Saat “Aktualiasasi Diri” Diekspresikan

Alhamdulillah,

” Manusia bukanlah mahluk ciptaan lingkungan. Lingkunganlah yang merupakan ciptaan manusia. Kita adalah agen-agen bebas”

Beraktualisasi diri ala anak kecil "berani, spontan & tanpa malu2"

Apa kabar semua para pembaca sekalian? semoga sehat, bahagia, tenang dan dilimpahkan kesyukuran dalam hidup. Karena itulah yang tidak bisa dibeli dengan uang, jadi meski hanya memiliki materi yang terbilang sangat cukup dengan dilimpahkan yang saya sudah sebutkan tersebut maka sudah dikategorikan dengan orang yang kaya.

Saat membicarakan tentang aktualisasi diri, kira-kira kata-kata apa yang cukup mewakilinya? saya ingin memulai dari saya ya, saya kira beberapa kata berikut mewakili yang namanya aktualisasi diri; Eksis, Narsis, Gaul, Nongkrong, Kumpul-Kumpul dan beberapa kata yang lain. Bagi setiap individu, bentuk aktualisasi dirinya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini merupakan cerminan dari adanya perbedaan individual. Aktualisasi diri (need for self actalization) adalah kebutuhan manusia paling tinggi, hal ini didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Maslow, seorang pakar humanistik. Beliau mengakui bahwa untuk mencapai taraf aktualisasi diri tidaklah mudah, sebab ke arah itu banyak sekali hambatannya. Hambatan  tersebut antara lain adalah :
(1) Pertama, berasal dari individu (baca: ketidaktahuan, keraguan, rasa takut) sehingga potensi tetap laten.
(2) Kedua, berasal dari luar atau masyarakat, yang selain berupa kecenderungan mendepersonalisasi individu, juga berupa perepresian sifat, bakat atau potensi-potensi. Terkait dengan ini, Abraham mencontohkan adanya masyarakat dan streotip budaya.
(3) Terakhir, berupa pengaruh negatif yang dihasilkan oleh kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman yang kuat, pengambilan resiko, pembuatan kesalahan dengan pelepasan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak konstruktif. Karena itulah mendorong individu untuk bergerak menuju kebutuhan akan aman. Bagaimana menghadapi semua itu? Perlu KEBERANIAN!!!.

