Welcome, Permulaan Dasawarsa II di Abad 21

Bismillahirrahmanirrahim,

(10 9 8 7 6 5 4 3 2 1…Darrr !!! Tar Tar Tar !!!) Welcome 2011

Pergantian tahun; tak sekedar kompetisi RESOLUSI&IMPIAN, yuk mari! terus bergerak dan melaju serta berlarilah dengan ikhlas !!!

Tak terasa 2010 telah berlalu dengan menyimpan banyak cerita dan hikmah. Setiap orang pun pasti memiliki sejarah unik di 2010, mulai dari cerita yang konyol, berkesan, menyenangkan, sedih dan aneka rasa yang lain. Kalau cerita saya di 2010 Alhamdulillah rasa nano-nano a.k.a manis, asam, asin ramai rasanya.

5 Kata yang mewakili 2010 adalah : Keluarga, Suramadu, Anak-anak, Sawah dan Sepeda. Dalam kata-kata ini tersimpan banyak kisah dan makna yang membuat hidup makin bermakna dan semakin menyadari akan kekurangan diri. Tak perlu juga saya jabarkan di sini kebermaknaannya karena esensinya akan berkurang jika terlalu banyak diekspos. Jika ke 5 kata tersebut disarikan menjadi sebuah kalimat maka sesungguhnya hidup dan kebahagiaan adalah hal yang sederhana. Kita saja yang sering menafsirkan hidup dengan dramatisasi yang over.

Pencapaian apa saja yang sudah didapatkan di 2010? Alhamdulillah banyak meski tak terlihat secara materi, setidaknya pencapaian non materi banyak mengajarkan mengenai arti kesederhanaan hidup dan bagaimana menggantungkan hidup kepada sang Maha Hidup. Lalu apakah yang terlewat di 2010 yang sudah menjadi resolusi sebelumnya? Waa syukurillah, ada beberapa aja kok, bukankah yang namanya kekecewaan, kegagalan, kesalahan adalah momentum keikhlasan dan gerbang ilmu, semuanya berjalan di atas iradatNya dan sebagai manusia kita harus banyak belajar dari itu semua.

***

Detik-detik menjelang pergantian tahun

Di pergantian tahun 2009 ke 2010 saya menyambutnya di kampung dan rumah tercinta, Maduramor (= Madura Amor) bersama ibu tentunya. Tak banyak yang spesial, seperti keseharian saja, menonton TV meski tak bersama karena berbeda selera tontonan lalu berdiskusi sedikit tentang pengalaman tahun baru kami. Karena saat itu saya masih “baru” di rumah sehingga aksi beres-beres menjadi salah satu rangkaian resolusi 2010. Alhamdulillah, diberikan juga kamar yang jendelanya langsung terkena sinar matahari dan di tahun itu saya resmi diwisuda menjadi bukan anak kosan lagi (aka anak rumahan).

Sementara dari 2010 ke 2011, saya tidak pernah merencanakan akan menyambut dimana karena saya bukanlah penggemar perayaan ini. Beberapa hari menjelang tahun baru, saya terjebak di Surabaya untuk beberapa alasan : 1. nobar sepupuan dalam mihrab cinta 2. ikut seminar pendidikan di sebuah universitas swasta 3. menantikan kabar yang tak jelas dari seorang teman yang tak penting dari Jakarta yang sedang kunjungan kenegaraan ke calon mertuanya di Sidoarjo dan kami saling membuat janji untuk bisa ketemuan di Surabaya 4. agenda tante iseng-ponakan usil 5. wisata religi ke masjid sunan ampel bersama kakak 6. wisata kuliner tulang lunak (ayam/bebek) bersama kakak-kakak 7. dll. Untuk alasan inilah sehingga Surabaya menjadi zona penyambutan dengan pertimbangan bahwa jika harus pulang ke Madura maka kondisi lalu lintas akan parah di jalur Suramadu karena di pintu keluar tol menuju Madura ada Orkes Dangdut. Dengan ditambahkan pernyataan dari para kakak yang mengatakan “ngapain siy taun baruan di Madura, mending di Surabaya aja, nanti kita bakar-bakar deh, belanja ikan di pasar bawean bareng-bareng” (prettt!!!, bisa aja bikin alasan), meski pada kenyataannya terealisasi dengan kondisi ikannya digoreng karena minyak lagi promo katanya #namanyajugaibu2.

