Membangun Rumah Tangga Seperti Sekolah&Masjid

Bismillahirrahmanirrahim,

 

Beloved Family (Paman Bibi & Ponakans)

Selamat pagi jiwa dan raga semua, semoga semuanya diberikan kesehatan.

Preambule :

“ Ibrahim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ia (Ismail) menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Bermuara dari sebuah pembahasan lanjutan mengenai Ibadah Haji karena sebulan yang lalu masih kental dengan aroma dzulhijjah yang penuh warna. Sampailah pena lisan sang ustadz pada  suatu simpulan tentang haji yang merupakan napak tilas dari keluarga Nabi Ibrahim a.s.Ketegaran seorang istri bernama Siti Hajar untuk membesarkan putranya tercinta Ismail yang ditinggal oleh Ayahnya sejak bayi sampai dengan berumur 11 tahun. Meski saat itu beliau adalah seorang single parent karena ditinggal oleh sang suami, Ibrahim untuk sebuah tugas agama, namun beliau mampu membesarkan Ismail dengan penuh keikhlasan. Meski berpisah, Nabi Ibrahim di Syria dan Siti Hajar bersama Ismail di Mekkah namun mereka saling mencintai satu sama lain. Karena apa yang mereka lakukan adalah semata-mata untuk mencari ridha Allah. Dengan demikian akan selalu ada jalan keluar untuk setiap kesulitan yang dihadapi. Bagaimana Siti Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke Marwah lalu kembali lagi dari Marwah ke Shafa untuk menacari air bagi rasa dahaga putra tercintanya Ismail yang  masih kecil. Setelah 7 kali berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah keluarlah sumber air yang kemudian dikenal dengan sumur zam-zam. [Wow] Subhanallah, luar biasa perjuangannya, berlarilah dengan ikhlas dan biarlah Allah yang memutuskannya.

Saat Ismail menginjak dewasa, nabi Ibrahim “diperintah” untuk menyembelihnya. Perintah ini hadir melalui mimpi. Awalnya Ibrahim menganggap ini hanya godaan syetan saja namun karena mimpi yang sama datang 3 kali maka dengan kemantapan hati Ibrahim pun mengatakan kepada keluarganya (Ismail dan Siti Hajar). Dan apa tanggapan mereka “Jika ini atas perintah Allah, lakukanlah”. Sebelum menyembelih Ismail, hadir godaan syetan baik untuk Ismail, Ibrahim dan Siti Hajar  untuk menggagalkannya , namun keikhlasan Ibrahim dan keluarga dengan semata-mata mengharap ridho Allah, Ismail pun disembelih. Dan pada saat akan disembelih, dalam suasana peristiwa yang sangat mengharukan itu, dan detik-detik yang amat menegangkan, nabi Ibrahim memeluk serta mencium kening putranya yang selama berpuluh-puluh tahun diidam-idamkannya dan ketika sudah menginjak dewasa beliau harus mengurbankannya, kemudian meletakkannya dalam keadaan posisi membujur, mulailah pisau tajam yang putih berkilau digoreskan di atas leher Ismail, seraya berucap bismillah. Tiba-tiba dengan kekuasaan dan kasih sayang Allah bukan Ismail yang tersembelih, tapi seekor kibas (kambing) besar sebagai pengganti yang dibawa oleh malaikat, seperti yang dinyatakan dalam al-Qur’an:

“Dan Kami tebus dia yaitu Ismail dengan suatu sembelihan yang besar”.

Al-Quran telah bercerita kepada kita perihal sejarah cinta Nabi Ibrahim pada Tuhan-Nya. Cinta yang diletakkan Ibrahim pada posisi tertinggi. Dengan cinta ini, Nabi Ibrahim mengorbankan apapun yang ia miliki, termasuk ketika perintah menyembelih Ismail datang. Cinta yang muncul dari dalam hati Nabi Ibrahim untuk Ismail adalah cinta murni yang tak terpengaruh oleh harta, tak terpengaruh oleh kedudukan, apalagi oleh pesona duniawi. Cinta Ibrahim adalah cinta tulus seorang ayah kepada anaknya. Kepada orang yang menjadi amanat yang dititipkan oleh Allah. Cinta yang juga sama dimiliki oleh ayah bagi anaknya pada setiap zaman. Ayah yang menginginkan anaknya tumbuh dewasa menjadi orang berguna.

