T.A.H.U itu Biasa, B.I.S.A Baru Luar Biasa

Alhamdulillah,

 

Bisa dari yang kecil dulu

Dalam perjalanan saya ke Malang seminggu yang lalu bersama para sepupu, saya mendapatkan ilmu tentang Tahu & Bisa. Tak dinyana memang, hikmah hadir dengan tiba-tiba dan ini merupakan pecut bagi saya. Gara-gara mati gaya di dalam bus, saya pun memutuskan untuk membeli koran karena buku yang saya bawa kurang begitu menarik untuk saya baca saat itu, kurang ringan dan juga sudah saya baca beberapa kali (bisa dikatakan kurang menantang). Koran yang sangat terkenal di Jawa Timur dan koran langganan di rumah juga semasa Bapak hidup, kaget juga setelah tahu harganya 4000…”kok mahal ya”, saya adalah korban Internet yang banyak mengakses berita melalui dunia maya. Tapi ya sudahlah, daripada saya bikin koran sendiri kan masih lama juga prosesnya. Saya pun membaca head line demi head line dan rubrik demi rubrik. Beberapa headline tak jauh beda dengan yang saya baca tadi pagi di twitter, saya pun ke rubrik opini dan cerita. Bertemulah saya dengan si tahu dan si bisa ini.
***
Tersebutlah kisah dua orang profesor yang sedang berdebat panjang lebar tentang ilmu mereka. Satu sama lain berusaha mengungguli dan menjadi pemenang dalam debat tersebut. Salah seorang profesor menyatakan bahwa “saya sudah tahu banyak hal dalam hidup ini, sudah banyak membaca sekian banyak teori dan buku, jadi saya tahu semuanya”. Profesor yang satu lagi merasa tersaingi dan dengan tegas menyatakan hal yang sama juga. Susah memang kalau berkumpul bersama orang-orang yang merasa pintar dan tidak pintar merasa #ini kata saya,

Salah seorang profesor tersebut tinggal di seberang sungai. Seperti biasa, ketika hendak pulang profesor tersebut selalu minta tolong si tukang perahu. Ketika hendak naik perahu, profesor tersebut dengan sombong mengatakan “coba tanya apa saja pasti saya jawab karena saya tahu semuanya” #tobat prof!!!, malu sama yang Maha Tahu. Sang tukang perahu yang tingkat pengetahuan dan pendidikan yang tak sehebat profesor itu lantas bertanya kepadanya “profesor tahu tentang ilmu renang”, sang profesor pun menjawab dengan PD jaya dan sombong dengan mengeluarkan semua teori berenang yang sudah dia ketahui.

Nah, saat sang profesor sedang menjelaskan pengetahuannya tentang berenang, tiba-tiba angin dan badai datang yang mengakibatkan perahu yang ditumpangi terbalik ke sungai. Ternyata si profesor kelelep dan megap-megap di sungai serta minta tolong kepada si tukang perahu yang dianggap bodoh tersebut. Akhirnya, si tukang perahu menolong sang profesor yang tidak bisa berenang padahal sebelumnya menerangkan ilmu berenang secara terperinci dan mendetail.
Dari ilustrasi cerita tersebut terlihat jelas betapa berbedanya antara yang T.A.H.U (sotoy = sok tahu) dan B.I.S.A. Pendidikan di negeri kita secara disadari atau tidak telah mengajarkan kepada kita ilmu tahu, bukan ilmu bisa. Akibatnya,  ketika lulus mereka gagap dan tidak siap menghadapi dunia pasca kuliah yang sarat dengan dinamikanya yang lebih banyak membutuhan ilmu bisa.
***

