Antara Saya & Anies Basweddan

Alhamdulillah,

Penggerak Indonesia Mengajar

Saat menuliskan ini, terus terang saya belum pernah bertatap muka dan berkenalan dengan penggerak generasi muda ini, yang saya tahu tentang dia adalah salah satu pengisi acara di MetroTV, dan berdasarkan cerita dari abang saya dia juga rektor muda di Indonesia, dan baru saja saya cari-cari di google kalau dia juga pernah menjadi ketua senat di UGM. Semoga melalui tulisan ini saya bisa bertemu dan berbincang dengan beliau.
Ketertarikan apa yang membuat saya menuliskan tentang beliau? tidak lain kepeduliannya terhadap dunia pendidikan di Indonesia melalui programnya Indonesia Mengajar (IM, red). Program IM mengirimkan sarjana-sarjana ke pelosok-pelosok desa seluruh Indonesia untuk berbagi ilmu kepada anak-anak bangsa supaya bisa meraih mimpinya. Terlihat kecil dan mungkin bagi sebagian orang yang kurang begitu mengerti pendidikan menganggap tidak ada kerjaan atau beberapa pandangan pesismistis yang lain. Tapi bagi saya, saya salut dan bangga kepada Anies Basweddan dan para sarjana muda yang dengan kerelaannya mengorbankan waktunya untuk memberikan warna positif bagi perkembangan generasi muda.
Hari ini, di kompas saya membaca tulisan yang berjudul “cerita tentang mimpi mengabdi negeri”. Beberapa isi yang membuat saya terinspirasi adalah sebagai berikut :
(1) Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi, dan berbinar menyaksikan kehadiranmu. Dan yang terpenting, Anda sebagai anak terbaik telah ikut—sekecil apa pun—mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka menjadi lebih cerah…. (Anies Basweddan)
(2)
Banyak di antara mereka (baca: pengajar muda) yang telah hidup mapan dengan gaji yang sangat memadai. Tetapi mereka kemudian banting setir, untuk sebuah mimpi bersama: ingin mengabdi kepada negeri tercinta, ingin menyatu dengan rakyat jelata. Mereka memutuskan menjadi guru SD di desa-desa tanpa listrik.
(3) Fresh graduate saat ini cuma punya indeks PK (prestasi kumulatif) tinggi, tetapi cara berpikirnya tidak terstruktur, cara bicaranya tidak sistematis (Anies Basweddan)
(4) Orang-orang bisa berdebat tentang pendidikan di televisi, di koran, tetapi itu tak akan mengubah apa pun, karena gurulah yang paling berperan mengubah kualitas pendidikan,” kata perempuan yang ditempatkan di Desa Totolisi, Kecamatan Senggara, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
(5)Biarlah kamu menjadi hal baru bagi mereka (murid-muridnya).