Membangun Rumah Tangga

Setelah menceritakan sekilas tentang kisah keluarga nabi Ibrahim , sang ustadz pun mengantarkan kami pada sebuah taushiyah tentang kehidupan rumah tangga. Beliau bertutur bahwa rumah tangga merupakan komponen penting dalam masyarakat. Jujur saja saya rada shock pada saat sang ustadz memulai topik ini, karena beberapa kali secara tidak langsung dan tanpa perencanaan selalu bersentuhan dengan topik ini, baik pada saat membaca majalah, tabloid, internet dan diskusi dengan orang lain. Membuka halaman secara acak saja langsung terpampang topik membangun rumah tangga, diberikan majalah islam oleh abang di covernya pun tertulis mengenai ini, mencari-cari di internet nyasar-nyasar ke topik ini. Nah supaya saya tak shock sendirian tak ada salahnya jika saya berbagi topik ini dengan yang lain melalui tulisan ini. Berikut ini adalah catatan “ke-shock-an” saya :

[Awal menuju bahasan] Jangan hanya berpikir akan menikah dengan siapa tapi bagaimana membangun visi rumah tangga nanti, setelah tahu visinya barulah  menikah (jangan tergesa-gesa untuk menikah sehingga tidak banyak kasus kawin cerai) #sepertiORGANISASI.

[Theme song : Mytha Mamamia-Tentang Mimpi] Rumah tangga ibarat kapal dengan nakhoda adalah suami  dan assisten nakhoda adalah istri. Kemana kapal akan dilayarkan harus ada kerjasama yang manunggal antara nakhoda dan sang asisten nakhoda #manunggalJIWAhabibi-ainun.

Golden Rules Rumah Tangga : #matakuliah:IMK

1. Jangan sampai rumah tangga seperti HOTEL (sumur, kasur , dapur). Jika demikian maka akan terjadi disharmonis dalam rumah tangga. Dalam rumah tangga pun harus ada pengorbanan, pengorbanan membutuhkan perjuangan dengan cara membangun saling percaya dan saling pengertian. Dalam cinta yang penting itu kualitasnya. Rumah tangga sangat penting karena kesuksesan bermuara dari rumah tangga. #I’mSpeechless dibantu @UNGU:percayapadaku.

2. Rumah tangga jangan seperti rumah sakit (ibarat dokter dan pasien). Jangan  merasa berjasa karena telah mengobati atau membayar a.k.a jangan suka perhitungan #asHabibi-Ainun.

3. Rumah tangga jangan seperti pasar (penjual dan pembeli). Satunya ingin murah dan satunya lagi ingin mahal = #repot&bikinPUSING mending dengerin @So7:hari bersamanya.

4. Diikhtiarkan untuk membangun rumah tangga seperti sekolah dan masjid:    #AminYaaMujib

Sekolah :

– Laki-laki dan perempuan tidak ada yang sempurna

– Saling asah, asih dan asuh /* Asalkan jangan ngasah clurit aja

– Menerapkan pembelajaran quantum = pembelajaran yang menyenangkan

– Kalau bisa senyum kenapa cemberut, kalau bisa cemberut kenapa mukul

– Mempertahankan rumah tangga

Masjid :

– Untuk mencari ridho Allah

– Tanpa pamrih

– Ada imam dan ma’mum.

5. 90% permasalahan dalam rumah tangga disebabkan oleh tidak adanya komunikasi.

6. Menjadikan cinta sebagai hal yang bisa membahagiakan, bukan malah bikin kantong bolong, terkekang, tidak berkembang juga tidak mendidik. Belajarlah untuk membuat cinta semakin menambah kebaikan secara vertikal dan horisontal. Cinta yang penting kualitasnya bukan kuantitasnya.  Sekedar meminjam catatan taushiyah dari Bapak tercinta melalui kakak bahwa keseriusan itu bukan diindikasikan dari durasi dan frekuensi di telepon tapi lebih kepada…. (apa ya bahasa Indonesianya?). Saya terjemahkan bahasa Madura saja kata-kata beliau : Oreng mon serius dhateng ke romana reng towana benne pes bid-abid acaca neng telfon -bapak tercinta-.