Dengan berkaca pada diri sendiri ilustrasi tersebut sudah dengan jelas mengkritik diri saya. Kok rasanya pengetahuan dan kebisaan saya tidak sebanding; mereka sang penjual minuman-makanan  di dalam bus rasanya lebih hebat dalam menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli jika dibandingkan dengan saya yang katanya sudah pernah tahu ilmu berbisnis di bangku kuliah, mereka sang pengamen pun lebih bertalenta dalam mengasah nyali dan kemampuannya dibandingkan saya yang sering menggunakan topeng akademis saya untuk lebih terlihat berkelas, mereka yang berjualan di sekolah-sekolah-jualan bakso, siomay, rujak dsb rasanya lebih mumpuni untuk dijadikan teladan dalam memulai satu langkah dalam hidup mereka dibandingkan saya yang kadang malu dan enggan untuk memulai langkah, mereka yang bekerja di toko-toko komputer menjadi teknisi tanpa sekolah adalah lebih top dibandingkan saya yang sarjana komputer yang menghilangkan virus di komputer sendiri saja suka snewen. Sekali lagi terimakasih untuk orang-orang yang secara sengaja dan tidak sengaja saya temui di luar yang bisa memberikan semangat dalam menggali naluri kebisaan saya.

Adalah hal yang sangat disyukuri ketika sudah tidak berstatus menjadi karyawan  dan anak kosan lagi. Merupakan sebuah hadiah kehidupan yang memberikan banyak makna bagi saya. Andai saja saya masih tetap di situ, mungkin sampai dengan hari ini saya adalah orang yang sama; suka berkeluh kesah, menganggap kehidupan hanyalah sebuah kubikal dan seonggok laptop, hanya menjemput rezeki dengan pola yang sama tiap harinya, sulit untuk tersenyum dari hati, penuh dengan omong kosong dan hanya mengejar simpati, sok berempati, selalu merasa kurang atas apa yang sudah didapat, dekat dengan yang di luar namun jauh dengan keluarga sendiri.

Dengan menjadi pengangguran, waktu saya tidak lagi dibeli dengan harga yang konstan per bulannya, meski secara materi ukurannya jauh sekali dengan saat saya menjadi karyawan namun harus disadari bahwa berawal dari sini lah pengetahuan yang saya miliki diuji dan memang harus diakui memang sulit untuk menjadi orang bisa. Alhamdulillah, meski hasil untuk menjadi bisa jauh di atas rata-rata setidaknya saya sudah merasakannya dan menikmati prosesnya jika dibandingkan dengan orang-orang yang hanya berkeluh kesah dan masih saja diam tak bergerak dalam area keluh kesah dan kebosanannya itu.

Hidup adalah pilihan, apaun yang kita pilih jangan hanya membuat kita hanya menjadi orang yang (sok) tahu, tapi  bagaimana proses yang kita jalani saat ini semakin membuat kita menjadi orang yang lebih bisa; bisa menyelesaikan masalah, bisa memulai langkah, bisa menghargai diri sendiri, bisa mengetahui kelebihan dan kekurangn diri, bisa jatuh cinta lagi terhadap diri sendiri, bisa mencari ketenangan dan kebahagiaan dalam diri, bisa bertegur sapa dengan nurani, bisa memutuskan dan membuat ketegasan, bisa menyederhanakan keberagaman keinginan dan harapan, dan bisa terus bergantung kepada Sang Maha Tahu, Maha Bisa dan Sang Maha Berkuasa.

Ini dia pesan Bob Sadino yang dituliskan oleh penulis dalam koran tersebut dan sangat membuat saya terinspirasi untuk mem-posting tulisan ini:

Cukup satu langkah awal, ada kerikil saya singkirkan
Melangkah lagi. Bertemu duri, saya sibakkan
Melangkah lagi. Terhadang lubang, saya lompati
Melangkah lagi. Bertemu api, saya mundur
Melangkah lagi. Maju dan berjalan terus mengatasi masalah.

Melangkahlah !!!, berlarilah dengan ikhlas seperti larinya siti hajar dari bukit shafa ke marwah kembali lagi dari marwah ke shafa sebanyak 7 kali putaran dan di ujungnya pelariannya menyemburlah air yang keluar dari hentakan kaki Isma’il yang kemudian dikenal dengan sumur zam-zam. Subhanallah.

1000 langkah diawali oleh satu langkah awal

-Selamat menikmati proses-

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s