu pada tangan, sedangkan pada mobil kebanyakan bertumpu pada kaki.

Ok, sekian cerita ilmu baru untuk saya dan semoga bisa mencoba lagi di kesempatan yang lain (setiap ada motor maskulin yang nganggur tes drive dulu). Seperti kata bapak saya “Ala BISA karena BIASA”.

– Salam Anak Motor –

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s