Saya Bertanya, Ustadz Menjawab

Nah, setelah sang ustadz memaparkan materi bahasannya giliran sesi pertanyaan. Menyadari kehadiran saya di sana adalah yang paling muda dan belum berumah tangga maka tak ada salahnya kan kalau saya meminta pencerahan dengan yang lebih berpengalaman. Pertanyaan yang sederhana saja kok pak Ustadz dan mewakili hadirin yang ada.

Saya Bertanya

“Bagaimana cara membangun rumah tangga yang memiliki visi dan bagaimana cara mempertahankan rumah tangga yang sudah dibangun atau hancur berantakan?”

Ustadz menjawab

* Bagaimana Membangun Rumah Tangga :

– Mencari teman yang cocok

Khitbah/tunangan untuk ta’aruf agar mengenal pribadi, karakter dan kebiasaannya, dan juga untuk tafahum agar saling memahami calon suami, calon istri dan calon mert

– Pemetaan karakter

– Nikah bukan sekedar penghalalan suami istri #partner hidup

– Pernikahan adalah komitmen #tambahkanDedikasi&loyalitas=PT.RumahTangga

– Carilah calon suami/istri yang bisa memahami tuntunan agama –> melaksanakan hak dan kewajiban dengan baik (jangan sekedar jadi penonton agama).

[Intermezo] Sebelum menjawab pertanyaan saya yang kedua, sang ustadz menuturkan sebuah kisah rumah tangga dalam suatu hadits :

Ada seorang laki-laki yang memiliki istri yang cerewet, dan pada saat sang suami mencari kayu ke hutan ketika dia akan pulang membawa kayu-kayu tersebut datanglah seekor serigala yang membawakan kayu-kayunya tersebut ke rumah. Seiring dengan berjalannya waktu, sang istri yang cerewet meninggal dan menikah kembalilah sang suami tadi. Ia mendapatkan seorang istri yang sholehah dan pendiam.

Berbeda dengan pada saat bersanding dengan istrinya yang cerewet, kali ini dia selalu membawa kayu-kayu hasil pencariannya di hutan sendiri dan tanpa bantuan seekor serigala.

Simpulan cerita di atas : dalam kecerewetan wanita terkadang ada hikmah dan tersirat derajat yang tinggi untuk sang suami sehingga menghadapi wanita yang demikian harus bersabar.

* Cara mempertahankan Rumah Tangga :

Belajar … dan … belajar …terus bersabar !!!

Ingat : Suatu perbuatan halal yang dibenci Allah adalah perceraian

NB : kalau ada pertanyaan, jangan tanya saya ya, tanya ustadz aja. karena ilmu dan pengalaman saya tentang ini super cetek.

***

Untuk teman-teman yang sudah berumah tangga dan akan menempuh bahtera baru “selamat berlayar, sekali layar terkembang pantang biduk kembali ke pantai”. Dan bagi yang belum mari kita siapkan bahtera kita supaya bisa berlayar diatas lautan dan ombak visi yang kita bangun. InshaAllah #aminYaaRabb.

 

 

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

2 Responses to Membangun Rumah Tangga Seperti Sekolah&Masjid

  1. desi says:

    Salam,, saya. Terkesan dg cttan plus kisah crt yg anda tulis. Jujur saya adlh wanita skaligus istri dan ibu yg terkadang berfikir utk memutar waktu kembali, dimana kehdpan yg saya jalani saat ini tdk spt harapan saya sblmnya, krn pd saat memutuskan utk menikah saya tdk terlalu mengenal suami lbh jauh karakter, terutama ibadahnya.. Mdh2n anda dan pembaca lainnya sdh memahami apa kaidah utk apa dan bgmn menikah itu dpt menjadi ladang ibadah.. Bkn ladang kemudhoratan mengejar duniawi,,

  2. Is says:

    Mbak Desi : makasih banyak ya atas respon dan penilaiannya atas catatan yg saya buat. Salam kenal dari saya. Saya juga jadi tambah ilmu dgn sharingan dari mbak. Sekali lagi terimakasih atas kunjungannya ya, smg diberikan keluarga yang tenang, tentram dan damai di dunia dan akhirat…Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s