Nikmat Manakah yang Masih Diragukan

Alhamdulillah,

Selamat pagi Dunia!

Terposting juga tulisan ini, setelah beberapa saat ngendon di folder karena dibaca-baca dan diedit lagi. Inspirasi ini hadir saat diri diingatkan melaui surat An-Najm dan tak lama berselang ada taushiyah pagi yang dibawakan oleh Aa Gym dengan topik Rejeki. Sangat berkaitan dan benar sekali jika Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan.
******  *******

Berbicara tentang nikmat sangat luas cakupannya, baik yang terlihat maupun tidak. Adalah sangat biasa dan sungguh keterlaluan sekali jika kita tidak memperhatikan nikmat yang biasa-biasa saja namun memberikan pengaruh yang besar sekali dalam kehidupan keseharian kita. Kita bisa bernafas adalah nikmat, menatap matahari terbit dan tenggelam pada waktunya adalah nikmat, merasakan kesegaran dan kesejukan udara di pagi hari juga nikmat, bisa makan dan minum dengan enak juga nikmat, bisa tersenyum dan saling bertegur sapa itu juga nikmat.

Sekedar bertanya saja “hal apakah yang menjadi pertimbangan mendalam dalam hidup kita?”, boleh kan kalau dijawab dan jawaban ini berdasarkan atas penemuan beberapa artikel yang pernah saya baca. Saya mencoba untuk merangkumnya dalam kalimat yang singkat saja berdasarkan ingatan dan pemahaman yang saya bisa. Jawabannya adalah : meratapi masa lalu dan khawatir akan hari esok. Saking dari meratapi kekecewaan masa lalu sampai-sampai begitu enggannya melangkah, tidak mau lagi bertegur sapa, tersimpan bara api, dan beberapa patologi masyarakat yang membuat pembangunan dan perkembangan masyarakat menjadi sangat monoton, walau pada kenyataannya terlihat berkembang tapi pola pikirnya masih statis. Dan begitu khawatirnya akan hari esok, sampai-sampai begitu pelitnya untuk memberi dan bersedekah, enggan berjilbab karena khawatir ini dan itu, tidak sudi bersilaturrahim meski hanya dengan menanyakan kabar secara online, enggan menjawab pertanyaan karena terlalu sibuk, khawatir apa yang akan kita makan esok, takut menjadi miskin. Sekedar refleksi singkat saja : apakah saudara-saudara kita yang di Mentawai, Jogja, Aceh, Haiti tahu secara pasti akan terjadinya gempa yang menimpa mereka, dalam waktu singkat nikmat yang mereka cintai dan kasihi serta sayangi habis begitu saja bahkan tanpa sisa sedikit pun #Astaghfirullah.Nikmat berupa harta dan anak-anak hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemilikNya. Jika nikmat itu tidak digunakan dengan baik menurut tuntunan agama maka yang ada hanyalah kesia-siaan dan kekecewaan.

Teringat akan pernyataan seorang nenek dalam sebuah obrolan santai di Surabaya “dengan memberi tidak akan membikin kita jadi miskin, dan tidak memberi juga tidak menjamin kita menjadi lekas kaya”, jadi apalagi yang ditunggu? Segeralah memberi !!!. Seperti sering diucapkan bahwa tulisan ini menjadi bagian dari motivasi pribadi untuk sebuah introspeksi diri dan penggalian keimanan yang senantiasa berosilasi dan jika tidak dipupuk dan disiram makan akan layu dimakan jaman dan trend dunia.

Berikut ini merupakan ikhtisar yang saya petik dan dapatkan lalu dimodifikasi melalui acara taushiyah pagi yang dibawakan oleh Aa Gym dan Ust. Arifin Ilham :
(.) Bagaimana mungkin curiga dengan jaminan Allah, masing-masing orang sudah dijamin rezekinya sampai hewan yang melata sekalipun telah dijamin rezekinya
(.) Bukan tidak ada rezeki, tapi kita saja tidak yakin
(.) Rejeki lebih hebat mendekati kita, contohnya : kita makan nasi langsung ada tinggal masak tak perlu kita menanamnya sendiri di sawah lalu memanen-mengeringkan dan menggilingnya, lauk juga begitu kita tinggal menggorengnya dan tak perlu repot-repot mencari sendiri di tengah lautan
(.) Rejeki itu dijemput, sama seperti halnya menjemput hidayah, menjemput jodoh, menjemput keyakinan. Supaya apa yang kita jemput bisa didapatkan maka caranya harus TERAMPIL
(.) Segalanya punya, namun tidak punya iman. Sama saja dengan orang yang miskin
(.) Diberikan nikmat materi yang melimpah, namun tidak dikasi ketenangan hidup apalah artinya
(.) Mana yang akan Anda pilih : hidup pas-pasan atau kaya ?, pas mau makan ada, pas mau beli mobil ada, pas di persimpangan jalan slalu ada Allah yang memberikan petunjuk dan rahmatNya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membuat saya dan para pembaca sekalian menjadi orang yang anti kemapanan, tapi bagaimana memaknai setiap proses yang kita jalani secara seimbang (tawazun). Kejarlah rezeki, Raih mimpi dan jangan lupa isi spiritual.

“Dan sesungguhnya Dialah yang memberi kekayaan dan kecukupan” (An-Najm : 48)

“ Maka terhadap nikmat Tuhan-mu yang manakah yang masih kamu ragukan” (An-Najm : 55)

Yaa Razzaq, karuniakanlah rezeki yang halal, banyak dan barakah
Yaa Dzal Jalali Wal Ikram
, kebesaran dan kemuliaanMu di atas segala-galanya, mohon percikkanlah itu kepada kami
Yaa Mutakabbir
, jauhkanlah kami dari sifat sombong dan membanggakan diri atas apa yang kami  miliki dan sudah kami raih
Yaa Nur
, terangilah langkah kami dengan cahayaMu, berikanlah penjelas atas kesalahan, pembenaran dan kebodohan yang kami lakukan.

-Selamat beraktivitas semuanya-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s