Warna-Warni Keluarga Ennyakku

Alhamdulillah,

Pasukannya masih belum lengkap

Satu-satunya hal permanen dalam hidup adalah keluarga, dimanapun dan kapanpun akan selalu merindukan eksistensinya. Tulisan ini merupakan buah inspirasi dari kebersamaan sepupu beberapa waktu belakangan, mulai dari olah raga bersama, bikin nasi uduk bareng untuk memeriahkan muharram yangg dari sini saya jadi tahu harga cabe itu mahal karena saya yang belanja ke pasar, rekreasi akhir tahun ke Sengkaling-Malang, kembali ke sekolah bersama, “ngekos” bareng di Malang meski semalem, bercerita masa-masa kecil yang sudah pernah dilalui, makan bersama dan banyak lagi yang lain.
Dahulu kala, tipikal saya rada beda dengan kakak-kakak saya yang kesehariannya menghabiskan waktunya di rumah sepupu (mulai dari bermain sampai makan), sementara saya lebih asyik di rumah dan bermain bersama teman-teman yang bukan sepupu. Cerita kakak saya (khususnya 2 orang kakak perempuan saya) tak jauh-jauh dari “perseteruan” dan update-an terbaru tentang para sepupu. Jadi kalau bisa dibilang sekali lagi; saya lebih dekat dengan sahabat saya dibandingkan dengan para sepupu saya meski saat masa kanak-kanak dulu (TK s.d SD) mereka adalah teman main saya. Saat itu, saya merasa benar dengan asumsi yang saya bikin sendiri “enakan berteman dengan orang lain dibandingkan dengan sepupu sendiri yang kadang kalau berantem suka lama dan pada ikut-ikutan juga yang lain, satunya membela yang ini dan yang lain membela itu” sehingga kehadiran saya di dunia persepupuan hanya diibaratkan sebagai tamu  yang jika mau apa-apa selalu ditawari, sedangkan kakak saya yang lain santai saja mau mengambil dan meminta apa-apa. Saat itu saya merasa ada jurang dengan sepupu, bukan karena saya berselisih, beda pendapat atau berantem tapi lebih kepada menjaga jarak saja supaya tidak berantem karena kadang-kadang kakak saya tertua pulang-pulang bawa cerita dan habis perang mulut. Nah, itu tuh yang bikin saya malas banget.
Tapi bukan berarti saat ini tipikal saya sama banget dengan kakak-kakak saya, tetap saja ada warna dan keunikannya. Seiring dengan berjalan waktunya saya makin memahami arti keluarga (termasuk di dalamnya ponakan, sepupu, paman, om, tante dan lain-lain). Sekembalinya dari Jakarta salah satu misi dalam diri saya adalah mendekatkan diri dengan keluarga; keluarga bapak dan ibu, karena saya sadari selama ini sayalah yang paling banyak tidak mengenal tentang silsilah keluarga. Berbeda dengan kakak-kakak saya yang begitu tenar di kalangan persepupuan sehingga ke sepupu yang jauh-jauh jangan pernah bertanya nama saya pasti sangat asing dan aneh, tapi kalau ditanya “adiknya Fifik, adiknya Jun atau adiknya Didin” beeuuh pasti banyak yang langsung tahu. Misi ini bukan untuk sekedar eksistensi tapi lebih kepada penyadaran diri bahwa “kemana saja dari dulu?, lihatlah ke belakang, siapa yang telah memberikan warna indah di masa kecil dulu?”, tanpa mereka berarti tanpa cerita dan tanpa romantika masa kecil. Di luaran boleh hebat kenal dengan semua orang dan orang dari suku manapun, tapi di dalam keluarga sendiri tidak tahu “coba deh sapa nurani dulu dan bersihkan cermin biar lebih terang lagi ngeliatnya!!!”.
Alhamdulillah, saat rute kehidupan harus diputar kembali ke Madura saya benar-benar merasakan begitu berharganya keluarga, bisa punya keluarga yang penuh warna dan banyak memberikan inspirasi hidup dalam perjalanan saya selama tidak di Madura. Memang terlihat biasa, namun kesederhanaan yang tersibak di dalamnya menyimpan sari kehidupan yang penuh makna. Dan saat ini pun, kehadiran bukan lagi sekedar tamu yang numpang absen tapi selalu dicari keberadaannya “kemana ya kok gak dateng, biasanya dia hadir bikin rusuh atau foto2in orang-orang”. Terimakasih sepupu-sepupuku, banyak mengajarkan sisi-sisi kehidupan yang mungkin tidak saya alami di keluarga sendiri.

Berhubungan dengan keluarga dari Ibu, merupakan keluarga yang terkenal doyan masak dan rajin bekerja-tidak bisa diam; ibu saya jago masak masakan Madura, tante saya jago bikin kue dan sepupu saya yang lain jago bikin aneka masakan yang ajibbb punya. Kalau ada acara keluarga, sering membuat sendiri kue dan hidangannya, jarang sekali bercatering ria. Kalau dari keluarga Bapak sebaliknya, terkenal paling tidak mau repot “klo bisa pesen kenapa bikin sendiri, toh sama aja harganya”. Saya :”au ah, terserah deh, gak ngerti, yg penting dateng aja”. Jumlah saudara Ibu saya sebenarnya (klo tidak salah niy ya) ada 12 orang, tapi kemudian meninggal 6 orang saat masih kecil, dan kemudian tinggal 6 orang, yaitu
1. Munawwirah(saya&kakak2 di rumah memanggil “mama”, padahal anak2nya saja memanggil beliau dengan “emak”, kata anaknya: “kerenan keluargamu manggilnya”). Dari pernikahannya dengan Munawwir memiliki  5 orang anak : Mbak titik, Om Munif, Mbak Iin, Mbak Has dan Mbak Lilik.