Seorang teman tak penting tiba-tiba meng-sms saya di tengah nyenyak tidur saya di hari jum’at “is gw  nampaknya  ke TP niy, ktemuan di sana ya”. Masih lengket jaya saya pun balas sms-nya dengan “ok, kbri aja klo udh nyampe” lalu tidur lagi sampai ashar. Beberapa saat setelah ashar dia mengabari lagi kalau dia sedang di jalan menuju Tunjungan Plaza (TP) “lo dmn? gw jadi ke TP niy”, saya : “di rumah” (belum selesai ngomong langsung merespon), dia : “heh, lo di Madura, brp jam lo nyampe sini” #mintadijitak, saya :”di rumah kakak di Surabaya, tapi mau nganterin barang dulu ke rumah temen jadi tunggu aja dulu ya di sana, ntar kabri aja ada dmn”, dia :”awas lo ya jgn lama-lama, jangan pake WIH (waktu Indonesia Himtek)” #ngakak.

Tibalah saatnya kami meluncur ke TP, saya dan ponakan turun sementara kakak saya melanjutkan perjalanan ke tempat lain dan akan menjemput kembali kami di sana, dia mengatakan “jangan lupa jajanin Sabrina, kasian ntar dia kelaperan” (bleh, yang punya anak siapa ya?). Adegan sms dan telpon-telponan pun terjadi, melihat adegan yang seperti ini sang ponakan mengatakan “temennya pake bajhu apa tante Iis?”, saya : “waduh, aku gak tau tuh belum nanya, udh kita tunggu aja di depan 21, kmaren aku nonton di sini sama tante nurul,tante fifin dan mas asep”, Sabrina:”iyo, aku tau, sing nginep nang rumah iku yo” #sambilcubit2indulu. Pura-pura ingin mengejutkan saya, namun sayang saya sudah sadar kamera sehingga pas saya balik badan dia langsung teriak “Iis, gw kangen sama lo”, adegan seperti orang-orang kebanyakan dalam bandara pun terjadi. Setelah ngobrol beberapa detik di depan 21 dan diperkenalkan dengan sang pria idamannya itu, kami melaju ke tempat makanan karena dia mau jajanin ponakan saya sekaligus memberikan oleh-oleh buat kakak saya #goodJOB. Sebelum menuju tempat yang juga masih kami cari saya diperkenalkan dengan keluarga pria idamannya tersebut, ada Bapak, Ibu, Adik dan beberapa anggota rumahnya yang lain. Sungguh, pertemuan yang menyenangkan dan bahagia rasanya bisa bertemu kembali dengan sahabat seperjuangan semasa kuliah dulu dan teman curhat untuk hal-hal yang gak penting. Sambil menunggu jajanan selesai dibungkus sempat-sempatnya curhat tentang camer-nya tersebut “gile, gw salting banget, klo gak karna kunjungan kenegaraan gw nginep di rumah lo aja kyk taun kmaren barengan si ika, gendri sama ncek” lalu dia menambahkan lagi “yg paling susah itu deketin nyokapnya yak?”, saya :”menegetehe, emang pertanyaan apa yg pertama ditanyain ke nyokap”, Arlinda: “apa kabar tante, ehmmmm….udara di sini dingin ya?”, saya tertawa ngakak mendengar cerita dan curhatannya apalagi berulang kali dia mengatakan maaf karena tak bisa berlama bertemu karena harus menyatukan diri dengan agenda keluarga sang camer  meski sebenarnya dia ingin sekali curhat berlama-lama “ya udah ntar ktemuan aja lagi kapan-kapan” kata saya. Jajanan selesai dibungkus dan  melajulah kami ketempat dimana saya dikenalkan dengan keluarga pria idamannya tersebut dan apa yang terjadi? mereka “hilang” dari peredaran dan berpindah ke food court menikmati ayam goreng cepat saji dan saya pun kecipratan rezeki makan sup bareng bersama mereka, sementara teman saya sendiri tak mau menyantap apapun, sambil berbisik mengatakan “sok-sokan aja di depan camer begitu tuh, padahal…..ssssttttt!!!”, lalu si Ibu menanyakan ke saya : “Arlinda makannya susah ya?, di rumah dibikinin masakan ini/itu gak dimakan”. Sebenarnya saya ingin ngakak saja dan kakakan saya simpan dalam hati saja karena hal ini berhubungan dengan reputasi teman di depan sang camer,   saya pun langsung merespon secara signifikan “iya tante emang susah, malah kami sebagai temennya supaya bikin dia makan sampe jemput ke kosannya, jadilah kami makannya serentengan biar dia smangat makannya “.