Jika Pak Anies dengan program IMnya, maka mbak IIS (saya, red…narsisnya ya, di blog sendiri ini) dengan Iis mengajar. Jika Anies Basweddan adalah penggerak para sarjana, maka di usia  saya yang masih separuhnya pak Anies saya hanya bisa menggerakkan diri untuk peduli terhadap pendidikan sekitar. Jika pada saat masa mahasiswa dulu Pak Anies  aktif di organisasi kemahasiswaan, saya juga tak jauh beda, yang berbeda adalah beliau di universitas negeri sedangkan saya di swasta (disadari bahwa dinamikan dan polemik organisasi kemahasiswaan di negeri jauh lebih beragam dibandingkan swasta).
Alhamdulillah kegiatan inti saya selama menjadi pengangguran adalah bersentuhan dengan dunia pendidikan, meskipun saya tidak sampai menyusuri pelosok-pelosok desa tapi ada beberapa dari pelosok desa yang menyusuri rumah saya. Murid-murid yang hadir di rumah berasal dari sekolah dan latar belakang yang berbeda. Ada yang dari sekolah pedesaan sampai perkotaan, mulai dari TK sampai dengan SMU. Walau tidak terlalu banyak jumlah muridnya, tapi dinamikanya banyak mengedukasi saya tentang arti kehidupan dan permasalahan pendidikan di Indonesia, dan yang terpenting adalah saya sudah mencoba untuk memulai langkah. Meski kedudukan saya bukan guru sekolah, tapi oleh mereka kadang dianggap melebihi guru sekolahnya karena apa yang saya berikan kepada mereka bukan sekedar jawaban atas soal yang diberikan tapi bagaimana memaknai sekolah dan pendidikan dari sudut pandang yang lain. Mereka yang sering kali tidak percaya diri dengan potensinya sering malu untuk bersuara dan berekspresi, lantas saya pun mengatakan kepada mereka “kamu belajar karena kamu tidak tahu, kalau kamu tahu kamu yang jadi guru”.  Mereka yang kadang takut berbuat salah jadi takut juga untuk bertanya dan maju ke depan untuk mengerjakan soal dengan mengatakan “Mbak, gak bisa, takut salah”, kemudian saya pun merespon : “semakin banyak kamu melakukan kesalahan, semakin banyak perbaikan yang kamu lakukan, jadi maju saja dan perlihatkan kesalahanmu”.
Kadang hal sederhana dan kecil yang kita lakukan tidak begitu dianggap karena kurang elit dan menjanjikan, “Kok lulusan S2 cuman ngajar anak-anak kecil, coba aja daftar jadi PNS” kata mereka yang mendewakan pekerjaan.  “Kenapa gak jadi dosen aja?”, kalau dosennya kurang berpengalaman dan terlalu instan apa jadinya dengan mahasiswanya. Biarkanlah burung berkicau, padi tetap harus berkembang dan dipanen.
Padahal mereka yang sadar akan sebuah regenerasi akan selalu melakukan hal kecil terlebih dahulu untuk kemudian mewujudkan hal besar. Kalau selalu dikaitkan dengan materi memang tidak akan ada habisnya. Dalam kesederhanaan saja banyak pertentangan, apalagi jika sudah melakukan hal besar maka angin pun makin kencang berhembus. Merintis dalam rintihan dan memberikan warna yang baru adalah bagian dari keindahan hidup. Banyak yang mengaku cinta kepada negerinya, tapi cintanya selalu dikaitkan dengan hal besar sehingga hal kecil di depan mata tidak terlihat. Kontrasnya lagi, banyak yang menghina bangsanya sendiri tapi masih tetap saja tinggal  tanpa memberikan perubahan sedikit pun yang berarti atau setidaknya menggerakkkan kesadaran dirinya. Pemuda dan pemerhati bergeraklah dan berikan sedikit yang bisa diberikan karena bangsa ini butuh perhatianmu. Biarkan pejabat-pejabat itu repot dengan urusan korupsi, kolusi dan nepotisme. Semakin kita tenggelam dengan urusan pejabat bangsa semakin terkikis masa depan generasi muda kita.
Pendidikan adalah investasi masa depan yang hasilnya tidak langsung terlihat sehingga bagi orang yang kesadaran pendidikannya tinggi akan sangat kagum dan terinspirasi melihat sepak terjang pengajar muda yang tergabung dalam Indonesia Mengajar. Jadi IPK tinggi apalah gunanya, jika hanya bagus di Ijasah. Seiring dengan tingkat pendidikan dan inteletualitas sudah saatnya untuk belajar berpikir secara sistematis dengan melakukan hal kecil dan sederhana yang memberikan manfaat jangka panjang bagi orang lain dan mimpi bersama.
Untuk Anies Basweddan dan para pengajar muda : “terimakasih atas kiprah dan perjuangan yang diberikan, semoga keteladanan yang telah kalian berikan mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi peradaban masyarakat di Indonesia melalui dunia pendidikan, memang tidak langsung terasa saat ini tapi beberapa tahun yang akan datang akan menjadi sebuah trend positif untuk para generasi muda yang lain”.

Ouw ya, saat ini sedang mengadakan kampanye Internet sehat dan bugar ke beberapa sekolah di desa bukan maksud bersaing dengan IM loh ya tapi memberikan warna baru saja dalam dunia pendidikan di desa saya, ada yang tertarik untuk bergabung atau ikutan?, sudah 2 sekolah yang kami kunjungi dan sedang mencoba untuk melobi beberapa sekolah yang lain supaya  sebelum para murid-murid mengenal Internet lebih jauh bisa hati-hati dan mawas diri sehingga bisa berinternetan secara sehat dan seperlunya. Do’akan lancar selalu.

– Sedikit tapi Bermakna –

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s