Mbak Titik&Suami

2. Ibu saya
3. Bachrowi (kami-para sepupu memanggilnya dengan sapaan “aba rowe”), dari pernikahannya dengan Hosniyah dikaruniai 4 orang anak : Mbak Nunung, Mbak Dewi, Mbak Oni dan Rita

Segambreng cucunnya

4. Siti Zainab (kami-para sepupu memanggilnya dengan sapaan “lek Nab”), dari pernikahannya dengan Buhari dikaruniai 4 orang anak yang formasinya persis dengan kakaknya yang kedua (baca:ibu saya), yaitu : Yayak, Bahron, Fatim&Nurul

Meski tanpa emak

5. Nasaruddin (kami memanggilnya dengan sapaan “Om Nden”), dari pernikahannya dengan Jatima tidak dikaruniai anak
6. Nursiyati (kami memanggilnya “Lek Nur”), katanya yang paling mirip mukanya dengan ibu saya, dari pernikahannya dengan Om Hasin dikaruniai seorang anak, yaitu : Fifin (aka Pepen).

Keluarga Mini selalu

Mama, Lek Nab dan Man Nden sudah meninggal dan kini tinggal tiga bersaudara (Ibu saya, Ibunya Fifin dan Bapaknya Rita, kita sebut tiga dara saja yuk!!! ). Ibu saya dan lek Nur menetap di Madura, sedangkan Aba Rowe menetap di Surabaya. Bingung juga mau menyebutkan keluarga kecil apa keluarga besar, karena kalau semuanya sudah berkumpul ramainya minta ampun apalagi kalau dikaitkan dengan saudara yang ini dan yang itu akan benar-benar menjadi seperti orang mau berdemonstrasi.

(Ki-Ka) Lek Nur, Ummi, Mik Hos&Ba Rowe

Adalah Bapak saya yang selalu menggiring kami untuk dekat dan bergaul dengan sepupu. Cerita ini saya dapat saat seorang sepupu mengisahkan kembali bahwa dulunya waktu SMU saya sering jemput sepupu saya ke sekolahnya karena dia penakut, lantas saya pun bertanya dan berkomentar : “kok bodoh ya saya mau aja jemput kamu?”, kemudian dia menjawab : ” iya abamu dulu yang nyuruh, kasian si Fatim, daripada sepeda motornya gak ada yang bonceng jemput sepupumu aja”. Wow keren, cerita yang saya sendiri sempat melupakan dan nyaris tidak ingat.

Waktu telah menggiring kami yang dulu masih kecil dan imut menjadi busur masa depan yang memilki pilihannya sendiri. Alhamdulillah, meski dulunya sempat rada jauh dengan sepupu-sepupu kini sudah melebur kembali dan terasa seperti masa anak-anak dulu. Rabb, terimakasih telah menjalin ikatan kembali semoga kami bisa menjaganya dengan baik dan bantu kami untuk menjaga ikatan tersebut. Kalau dengan orang lain saja bisa lumer kenapa dengan sepupu tidak, untuk itulah kalau sedang iseng-iseng berhadiah mengadakan acara dengan mereka mulai dari yang sederhana sampai ke yang benar-benar serius. Sempat juga terlontar dari kalangan sepupu-sepupu generasi muda (termasuk di dalamnya saya) sebuah ide untuk mengadakan acara halal bihalal keluarga (dari garis keturunan kakek kami, soalnya kalau nenek anak tunggal) tapi sampai dengan idul fitri yang kesekian kalinya ini masih belum sempat terwujud padahal konsep juga sudah matang dan ini sempat juga menjadi bahan lelucon para sepupu yang sudah tua “Iis ini ya kok ada2 aja yg dikerjain, bikin acara halal bihala pake keplek lah, gak ngebayangin aja klo yg dateng dari desa pake begituan bakalan ktawa2 dianya”, komentar pun saya respon : “nah tuh keplek kan buat tulisan nama tuh orang biar saling kenal satu sama lain, seru kan bisa pd tau namanya”. Jadi kapan ya kira-kira ini terealisasi? sebelum semuanya pada punya anak-anak dan cucu-cucu supaya kelak ada ceritanya kalau sudah pada tua.

Semoga warna-warni yang hadir dalam keluarga Ibu dapat memberi khasanah bagi kemajemukan dalam keluarga, meskipun satu darah bukan tidak mungkin ada perselisihan dan salah paham. Perselisihan adalah sebuah keniscayaan dalam keluarga, tapi bagaimana menyikapi perselisihan tersebut dengan sikap yang tepat&bijaksana adalah sebuah pilihan bagi masing-masing pribadi. Bukankah hidup tanpa warna itu terasa kurang indah, tapi tidak berarti asal mewarnai begitu saja, buanglah warna yang bisa merusak keindahan hidup dan pilihlah warna yang dapat mencerahkan hidup. Terimakasih sepupuku atas warna yang telah kalian berikan dan pinjamkan untuk saya, semoga warna yang saya berikan bisa memperindah dan tolong diraut pensil warnanya jika warna yang saya berikan kurang pas.

Generasi Muda Sepupu

Mengutip lagu light house family yang berjudul “Free”, berikut petikan liriknya :

One love one blood
One life you’ve got to do what you should
One life with each other
Sisters, brothers

One love but we’re not the same
We got to carry each other Carry each other
One One One One One…

I knew how it would feel to be free
I knew how it would feel to be free

-Salam Sepupu; Jendral, keluarga itu berharga-

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s