Melihat bahasa tubuh saya yang secara tidak sengaja mendengar pria idamannya berbicara bahasa jawa kepada ibunya mengenai sang cewek idamannya tersebut spontan sang teman langsung mengatakan “kenapa lo ktawa-ktawa”, saya : “off the record aja, hanya org jawa yg ngerti”, karena saya tak mau menjawab dia pun mengatakan : “eh, kan lo udah tua tuh, kpn lo kawin”, wkwkwkwkw makin terbahak-bahak dengan mengatakan :”ada juga lo tuh, udah jelas depan mata, emang lbh tua siy tp gak berarti, gw hrs banyak belajar dr lo”. Lalu dia menunjukkan BBM dari seorang teman yang juga melakukan kunjungan ke keluarga camer karena ada anggota keluarganya yang meninggal dan juga comment/message yang menanyakan kabar saya di Madura apakah sudah kawin/belum. Sang teman yang tak penting itu pun mengatakan “gw bilang aja ya lo udh punya anak, kan ada buktinya tuh, gw fotoin lo sama ponakan lo” #silahkansaja.

Karena jam sudah menunjukkan sudah maghrib dan akses Surabaya-Sidoarjo diperkirakan macet dan ditutup sekitar jam 7 karena adanya perayaan tahun baru maka mereka pun undur diri dari Tunjungan Plaza dan kami pun mensgregasikan diri satu sama lain, saya sholat maghrib dulu ke atas dan mereka turun ke bawah menuju parkiran. Tiba-tiba mendapat telpon dari abang kalau dia sedang di depan TP di pintu keluar dekat bank mandiri, rada kaget juga karena tak janjian sama dia, ada yang mau dia kasi, “ah ntar aja, aku mo sholat dl” jawab saya. Sehabis sholat, eh ponakan usil ingin ke time zone main-main, abang pun krang kring krang kring supaya turun dulu ke bawah. Beberapa saat di time zone terasa menyenangkan bagi Sabrina dan juga saya, supaya tidak kecewa saya katakan kepadanya “Na, yuk turun, sudah ditungguin babah di bawah, kita pulang ke rumah”. Kami pun turun dan menemui “babah”nya Sabrina, lalu kami ikut saja pulang dan ia pun mengantarkan kami ke rumah kakak kami. Dalam perjalanan dia mengatakan “ikannya sudah dibeli, ada di rumah iik (panggilan abang buat kakaknya)”. Terlihat di sepanjang jalan kemeriahan menyambut pergantian tahun, mulai dari adu petasan, terompet dan trek-trekan motor #bikinpusing. Sesampai di rumah kakak, abang pulang, kami pun ke warnet dulu di depan rumah kakak karena dia belum juga muncul dari “pelariaannya” tersebut. Bosan internetan, saya pun mengajak ponakan ke depan mencari ice cream dan alamak si magnum rupanya sudah habis padahal saya langi ngiler sangat.

Saya pun sms kakak mengenai posisinya dimana, dan ternyata sudah di rumah. Kami kembali ke rumah, langsung saya minta kunci motornya karena saya mau mencari magnum di carefour bersama Sabrina, dan sungguh TERLALU si magnum juga habis dan dengan berlapang dada alhamdulillah saya menikmati ice cream FEAST, sedangkan Sabrina menikmati ice cream avatar. “Heran, suka banget sama ice cream, besok deh dicariin” kata kakak. Kakak pun memasak dan saya bercengkrama denga si unyil. Bukan ikan bakar, tapi ikan goreng ala minyak promo yang selalu dikejar saban Jum’at. Malamnya lagi, sang ponakan dari Kalimantan datang bersama abang, jadilah teman saya semakin banyak dan Sabrina pun senang karena ada teman main baru.