Menurut Maslow, untuk mencapai orang yang self-actualized terdapat 15 ciri. Menurutnya, ciri-ciri itu tetap memiliki arti penting; yaitu sebagai standar untuk mengukur kemajuan diri dan perbaikan diri. Inilah ciri-cirinya:
(1) Mengamati realitas secara efisien; melihat realitas dengan cermat dan apa adanya tanpa adanya interfensi keinginan atau harapannya.
(2) Penerimaan atas diri sendiri, orang lain dan kodrat; menaruh hormat kepada dirinya (self-respect) dan orang lain serta  menerima kekurangan dan kelebihannya.
(3) Spontan, sederhana dan wajar; hal ini bersumber dari dalam pribadinya dan bukan sesuatu yang di permukaan sehingga memiliki kode etik yang relatif otonom dan individual serta tidak lebay/berlebihan.
(4) Terpusat pada masalah; bukan berari egosentris atau selfish, melainkan berorientasi pada masalah melampui kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri.
(5) Pemisahan diri&kebutuhan privasi; dalam perggaulan sosial orang yang self-actualized sering dianggap memisahkan diri, hati-hati dan sombong karena kebutuhan privasinya lebih besar daripada kebutuhan privasi kebanyakan orang.
(6) Kemandirian dari kebudayaan dan lingkungan; tidak suka ikut-ikutan dan tidak gampang dicekoki oleh budaya yang tidak mendidik-irrasional. Mereka lebih bergantung kepada potensi-potensi mereka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan pertumbuhannya.
(7) Kesegaran dan apresiasi;kapan saja matahari terbit akan sama indahnya dengan terbitan pertama. Orang yang self-actualized mewujudkan kesanggupan untuk menghargai hal-hal pokok dalam kehidupan dengan rasa kagum, gembira bahkan heran, meski bagi orang lain hal itu membosankan.
(8) Pengalaman puncak atau pengalaman mistik; diperoleh dari kreativitas, pemahaman, penemuan dan penyatuan diri dengan alam.
(9) Minat sosial; mengalami ikatan sosial mendalam dengan sesamanya dan dengan siapa saja. Meskipun terkadang dibuat kecewa, sedih dan marah oleh lingkungan/masyarakat. Namun hasratnya yang tulus tetap terjaga untuk membantu memperbaiki sesamanya.
(10) Hubungan antarpribadi; cenderung menciptakan hubungan antarpribadi yang lebih mendalam dan dekat dibandingkan dengan kebanyakan orang, khususnya dengan orang-orang yang memiliki kesamaan karakter, kesanggupan dan bakat.
(11) Berkarakter demokratis; orang yang self-actualized cenderung bebas dari prasangka sehingga cenderung menaruh hormat kepada semua orang. Terlebih lagi, selalu bersedia untuk belajar dari siapa saja tanpa memandang derajat, pendidikan, usia, ras ataupun kepercayaan politik.
(12) Perbedaan antara cara dan tujuan; memiliki kemampuan membedakan antara cara dan tujuan dan umumnya terpusat pada kepada tujuan.
(13) Rasa humor filosofis; orang yang self-actualized menyukai humor yang mengekspresikan kritik atas kebodohan, kelucuan bahkan kecurangan manusia. Dan bukan humor yang kelucuannya bertolak dari kelemahan dan penderitaan orang lain.
(14) Kreativitas; Fleksibilitas, spontanitas, keberanian, berani membuat kesalahan, keterbukaan dan kerendahan hati. Bahkan lebih tidak malu-malu (malah sering malu-maluin) karenanya lebih ekspresif yang proporsional, wajar dan polos.
(15) Penolakan enkulturasi; bersifat otonom biasa dan berani membuat keputusan-keputusan  sendiri, bahkan meskipun keputusan-keputusannya itu berbeda atau bertentangan dengan kebanyakan orang.

Wow, menarik juga. Sudahkan kita termasuk dalam ciri-ciri di atas, sudah berapa nomer? yang mana saja?, Ok simpan saja ya jawabannya dan nikmati prosesnya. Karena orang yang sudah mulai memasuki pintu-pintu aktualisasi diri maka akan terlihat lebih objektif dan banyak mengalami akselerasi proses menuju kematangan dan kedewasaan sebagai seorang individu dan anggota masyarakat.

Sebagai bentuk aktualisasi diri atas bertambahnya usia saya beberapa hari yang lalu, maka tidak ada salahnya kalau saya menghaturkan syukur Alhamdulillah kepada yang telah menciptakan dan memberikan kehidupan kepada saya “Yaa Kholiq, Yaa Hayyu”, kepada keluarga, teman-teman, kerabat, tetangga dan “anak-anak” saya “terimakasih banyak atas do’a, harapan dan kado yang sudah diberikan, semoga diijabah dan diberikan balasan yang sebaik-baiknya”. Dan tak lupa kepada diri saya sendiri “terimakasih banyak atas keegoisan, kontrol dan pemahaman yang sudah diberikan, semoga menjadi semakin baik dan makin menghormati diri sendiri”.

...Simpulan…

  • Bahwa aktualisasi diri sebenarnya tergantung pada konflik kedalaman pemikiran, jiwa  dan hati setiap insannya.
  • Bahwa semakin dalam konflik batin seseorang maka semakin tinggi pula nilai aktualisasi seseorang.

“Orang-orang yang maju dalam hidup ini adalah orang-orang yang bangkit dan mencari lingkungan yang mereka inginkan, lalu jika mereka tak dapat menemukannya, mereka menciptakannya”(George Bernard Shaw).

-Selamat Ulang Tahun, Selamat Beraktualisasi Diri-

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s