(… dan beberapa cerita lain).

Sambutan Awal di  2011

(1) Bertempat di lantai 2 rumah kakak, saya melihat dentuman dan pelangi petasan yang menghiasi langit Surabaya yang sedang mendung

(2) Karena tidak ada jam yang cocok, saya pun menyalakan TV, detik-detik pergantian tahun dimulai dalam hitungan, channel di TVone dengan hitungan 30 29 28…1 –> “Bismillahirrahmanirrahim” 2011

(3) Go off Past, Welcome 2011

(4) Bersiap-siap take off ke Madura, karena menunggu kakak yang sedang berbelanja mengejar promo sekalian mencarikan magnum

(5) Sambil menunggu kakak datang saya makan ikan goreng sesi 2 (ada tahu-tempe dengan sambal bawangnya yang ajib, sayang kurang pedas), ditambah lagi hinaannya tentang sambal buatan saya kemarin yang tidak enak sama sekali “sambal rasa apa itu kemarin” #EGP. Beberpa saat kemudian, kerjaan favorit saya adalah mengoprek-ngoprek buku di lantai atas dan bertemulah dengan catatan pantun dan khutbah jum’at dari tulisan Aba yang sudah beberapa bagian di makan rayap. Saya pun mengambil dan membacanya, membaca pantunnya membuat saya tertawa terbahak-bahak kemudian saya menyalinnya karena isinya mengandung nasihat dan hikmah bagi kehidupan rumah tangga (nanti saya share di blog  ini).

(6) Baru beberapa menit sampai rumah, si kakak keluar lagi bersama suaminya ke tempat perbelanjaan untuk membeli susu anaknyadan mencari ice cream magnum saya karena di tempat sebelumnya juga habis.

(7) Ice cream yang dimaksud ternyata habis juga #biarindeh. Adzan dzuhur berkumandang, masih sedang menyalin pantun-pantun aba kemudian mengambil wudhu’ lalu sholat dan go to Madura.

(8) Tahun Baru, Rute Baru. Jika selama ini  kalau menyetir sendiri banyak mengambil rute ke Suramdu melalui kapasan, maka di taun baru banting setir ke arah THR dan super sekali lebih teratur lalu lintasnya dan tak banyak lampu merah.

(9) Menuju gerbang suramadu, alamak!!! maceeeet total, motor udah kayak lautan, berhubung sudah terjebak di tengah maka pantang kembali ke Surabaya. Salah waktu rupanya, dan saya memang tidak tahu persis kondisi di Madura saat tahun baru menjelang karena memang tidak dibolehkan oleh Bapak untuk berhura-hura tak jelas dalam menyambut tahun baru “di rumah aja, berdo’a, ngaji, gak usah ditiru gaya-gaya Barat yang begitu” tutur beliau

10) Berhasil masuk tol dengan cepat melalui jurus nyelip dan zig zag “maaf pak, saya duluan, bukan maksud nerobos ya”. Eh sampai di tengah-tengah awan hitam menyelimuti langit Suramadu. Angin kencang plus hujan pun mengiringi perjalanan. Buku-buku yang saya bawa dari Surabaya segera saya masukkan jok. Dan alangkah mengerikan saat akan mengenakan jas hujan di sisi samping Suramadu, tak kunjung pas karena jasnya diterbangkan angin “mana gak bisa renang lagi, pake aja sebisanya dan menjauh dari sisi lautnya, tancap gas”

11) Beres-beres rumah dengan hal yang baru, and welcome home setelah beberapa hari tak bersua.

Semoga menjadi tahun yang berkah untuk kita semua, jika ada harapan dan keinginan yang belum tercapai semoga segera diijabah dan tentunya inshaAllah harus menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan terus menumbuhkan sense of belonging, sense of responsibility dan yang tak kalah penting sense of better changing.

– 1’1’2011; Switch Off  Past, Switch On Passion –

 


 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s